Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 10


__ADS_3

Baru saja datang di kota kelahirannya, mengenang ayah Burhan dan ibunya. Kiran merasa kesal dengan kedatangan orang ini. Walaupun tampilan kak Dhika sekarang berbeda dari dulu, tapi semua rasa benci yang ada di dalam hati Kiran tidak bisa hilang begitu saja.


Dia berhasil mengusir kak Dhika di pagi hari, lalu membersihkan rumah yang hampir enam bulan tidak dihuni. Rumah itu bersih kembali tapi badan Kiran terasa remuk. Perutnya kemudian berbunyi keras.


"Oh iya. Gue belum makan dari pagi"


Kiran mengambil kue yang dibawakan oleh Paman dan dua sahabatnya. Untuk sementara perutnya terisi dan hatinya tenang.


Rumah ini ternyata semakin tua. Kiran menemukan banyak sekali retak di dinding dan merasa sedih. Padahal rumah ini menyimpan banyak sekali kenangan keluarganya. Lalu ponselnya berdering. Kiran mengangkat telepon dari Bibinya.


"Udah sampe kok gak telpon?" tanya Bibi.


"Habis sibuk bersih-bersih Bi. Kotor banget rumahnya"


"Padahal yang nyewa terakhir itu lumayan rajin lho"


"Gimana lagi Bi. Rumahnya udah tua banget"


"Iya juga sih. Tapi jangan capek-capek. Kamu kan bisa istirahat dulu"


"Tapi kasurnya udah lapuk banget Bi. Kayaknya Kiran harus beli kasur sama lemari baru nih"


"Iya kamu beli aja, biar nyaman"


Mereka berbicara lagi tentang masalah rumah dan kenangan yang ada di dalamnya. Selama sepuluh menit itu Kiran serasa kembali ke lima belas tahun yang lalu. Saat Kiraan masih sering menghabiskan waktu dengan Bi Tia.


"Ada yang dateng gak ke rumah?" tanya Bi Tia seakan memiliki indra keenam.


"Gak ada"


Kiran terpaksa berbohong. Dia tahu kalau Bi Tia masih belum bisa melupakan semua ejekan saudara ayah Burhan juga bentakan kak Dhika sepuluh tahun lalu.


"Ya udahlah. Kalo anak itu kesitu, jangan diterima!"

__ADS_1


Bibi pernah bercerita kalau orang itu pernah datang ke Jakarta beberapa kali, untuk minta maaf dan bertemu dengan Kiran. Tapi Bi Tia menolaknya mentah-mentah. Tidak akan lagi Bi Tia dan Kiran mau menemui orang itu. hanya saja Kiran sial hari ini. Dia harus bertemu orang itu pagi ini.


"Ya udah Bi. Aku belanja kasur dulu"


"Iya. Jangan lupa telpon Cia sama Putri. Apalagi Cia, nangis-nangis telpon Bibi terus dari kemarin malam"


Kiran tersenyum, merasa hatinya kembali hangat. Sayang sekali dia tidak bisa dekat dengan semua orang yang disayanginya.


"Iya Bi"


Kiran menutup telepon dan pergi ke kamar. Mencatat apa saja yang dibutuhkannya sebelum keluar. Tak lama, dia berganti baju lalu keluar ke salah satu mall dekat dengan rumah.


Sepanjang jalan, Kiran takjub dengan perubahan yang terjadi pada kota kelahirannya. Memang ada gedung baru di kota ini tapi banyak juga yang masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Dia sangat menikmati acara jalan-jalannya lalu sampai di sebuah mall besar. Disini dulu hanya ada lapangan sepak bola dan gelanggang renang. Dia masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan mendapati beberapa orang sedang melihat ke arahnya. Apa ada yang salah dengannya? Kenapa orang-orang ini menatapnya dengan mata seperti itu? Merasa tidak memiliki masalah dengan penampilannya, Kiran mulai mencari apa yang dibutuhkannya.


"Mbak-nya cari apa?" tanya salah satu penjaga di gerai furniture yang didatanginya. Bau kali ini Kiran dipanggil Mbak. Dan dia merasa senang.


"Saya cari kasur ukuran 120 x 100. Sama lemari dan meja kecil"


Penjaga gerai itu mengajaknya berkeliling sambil menjelaskan beberapa produk yang sesuai dengan yang dicari oleh Kiran. Dia memilih dan membayar dengan cepat lalu pergi ke sebuah tempat makan. Selama ini dia sudah menabung untuk waktu "keluar rumahnya" ini. Tapi dia tetap harus menghemat sampai menerima gaji yang tetap dan sesuai di pekerjaannya.


