Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 63


__ADS_3

Mobil Dhika baru saja datang ke pintu Tol Malang Pandaan saat telponnya berdering.


"Pak"


Pekerja di perkebunan ternyata yang menghubunginya.


"Ada apa?"


"Pak, saluran air di sungai lepas. Kita udah coba perbaiki tapi kayaknya harus motong saluran air ke green house dulu"


"Tunggu saya dulu!" katanya lalu memutar mobil. Membatalkan rencananya pergi ke Surabaya dan menghubungi Ryan yang sudah mendahuluinya kemarin.


"Kamu urus di Surabaya. Ada masalah di perkebunan"


"Apa? Tapi ... yah udahlah"


Selesai mendengar jawaban Ryan, Dhika segera menghubungi pengawas green house.


"Berapa jam lagi jadwal penyiraman?"


"Apa? Oh Pak Radhika? Lima jam lagi Pak"


"Saluran air ke perkebunan rusak. mau diperbaiki tapi memutus penyaluran air di green house"


"Bisa Pak. Tapi lima jam lagi harus ready"


"Oke"


Dhika mempercepat mobilnya dan sampai di perkebunan hanya dalam waktu setengah jam. Dia segera pergi ke sungai dan melihat beberapa orang menunggu kedatangannya.


"Ada waktu empat jam. harus sudah benar sebelum itu" katanya membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Baik Pak" jawab semua pekerja lalu mulai memperbaiki saluran air yang berada di dasar sungai. Dia harus terus memantau pekerjaan pegawainya karena berhubungan dengan ketepatan waktu. Lalu terdengar suara yang dikenalnya. Dia melihat ke arah green house dan menemukan Zanna sedang berkeliling disana. Ternyata adiknya itu ditugaskan ke perkebunan tapi tidak memberitahunya.

__ADS_1


"Pak!" panggil pekerja di sungai, membuat Dhika segera turun.


"Kenapa?"


"Ini semua harus diganti"


Dhika melihat bambu yang sudah rapuh juga pipa berlumut di bawahnya.


"Ganti semua. Suruh orang pergi beli!"


Dhika melihat jam dan mulai khawatir dengan sistem penyiraman otomatis di green house-nya. Kalau terlambat dia harus meminta pegawai green house merubah sistem dan itu membuang-buang waktu. Dia tidak bisa tinggal diam saja di tepi sungai. Masih dengan kemeja dan celana kainnya, Dhika masuk ke sungai dan membantu pekerjanya membongkar saluran air.


Setengah jam kemudian pekerja yang membeli pipa sudah kembali. Pekerjaan menjadi lebih cepat selesai saat semua orang fokus. Dhika menegakkan punggung sebentar dan di sudut matanya menangkap seorang perempuan dengan seragam coklatnya sedang berdiri di tepi sungai. Zanna diam seperti patung dan melihat ke arahnya. Dhika memeriksa tubuhnya dan ternyata bajunya telah basah sepenuhnya. Membuat semua otot perut yang dibentuknya tampak jelas.


"Apa ini yang kamu lihat?" tanyanya dalam hati. Dia menganggap Zanna melihatnya karena itu adiknya menjadi seperti patung di tepi sungai. Ada rasa bangga dan senang dalam diri Dhika sekarang. Membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja. Setelah saluran selesai diperbaiki dia kecewa karena ternyata Zanna tidak lagi melihatnya. Bahkan adiknya itu tidak terlihat di dekat sungai.


"Pak Dhika jadi basah semua" kata salah satu pekerja.


"Iya, tapi lihat badannya. Keren juga pak Dhika" ujar pegawai lainnya.


"Wah, makasih Pak"


Dhika berjalan ke mobil, mengambil baju ganti dan masuk ke dalam ruangannya. Tidak ada yang berbeda di dalam ruangannya, kecuali selembar kertas menutupi buku laporan perkebunan. Itu surat dinas Zanna hari ini yang kemungkinan besar harus ditandatanganinya. Berkat surat itu akhirnya kini Dhika bisa bersama dengan Zanna di dalam ruangannya. Mendengar pengakuan Zanna yang melihat tubuhnya di sungai tadi.Juga merasakan jari jemari hangat Zanna berkeliaran di punggungnya.


