Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Jawaban Nina


__ADS_3

Happy reading.............


Tidak terasa dua hari telah berlalu, dan saat ini Hazel dan juga Nina sedang berada di sebuah restoran untuk makan siang. Hazel juga sudah izin kepada Dev dan juga Dea, untuk mengajak Nina keluar.


"Jadi bagaimana? Apa kamu menerima lamaran ku?" Tanya Hazel di sela-sela makan siangnya.


Nina menghentikan makannya, dia menaruh sendok yang berada di tangannya, kemudian Nina meminum jus yang ada di hadapannya. Laalu menatap Hazel sekilas kemudian menunduk kembali.


"Apa keluarga Abang sudah tahu dengan status aku saat ini?" Tanya Nina kepada Hazel, dia ingin memastikan sebelum dia menjawabnya.


"Iya, Mama dan Papa Abang, sudah tahu. Abang sudah cerita, dan mereka ingin sekali bertemu dengan kamu! Mereka tidak masalah dengan status kamu. Karena yang dilihat bukanlah status, tetapi kepribadian dan juga akhlak."


Nina tersenyum lega mendengar ucapan Hazel, kemudian dia menatap pria yang ada di hadapannya. "Aku sudah mendapatkan jawabannya, dan aku berharap jika ini adalah keputusan yang baik untuk hidup dan juga masa depan aku."


Nina menghentikan ucapannya sejenak, dia mencoba meredamkan detak jantungnya yang sedari tadi terus saja berdebar dengan kuat.


"Bismillah... Atas izin Allah, dan atas petunjuk darinya. Aku menerima lamarannya Abang," ucap Nina dengan wajah menunduk dan malu-malu.


Hazel terbengong mendengar ucapan Nina. Mulut dia sampai menganga dengan mata membulat. "Ini serius?" Tanya Hazel dengan wajah sumringah. Hatinya bagaikan disiram oleh bunga-bunga yang bermekaran, begitu amat sangat bahagia dirasa oleh Hazel.


Dan saat melihat Nina menganggukkan kepalanya, Hazel seketika loncat dari duduknya. "Yees...!" Teriak Hazel.


Nina tersenyum melihat tingkah Hazel yang begitu lucu, pria tampan di hadapannya itu seperti baru saja mendapatkan Jackpot yang begitu besar, sehingga harus loncat dengan tangan terkepal di depan dada.


Hazel mencoba menggenggam tangan Nina, namun dengan cepat Nina menarik tangannya. "Maaf!" ucap Hazel merasa tidak enak sambil menahan senyumnya.

__ADS_1


"Makasih ya, kamu sudah mau menerima lamaran aku. Nanti malam aku akan bawa kamu, untuk bertemu dengan Mama dan Papa. Karena mereka sudah sangat ingin bertemu dengan kamu! Mama juga ingin lebih mengenal kamu," ujar Hazel dan langsung dibalas anggukan oleh Nina.


---------------------------


Nina pun masuk ke dalam kediaman Bachtiar dengan wajah sumringah. Dan saat dia melewati ruang tamu, ternyata di sana ada Dea yang sedang menunggu dia pulang. Sementara itu Berlian sedang tidur di kamar, bersama dengan Mama Linda.


"Cieee... Yang bentar lagi mau nikah," ledek Dea sambil memeluk tubuh Nina.


"Gimana? Kamu tadi jadi kan nerima lamarannya Kak Hazel?" Tanya Dea dengan wajah yang begitu penasaran.


Nina mengangguk. Melihat itu Dea langsung memeluk tubuh sahabatnya kembali dengan erat. Dia begitu bahagia karena Nina sebentar lagi akan bersanding dengan pria yang tepat.


"Tetapi aku tidak bisa menikah dalam waktu cepat, bersama Bang Haze," ujar Nina.


"Kenapa?" Tanya Dea dengan mata menyempit dan alis bertaut heran.


Dea mengangguk paham. "Iya, kamu harus selesaikan masa iddahmu dulu. Tidak apa, 2 bulan itu terasa cepat kok. Asal kamu sabar! Terutama Kak Hazelnya," goda Dea dan langsung membuat wajah Nina memerah malu.


----------------------


Malam ini Hazel sudah datang di kediaman Bachtiar untuk menjemput Nina. Karena mereka akan pergi ke rumah Hazel untuk memperkenalkan Nina kepada orang tuanya Hazel.


