Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Hanin (Hazel dan Nina) Makan Malam


__ADS_3

Happy wedding


Saat ini Nina sedang memakaikan pakaian kepada Berlian, tiba-tiba Dea masuk ke dalam kamar, lalu dia duduk di samping Nina sambil memperhatikan Nina yang sedang memakaikan putrinya itu pakaian.


"Nin...!" Panggil Dea.


Nina menengok ke arah Dea sekilas, lalu kembali fokus kepada Berlian. "Hem, ada apa De?" Tanya Nina.


"Tadi Kak Hazel ke sini ya?" Mendengar itu Nina menggangguk tanpa menoleh ke arah Dea sedikitpun. Karena dia sudah tahu jika Dea ada di balkon dan melihat semuanya.


"Untuk apa dia ke sini?" Tanya Dea pura-pura tidak tahu.


Nina selesai memakaikan Berlian baju, kemudian dia menggendong Berlian dan memberikannya susu. "Dia ke sini mau ngajak aku buat makan malam. Katanya sih, acara keluarga? Menurut kamu bagaimana De?" Tanya Nina kepada Dea.


"Lalu... Apa kamu sudah menjawabnya?" Nina menggeleng. "Aku bahkan belum menjawabnya, dia sudah pergi," ujar Nina sambil terus memberikan susu di dalam botol kepada Berlian.


Mendengar itu Dea tersenyum. "Nin, kamu kan sekarang sudah bukan gadis lagi! Kamu juga sudah pernah berumah tangga. Jika memang ada pria yang serius dengan kamu! Apa kamu akan menerima pria itu?" Tanya Dea sambil menatap Nina dengan serius.


Nina terdiam mendengar pertanyaan Dea, dia pun bimbang kepada hatinya. "Entahlah De, aku bingung! Aku benar-benar trauma dengan perceraianku dan juga Mas Fahri," jelas Nina dengan wajah sendu.


Nina kembali teringat dengan rasa sakit yang pernah Fahri torehkan. Dia kembali mengingat di mana Fahri berselingkuh dengan Resti. Entah kenapa hatinya kembali sesak, dia belum bisa melupakan kejadian menyakitkan itu. Terlebih Fahri dulu mengelak, dan menganggap jika apa yang Nina bicarakan itu adalah bohong. Jika saja dulu Nina tidak mempunyai buktinya, maka semua akan menuduh Nina dengan pembohong ulung.


Dea semakin mendekatkan tubuhnya kepada Nina, kemudian dia memegang lengan sahabatnya. "Dengarkan aku Nin! Aku ini sahabat kamu! Aku paham apa yang kamu rasakan. Tetapi, hidup terus berjalan. Kamu butuh seseorang untuk mendampingi masa tua kamu! Tidak mungkin kamu sendiri terus-menerus bukan? Umur semakin bertambah, dan tidak mungkin jika kamu akan seperti ini terus? Jika ada pria yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus, menerima status kamu, menerima kamu yang apa adanya, begitupun dengan keluarganya, maka aku sebagai sahabat kamu hanya bisa menyarankan, terimalah, karena aku yakin, dia adalah jodoh yang Allah siapkan untuk kamu! Sedangkan Kak Fahri, hanya sebuah tali untuk meraih sebuah jodoh yang sesungguhnya."

__ADS_1


Nina menatap kedua bola mata indah milik Dea. Dia begitu terharu dengan perhatian dan juga kasih sayang Dea kepadanya. Tidak Nina pungkiri, Jika dia pun ingin memiliki teman hidup yang menerima dia apa adanya,.dan mencintai dia tanpa syarat.


"Aku akan menerima lelaki itu, jika memang dia mencintaiku dengan tulus, tanpa syarat. Dan keluarganya juga mau menerima statusku, yang sudah tidak lagi gadis," ujar Nina.


Dea yang mendengar itu segera memeluk sahabatnya, dia begitu bahagia sebab sebentar lagi Nina akan mempunyai teman hidup yang menerimanya, dan mencintainya apa adanya.


--------------------------


Malam pun telah tiba, saat ini Hazel baru sampai di teras kediaman Bachtiar. Dia sudah menggunakan jas dipadu dengan kemeja navy, begitu sangat tampan dan mempesona. Membuat siapa saja yang melihatnya menjadi tertawan.


Nina pun sudah siap dengan Gamis Indah milik Dea. Dea sengaja memberikan Nina gamis, karena Nina tidak memiliki baju yang bisa dibilang mewah sama sekali. Dea juga mendandani wajah Nina, hingga terlihat begitu cantik dan manis. Tetapi tidak terkesan mewah, jamun sangat terlihat elegan.


