Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 70


__ADS_3

'Kiran tidak mau menikah denganku?' tanya Dhika dalam hati saat berkendara kembali ke rumahnya


Dia tidak habis pikir dengan keputusan Zanna yang menolak lamarannya. Dia pikir mereka membutuhkan dan mencintai satu sama lain. Dia pikir Zanna juga tidak bisa berpisah dengannya. Tapi ternyata ... . Apa dia terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikahi Zanna? Apa itu yang membuat Zanna menolaknya?


"Pasti" kata Desi tanpa ragu dua hari kemudian saat datang untuk makan pagi bersama.


"Aku tidak membutuhkan pendapatmu"


"Kalian baru saja jadian dan kamu melamarnya. Itu bodoh sekali"


"Aku yakin dia akan menerimanya"


Desi tertawa mengejek dan Dhika tidak menyukai itu. Dia menceritakan semuanya pada Desi bukan untuk menerima ejekan ini. Dia membutuhkan pendapat seorang wanita yang mungkin mengerti jalan pikiran Zanna.


"Secinta-cintanya Kiran padamu, dia pasti tidak suka dilamar begitu cepat. Apalagi lamaran itu terkesan seperti dipaksakan karena kalian ketahuan bermesraan"


Dhika terdiam. Dia tidak bisa mengelak dari tuduhan itu. Lamaran itu memang satu-satunya jalan yang bisa dia pikirkan agar Bibi Tia menyetujui hubungannya dengan Zanna.


"Ternyata begitu" jawabnya memecah tawa Desi lagi. Kini dia tidak merasa sakit hati tapi mencoba untuk memahami apa yang mungkin dirasakan oleh perempuan yang dicintainya.


"Berkencan saja beberapa kali lagi sebelum memutuskan untuk melamar Kiran. Pastikan saat itu Kiran tidak memiliki pertimbangan lain dan menerimamu"


Lega rasanya bisa mengetahui seperti apa kira-kira jalan pikiran Zanna. Dhika sangat yakin lain kali saat dia melamar, Zanna tidak akan pernah menolaknya lagi. Dhika lalu berdiri dari kursinya dan memandang ke arah halaman belakang rumahnya. Dia harus meluangkan waktu untuk berkencan dengan Zanna. Tapi pekerjaannya? Tidak masalah. Saat merasa senang karena bayangan kencan romantis dengan Zanna, tiba-tiba dia merasa tubuhnya dipeluk dari belakang.


"Apa yang ... " Dhika terkejut menerima pelukan dari perempuan yang kini telah menjadi masa lalunya itu.


"Bentar. Bentar aja"


Dhika merasa tidak nyaman dengan pelukan ini karena hatinya telah dimiliki oleh perempuan lain. Apalagi mengingat Desi selalu menolak sentuhannya selama mereka berhubungan dulu.


"Kamu ... "


Desi melepas pelukannya lalu tertawa janggal


"Aku kan minggu ini pindah ke Surabaya. jadi ... "


Dhika berbalik dan melihat wajah Desi yang memerah. Dia tidak pernah tahu Desi bisa memiliki ekspresi seperti ini.


"Kita masih bisa bertemu. Kantorku ... "

__ADS_1


"Iya. Tapi ... sudahlah. Sebaiknya aku pergi sekarang. Makasih sarapannya"


Desi meninggalkan Dhika dalam keadaan bingung. Dia memang sudah tidak memiliki perasaan apapun pada perempuan itu tapi kenangan cinta pertama itu masih melekat di dasar hatinya. Tidak, sekarang dia telah melangkah maju dan memiliki perempuan yang lebih penting untuk dipikirkan.


Malam harinya Dhika menerima kabar kalau Bi Tia telah kembali ke Jakarta. Dengan keyakinan penuh akan dapat memeluk kekasihnya, Dhika pergi ke rumah Zanna.


"Zanna"


Dhika mengetuk pintu dan memanggil nama perempuan yang dirindukannya beberapa kali tapi tidak menerima sahutan apapun. Dia menghubungi ponsel Zanna tapi tidak diangkat juga. Bahkan pesan yang dikirimkannya sejak siang tidak dibaca. Apa yang terjadi dengan Zanna? Tapi ada seberkas cahaya dari dalam rumah. Dhika mengetuk pintu lagi dan tetap tidak mendapatkan sahutan apapun. Tak lama dia menyerah dan kembali ke rumahnya. Berpikir kalau mungkin kekasihnya itu kecapekan setelah menemani bibinya.


