
Happy reading.... ..
Tidak terasa pernikahan Nina dan juga Hazel sudah memasuki satu minggu. Dan selama satu minggu itu pula, Hazel dan juga Nina memulai rumah tangga mereka dengan perasaan adem, ayem, tentram dan bahagia.
Sementara itu di kampung Nina, Fahri sedang bertengkar dengan orang tuanya soal hak waris kebun karet yang tidak jadi diserahkan kepada Fahri.
"Bu! Ibu nggak bisa gitu dong! Harusnya kan kebun karet itu milik Fahri? Lagi pula, Nina sudah menikah Bu. Dan tidak ada yang mengurus kebun karet, selain Fahri," ujar Fahri sambil membentak ibunya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Fahri, dan itu adalah perlakuan sang ayah. Karena dia geram melihat Fahri berani membentak orang tuanya.
"Jaga ucapan kamu ya, Fahri! Dia ini ibu kamu? Berani-beraninya kamu membentak dia. Seharusnya kamu itu belajar dari kesalahan kamu! Harusnya kamu itu memperbaiki diri kamu, jangan malah tambah seperti ini, Fahri!" Bentak sang Ayah dengan sorot mata yang begitu tajam ke arah Fahri.
__ADS_1
"Ibu tidak habis pikir, setan apa yang sudah merasuki kamu, Nak? Kamu sekarang itu benar-benar berbeda dengan Fahri yang Ibu kenal dulu. Fahri yang Ibu kenal, adalah anak yang penurut, tidak pembangkang dan juga lemah lembut kepada wanita. Kemana Fahri ibu yang dulu? Kenapa sekarang kamu berubah, Nak? Kamu menyakiti Nina, sehingga Nina pergi dari hidup kamu. Dan setelah Nina mendapatkan tambatan hatinya,.kamu ingin merebut Nina kembali. Apa kamu tidak egois? Apa kamu tidak kasihan melihat Nina menderita gara-gara kamu, Nak?" Timpal Bu Ningsih dengan deraian air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
Tubuh Fahri merosot ke lantai, air matanya kembali tumpah. Dia sadar jika memang dia orang yang jahat sudah menyakiti Nina. Semua itu juga berawal karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan kepada Dea dulu.
"Bertobatlah Nak! Ibu dan Ayah akan selalu ada di sisi kamu. Berubahlah seperti Fahri yang dulu. Fahri yang lemah lembut, dan tidak pernah menyakiti wanita," ucap Bu Ningsih sambil mengusap pundak Fahri
Mendengar itu Fahri segera memeluk tubuh Bu Ningsih, dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ibunya. Meluapkan segala beban pikiran yang selama ini dia tanggung, meluapkan segala rasa rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Fahri pun tidak tahu kenapa, dia menjadi sangat jahat kepada seorang wanita. Padahal dulu dia sangat menyayangi yang namanya wanita, tapi semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan kepada Dea, dan mengetahui pernikahan Dea dan juga Dev. Membuat seketika pribadinya Fahri berubah 1800 derajat.
"Jangan berkata seperti itu, Nak. Ibu yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik buat kamu! Kamu sekarang harus bertobat, minta ampun sama Allah. Perbaiki semua kesalahan kamu, menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan jangan pernah kamu ulangi kesalahan-kesalahan dan dosa yang pernah kamu lakukan," ucap bu Ningsih dengan lembut, sambil mengusap kepala Fahri yang berada dalam dekapannya.
******************
__ADS_1
"Loh, Abang ini apa?" Tanya Nina saat memegang sebuah kertas di tangannya, yang diberikan oleh Hazel.
Hazel yang mendengar itu pun merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan dia. Kemudian mengecup pipi Nina dengan lembut. "Ini adalah tiket liburan kita untuk bulan madu, aku akan mengajak kamu liburan ke Bali. Nggak papa kan?" Tanya Hazel sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nina.
Nina terkejut, dia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Ke Bali? Abang serius? Kita akan bulan madu ke sana?" Tanya Nina dengan nada tidak percaya, dan langsung dibalas anggukan oleh Hazel.
Dengan penuh rasa bahagia, Nina pun memeluk tubuh Hazel dengan erat. Kemudian dia mencium Pipi Hazel. "Makasih Abang, Nina seneng banget. Soalnya, Nina belum pernah ke Bali. Jadi Ini pertama kalinya Nina ke sana! Makasih ya, Bang" ucap Nina dengan wajah berbinar bahagia.
Hazel mengusap kepala Nina yang tertutup jilbab. "Sama-sama sayang, Abang senang melihat Adek bahagia. Karena bagi Abang, kebahagiaan Adek adalah yang terpenting. Dan kebahagiaan Adek juga, adalah kebahagiaannya Abang."
Nina begitu terharu sekaligus bahagia, mendapatkan suami sesempurna Hazel. Bukan hanya karena tampang saja, dan juga dari harta. Tetapi pribadi Hazel yang ternyata sangat menyayangi wanita. Padahal dulu, sebelum kenal Hazel lama, Nina pikir Hazel orangnya kaku. Tapi ternyata dia tipekal orang yang humoris dan hangat.
'Terima kasih ya Allah, sudah memberikanku jodoh seperti Bang Hazel. Aku berharap, ini adalah pernikahan terakhirku sampai ke jannahmu,' batin Nina penuh rasa syukur kepada sang pencipta.
__ADS_1
Bersambung. . ....