Dengan perlahan Dea menuntun Nina menuruni tangga menuju Hazel yang ada di ruang tamu, duduk bersama dengan Dev.


"Ingat, jaga Nina dengan baik! Kalau sampai terjadi apa-apa sama Nina, lu gue cin-cang!" Ucap Dev kepada sahabatnya itu, sambil menepuk pundak Hazel.


"Tenang ajan! Nina nggak bakalan gue makan. Lagian, kayak ama siapa aja lo? Dia aman bersama gue," ujar Hazel sambil berlalu keluar dari kediaman Bachtiar bersama dengan Nina.


"Terima kasih," ucap Nina saat Hazel membukakan pintu mobil untuknya. Hazel mengangguk sambil tersenyum manis, kemudian dia menutup pintu mobil itu dan berjalan ke samping kemudi.


Entah kenapa, sedari tadi jantung Nina tidak henti berdebar. Dia seperti seseorang yang akan pergi bersama seorang pangeran, tetapi Nina segera menepis perasaan itu. Namun hati tidak bisa berbohong, jantungnya terus berdebar dengan keras hingga Nina meremas tangannya satu sama lain.


"Sebenarnya kita mau ke mana? Dan ada acara apa?" Tanya Nina pada Hazel dengan penasaran.

__ADS_1


"Nanti kamu juga akan tahu di sana, ada acara apa," ucap Hazel dengan tersenyum miring.


Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka, hanya ada keheningan hingga mobil pun sampai di tempat tujuan. Tepatnya di sebuah restoran, yang sudah Hazel booking melalui asistennya. Tempat itu juga sudah disulap menjadi tempat yang begitu romantis, karena Hazel ingin memberikan kesan yang mendalam kepada Nina.


Dengan bingung, Nina pun ikut masuk ke dalam bersama Hazel. Tetapi tatapannya menatap ke sekeliling dengan heran, sebab restoran itu terlihat begitu sepi, dan hanya ada mereka Dan beberapa pelayan saja. "Kenapa sepi ya Tuan?" Tanya Nina sambil melihat ke sekeliling restoran.


Hazel hanya diam sambil tersenyum, kemudian mereka pun tiba di satu meja, di mana meja itu dikelilingi oleh berbagai bunga yang begitu indah, bahkan dihias begitu sangat romantis. Jantung Nina makin berdebar, dia seperti berada di dalam film-film di mana Putri akan dilamar oleh seorang pangeran.


'Kenapa begitu indah, tempat ini seperti ada acara lamaran saja?' batin Nina sambil melihat ke sekeliling meja yang ada di sana.


"Duduklah!" ucap Hazel kepada Nina.


Saat mereka berdua sudah duduk, pelayan pun mulai menyiapkan makanan, dan di bawanya ke sana. Sementara itu satu orang pemain biola yang ada di belakang Hazel, mulai memainkan biola itu dengan sangat merdu, membuat suasana benar-benar semakin romantis.


Sedangkan Hazel hanya tersenyum, melihat wajah bingung Nina. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengungkapkan perasaannya kepada Nina. Tetapi dia juga harus menunggu time yang tepat, agar dia bisa mengungkapkannya secara lugas. Karena tidak Hazel pungkiri, jika saat ini dadanya berdebar dengan kuat, berdebar takut ditolak oleh Nina.


'Ya Allah, kenapa suasananya begitu romantis? Aku seperti sedang berhadapan dengan kekasih saja, dan akan dilamar. AduhnNina... Kenapa pikiranmu malah ke sana sih? Mana mungkin Tuan Hazel mau melamar kamu? Lagi pula, ini kan acara keluarga. Tapi, mana keluarganya ya?' batin Nina sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang. Tetapi tidak ada, selain hanya dia, Hazel, pemain biola dan juga dua orang pelayan.


"Tuan, sebenarnya ini ada acara apa?" Tanya Nina dengan penasaran, dia sudah tidak bisa lagi membendung rasa itu.


"Katanya ini acara keluarga? Lalu keluarga Tuan Hazel dimana? Apa mereka belum sampai?" Tanya Nina lagi, mencecar Hazel dengan pertanyaan.


Bersambung. . ........

__ADS_1


Kita akan lebih ke Nina dan juga Hazel dulu ya๐Ÿ™ƒ kita akan Happy ending-kan mereka dulu, tetapi Dev dan Dea juga masih akan tetap ikut dalam cerita ini so... Ikutin terus ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2