
Happy Reading ๐๐
Jangan lupa ikuta giveaway nya ya dears๐๐
"Dev, Papa dan Mama rencana nya akan mengadakan acara resepsi pernikahan kamu sama Dea. Walau gimana pun kan pernikahan kamu harus di ketahui banyak orang?" Ujar Papa di tengah tengah sarapan nya.
Dev terdiam sambil memakan roti panggang nya.
"Nanti aku pikirkan lagi ya Pa." Ujar Dev.
Dia terlihat bingung soal penglihatan Arumi tentang Dea yg akan celaka.
"Kenapa Dev? Kamu gak mau semua orang tahu kalau kamu sudah menikah?" Heran Mama.
"Bukan gak mau Ma! Aku mau, sangat mau. Tapi.... Aku lagi banyak kerjaan! Nanti setelah kerjaan ku beres, maka aku mau." Jelas Dev sambil memberi kode pada Reza.
Reza yg paham akan maksud Dev, akhirnya membuka mulut.
"Bener Ma, Pa, yg di katakan oleh Dev. Biar dia nyelesain dulu pekerjaan nya yg menumpuk! Baru nanti kita bicarakan. Lagi pula, kalau Dev nya di kejar kejar pekerjaan terus? Gimana nanti Dev mau bikin adonan?" Goda Reza.
Uhhuuk
Uhuuk
Dea tersedak makanan nya saat mendengar ucapan kaka ipar nya itu. Dev yg melihat itu segera menepuk punggung Dea dan memberikan nya minum.
"Pelan pelan sayang!" Ucap Dev.
Sedangkan Mama dan semua yg ada di meja makan menatap pasangan itu dengan senyum di bibir mereka.
'Mama harap kamu dan Dea sudah saling mencintai Dev? Dea adalah gadis yang baik.' Batin Mama sambil melihat anak dan mantu nya.
Alvin sudah siap dengan setelan jas nya, dia terlihat sangat tampan dan mempesona, sampai sampai Lala juga terdiam menatap Alvin yg baru saja keluar dari kamar.
"Hey... Hey...." Alvin menepuk pundak Lala, sebab sedari tadi Lala terus bengong.
"Ah, eh, iya Om. Eh, maksudnya Tuan." Jelas Lala dengan kaget.
__ADS_1
"Kenapa manggil saya Tuan?" Bingung Al
"Ya, kan sekarang Om udah jadi Bos nya Lala. So, Lala manggil Om dengan Tuan dong?"
Alvin manggut-manggut tanda mengerti, lalu ia melirik ke arah meja makan yg sudah ada roti bakar dan coffee latte.
"Kamu yg bikin?" Tanya Al sambil menunjuk Coffee dan Roti di atas piring.
Lala mengangguk "iya Tuan, maaf cuma roti bakar doang. Soalnya gak ada sayuran di kulkas?" Jelas Lala
Alvin memang tak pernah nyetok sayuran di kulkas kecuali roti dan buah. Karena ada pun percuma, pasalnya Alvin tak bisa memasak.
"Nih, nanti kamu ke supermarket buat beli sayur ya! Nanti setiap pagi bikinin saya sarapan." Ucap Al sambil memberikan yang pecahan berwarna merah 15 lembar.
"Baik Tuan. Nanti Lala akan belanja." Ucap Lala sambil menerima uang itu.
Setelah mengatakan itu Lala pun menuju kamar Alvin untuk beberes, sedangkan Alvin menghabiskan sarapan nya dan pergi ke kantor.
Lala bahkan tak tahu jika di dalam apartemen itu ada CCTV kecil yang Alvin pasang untuk jadi pengawas.
Di kantor Bachtiar Dev sedang duduk bersama Papa nya.
Papa Abraham sengaja ikut untuk memantau kantor itu setiap bulan nya. Walaupun kantor itu milik Dev, tapi masih ada saham Papa nya 50% di sana.
"Dev, kenapa sih kamu gak mau di rayakan pernikahan nya?" Tanya sang Papa.
"Bukan Dev tidak mau Pa! Tapi Dev takut. Papa kan tahu apa yang Arumi lihat kemarin? Dev ingin acara itu nanti di gelar, setelah Dev memastikan Dea akan selamat." Jelas Dev.
Papa Abraham mengangguk, sekarang ia paham kenapa Dev menolak pesta pernikahan nya.
"Lalu, kamu sudah menyelidikinya apa belum?"
"Sudah Pa! Tapi belum nemu titik terang." Jelas Dev
Tak lama pintu di ketuk dan Alvin pun masuk membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Dev.
"Oh ya Vin. Gw minta tolong ya! Nanti Lo cek semua laporan 3 minggu yang lalu. Nanti kasih ke gw." Ucap Dev.
__ADS_1
"Iya, siap Bos."
Alvin pun pamit kembali ke ruang kerja nya, lalu mengerjakan tugas yg di berikan oleh Dev.
Hari ini Alvin sangatlah sibuk, sebab harus ngecek pengeluaran dan pemasukan bulan kemaren juga.
Sedangkan di kediaman Bachtiar, Dea baru saja selesai telfonan dengan Ayah dan Ibu nya di kampung.
Dea sangat bahagia sebab Ayah dan Ibu nya sehat sehat di sana.
Saat Dea akan masuk lagi ke kamar, tiba tiba ponselnya berdering kembali dan ternyata itu dari Nina sahabat nya.
Dea pun kembali berdiri di pagar balkon kamar nya.
"Hallo assalamu'alaikum Nin." Ucap Dea
"Waalaikumsalam, De. De, aku ganggu gak?"
"Nggak kok! Ada apa?"
"Aku mau curhat nih De."
"Curhat? Curhat apa Nin? Kok kayaknya dari suara kamu, kamu seperti sedang kesal?"
"Iya, memang aku sedang kesal, sedih marah semua jadi satu!"
"Kenapa sih? Cerita dong sama aku."
"Aku tuh lagi kesal sama orang tua aku De! Soalnya mereka menjodohkan aku. Mentang mentang aku belum punya pacar?" Kesal Nina di sebrang sana.
"Apa! Di jodohkan? Di jodohkan dengan siapa Nin?" Kaget Dea dengan suara yg sedikit berteriak.
"Biasa aja! Gak usah teriak juga kali?"
"Ya maaf... Habis aku kaget loh, pas denger kamu di jodohkan? Kamu di jodohin sama siapa?"
Bersambung........
__ADS_1