
Emosi Kiran masih membara di dalam dadanya. Dia tidak sadar telah mengeluarkan kata-kata kasar pada keluarga kakaknya. Dia melihat wajah kak Dhika dan merasa gugup. Mungkin karena dia baru saja berciuman dengan laki-laki ini juga mengejek keluarganya. Sungguh waktu yang sangat pas sekali.
"Aku tidak suka dengan caramu berteriak tapi ... aku suka dengan semangatmu" kata kak Dhika membuatnya malu.
"Maaf kak. Aku gak bermaksud gak sopan sama keluarga kakak. Cuma ... mereka udah keterlaluan"
Seharusnya keluarga tidak akan mendoakan anggota lainnya mati dengan cepat hanya untuk merebut hartanya. keluarga ayah Burhan sungguh sudah melewati batas kali ini.
"Aku akan menyusul mereka sekarang"
"Tapi kak"
"Aku tau. Aku akan berhati-hati"
Kak Dhika menatapnya selama beberapa waktu, menyapukan ibu jarinya ke bibir Kiran dan pergi.
Kiran merasa senang ternyata kakanya mengingat apa yang mereka lakukan di perkebunan tadi. Apa mungkin kak Dhika juga menyukai ciuman mereka? Kalau tidak orang itu pasti akan menolak kan?
"Puassss sekali akuuu"
Suara siapa itu? Kiran melihat ke arah pintu depan dan sangat tidak menyangka Bu Desi masuk ke dalam rumah, dengan senyum di wajahnya. Bagaimana ini? Dia tidak sempat bersembunyi karena masalah tadi.
"Bu Desi"
"Udah lamaaa banget aku memendam emosi buat pak tua itu. Akhirnya aku bisa teriak di depan muka-nya. Puas deh"
Kiran tidak mengerti dengan ucapan Bu Desi, karena dia sedang mengkhawatirkan dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa menjelaskan keberadaannya di rumah kak Dhika pada mantan atasannya ini.
"Bu. Saya bisa jelaskan. Rumah saya ada di belakang. Terus ... "
Sepertinya bukan alasan yang tepat tapi dia tidak tahu lagi harus bicara apa.
"Kamu adik tiri Dhika. Adik tiri yang pergi sepuluh tahun lalu ke Jakarta"
Bagaimana bisa Bu Desi tahu hal itu?
"Apa kak Dhika yang cerita?"
"Dhika pernah cerita tentang satu anggota keluarga yang sangat dirindukannya. Adik tiri dari pernikahan ayahnya. Tapi aku gak nyangka kalo itu kamu"
Entah harus bersyukur atau bersedih. Paling tidak Bu Desi mengerti kenapa dia bisa ada di rumah kak Dhika.
"Saya baru dua hari ini disini. Sebelumnya saya di rumah saya sendiri"
"Dimana?"
"Di belakang"
Bu Desi tampak berpikir sebentar lalu seperti mendapatkan ilham dari lamunannya.
"Oohh pantas aja Dhika sering lihat rumah itu dari jendela kamarnya. Ternyata itu rumah kamu"
Kiran baru tahu kalau rumahnya bisa dilihat dari jendela kamar kakaknya. Itu karena dia tidak pernah masuk ke dalam kamar kakaknya. Lain dengan Bu Desi yang merupakan ... kekasih kakaknya. Apa sebenarnya yang dia pikirkan tadi? Bagaimana bisa dia mencium kakaknya yang jelas-jelas memiliki kekasih. Dia sangat salah. Dia harus segera pergi dari rumah ini sebelum memendam terlalu banyak harapan.
"Bu Desi silahkan duduk, saya harus ke kamar dulu"
__ADS_1
"Tunggu! Kenapa buru-buru? Aku pengen tahu cerita Dhika waktu kecil dulu"
"Ohh"
Dengan keadaan gugup, Kiran terpaksa menemani mantan atasannya mengobrol di ruang tamu kak Dhika. Membicarakan masa kecil kak Dhika yang menurutnya tidak terlalu menarik untuk dibahas.
Dhika berhasil mengejar keluarga ayahnya. Mereka menuju satu rumah yang dijadikan pusat pembicaraan selama ini. Rumah pakdhenya.
"Pakdhe" sapanya saat keluar dari mobil. Semua anggota keluarga melihatnya dengan kesal, seakan Dhika emmbuat masalah besar untuk mereka.
"Mau apa kamu? Mau teriak ke pakdhe sama kayak anak gak tau diri di rumahmu itu?"
"Aku ingin bicara" katanya lalu melihat satu persatu anggota keluarga yang selama ini selalu memanfaatkannya.
Hanya Dhika, pakdhe dan dua buleknya duduk bersama. Sepupu dan keluarga yang lain berada di ruang lain, mungkin bersiap untuk menolong orang tua mereka berdebat dengan DHika.
"Pakdhe, bulek. Aku sudah coba bersabar dengan semua tuntutan kalian tapi sekarang tidak bisa lagi"
"Apa?!! Emangnya kamu mau apa? Kamu mau minta semua balik? Langkahi dulu mayatku!"
