
Degh ... degh ... degh
Kiran berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdetak cukup kuat setelah menerima kecupan dari kak Dhika. Orang itu ... bagaimana bisa membuatnya seperti ini lagi? Tapi ... kak Dhika sudah jelas-jelas menolaknya. Mungkin tadi hanya kecupan biasa yang dilakukannya tanpa maksud apa-apa.
"Iya. Kayaknya begitu" katanya lalu berjalan ke arah kasur.
Kak Dhika sudah memilih untuk tetap menjaga cintanya pada Bu Desi. Tidak ada alasan untuknya merasa berdebar atau tersipu lagi karena tindakan kakaknya.
"Anggap aja ini cuma ... sesuatu yang biasa" Kiran terus saja bicara pada dirinya sendiri lalu menutup mukanya dengan bantal.
Bagaimana bisa dia mengganggap semua ini biasa saja. Dia masih memiliki perasaan itu pada kakaknya. Dan sangat sulit untuk menghapusnya begitu saja kalau terjadi sesuatu seperti ini. Tapi dia harus bisa. Mungkin saja di rumah ini, dia akan menemukan banyak adegan romantis antara kak Dhika dan Bu Desi nanti. Daripada lebih tersakiti, maka dia harus menetapkan hati untuk melepas semua perasaan ini. Kiran telah bertekad kuat sebelum tidur. Tapi pada keesokan harinya, Kiran menemukan kak Dhika sedang berdiri di depan kamarnya. Dengan rambut tersisir rapi, wajah tampan dan pakaian yang rapi, kak Dhika tampak sangat ... mengesankan.
"Kamu siap untuk bekerja?" tanya kak Dhika membuat pengamatannya berhenti begitu saja.
"Iya" jawabnya.
"Sarapan dulu. Kakak antar kamu kerja"
"Gak usah. Kiran berangkat sendiri aja"
Tidak ada perlawanan dari kak Dhika, berarti orang itu sebenarnya tidak mengharapkan untuk mengantar Kiran. Tentu saja, karena di kantor ada Bu Desi yang bisa cemburu setengah mati kalo melihat kak Dhika dengan perempuan lain. Di sisi lain itu membuatnya sedih. Dia harus selalu menyembunyikan hubungan saudara di masa lalu ini pada semua orang. Karena mereka berdua memang hanyalah orang asing yang tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Kamu kenapa?"
Tiba-tiba saja Kiran merasakan tangan besar kak Dhika memegang pipinya. Tentu saja Kiran segera menepis tangan itu.
"Gak apa-apa. Jangan mendadak pegang gitu. Kaget tau"
"Kenapa kaget? Memangnya kakak memegang bagian sensitifmu?"
"Apa?"
"Kalau kakak pegang bagian ini, mungkin kamu bisa bereaksi seperti itu" kata kak Dhika lalu menempatkan kedua tangannya hampir menyentuh dada Kiran.
"Apaan sih? Gila ya?"
Kiran segera meninggalkan kak Dhika yang mungkin sedang tidak waras pagi ini. Dia berjalan menuruni tangga dan menemukan orang yang sepertinya sudah lama sekali tidak dijumpainya.
"Kiran?"
"Pak Ryan?"
"Kenapa kamu disini?"
"Oh ini ... soalnya ... "
Kiran ingin melanjutkan perkataannya, tapi kak Dhika yang berdiri tepat di belakangnya mengambil alih pembicaraan.
"Mau apa kesini pagi-pagi?"
__ADS_1
"Aku? Bekerja? Kenapa Kiran kesini?"
"Bukan urusanmu!"
Terkejut sekali Kiran mendengar kak Dhika bicara dengan membentak. Apalagi di rumah sebesar ini, bentakan itu menggema selama beberapa kali sebelum berhenti. Membuat suara kak Dhika terkesan keras sekali.
"Tapi ... "
"Kak, aku makan di kantin aja. Aku pergi dulu" kata Kiran ingin lari dari dua orang laki-laki yang kelihatannya sedang memiliki masalah itu.
Setelah Kiran sampai di kantor, dia segera pergi ke kantin, membeli dua tempe mendoan dan teh hangat untuk sarapan. Belum sempat tempe mendoan itu menyapa giginya, Kiran dihadapkan pada tatapan mata kekasih kakaknya.
"Kamu gak sarapan di rumah?" tanya Bu Desi membatalkan tempe mendoan masuk ke mulutnya.
"Enggak Bu. Lagi pengen gorengan aja"
"Ohh. Kamu ternyata males juga ya"
Lagi-lagi, Kiran harus dihadapkan pada ejekan Bu Desi. Sepertinya kekeasih kakaknya ini memang tidak akan pernah berubah menjadi baik padanya. Kini Kiran merasa bersyukur tidak ada yang tahu hubungannya dengan kak Dhika.