"Duh, De. Aku kok jadi takut ya? Walaupun kata Bang Hazel orang tuanya menerima aku, entah kenapa aku jadi takut kayak gini?"


Dea mengusap bahu sahabatnya, mencoba membuat Nina percaya diri. "Sudah, Jangan berpikiran negatif dulu. Orang tuanya Kak Hazel itu baik kok! Aku pernah bertemu mereka sekali, dan mereka orangnya welcome jadi kamu bismillah aja. Percaya jika ini jalan yang terbaik dari Allah."

__ADS_1


Kemudian Dea dan Nina pun turun ke bawah, untuk menemui Hazel yang sedang duduk bersama Dev. Pakaian yang Nina pakai pun tidaklah mewah, dan terkesan sederhana, tetapi juga elegan. Nina tidak ingin tampil mewah di hadapan orang tuanya Hazel,.karena Nina ingin apa adanya. Karena dia sadar Jika dia bukanlah dari orang yang berada.


"Kak Hazel, aku titip Nina ya! Tolong jaga dia, jangan sakit Nina," pinta Dea pada Hazel, dan langsung dibalas anggukan oleh pria tampan itu.


Kemudian Nina dan Hazel pun keluar dari kediaman Bachtiar, dan masuk ke dalam mobil. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Nina benar-benar gelisah. Dia takut jika orang tuanya Hazel berubah pikiran dan tidak merestui dia dan Hazel.


Hazel paham apa yang Nina rasakan saat ini. Dia tahu, pasti Nina saat ini sedang ketakutan dan juga cemas, untuk bertemu orang tuanya Hazel. Hingga tanpa terasa, mobil pun sudah sampai di rumah kedua orang tua.


"Bang... Nina takut deh, nanti kedua orang tua Abang nggak suka sama Nina, gimana?" Ucap Nina saat keluar dari mobil dan hendak masuk ke dalam rumah mewah itu.


Hazel tersenyum mendengar ucapan Nina. "Nggak akan! Orang tua Abang itu baik. Malah mereka ingin sekali bertemu dengan kamu! Sudah, jangan berpikiran negatif dulu, yuk masuk mereka sudah menunggu."


Nina pun masuk ke dalam rumah orang tuanya Hazel dengan tangan yang meremas ujung gamis. Dadanya semakin berdebar, lebih berdebar dari acara lamaran tadi siang.


Dan saat Nina masuk ke dalam, orang tua Hazel ternyata tidak seperti apa yang Nina pikirkan. Mereka begitu hangat, mereka begitu baik, bahkan menerima Nina dengan tangan terbuka dan menyambut Nina dengan hangat.


Setelah berbasa-basi, mereka pun menuju meja makan. Perlakuan hangat orang tuanya Hazel kepada Nina, membuat pikiran negatif Nina seketika lenyap begitu saja.


"Jadi, kapan kamu akan melamar Nina Zel?" Tanya Tante Eriska kepada Hazel.


"Rencananya, aku akan melamar Nina setelah masa iddah dia selesai 2 bulan lagi. Nina kan masih dalam masa iddah, dan dalam masa iddah itu tidak boleh bukan dilamar oleh pria lain? Jadi, aku akan melamar Nina secara resmi setelah masa iddahnya selesai, Mah!" jawab Hazel dan langsung dibalas anggukan oleh kedua orang tuanya.


"Mama dan Papa setuju! Memang wanita yang dalam masa iddah itu, tidak boleh dilamar oleh pria lain. Baiklah, kita akan menunggu sampai waktu itu tiba. Dan Mama sudah tidak sabar, ingin segera Nina menjadi menantu Mama," ujar Tante Eriska dengan wajah yang bahagia.


Nina tidak menyangka jika kedua orang tuanya Hazel mau menerima statusnya, yang sudah janda. Padahal biasanya jika orang-orang terpandang itu sangat anti dengan yang namanya janda. Mereka selalu mengutamakan garis keturunan kasta dan juga kedudukan.

__ADS_1


Dan Nina sangat bersyukur, telah dipertemukan dengan orang-orang baik di sekelilingnya, yang mau menerima dia apa adanya dan tidak memandang dari statusnya.


Bersambung. .............


__ADS_2