
Bibi Tia hanya duduk dan diam. Hal itu yang membuat Kiran semakin takut menjelaskan apa yang terjadi.
"Bi, kami gak ngapa-ngapain"
Akhirnya Kiran bisa mengucapkan kata-kata itu dari mulutnya. Tapi Bi Tia tidak menjawab ataupun menanggapi perkataannya. Adik ibunya itu lebih memilih diam dan melihat lurus ke arah kak Dhika.
"Kamu. Apa maksudmu melakukan ini?" tanya Bi Tia pada kak Dhika. Kiran semakin gugup karena menganggap Bi Tia belum sepenuhnya memaafkan kak Dhika untuk kejadian sepuluh tahun yang lalu.
"Aku menyukai Zanna dan begitu juga sebaliknya" jelas kak Dhika.
"Bi, beneran kami gak ngapa-ngapain. Kak Dhika cuma ketiduran tadi. Disini kasur juga cuma satu jadi ya ... "
"Rumah kamu dekat?" tanya Bi Tia lagi ke kak Dhika, Tidak menganggap perkataan Kiran sama sekali.
"Iya"
"Kamu pulang saja sekarang"
"Baik"
Kak Dhika menoleh ke arah Kiran lalu mengelus kepalanya. Daripada menambah masalah, Kiran memilih mengikuti apa yang diinginkan oleh bibinya. Dia melepas kepergian kakaknya lalu kembali dan menghadapi tatapan mata sahabatnya yang mencurigakan.
"Bi Tia dimana?" tanyanya tapi Cia dan Putri tidak melepasnya pergi.
"Jadi ... sejak kapan kamu sama kakakmu punya hubungan?"
"Sejak kapan juga kamu jadi berani seperti ini?"
"Kenapa kamu gak pernah bilang ke kita?"
"Kamu sudah gak anggep kita sahabat lagi ya?"
Rentetan pertanyaan sahabatnya membuat Kiran pusing. Dia ingin menjelaskan semuanya tapi yang terpenting sekarang adalah Bibinya.
"Nanti ya. Bi Tia mana?"
"Bi Tia ke kamar mandi. Percuma aja kamu cari. Sekarang kamu harus cerita semuanya sama kita. Mulai dari pertama kali kamu sadar suka sama kakak kamu sendiri"
Kiran mendesah pelan lalu melihat ke arah kamarnya. Kalau Bi Tia ke kamar mandi berarti dia tidak punya pilihan untuk menceritakan semuanya pada Cia dan Putri.
"Jadi semua dimulai di Jakarta? Pantes kamu kayak beda banget ke kak Dhika. Harusnya aku tau sejak saat itu" ucap Putri dengan mengepalkan tangan pertanda menahan kesal.
"Aku masih bingung sama perasaanku sendiri waktu itu. Tapi tiap kali liat kak Dhika, aku ... " Kiran tidak bisa meneruskan perkataannya. Dia tidak ingin dicap mesum oleh dua sahabatnya. Mengingat dia yang pertama kali mendekati kak Dhika bahkan sampai mencium leher orang itu.
__ADS_1
"AAAAHHHHH. Ternyata ... Kiran kamu berani juga" seru Cia dengan memukul-mukul lengan Kiran. Sakit sekali tapi Kiran bisa menahannya.
"Aduuuh. Sakit"
Kiran tidak sadar sedang diperhatikan oleh satu-satunya keluarga yang dia miliki. Bibinya hanya diam dan memperhatikan dari kamar tanpa bicara sama sekali.
Hal itu berlanjut sampai mereka pindah ke hotel yang dipesan oleh Putri. Bi Tia tetap bungkam meski Kiran tidak membicarakan tentang masalah kak Dhika.
"Halo" sapa kak Dhika yang menghubunginya saat makan siang.
"Iya?"
"Apa Bi Tia masih marah?"
"Kayaknya"
"Dimana hotel yang dipesan oleh teman kamu?"
"Kak Dhika mau apa?"
"Tentu saja datang kesana dan bicara dengan Bibi Tia" kata kak Dhika membuat Kiran tidak nyaman.
"Tapi ... "
Kiran tidak ingin membuat Bibinya semakin marah, tapi dia juga tersiksa dengan suasana ini. Jadi kali ini dia akan mempercayai kak Dhika.
Sebelum jam enam sore, Dhika sudah siap pergi ke hotel tempat Bibi Tia, Zanna dan kedua temannya menginap selama dua hari ke depan.
"Apa kau mau pulang?" tanya Ryan.