Dhika merasa semakin tua umur maka akan menambah kebijaksanaan orang itu. Tapi apa yang sedang dilihatnya sekarang sangatlah berbeda.
"Aku ... akan membuat kalian berhenti sekarang juga" kata Dhika lalu mendengar suara mobil diluar. Beberapa orang dengan bentuk tubuh lebih besar darinya masuk, diikuti dengan kehadiran Ryan dan pengacaranya.
"Siapa orang-orang ini?" tanya salah satu bulek Dhika dengan wajah ketakutan.
"Mereka pengawalku"
"Pengawal?! Sok hebat kamu bawa pengawal kesini?"
Ryan meletakkan perjanjian tertulis di atas meja. Perjanjian agar tidak ada satupun keluarga ayahnya menuntut harta apapun lagi di masa depan. Juga tidak akan mengganggu keluarga Dhika di kemudian hari. Lalu Ryan memaksa tiap anggota keluarga ayah menandatanganinya.
"Ini ancaman. Ayah kamu gak akan pernah melakukan ini pada keluarganya sendiri" ucap pakdhe masih ingin membela diri.
"Karena itu ayah tetap tinggal di rumah istrinya dan tidak membeli properti lain selama lebih dari sepuluh tahun. Menghindari lalat berkerumun di sekitarnya"
Dhika berdiri, melayangkan pandangan ke seluruh anggota keluarga ayahnya dan merasa sedih. Sekarang dia kehilangan keluarga lagi.
"Semua sudah selesai sekarang" komentar Ryan yang kini sedang menyetir di sebelah Dhika.
"Iya"
"Tapi ini yang terbaik. Mereka tidak lebih seperti lintah bagimu"
"Tapi mereka tetaplah keluargaku"
"Iya. Tapi kau akan menemukan keluarga lain. Itu kalo kamu mau menemui wanita yang akan kukenalkan padamu"
Dhika tersenyum, tidak menduga Ryan sigap menemukan seorang wanita untuknya.
"Aku sudah menemukannya"
"Apa? Kau berkenalan dengan seorang perempuan tanpa bantuanku? Siapa dia?"
Dhika menutup mulutnya, tidak ingin membocorkan sesuatu yang belum pasti. Dia ingin benar-benar membuat Zanna menyerahkan diri sepenuhnya padanya sebelum menceritakan apapun pada Ryan.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah menduganya. Tapi terima kasih sudah datang dan membatalkan semuanya untuk masalah ini"
"Ingatlah itu saat kau memberikan bonus padaku"
Dhika kembali tersenyum, membayangkan Ryan bingung menghubungi beberapa teman gym-nya untuk datang ke rumah pakdhe tadi.
"Desi belum pulang" katanya melihat mobil Desi masih ada di halaman rumahnya.
"Tunggu! Berarti Desi ada di rumahmu juga?"
"iya"
"Kiran juga ada di dalam?"
"Iya"
"Kenapa kau tinggalkan mereka sendiri?"
Dhika tidak mengerti kekhawatiran Ryan. Karena Desi dan Zanna tidak mungkin melakukan sesuatu yang diluar dugaan.
Dan benar saja perkiraan Dhika. Keduanya terlihat akrab bicara berdua di dekat kolam renang. Dhika dan Ryan mendekati keduanya lalu Dhika merasa ada perubahan besar di wajah adiknya.
"Kalian datang? Gimana urusannya? Udah selesai kan?" tanya Desi.
"Iya"
"Silahkan bicara dulu, saya harus ganti baju dulu"
Zanna menghindari tatapannya dan itu membuat Dhika penasaran.
"Zanna" panggilnya.
"Iya?"
"Apa ada masalah?"
"Gak ada. Kiran seneng aja masalah kak Dhika udah selesai sekarang. Itu berarti Kiran udah bisa balik lagi ke rumah"
Apa? Dhika tidak menyelesaikan masalah ini agar adiknya bisa pergi. Dia mengikuti langkah Zanna lalu memojokkannya di sebuah sudut dinding yang tak terlihat siapapun.
"Kak"
"Aku tidak melakukan semua ini agar kau pergi"
Zanna tampak bingung dan melihat ke segala arah. Sepertinya takut ketahuan oleh Desi yang sepengetahuannya adalah kekasih Dhika. Dorongan Zanna terasa kuat tapi DHika juga tidak mau kalah. Dia semakin mendekat dan berhasil membuat tubuh mereka tidak memeiliki jarak sama sekali. tangan Dhika meraih dagu Zanna dan dia mencium adiknya dengan penuh semangat. Kini tidak ada lagi halangan apapun untuk mereka bersatu.
"Kak, berhenti!" ucap Zanna dengan sisa napasnya.
"Tidak. Kakak tidak akan berhenti. Dan sekali lagi kakak bilang, jangan menahan napas"
"Tapi kak"
Dhika kembali mencium adiknya, kali ini lebih lama dari sebelumnya.
"Zanna, kamu milik kakak sekarang" katanya lalu mengecup mata adiknya yang sedikit mengeluarkan air mata.
__ADS_1