
Happy reading....,.....
Dea kembali menyusui Putri semata wayangnya, sementara itu Dev berada di samping Dea sambil memainkan handphonenya. Seketika Dea teringa dengan ucapan Nina tadi tentang Fahri.
"Mas, tadi pas Nina nelpon. Dia bilang sama aku, kalau mantan suaminya itu gangguin dia. Aku kok jadi takut ya Mas! Aku takut kalau Kak Fahri nanti buat kacau acara lamarannya Nina besok," ucap Dea sambil mengancingkan kancing bajunya setelah menyusui Berlian.
Dev meletakkan ponselnya saat mendengar ucapan Dea. Dia kemudian beralih menatap istrinya. "Untuk apa lagi sih pria bleketot itu mengganggu Nina? Apa tidak cukup dia dulu mengganggu kamu! Sekarang dia mengganggu Nina juga? Dasar biaya cap udang," geram Dev dengan wajah kesal.
Dea terkekeh kecil saat melihat wajah kesal suaminya, kemudian dia pun mencubit pipi Dev dengan gema.
"Masih aja cemburu sih! Lagian itu kan juga udah lama kali Mas, masa kayak gitu aja cemburu."
"Ya kan mana tahu sayang, kalau dia masih nyimpen rasa sama kamu! Awas aja kalau sampai aku tahu, dia masih nyimpen rasa sama kamu, biar aku bejek-bejek dia jadi perkedel tempe."
Dea semakin terkekeh, bahkan dia sampai menutup mulutnya dengan tangan, karena takut membangunkan Berlian. "Ada-ada aja kamu Mas! Masa jadi perkedel tempe? Enaknya tuh buat dimakan. Eh, terus gimana? Aku sih yakin kalau Nina nggak berani bicara kepada Kak Hazel soal ini," ujar Dea.
Dea sangat yakin jika Nina tidak bicara kepada Hazel masalah ini, dia sudah sangat tahu bagaimana sifat Nina, dan dia yakin itu.
"Kamu tenang aja, aku akan kirim pesan kepada Hazel untuk berjaga-jaga. Setidaknya memberikan pengawalan di acara itu, karena aku yakin pria itu pasti akan mengacaukan acara Nina. Tapi motif dia mengacaukan acara Nina itu karena apa? Bukannya dia itu selingkuh ya? Lalu kenapa sekarang dia mau balikan sama Nina? Kenapa sekarang dia ngejar-ngejar Nina kembali? Bukannya selama ini dia tidak pernah mencintai Nina, sampai dia selingkuh dengan wanita lain?" Dev berujar dengan heran.
Dea pun mengangguk, dia juga merasa heran kenapa Fahri sampai mengejar-ngejar Nina kembali. Padahal kalau dipikir, benar apa yang dikatakan suaminya, jika selama ini Fahri tidak pernah mencintai Nina. Lalu, kenapa sekarang dia ingin sekali untuk kembali kepada Nina.
__ADS_1
---------------------------
Tepatnya di sebuah penginapan, Hazel sedang memangku laptopnya untuk mengerjakan tugas kantor dia, namun seketika ponselnya berdenting, tanda sebuah pesan masuk. Kemudian dia pun membuka pesan itu, dan ternyata dari Dev. Dan saat membaca pesan Dev, mata Hazel membulat dengan wajah kaget.
"Ternyata aku terlalu meremehkan pria kampung itu? Lihat saja, jika berani dia mengacaukan acara aku besok, aku tidak akan pernah mengampuni dia," geram Hazel sambil meremas ponselnya.
Hazel pun menelpon anak buahnya untuk memberikan pengawalan di acara besok, dia tidak ingin acara lamarannya bersama dengan Nina kacau karena ulah Fahri.
"Sepertinya aku harus menyusun strategi untuk menikah dengan Nina di tempat lain. Karena kalau di kampung Nina, sudah pasti si pria kadal buntung itu akan mengacaukan acara pernikahanku dengan Nina. Aku harus membicarakan ini kepada keluarga Nina juga," gumam Hazel sambil mengangguk anggukan kepalanya.
