Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Jangan Pelit Nanti Bisulan


__ADS_3

Happy Reading😘😘


Sesampainya di kantor Dev, Dea langsung berjalan masuk kedalam lift. Dia selalu tersenyum saat semua karyawan di kantor itu menyapa nya.


Saat Dea berjalan ke ruangan Dev, Dea mendengar ribut ribut dari dalam ruangan Dev.


Saat langkah nya semakin dekat dia melihat pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Dea pun mengintip keadaan di dalam sebab ada suara wanita juga.


"Lepaskan aku! Al, bawa dia pergi. Atau jika perlu kau buang saja dia ke laut." Titah Dev dengan berteriak.


Suara Dev begitu menggelegar di dalam ruangan bahkan sampai terdengar keras keluar.


Untung saja di lantai atas hanya ada ruangan Alvin dan Dave saja.


"Gak, aku gak mau! Dev, ayolah. Aku tahu kamu masih cinta sama aku! Kamu hanya menikahi gadis itu dengan terpaksa kan?" Geram Amber sambil berteriak.


"Sudahlah Vin, bawa saja dia. Oh, atau kau mau untuk jadikan teman tidurku?" Timpal Dillon.


Ternyata bukan hanya ada Alvin saja di sana, tapi ada Dillon dan Hazel juga.


Amber terus berontak dari cekalan Alvin, sedangkan Dev kembali duduk di kursi nya.


'Sepertinya aku harus buat pelajaran sama tuh penghuni kamar mandi?' Batin Dea dengan jahil.


Kemudian dia membuka pintu ruangan Dev.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Dea sambil berjalan masuk.


Kedatangan Dea tentu saja membuat Alvin, Dev dan kedua sahabat nya merasa kaget. Terlebih Dev.


Bahkan saat ini wajah Dev terlihat pucat, dia takut jika Dea akan salah faham lagi. Sedangkan Amber tersenyum menyeringai ke arah Dea.


"Eh, ada Kak Hazel sama Kak Dillon?" Ucap Dea sambil menaruh rantang makanan nya di meja kerja Dev.

__ADS_1


"Sa-yang, kamu kok kesini gak ngabarin aku?" Tanya Dev dengan wajah gugup.


Dea tersenyum tipis saat melihat wajah gugup suaminya.


"Iya Mas, aku kesini mau bawakan makan siang buat kamu! Tapi ternyata ada Kak Hazel sama Kak Dillon juga! Tapi Mas, kok penghuni kamar mandi ada di sini sih?" Ucap Dea sambil melirik ke arah Amber.


"Penghuni kamar mandi? Siapa sayang?" Bingung Dev.


"Lah, itu? Dia akan penghuni kamar mandi? Nama nya kan Ember Mas! Ember itu ya tempat nya di kamar mandi." Jelas Dea.


Amber terlihat sangat kesal dengan ucapan Dea, dia memberontak hendak menampar wajah Dea tapi Alvin memegang nya dengan erat.


Sedangkan Hazel dan Dillon malah tertawa terbahak saat mendengar ucapan Dea, dan itu membuat Amber semakin emosi.


"Lepas kau brengs*k! Aku ingin menampar mulut wanita itu." Geram Amber sambil menatap Dea dengan tajam.


Dea tersenyum lalu maju ke arah Amber lalu dia menatap Amber dari atas sampai bawah.


"Mbak Mbak. Daripada Mbak menggoda suami orang! Lebih baik tobat, benahi pakaian nya. Dan satu lagi, Mba itu seperti tak punya harga diri. Mengejar ngejar suami orang tanpa malu! Sedangkan pria itu tak mau pada Mbak? Apa Mbak gak malu ya? Padahal Mbak ini public figur?" Tutur Dea dengan wajah tenang.


"Diam kau! Pakaian mu itu hanyalah sebuah kedok untuk menutupi sifat licik mu itu?" Geram Amber.


"Jangan samakan pakaian ku dengan akhlak dan sifatku. Kedua nya tentu saja sangat berbeda. Pakaian ku itu adalah wajib dan perintah dari Allah. Sedangkan sifat ku itu masih dalam tahap belajar.


Aku Hanya melakukan perintah dari sang Pencipta. Jadi tak ada sangkut pautnya."


Kemudian Dev menyuruh Alvin untuk membawa Amber ke luar. Dia juga memerintahkan satpam untuk tak mengizinkan Amber masuk kembali ke kantor.


Dev mengajak duduk Dea di sofa.


"Oya Mas, nih aku bawakan makan siang buat kamu!" Ucap Dea sambil menyiapkan makanan di atas meja.


Gluk..

__ADS_1


Dillon dan Hazel mengelap air liur mereka saat bau opor ayam spesial menguar dari rantang makanan yang Dea bawa.


"Wah, De. Apa kami boleh makan juga?" Tanya Dillon sambil menatap opor ayam itu dengan lapar.


"Boleh Kak, silahkan." Ucap Dea


Dillon tersenyum lalu tangan nya hendak mengambil Ayam yang ada di rantang, tapi Dev menyentil tangan Dillon.


Pletak


"Aawwhh... Lo apa apaan sih Dev? Gw laper tahu!" Decak kesal Dillon.


"Kalau Lo mau makan ya pesan aja? Ini makanan gw."


"Ah elah, pelit banget sih Lo? Timbang opor doang? Bagi dikit napa! Jangan pelit pelit, kalau pelit nanti pan tat Lo bisulan tahu!"


Uuhuuuk


Uuhuuuk


Dev tersedak makanan nya saat mendengar ucapan Dillon. Wajah nya sampai merah padam akibat perih di tenggorokan dan hidung nya.


"Pelan pelan Mas, lagian ini banyak kok! Tinggal pesen nasi aja ke kantin." Ucap Dea sambil memeberikan minum pada Dev dan menepuk punggung nya.


"Lihat kan Zel! Dia itu kuwalat Noh. Sebab gak bagi bagi." Ledek Dillon.


"Ya habis Lo, ngapain bilang bisulan? Lo pikir gw percaya?" Ketus Dev.


"Terserah Lo mau percaya apa nggak! Tapi nanti kalau bisulan tuh pan tat Lo! Lo bisa bayangin lah, buat duduk aja susah, apalagi tiduran?" Ucap Dillon menakut nakuti Dev.


Padahal dalam hati Dillon sedang tertawa terbahak, sebab bisa ngerjain sahabat nya.


'Syukurin Lo gw kerjain! Lagian pelit sih sama temen?' Batin Dillon.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2