"Kiran ini surat tugas untukmu!"
Kiran menerima selembar surat tugas yang telah ditandatangani oleh Pak Wahyu. Menugaskan dirinya pergi ke perkebunan Pranaja besok pagi untuk mengawasi pekerjaan mahasiswa. Lagi. Kiran sudah bosan dengan tugas ini tapi tidak memiliki kekuatan untuk melawan perintah atasan. Lalu dia menemukan keanehan pada surat tugas ini.
"Bu Desi tidak ada di dalam surat tugas ini Pak"
Biasanya Bu Desi selalu ikut ke perkebunan, meskipun tidak termasuk dalam tugas pokoknya.
Apa? Kenapa? Kiran menangkap sesuatu yang mencurigakan disini. Apa mungkin Bu Desi dan kak Dhika sedang bertengkar? Mungkin karena rencana kepindahan Bu Desi ke Surabaya? Kiran ingin tahu tapi tidak mau mengorek lebih jauh.
Saat waktu pulang tiba Kiran menunggu ojek online di depan kantor. Bu Desi yang naik mobil tiba-tiba membunyikann klakson seakan memanggilnya. Tentu saja Kiran mendekat dan mencari tahu apa yang diinginkan mantan atasannya itu.
"Kamu besok ke perkebunan Dhika?"
"Iya Bu"
"Gak perlu balik ke kantor"
"Apa? Kenapa?"
"Aku titip ambil data. Nnati aku kirim file-nya ke kamu"
Kiran mulai yakin kalau memang ada masalah diantara kak Dhika dan Bu Desi.
"Baik Bu"
"Oh iya. Kamu ... memang masih single kan?" tanya Bu Desi membuat Kiran bungkam. Dia tidak tahu apakah harus menjawab pertanyaan itu. Karena pertanyaan itu keluar bukan dari mulut sahabatnya, melainkan mantan atasan yang tidak menyukainya. Seperti mengerti perasaannya, Bu Desi tidak menunggu Kiran menjawab dan pergi begitu saja.
"Kamu sudah pulang?" sapa kak Dhika menyambutnya di depan gerbangnya. Dia turun dari motor ojek dan baru bisa membalas sapaan kakaknya.
__ADS_1
"Iya. Ngapain disini?"
"Nunggu kamu"
Kiran tidak merasa terharu sama sekali dengan apa yang diperbuat oleh kakaknya. Dia bukan anak kecil yang harus ditunggui seperti ini.
"Lain kali gak usah" jawabnya lalu masuk ke dalam halaman rumah kak Dhika.
"Kakak akan terus begini sampai kamu mau diantar jemput"
"Gak perlu"
"Kakak hanya akan mengantar sampai pertigaan"
"Gak usah"
Kiran akan terus menolak tawaran kak Dhika. karena dia memang tidak memerlukan bantuan apapun. Dia terbiasa melakukan semuanya sendiri dan itu lebih nyaman untuknya.
"Apa kamu sudah bisa menyetir mobil?"
Kiran berhenti berjalan dan berbalik melihat kakaknya.
"Emang kenapa?"
"Kakak akan membelikanmu mobil"
Wahhh. Kiran tidak percaya akan mendengar ini. Kak Dhika akan membelikannya sebuah mobil. Tidak tahu kenapa itu melukai harga dirinya.
"Mobil apa?"
"Apapun yang kamu mau"
"Benar?"
"Iya"
Dia mendekati kakaknya dan menyentuhkan jari telunjuk ke dada kak Dhika. Dia memutar-mutar jarinya di atas permukaan dada keras dan berotot itu. Memang beresiko membuatnya tergoda, tapi Kiran tidak peduli.
"Kalo Kiran minta yang lain boleh?" katanya dengan nada menggoda.
Kak Dhika tidak segera menjawab, melainkan hanya menarik napas panjang.
"Apa yang kau inginkan?" balas kak Dhika. lalu mendadak memegang jari Kiran dan menariknya. Tubuh mereka menempel, membuat jantung Kiran berdetak lebih kencang, tapi dia berusaha menahannya. Dia yang mengerjai kakaknya, bukan sebaliknya. Kiran memasang wajah paling manisnya lalu berbisik.
"Semua yang kak Dhika punya"
"Baik"
Ha? Apa jawaban kak Dhika? Dia berani memberikan semua yang dimilikinya untuk Kiran? Hanya karena dia memintanya?
__ADS_1
"Dasar bodoh. Kok bisa kak Dhika ngasih semuanya ke aku? Miskin lah nanti kak Dhika. Gila!" ejek Kiran lalu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan kak Dhika yang masih berdiri di halaman.