"Aku harus pergi ke tempat lain malam ini"
"Tempat lain? Dengan setelan jas berarti kau akan pergi ke tempat formal. Apa ada rapat dengan investor yang aku tidak tahu?"
Dhika memang tidak menjelaskan tentang hubungannya dengan Zanna pada Ryan. Karena dia tidak ingin temannya ini berkomentar yang tidak enak didengar.
"Tidak. Ini urusan pribadi"
"Urusan pribadi? Apa kau akan pergi ke perjodohan?"
"Mirip seperti itu"
"Apa? Dengan siapa? Aku akan mengantarmu"
__ADS_1
"Tidak perlu"
Sebelum Ryan bertanya lagi, Dhika segera pergi dari kafe, menuju hotel tempat Zanna berada.
"Malam Bi, Putri dan Cia" sapa Dhika ketika tiba di hotel dengan membawa sekerangjang buah dan bunga.
"Wahhhh, ada kak Dhika. Ayo sini!" seru Cia, teman Zanna yang menunjukkan dukungan untuk hubungannya.
"Cia! Apaan sih? Kita pergi aja sekarang. Kamu ikut kita juga Kiran" jawab Putri, teman Zanna yang kelihatan tidak mendukung hubungannya sama sekali.
"Apa? Kenapa? Tapi ... "
Dhika melihat Zanna diseret teman-temannya menjauh tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Karena tujuan utamanya kesini adalah bicara dengan Bi Tia.
Satu menit, dua menit sampai lima menit berlalu namun Bi Tia tetap bungkam. Tidak bicara dan hanya melihatnya dengan tatapan sendu.
"Maaf kalau Bi Tia harus tahu dengan cara ini tapi Dhika serius dengan Zanna" kata Dhika bermaksud memulai percakapan. Meski badannya sekarang menjadi sedikit kaku karena harus tampil tegap di depan Bi Tia.
"Bibi ingat waktu kamu pertama kali bertemu dengan Kiran. Kamu masih berumur dua belas tahun dan Kiran lima tahun. Kalian waktu itu bermusuhan. Tapi setelah Bibi pindah ke Jakarta dan meninggalkan Kiran sendiri, kalian menjadi akrab. Bibi senang akhirnya Kiran punya seseorang untuk diandalkan selain ibunya. Tapi kecelakaan itu mengubah segalanya. Asal kamu tahu, Bibi sangat kecewa waktu itu. Bibi merasa bersalah karena mempercayakan Kiran sama orang kayak kamu."
Dhika tidak bisa membantah sama sekali. Dia memang salah dan tidak bisa memperbaiki apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.
"Karena itu, Bibi gak mau bicara dulu tentang hal ini. Kalian dulu saudara tapi sekarang punya hubungan kayak gini. Kemungkinan besar semua itu hanya terbawa suasana karena pertemuan setelah sepuluh tahun."
Kali ini Dhika juga tidak bisa mengelak. Alasan dia memiliki perasaan pada Zanna, kemungkinan besar karena perubahan besar yang terjadi pada adiknya itu. Tapi dia yakin perasaannya tulus pada Zanna. Dia ingin memiliki Zanna di hidupnya sampai mereka tua nanti.
"Bibi bisa lihat kalau Dhika serius tentang ini. Bibi juga bisa lihat nanti Dhika akan sepenuhnya bertanggung jawab pada Zanna. Jadi Bibi tidak khawatir sama kehidupan Zanna nantinya" janjinya.
"Kalau sampai Zanna tersakiti lagi, maka saat itu juga kita tidak perlu bertemu lagi selamanya" kata Bi Tia lalu berdiri dan meninggalkan Dhika sendiri.
Setelah Bi Tia pergi, Zanna datang dengan sedikit berlari.
"Gimana? Bi Tia marah ya?"
Zanna, adiknya yang berubah menjadi sangat cantik. Perempuan ini yang menggoyahkan perasaan dan gairahnya setelah tujuh tahun terperangkap pada janji yang hambar. Dia tidak akan pernah menyakiti Zanna seperti sepuluh tahun lalu. Kini dia akan benar-benar menjaga Zanna agar mereka menjadi keluarga yang seutuhnya.
"Zanna, apa kamu mau menikah dengan kakak?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan pada mata Zanna yang berbinar.
"Enggak"
"Apa?"
"Enggak mau"
__ADS_1
Dhika tidak menyangka jawaban yang diberikan oleh Zanna. Bukannya perempuan ini juga menyukainya? Tapi kenapa menjawab tidak pada lamarannya?