
Happy reading.......
Setengah jam lamanya Fahri dan juga Bu Ningsih menunggu di ruangan gawat darurat, setelah itu Bidan pun keluar dari sana.
Bu Ningsih terlihat begitu tegang menanti kabar yang akan Bidan itu berikan kepada mereka. "Bagaimana Bu keadaan menantu saya? Kandungannya baik-baik saja kan?" Tanya Bu Ningsih dengan cemas.
Terlihat bidan itu menghela nafas, lalu menatap Fahri dan Bu Ningsih secara bergantian. Fahri terlihat begitu tegang melihat wajah Bidan itu yang sendu. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Fahri dengan tidak sabar.
"Maaf Pak, karena kandungan Ibu Nina masih sangat muda dan rentan keguguran, terlebih karena pendarahan yang cukup hebat. Saya tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan Ibu Nina."
Mendengar itu Bu Ningsih langsung jatuh ke lantai, tubuhnya mendadak lemas saat mendengar jika Nina keguguran. Sedangkan Fahri terlihat begitu syok, dia kaget. Tentu saja dia sangat terpukul, karena walau bagaimanapun anaknya meninggal gara-gara dia.
Bu Ningsih bangun lalu mencengkram kerah baju Fahri, setelah itu dia menampar putranya bolak-balik. Dia benar-benar kecewa dengan putranya.
Plak
Plak
"Ini semua gara-gara kamu Fahri! Kamu yang udah bikin anak kamu meninggal. Kamu adalah ayah yang jahat! Ibu kecewa sama kamu!" Teriak Bu Ningsih dengan sorot mata yang begitu tajam dan juga sedih.
__ADS_1
Setelah itu Bu Ningsih masuk ke dalam ruangan di mana Nina sedang menangis, dia tahu jika pasti Nina sangat terpukul. Dan saat dia masuk ke dalam, dia melihat Nina sedang menangis sambil memegang perutnya. Bu Ningsih langsung menghambur memeluk tubuh Nina.
Merasa dirinya dipeluk, Nina pun membalas pelukan itu. Dia menangis di dalam dekapan ibu mertuanya. "Bayi Nina, Bu. Bayi Nina...," ucap Nina dengan terbata, dia tidak sanggup hanya untuk mengucapkan satu kata pun.
"Yang sabar ya Nak! Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Ibu yakin, jika ini yang terbaik dari Allah," ucap bu Ningsih sambil mengelus kepala Nina.
-----------------
Setelah kejadian keguguran itu, Nina pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak pulang ke rumah Fahri. Nina juga sudah menyiapkan surat untuk pengajuan perceraiannya ke pengadilan agama.
Dia tidak bisa lagi menjalankan rumah tangganya bersama Fahri, terlebih dia melihat secara langsung jika suaminya bermain api di belakang bersama wanita lain. Mungkin jika hanya bermain api saja Nina akan bisa memaafkan, tetapi tubuh suaminya sudah dinikmati wanita lain, dan Nina tidak bisa memaafkan itu. Dia tidak ingin memiliki suami yang gampang celup ke sana ke sini.
"Nina, kamu beneran mau menggugat aku ke pengadilan?" Tanya Fahri dengan nada menekan.
"Memangnya kenapa Mas? Harusnya kamu senang dong, kalau kita bercerai? Kan kamu bisa menikahi Resti, yang lebih menggoda, yang lebih cantik, dan pastinya yang lebih bisa memuaskan kamu di atas ranjang." Nina menjawab tanpa menoleh ke arah Fahri sedikitpun.
Melihat itu Fahri merasa kesal, dia menarik lengan Nina hingga menghadap ke arahnya, dan menatap tajam istrinya itu.
"Apa kamu pikir bercerai itu mudah? Apa semuanya tidak butuh biaya? Apa kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku?"
Mendengar ucapan Fahri, Nina pun terkekeh, lalu melepas cengkraman yang ada di lengannya. Kemudian dia mendelik dengan tajam ke arah Fahri. Sorot mata Nina memancarkan kebencian, amarah, dan juga kecewa kepada laki-laki tampan yang ada di hadapannya itu, yang masih bergelar sebagai suaminya.
__ADS_1
"Mas, Mas...! Kamu pikir pria di dunia ini tuh cuma kamu? Emang kamu pikir, pria yang lebih dari kamu itu nggak ada? Banyak Mas! Kamu pikir, aku nggak bisa ngurus perceraian kita? Jangan kamu pikir, selama ini aku diam, itu aku lemah? Nggak Mas! Aku diam karena aku menghormati kamu! Aku diam, karena surga aku ada pada kamu! Tapi kali ini, kamu sudah menghancurkan hatiku! Kamu sudah menghancurkan hidup aku, dan kamu sudah membunuh anak kita! Jadi, tidak ada kata maaf bagi kamu Mas! Sebaiknya kamu pulang, karena aku sudah muak lihat muka kamu!" Jelas Nina sambil meninggalkan Fahri.
Fahri mengepalkan tangannya, menggeram dengan begitu kesal sambil menatap punggung Nina. Tidak dia sangka wanita yang selama ini manja dan lemah di hadapannya, ternyata di saat tersakiti dia akan lebih ganas daripada Fahri. Dan ucapannya lebih tajam daripada silet.
---------------------
Tidak terasa, dua bulan telah berlalu. Nina dan Fahri pun sudah resmi bercerai, dan saat ini Nina sedang bersiap untuk pergi ke kota. Tepatnya dia akan melihat keadaan Dea.
"Nak, lalu kamu di kota akan tinggal di mana?" Tanya ibu Nina kepada putrinya.
"Ibu tenang saja! Tidak usah memikirkan itu. Aku sudah menelpon tante Linda, dan ternyata aku diizinin buat tinggal di sana. Aku ingin menemui sahabatku yang masih tidur beberapa bulan ini Bu. Sudah 3 bulan lamanya dia tertidur,.dan aku belum menengok dia Bu, karena masalah aku kemarin. Aku ingin menemuinya! Aku ingin menceritakan semua kenangan, tentang aku dan dia. Siapa tahu kan? Dia akan sadar jika aku menceritakan tentang masa-masa kecil kita, kenangan kita," ujar Nina sambil memasukkan baju ke dalam tas.
"Ya sudah, kamu hati-hati di sana. Ibu titip salam ya, buat Bu Siti. Maaf Ibu tidak bisa ke sana, karena kerjaan Ibu di sini sangat padat. Kamu kan tahu, ibu tidak bisa meninggalkan sawah."
"Iya Bu, nanti Nina sampaikan. Kalau gitu Nina pamit dulu ya Bu! Bang Cecep sudah menunggu di depan," pamit Nina kepada sang Ibu, lalu mencium tangannya dengan takzim. Setelah itu dia naik motor untuk ke Terminal berangkat ke kota menemui Dea.
Nina sudah tahu keadaan Dea, hanya saja perceraiannya dengan Fahri menguras waktu dan juga tenaga. Sehingga Nina belum sempat untuk menjenguk Dea. sebagai seorang sahabat, tentu saja Nina sangat terpukul. Karena walau bagaimanapun, Dea adalah salah satu sahabatnya dari kecil.
Suka dan duka mereka selalu melewatinya bersama. 'Tunggu aku De, aku datang untuk menemui kamu! Aku berharap setelah kedatanganku, kamu akan bangun. Aku tidak ingin melihatmu tidur terus menerus,' batin Nina sambil melihat ke arah jalanan.
Bersambung. ......
__ADS_1