Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 33


__ADS_3

Byur Byur Byur


Suara tamparan air yang disengaja ke tubuh Kiran.


Beberapa hari ini dia membayangkan tugas luar yang penuh dengan kenangan indah antara dirinya dan mahasiswa. tapi yang terjadi, dia dipaksa untuk menghadapi dua orang paling menyebalkan di dunia ini. Otak dan hatinya terasa panas mengingat semua yang dikatakan baik oleh kak Dhika maupun Bu Desi kepadanya.  Kiran harus melepas semua frustasi ini daripada membuat dirinya hancur dari dalam.


Setelah mandi, dia berganti pakaian. Sepasang baju rumahan paling nyaman dikenakannya. Dia menggelung rambut lalu mengambil ponsel. Setelah memilih beberapa menit, akhirnya Kiran memesan beberapa makanan untuk diantar ke rumah. Untuk meredakan amarah di dadanya, Kiran harus makan. Makan yang banyak agar rasa kesal itu tertelan dan terbuang di toilet besok. Selagi menunggu, dia membaca komik di Mangatoon. Tak lama ada suara ketukan di pintu depan.


"Cepet banget" ucapnya karena berpikir yang datang adalah salah satu makanan yang dipesannya secara online.


"Hai" sapa orang yang berdiri di depannya.


"Pak ... Ryan?"


"Kamu terkejut ya?"


Daripada terkejut, Kiran lebih tidak menduga kalau teman kakaknya datang kesini. Ke rumahnya.


"Kenapa kok ... "


"Sebagai teman kakakmu, sepertinya tidak sopan kalau aku tidak berkunjung kesini. Tapi ... apa aku mengganggu?"


"Enggak. Sama sekali. Kiran cuma lagi nunggu makanan aja"


"Kalo gitu, apa aku boleh masuk?"


Bodohnya Kiran, kenapa dia tidak mengajak pak Ryan untuk masuk? Padahal laki-laki ini adalah tamu pertamanya di rumah ini. Tentu saja kecuali kak Dhika yang kedatangannya tidak akan pernah disambut lagi oleh Kiran.


"Masuk. Silahkan masuk"


Tanpa canggung pak Ryan masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa yang sangat terlihat rusaknya. Meski malu, Kiran tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak emmiliki uang untuk mengganti semua perabotan di dalam rumah ini. Jadi dia menggunakan yang ada saja untuk ruangan selain kamarnya.


"Rumah ini besar sekali ya" komentar pak Ryan.


"Iya. Lumayan untuk Kiran sendiri"


"Kiran? Bukankah Dhika biasa memanggilmu Zanna?"


"Yang memanggil Zanna itu cuma Ibu, ayah dan orang itu"


"Orang itu?"


"Hehehe. Iya. Orang itu"


Kiran malas menyebut nama orang yang membuatnya kesal setengah mati hari ini itu.


"Kamu ... masih benci sama kakakmu?"


"Ehm, Pak Ryan mau minum apa ya?" tanya Kiran tidak ingin membahas tentang orang itu malam ini.


"Seadanya saja"


Kiran pergi ke dapur, mengambil teh kotak yang ada di dalam kulkas dan membawanya ke ruang tamu.


"Adanya cuma ini Pak"


"Tidak apa-apa"


Saat Kiran meletakkan teh kotak di meja, ponselnya berbunyi. Akhirnya satu dari pesanannya datang. Dia pergi ke pintu depan lalu mengambil nasi goreng seafood dari tangan ojek online.


"Saya baru aja pesen nasi goreng Pak. kalo mau ayo makan sama saya" ajak Kiran dengan tersenyum. Dia segera pergi ke dapur lagi untuk mengambil piring dan dua sendok.

__ADS_1


Sebelum dia sempat duduk untuk menyambut Pak Ryan, ponselnya berdering lagi. Kali ini pesanan martabaknya datang.


"Ini ada martabakl manis juga Pak. Kita amakn sama-sama ya"


Sama seperti sebelumnya. Kiran baru saja akan duduk di hadapan pak Ryan saat pesanannya datang. Kali ini es campur dengan topping alpukat yang banyak. Lima menit kemudian datang lagi pesanannya. Gorengan lumpia dan risoles yang masih hangat.


"Maaf ya Pak. tapi tinggal satu lagi kok" katanya lalu merasa tidak enak pada tamunya yang terlihat bingung dengan semua makanan di meja.


"Iya. tapi kamu makan banyak sekali ya"


"Ini ... cuma karena ada kejadian tidak menyenangkan aja pagi ini. jadi Kiran pengen makan agak banyak"


Belum sempat ngobrol, ponsel Zanna berdering lagi. Kali ini seharusnya burger yang dipesannya datang. Tapi ... ternyata tidak hanya burger yang datang, melainkan dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya berdiri di depan pintu. Dengan kantung kertas berisi burger di tangannya.


"Ngapain kesini?" tanya Kiran tidak suka dengan kedatangan orang ini.


"Siapa ada di dalam?"


"Gak ada urusan. Mana burger Kiran?"


"Aku akan meletakkannya sendiri di dalam" jawab kak Dhika lalu menerobos masuk ke dalam rumah. Tentu saja orang itu bertemu dengan pak Ryan yang sedang mencoba risoles.


Duhhh, padahal Kiran hanya ingin menikmati malam ini dengan tenang bersama semua makanan pesanannya. Kenapa sekarang jadi seperti ini?


"Sedang apa disini?" tanya Dhika pada Ryan dengan makanan di mulutnya.


"Makan"


"Kau bisa makan di tempat lain, kenapa disini?"