"Hai" sapa laki-laki itu.


"Hai"


"Kamu gak nyimpern nomorku ya?"


Kiran sudah meremas kertas berisi nomor telpon tadi dan sekarang dia merasa tidak enak.


"Emangnya kenapa kasih nomor ke aku?" tanya Kiran.


"Yaa. Aku pengen kenalan sama kamu. Kamu ... cantik banget"


Apa? Cantik banget? Kiran tidak tahu kalau ternyata dia akan mengalami sesuatu seperti ini.

__ADS_1


"Tapi ... "


Dia ingin menolak kenalan tapi karena berada di tempat umum sepertinya susah menolak keinginan laki-laki ini. Terus bagaimana ya?


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya laki-laki itu.


Pacar? Kiran tidak pernah punya pacar. karena terlalu sibuk kuliah dan mencari uang secara bersamaan. Tapi kalau itu bisa membuatnya lepas dari laki-laki ini maka dia akan berbohong saja.


"Iya. Aku udah punya pacar"


"Ohh gitu. Tapi kamu bilang gitu bukan untuk nolak aku kan?"


Aduhh. Kiran mulai bingung. Dia benar-benar tidak punya pengalaman untuk sesuatu seperti ini.


"Aku beneran punya pacar. Dia lagi nunggu di rumah sekarang. Udah ya"


Lebih baik dia segera pergi dari tempat ini. Agar tidak mengalami sesuatu seperti ini lagi.


Kiran tahu kalau berbohong itu tidak baik dan sekarang dia kena batunya. Ada seseorang yang sedang menunggunya di teras rumah. Tentu saja Kiran mengusirnya pergi tapi orang itu mengomentari bajunya yang terbuka di bagian belakang. Kiran lalu memiliki sebuah pemikiran. Apa gara-gara baju ini dia mendapatkan banyak perhatian di mall tadi? Tapi kenapa orang ini begitu memaksa untuk menutupi punggung Kiran dengan jaket. Dia kesal dan ingin menyingkirkan jaket itu dan berakibat mengalami sesuatu yang mengejutkan. Tanpa berbaik hati lagi, Kiran segera mengusir orang itu dari rumah. Dia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.


"Apaan tadi itu?"


Kiran memegang pipinya yang terkena bibir kak Dhika. Hangat tapi ... menjijikkan. Dia harus mencuci wajahnya dengan sabun beberapa kali.


Besoknya Kiran mulai membersihkan tanaman yang ada di taman depan rumah. Walaupun hanya berukuran kecil, ternyata kegiatan ini menguras tenaga Kiran. Dia duduk di teras, berniat untuk beristirahat lalu melihat sebuah truk besar berhenti di depan rumah. Barang yang dibelinya kemarin sudah datang. Cepat sekali. Mungkin karena jarak mall itu dan rumah Kiran tidak jauh. Hanya sekitar lima ratus meter saja.


"Tolong ditaruh di kamar ya Pak" katanya mengarahkan pegawai toko itu.


Kamar Kiran akhirnya memiliki kasur, lemari dan meja yang baru. Dia merasa senang dan mulai menata kamar. Melupakan lelahnya karena berkebun.


Malam harinya,. Kiran mulai merasakan akibat dari semangatnya berbenah seharian ini. Punggungnya seperti mau terbelah dan kakinya tidak sanggup lagi berdiri. Dia hanya bisa berbaring di kasur dan merasa sangat lapar. Seandainya saja ada Bi Tia disini pasti enak. Dia akan meminta tolong Bi Tia memasak nasi goreng kesukaannya.


"Gak boleh. Gak boleh manja!" katanya lalu berusaha turun dari kasur. Tapi kakinya terlalu lemah dan membuatnya jatuh berdebum ke lantai. Saat dia mulai merasakan sakit di pantatnya akibat jatuh, tiba-tiba saja ada tangan yang mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Zanna?"


Kiran sangat kaget sampai tidak bisa bicara apa-apa waktu menyadari dia sudah ada di dalam gendongan kak Dhika. Orang ini bagaimana bisa masuk? Bukankah dia sudah mengunci pintu depan tadi?


__ADS_2