Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Mengantar Kepasar


__ADS_3

Happy reading.........


Ibu Siti, Nina, Mama Linda dan juga Papa Bachtiar sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Mereka juga ingin melihat keadaan Dea yang katanya sudah bisa menggerakkan tangan.


Di dalam mobil, Nina terus saja mengajak ngobrol Berlian, dia begitu menyayangi anak dari sahabatnya itu. "Berlian, sebentar lagi kan kamu akan bertemu sama Mama. Nanti di sana B


erlian pegang tangan Mama ya! Supaya Mama cepat sadar," ucap Nina sambil memegangi botol yang ada di mulut Berlian, sebab saat ini Berlian tengah meminum susu.


Sesampainya di rumah sakit, Mereka pun turun dan menuju ruangan di mana Dea dirawat. "Assalamualaikum...!" Ucap mereka serempak.


Saat mereka masuk, tubuh mereka seakan mematung tidak bisa bergerak sama sekali. Mata mereka membulat menatap Dea yang tengah duduk dan sedang disuapi oleh Dev.


Dea yang melihat keluarganya datang pun tersenyum. "Dea, anakku!" ucap Bu Siti sambil menitikan air mata. Dia segera menghambur memeluk tubuh putrinya.


"Anakku... Kamu sudah bangun Nak? Kamu sudah sadar! Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah...!" Ibu Siti terus aja mengucap syukur kepada Allah atas sadarnya Dea. Dia terus memeluk tubuh Dea sambil menangis dalam pelukan putrinya.


"Iya Bu, Dea udah bangun!" Jawab Dea sambil memeluk tubuh ibunya. Dea begitu merindukan pelukan yang selama beberapa bulan ini tidak dia rasakan.


Kemudian Mama Linda dan juga Papa Bachtiar pun mendekat ke arah Dea, lalu mencium kening Dea bergantian. "Mama dan Papa senang, karena kamu sudah sadar Nak. Kami menunggu momen-momen seperti ini selama 3 bulan. Kami semua sangat merindukanmu! Rumah kami sepi tanpa kamu Nak," Ucap Mama Linda sambil mengusap kepala Dea.

__ADS_1


Dea tersenyum lalu pandangan matanya beralih ke arah Nina, di mana Dia sedang menggendong seorang anak bayi perempuan yang begitu menggemaskan.


"Itu anak siapa Mas?" Tanya Dea pada Dev, sambil melihat ke arah Nina.


Dev tersenyum, lalu berjalan ke arah sahabat Dea yang sedang menggendong putrinya. Kemudian dia mengambil alih Berlian dari gendongan Nina, dan berjalan menuju ke arah Dea kemudian Dev menaruh Berlian di sisi ranjang Dea.


"Ini Putri kita sayang! Dia Berlian." Mendengar itu Dea langsung menggendong Berlian, lalu mengecup wajah bayi mungil itu berkali-kali. Dia menangis bahagia, air matanya deras mengalir di kedua pelupuk mata Dea.


"Anakku, akhirnya Ibu bisa melihat kamu Nak! Akhirnya Ibu bisa memeluk kamu! Akhirnya Ibu bisa mencium dan juga memegang tangan kecilmu. Ibu sangat bersyukur, karena Allah masih memberikan Ibu umur yang panjang. Allah masih memberikan Ibu kesempatan untuk melihat, dan juga merawat kamu Nak," ucap lirih Dea sambil mengecupi wajah Berlian.


Dia begitu bahagia bisa merasakan bagaimana menjadi Ibu yang sesungguhnya. Dia benar-benar bersyukur, walaupun selama 3 bulan Dea melewatkan momen-momen bersama dengan Berlian. Tapi sekarang, dia tidak ingin melewatkan satu momen pun atau bahkan 1 menit pun bersama dengan Berlian dan juga keluarganya.


-----------------------


Sudah dua hari Dea dirawat di rumah sakit setelah Dea sadar dari komanya. Dan hari ini Deaa sudah diizinkan pulang oleh dokter. Sementara itu Nina sedang bersiap untuk ke pasar. Dia akan berbelanja, sebab kepala pelayan yang ada di sana sedang sakit. Jadi mau tidak mau Nina yang membantu untuk belanja ke pasar, membeli sayur dan juga yang lain.


Saat Nina akan berangkat ke pasar, tiba-tiba Hazel datang bersama dengan Alvin dan juga Lala berbarengan.


"Kamu sahabatnya Dea kan?" Tanya Alvin saat berpapasan dengan Nina di ruang tamu, Nina mengangguk. "Iya, saya sahabatnya Dea!" jawab Nina.

__ADS_1


Lalu Hazel pun menceritakan dan menjelaskan kenapa Nina berada di sana. Lala dan Al mengangguk, mereka sangat paham. Setelah itu Nina pamit untuk ke pasar.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Hazel pada Nina,


"Saya mau ke pasar, Tuan. Saya mau membeli sayur dan juga yang lain. Soalnya buat makan nanti siang, kan Dea sudah pulang ke rumah ini, kita mau menyambut kedatangan Dea," ujar Nina.


Hazel pun menawarkan diri untuk mengantar Nina, tetapi dengan cepat Nina menolak. "Tidak, terima kasih Tuan! Saya biar naik ojek saja. Kalau begitu saya pamit dulu, assalamualaikum...!" Pamit Nina sambil berlalu keluar dari kediaman Bachtiar.


Hazel diam, sedangkan Alvin menatap sahabatnya dengan Tatapan yang begitu intens. "Lo kalau mau kejar, jangan diem aja? Gimana sih?" Ujar Al mengangkat suara sambil duduk di sofa.


Hazel yang mendengar itu pun seketika tersadar, dia langsung berlari mengejar Nina ke teras. Dan saat Nina akan membuka gerbang, Hazel menghentikannya. "Ada apa Tuan?" Tanya Nina yang kaget saat Hazel menarik tangannya.


"Ayo, biar saya antar," ucap Hazel sambil menarik tangan Nina ke arah mobilnya. Tetapi Nina dengan cepat melepaskan tangan Hazel pada lengannya.


"Maaf tuan! Tidak usah, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri kok. Lagian kan Tuan baru datang!" tolak Nina, namun Hazel menggeleng dengan cepat. "Tidak, ini perintah dari Tante Linda. Ayo, nanti saya dimarahi kalau saya tidak mengantar kamu!" Alibi Hazel. Padahal Tante Linda tidak menyuruh Hazel sama sekali, bahkan mereka tadi belum bertemu.


Mendengar itu Nina pun akhirnya setuju dan masuk ke dalam mobil Hazel. Kemudian mereka meninggalkan kediaman Bachtiar untuk menuju ke pasar.


Bersambung. .....

__ADS_1


__ADS_2