------------------------
Hazel juga sudah menempatkan 10 orang anak buah untuk berjaga di depan, karena dia tidak mau Fahri mengacaukan acara itu.
Tak lama, Nina pun keluar dari kamar, dituntun oleh ibunya. Dan tanpa berkedip sama sekali, Hazel terus menatap Nina hingga tante Eriska menyenggol lengan Hazel, dan membuat pria itu tersadar dan langsung menundukkan kepalanya.
Nina duduk di hadapan Hazel, kemudian acara pun dimulai. Di mana orang tua Hazel meminta dan melamar Nina untuk Hazel, Putra semata wayang mereka.
Saat acara itu telah selesai, dan Nina memberikan jawabannya. Tiba-tiba di luar terdengar kerusuhan, dan benar saja, jika itu adalah Fahri. Semua yang ada di ruang tamu pun berjalan keluar.
"Nina, aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan dia! Kamu harus kembali kepadaku, Nin. Aku benar-benar menyesal! Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa kehilangan kamu Nin. Tolong Nina, kembalilah kepadaku!" teriak Fahri sambil memberontak saat beberapa anak buahnya Hazel memegang tubuh Fahri agar tidak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Hazel mengepalkan kedua tangannya, namun saat dia ingin maju, Om Sandi memegang bahu Hazel, dan menggelengkan kepalanya, tanda jika Hazel tidak boleh menemui Fahri.
Pak Joko, ayahnya Nina, berjalan mendekat ke arah Fahri. Kemudian dia menatap pria itu dengan tatapan yang tajam. "Kenapa kamu mengacaukan acara lamaran anak saya? Apa yang kamu inginkan dari Nina?" Tanya Pak Joko kepada Fahri dengan tatapan yang tajam.
"Saya ingin Nina kembali kepada saya Pak! Saya tahu jika saya salah, tapi saya yakin, jika Nina masih mencintai saya Pak. Dan dia terpaksa menerima lamaran ini," ucap lantang Fahri.
Bu Ningsih lari tergopoh-gopoh, lalu dia menghampiri putranya dan menampar wajahnya.
Plak
"Kenapa kamu membuat malu Ibu saja Fahri? Sudah, ayo pulang! Jangan membuat malu," ucap bu Ningsih dengan geram sambil menarik tangan Fahri, namun Fahri menggeleng dengan cepat dan melepaskan tangan ibunya di lengan dia.
"Tidak Bu! Aku tidak mau pulang, sebelum Nina kembali kepadaku," tolak Fahri dengan keras.
"Dasar bocah gemblung! Kau sudah menghianati Nina, sekarang kau ingin Nina kembali kepadamu? Apa kau tidak punya ot*k! Apa kau tidak berpikir, bagaimana Nina melewati semua rasa sakitnya? Kau menghianati dia, dan malah berzina dengan wanita lain di saat Nina sedang hamil? Apa lelaki sepertimu itu pantas untuk dipertahankan?" Geram Pak Joko kepada Fahri, sambil menatap Fahri dengan sorot mata yang begitu tajam.
Dia selama ini sudah diam, tetapi pada akhirnya kesabaran dia juga ada batasnya. Dan dia tidak mau jika Nina kembali ke lubang yang sama, dan malah tersakiti kembali. Dia tahu motif apa yang membuat Fahri begitu ngebet ingin Nina kembali kepadanya.
"Saya tahu, motif kamu. Kenapa kamu ingin sekali Nina kembali kepadamu! Apa kamu pikir saya ini bodoh? Apa kamu pikir, saya tidak tahu kenapa kamu ingin mengambil Nina kembali," ucap Pak Joko dengan sorot mata yang begitu penuh amarah, dan menunjuk wajah Fahri, hingga membuat suasana di sana semakin tidak terkendali.
Bersambung. . .........
__ADS_1