Dhika melihat mobil Ryan saat melewati rumah Zanna ketika pulang dari perkebunan sore ini. Dia mengamati beberapa menit tapi temannya itu tidak kunjung keluar dari rumah adiknya. Ternyata temannya itu sedang duduk santai menikmati makanan.


"Kak Dhika yang ngapain disini"


"Aku akan mengusir tamu itu dari sini. Pergi sana, makan di cafe atau tempat lain" katanya lalu duduk di sebelah Ryan, menunjukkan kalau dirinya lebih berhak berada di rumah ini.


Tapi Ryan tidak menunjukkan keinginan untuk pergi. Temannya itu pindah duduk dan membantu menata makanan yang disediakan oleh Zanna.


"Kamu bisa makan semua ini?" tanya Ryan pada Zanna yang sedang berlutut di dekat meja.


"Nggak. Cuma pengen liat banyak makanan aja"


"Kalau kamu mau makan banyak lagi kenapa tidak ke cafe. Aku akan senang hati menghidangkan makanan lebih banyak dari ini"


"Wah mahal dong"


"Aku akan memberimu kupon diskon seratus persen"


"Hahaha"


Ryan dan Zanna tertawa bersama, meninggalkan Dhika yang seperti patung disana.


"Bagaimana bisa kau menagih adikku. Itu cafeku. Zanna bisa makan disana sepuasnya tanpa membayar" katanya berusaha ikut dalam pembicaraan. Tapi hanya dibalas dengan tatapan tajam dari Zanna, juga Ryan.


"Kamu suka makan yang mana dulu?" tanya Ryan pada Zanna, kembali tidak menghiraukan Dhika.


"Tadi sih pengennya yang manis. Tapi sekarang pengen yang pedes"


"Kalo gitu minum aja dulu, nanti perutmu sakit kalo langsung makan pedes"


"Iya"

__ADS_1


Dhika benar-benar diabaikan. Dia tidak diajak bicara bahkan tidak diajak makan. hanya Ryan dan Zanna yang bicara sedangkan dia dibiarkan diam seperti seonggok daging di kursi.


Tapi ... bagaimana bisa Ryan bicara dengan santai pada Zanna? Mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya tapi Ryan bisa bertanya tentang banyak hal pada Zanna. Tidak seperti dia yang seperti berhadapan dengan tembok saat bicara dengan Zanna. Mereka hanya bisa membicarakan masa lalu sedangkan sekarang Zanna begitu bersemangat mengatakan impiannya pada Ryan. Apa memang ada yang salah dengan caranya bicara sehingga tidak bisa dekat dengan Zanna?


"Pak Ryan akan membuka cafe baru di Surabaya?"


"iya. Apa kamu mau ikut pembukaannya kalo cafe itu udah selesai?"


"Memang boleh?"


"Tentu saja"


"Tapi ... masih lama kan?"


"Sekitar enam bulan lagi. Apa Kiran ada rencana lain di waktu itu?"


"Kalo enam bulan lagi gak tau juga. Tapi bulan depan Kiran mau pergi ke Jakarta"


"Jakarta? Kamu mau pulang ke rumah Bibimu?"


Jakarta? Ternyata Zanna ada rencana untuk pulang ke Jakarta? Kenapa adiknya itu tidak bilang apapun padanya?


"Iya. Tapi Kiran kesana pengen dateng ke acara wisuda sahabat Kiran"


Sahabat? Dhika tau tentang ini. Adiknya itu pernah menghubungi sahabatnya di dekat Dhika beberapa waktu lalu.


"Kamu punya berapa sahabat?"


"Dua. Kami udah jadi sahabat sejak SMP"


"Lama juga ya. Berarti mereka temen kamu waktu baru pindah dari Malang?"


"Iya"


Apa? jadi Zanna bertemu sahabatnya itu segera setelah pindah dari Malang? Pantas saja mereka seperti memiliki hubungan yang dekat. Bahkan Zanna saat itu sempat menangis karena merindukan sahabatnya. Hal ini Dhika juga baru tahu sekarang.


"Udah gak sanggup lagi ya?" tanya Ryan pada adiknya yang tidak lagi makan.


"Iya nih. Udah full"


"Aku bantu beres-beres ya"


Dhika segera menangkis tangan Ryan yang mengharapkan akan masuk ke ruangan lain dalam rumah ini.


"Biar aku saja. Kamu tamu di rumah ini" katanya lalu mengumpulkan semua makanan jadi satu dan membawanya ke arah dapur.


Dia tidak tahu kalau Zanna mengikutinya dari belakang dengan raut wajah tidak suka.


"Kok gitu sih?" protes adiknya itu lalu segera mengambil semua makanan dari tangannya.


"Dengan begini semua beres"


"Duhh. Gak tau apa-apa aja sok bantu" ucap Zanna lalu memilah-milah makanan lagi di meja dapur.


Dhika terdiam. Dia ingat apa yang dikatakan oleh adiknya di perkebunan tadi pagi.


"Maaf" katanya, akhirnya mendapat perhatian dari Zanna.


"Apaan sih?"


"Maaf. Kakak memang tidak tahu apa-apa tentang kamu. Tapi bisa bicara seenaknya. Maafin kakak"

__ADS_1


Kali ini dia tulus mengatakan hal ini. Dia memang tidak tahu apa-apa tentang Zanna. Tapi sudah menilai adiknya dari kacamata orang lain yang bahkan tidak mengenal Zanna sama sekali. Dia salah. Dan dia berani mengakuinya sekarang.


__ADS_2