"Jadi kamu lihat tadi? Bagus kan otot kakak?" tanyanya berusaha menggoda adiknya itu.


"Biasa aja"


Biasa? Dhika yakin bukan itu yang ada di pikiran adiknya. Karena dia bisa merasakan jari yang sedang gemetar menempelkan plester di pungggungnya.


"Biasa ya?"


"Iya. Udah nih selesai"

__ADS_1


"Tolong tempel juga disini" katanya lalu menunjuk ke luka di batas leher dan dadanya"


Dia sebenarnya tidak sadar terluka tadi. Dia baru tahu setelah membuka bajunya. Memang tidak parah, tapi lumayan perih saat bergesekan dengan kain.


"Tempel sendiri kalo disitu"


Zanna menolak untuk membantunya, tapi Dhika tidak menyerah.begitu saja.


"Gak ada cermin"


Zanna terpaksa berjalan ke depannya. Untuk menyamakan tinggi mereka Dhika duduk di meja dan melihat betapa kikuk adiknya itu sekarang. Terlihat dengan gagalnya Zanna membuka plester dengan baik. Dan saat jari Zanna menyentuh lehernya, Dhika menghembuskan napas panjang. Matanya melihat wajah kaku adiknya yang perlahan berubah menjadi merah.


"Kenapa? Apa kamu mau mencium leher kakak lagi?" tanyanya mencoba ingin tahu rekasi adiknya. Zanna melihat ke arah matanya dan diam. Dhika sulit mengetahui apa yang ada di dalam pikiran adiknya. Lalu kemudian bibir mereka tiba-tiba bersentuhan.


Tidak ... bukan ... tapi Zanna menciumnya.


Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Dhika melingkarkan tangan di pinggang Zanna dan menariknya lebih dekat. Agar ciuman mereka tidak terlepas dalam waktu singkat. Dhika ingin meningkatkan level ciumannya ke tahap selanjutnya tapi dia menahan diri. Dia tahu Zanna akan mundur saat dia melakukannya. Karena yang Zanna tahu dia masih memiliki hubungan dengan Desi. Jadi ... Dhika akan menikmati momen ini dan berharap tidak akan berakhir. Sayangnya Zanna mundur dan berhasil membuat ciuman mereka berakhir. Adiknya itu tampak sedang mengambil napas dengan rakus. Ternyata adiknya ini tidak terlalu berpengalaman dalam ciuman. Dan itu membuat Dhika senang. karena dia yang akan mengajarkan semua itu pada Zanna. Dia akan menjadi laki-laki pertama bagi Zanna dalam hal apapun.


"Jangan menahan napas" katanya membuat Zanna membuka matanya lebar-lebar.


"Apa?" tanya Zanna dengan suara serak.


"Tetap bernapas saja" lanjut Dhika lalu memulai ciuman lagi.


Disaat Zanna mulai melakukan apa yang disarankannya, bunyi dering ponsel membuat mereka terpaksa berhenti. Ternyata ponsel Zanna yang berdering. Dhika tersenyum melihat adiknya terengah-engah berusaha untuk menstabilkan napasnya lalu mengangkat telpon.


"Halo"


Tiba-tiba saja tatapan Zanna berubah. Wajah kemerahan itu mendadak menghilang. Digantikan dengan wajah pucat yang membuat Dhika khawatir pada keadaan adiknya.


"Iya Bu. Saya kembali ke kantor"


Ibu? Siapa? Apa mungkin?

__ADS_1


"Aku ... maaf. Maafin aku. Harusnya aku gak begini" kata Zanna lalu berlari meninggalkan Dhika sendiri di dlam ruangan.


Dia ingin mengejar Zanna tapi lupa meletakkan baju gantinya. Jadi saat Dhika berhasil keluar dari ruangan dengan baju rapi, dia tidak lagi melihat Zanna disana. Kata salah satu pegawai di dekat gerbang, Zanna berlari pergi dari perkebunan, eperti dikejar hantu. Dhika kesal sekarang. Harusnya tadi dia melempar ponsel Zanna sampai hancur dan melanjutkan apa yang sudah mereka mulai. tidak ditinggalkan dalam keadaan seperti ini.


__ADS_2