
Heppy reading........
Tante Eriska mendengarkan ucapan Monica, dia berpikir jika apa yang diucapkan Monica, mungkin benar. Tetapi itu hanya teman Hazel.
"Mungkin hanya temannya saja. Lagi pula, kan kamu tahu Hazel itu orangnya sangat welcome,.dengan siapapun. Dia tidak pernah membanding-bandingkan," ucap Tante Eriska sedikit menohok hati Monica.
"Iya Tante, memang benar. Tetapi kalau Hazel punya perasaan sama wanita kampung itu, gimana Tante? Emangnya Tante mau ya, punya menantu kampungan kayak gitu? Dari tampangnya aja udah kelihatan, apalagi gaya nya! Aduh Tante, mau ditaruh di mana nanti muka keluarga Tante, kalau sampai Hazel nikah sama dia?"
Monica terus memprovokasi tante Eriska, agar wanita paruh baya itu tidak merestui Nina dan juga Hazel. Dan Monica ingin jika tante Eriska, membenci dan tidak suka kepada Nina.
Mendengar penuturan Monica, tante Eriska tersenyum. Dia menatap gadis yang berusia 24 tahun di hadapannya itu. "Tante tidak masalah kok, kalau Hazel cinta kepada wanita itu? Selagi akhlak dan juga perilakunya baik, kenapa enggak? Tante akan mendukung dengan siapapun itu, asalkan wanita itu memang wanita yang baik! Lagipula soal penampilan itu bisa di rubah," ujar tante Eriska.
Jawaban tante Eriska begitu membuat Monica marah, di bawah meja kedua tangan Monica mengepal dengan kuat. Dia pikir, kalau Tante Eriska akan terprovokasi oleh ucapannya. Tetapi ternyata salah, Tante Eriska tidak sama sekali terprovokasi oleh ucapan dari Monica.
"Tapi Tante, bagaimana dengan keluarga Tante? Bagaimana dengan om Sandi? Apakah Om Sandi akan setuju, kalau Hazel bersama dengan wanita itu? Mau ditaruh di mana muka keluarga Tante nanti, kalau benar wanita itu wanita kampung dan hanya mengincar hartanya Hazel? Apa Tante akan tinggal diam?"
Monica pantang menyerah, dia terus berusaha untuk memprovokasi perasaan dan juga hati Tante Eriska, agar wanita itu membenci Nina.
__ADS_1
"Jika memang wanita itu mengincar hartanya Hazel, Tante akan bertindak. Tetapi Tante tahu kok, dan Tante percaya Hazel itu tidak akan pernah salah memilih wanita. Dia tahu mana yang terbaik untuk dia, dan tante percaya itu. Mangkanya kenapa, Hazel selalu menolak jika Tante menjodohkan dia dengan siapapun. Dan sampai saat ini, Tante masih menunggu wanita mana yang akan dikenalkan Hazel kepada tante."
Rahang Monica mengeras, dia berpikir jika dia akan berhasil untuk memprovokasi Tante Eriska. Tetapi ternyata dia salah, hatinya terlanjur panas dan juga kesal. Setelah itu Monica pun pamit kepada tante Eriska, dia bilang jika dia ada urusan bersama teman-temannya. Padahal hatinya sudah terlanjur gondok mendengar jawaban Tante Eriska yang tidak sesuai dengan harapannya.
Sementara itu, Tante Eriska melanjutkan makan siangnya, dia tidak ambil pusing dengan ucapan Monica. Sebab Tante Eriska pun mengerti dan juga sudah hafal watak dan juga sifat dari anaknya.
Dan sebagai ibu, Tante Eriska hanya bisa mendoakan supaya Hazel memang memilih perempuan yang baik. Setelah makan siang selesai, Tante Eriska pun pulang ke rumah.
----------------------------
Dia juga ingin membicarakan tentang percakapan Monica tadi siang di cafe kepada Hazel. Dia ingin memastikannya secara langsung kepada anaknya. Apakah benar yang dikatakan Monica, atau hanya Monica yang mengada-ngada.
"Kamu ini disuruh pulang sama orang tua aja, protes? Sydah sana mandi dulu, nanti kita makan malam. Setelah itu ada yang mau mama tanyakan pada kamu!"
Walaupun Hazel bingung dan juga penasaran, dia pun menuruti perkataan sang Mama. Dia masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai 2,kemudian membersihkan diri. Setelah itu dia dan juga kedua orang tuanya pun makan malam bersama.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sehingga setelah makan malam selesai, Tante Eriska dan juga Om Sandi meminta Hazel untuk ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa sih Mah, Pah? Kenapa Mama dan Papa minta aku untuk pulang?" Tanya Hazel sambil menatap kedua orang tuanya yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu jangan tanya sama Papa! Tanyanya, sama Mama kamu dong. Papa aja nggak tahu! Lagian kamu ini, pulang ke rumah sendiri kenapa harus protes?" ujar Om sandi sambil menatap tajam ke arah Hazel.
Hazel yang ditatap oleh Papanya, seketika menggaruk belakang lehernya dengan tertawa nyengir, menampakan deretan giginya yang putih.
"Hehehe... Kan aku lagi sibuk Pa, jadi nggak sempet pulang ke sini. Sebenarnya ada apa sih? Kok Mama sampai manggil aku ke sini?" Tanya Hazel dengan penasaran.
"Tadi, sepulang Mama arisan. Mama ke cafe dan tidak sengaja bertemu dengan Monica, dan dia bercerita jika kemarin saat di pesta ulang tahunnya Olive, kamu bersama dengan seorang perempuan! Apa itu benar Hazel?"
Mendengar pertanyaan sang Mama, Hazel terdiam. Dia meretuki Monica di dalam hatinya, lalu kemudian dia mengangguk. "Iya Ma, aku memang mengajak seorang perempuan untuk menemaniku ke pesta. Lalu... Apa ada yang salah?" Tanya Hazel kembali.
"Kata Monica, wanita itu kampungan, norak, dan dia mendekati kamu karena harta kamu! Apa itu benar?"
Kedua tangan Hazel terkepal dengan kuat, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam. 'Dasar wanita ular itu! Lihat saja, kau benar-benar menantangku Monica!' batin Hazel menggeram dengan kesal.
Bersambung. . .........
__ADS_1