Kiran bangun tidur disambut cahaya matahari yang lembut. Dia mandi dan bersiap untuk bekerja kembali. Baru saja keluar dari pagar, dia menemukan orang yang tidak ingin ditemuinya di depan rumah.


"Pagi" sapa kak Dhika lalu mendekat. Saat laki-laki itu melebarkan tangan seakan ingin memeluknya, Kiran mundur beberapa langkah. Menyebabkan kak Dhika memeluk angin kosong.


"Pagi" balas Kiran tidak ingin melihat wajah kecewa di depannya.


"Apa ada yang terjadi?" tanya kak Dhika.


"Enggak"


"Kenapa?"


"Aku antar"


"Enggak. Aku udah pesen ojek online" jawab Kiran tepat bersamaan dengan kedatangan ojek online yang dipesannya.


"Tapi Zanna"


Kiran tidak peduli dengan kak Dhika yang berusaha menahannya dan pergi begitu saja.


Dia sampai di kantor dan menyapa pak Wahyu sebelum duduk di kursinya.


"Kiran, tolong proses surat ini!" kata pak Wahyu lalu menyerahkan tumpukan berkas di atas mejanya.


"Baik Pak"


Sampai sore hari Kiran terus saja bekerja di mejanya. Tidak mengambil waktu istirahat sama sekali. Tapi pekerjaan yang diserahkan kepadanya selesai tak bersisa. Membuatnya senang dan tersenyum setelah hampir dua puluh empat jam.


"Apa pak Wahyu ada?" tanya seseorang mengejutkan Kiran. Dia mendongak dan melihat wajah Bu Desi.

__ADS_1


Cinta pertama kak Dhika ini memang cantik. Kiran merasa tidak bisa dibandingkan dari segi apapun dengan wanita yang ada di depannya ini. Mungkin inilah alasannya kak DHika kembali dengan Bu Desi. Lagipula mereka memiliki sejarah yang panjang selama ini.


"Ada. Di dalam"


Bu Desi berjalan masuk ke dalam ruangan pak Wahyu dan Kiran hanya bisa menghela napas lemah beberapa kali.


"Apa kau ada waktu hari ini?"


Kiran kembali mendongak dan menyadari Bu Desi sudah keluar dari ruangan atasannya.


"Ada"


"Bagus. Apa hari ini Dhika menjemputmu?"


Cara Bu Desi menyebut nama kak Dhika dengan begitu nyaman membuat hati Kiran sedikit sakit. Tapi dia harus menyembunyikan perasaannya.


"Enggak"


"Apa? Kenapa? Tapi yah itu bagus juga. Kalo gitu kamu dan aku akan pergi bersama ke restorannya"


"Untuk?"


"Tentu saja perpisahan ku. Secara resmi aku akan bekerja di Surabaya mulai hari Senin depan. Jadi kalo kerjaan mu sudah selesai, ayo kita berangkat sekarang"


Kiran bengong selama beberapa detik karena baru ingat kalau Bu Desi akan pindah kerja ke Surabaya. Tak lama dia membereskan pekerjaannya, menunggu pak Wahyu pulang dan segera pergi ke parkiran tempat Bu Desi sudah menunggu.


"Maaf Bu lama"


"Gak apa-apa. Toh kita akan makan malam"


Berdua mereka pergi ke restoran kak Dhika. Awalnya Kiran hanya ingin diam saja tapi Bu Desi mulai bercerita tentang kehidupan yang dijalaninya sekarang.


"Senang rasanya bisa melepas masa lalu yang membuatku terkurung selama ini. Memang berat tapi pengobatan yang dianjurkan oleh Dhika menuai hasil yang memuaskan. Gejala ku mulai berkurang dan aku bisa menghadapi semuanya dengan baik"


Kiran mengingat apa yang terjadi pada Bu Desi saat itu dan merasa sedih. Tapi kini Bu Desi memang tampak jauh lebih baik.


"Apa Bu Desi tidak ingin tetap berada di Malang saja? Dekat dengan pak Ryan juga ... kak Dhika?" tanya Kiran dengan khawatir.


"Untuk apa aku di Malang? Dhika sudah menemukan perempuan yang dicintainya. Ryan juga sedang sibuk-sibuknya bekerja. Memang kepindahan ku ke Surabaya sudah paling tepat"

__ADS_1


Mendengar penjelasan Bu Desi membuat Kiran bingung. Kalau Bu Desi begitu yakin dengan keputusan pindahnya lalu apa arti pelukan yang dilihat oleh Kiran kemarin? Apa dia hanya salah paham?


__ADS_2