
"Siapa disana?"
Kiran buru-buru menghapus air mata yang mengalir di pipi lalu melihat orang yang sedang bicara kepadanya.
"Saya ... pegawai Dinas Pertanian yang dikirim kesini untuk melihat praktek mahasiswa" jelasnya dengan suara agak parau karena baru selesai menangis.
"Saya mahasiswanya Bu eh Mbak eh ..."
Kiran meninggalkan pondok kecil itu lalu menghampiri laki-laki yang mengaku mahasiswa itu.
"Kamu cuma sendiri?"
"Iya. Eh Nggak. Saya praktek disini sama empat orang lain. Mereka di green house"
"Kalo gitu bisa bawa saya kesana? Saya dari tadi nyari gak ketemu" kata Kiran sedikit berbohong. Dia tidak ingin kelihatan tidak profesional di orang lain.
"Bisa. Saya bawa ke tempat lain juga bisa"
"Apa?"
"Apa?"
Kiran mengumpulkan alisnya dan tidak tahu kemana arah pembicaraan mahasiswa ini. Tapi dia tidak ingin mempermasalahkannya. Dia harus fokus pada tugasnya.
"Kemarin kami membantu Pak Agus mengatur pemberian pupuk di tanaman bunga"
"Hari ini Pak Agus membeli pupuk jadi kami disuruh mengamati pembibitan"
Dua mahasiswa di green house menjelaskan dengan baik apa saja yang mereka kerjakan selama disini. Lalu Kiran tidak tahu apa yang harus dia katakan setelah mendapatkan laporan ini.
"Yaaa. Kalo gitu lanjutkan aja pekerjaan kalian" katanya memecah keheningan yang diciptakannya sendiri.
"Baik. Tapi Mbak ini bener pegawai di Dinas Pertanian?" tanya mahasiswa laki-laki yang mengantarnya ke dalam green house tadi.
"Iya. Ada yang salah?"
"Kok kelihatan masih muda dan ... cantik banget"
Kiran hampir saja tertawa mendengar pujian yang diberikan oleh mahasiswa itu. Pasti mereka menganggapnya bodoh atau standar kecantikan bagi mahasiswa sudah menurun. Dia ingin membalas perkataan yang membuatnya malu itu lalu batal karena mendengar seseorang berdeham keras.
"Ehmm"
Kiran dan semua mahasiswa menoleh ke sumber suara. Dari arah pintu green house, Kiran dapat melihat kak Dhika datang dengan Bu Desi yang terus menempel di sisinya. Pantas saja Bu Desi kelihatan senang sekali dan memaksa untuk mengikutinya. Ternyata ini alasannya.
"Wah, semua disini ternyata" kata Bu Desi.
"Nah ini baru pegawai Dinas. Pagi Pak Radhika" kata mahasiswa laki-laki tadi tanpa takut. Membuat Kiran sedikit terkejut. Dia segera melihat ke arah Bu Desi tapi tidak terjadi apa-apa. Ahhh, pasti karena kehadiran kak Dhika. Bu Desi menjaga sikapnya karena berada di sebelah pacarnya. Pacar? Kenapa dada Kiran terasa tidak nyaman hanya karena memikirkan kata itu. Aneh. Apa dia masuk angin lagi?
__ADS_1
"Selamat pagi. Anda ... rekan kerja Desi?" ucap kak Dhika lalu mengulurkan tangan.
Kiran mendongak dan tidak tahu harus menjawab apa pada ucapan kak Dhika tadi. Anda? Kenapa kak Dhika memakai sapaan seperti itu padanya? Apa karena ada Bu Desi? Apa kak Dhika tidak pernah menceritakan tentangnya kepada pacarnya itu? Atau kak Dhika memang tidak pernah menceritakan tentang dirinya pada siapapun kecuali pak Ryan? Kalau begitu, apa dia juga harus berpura-pura tidak mengenal kak Dhika sekarang? Ahhh, mungkin itu memang yang terbaik. Akan susah menjelaskan hubungan mereka kepada orang lain.
"Pagi. Saya Kiran" jawabnya lalu menyambut uluran tangan kak Dhika.
Hangat. Tangan kak Dhika memang besar dan hangat. Tapi Kiran segera menarik tangannya lagi, tidak mau terlihat terlalu menikmati momen itu.
"Aku kenalkan singkat aja ya. Ini Radhika Pranaja. Pemilik perkebunan ini" jelas Bu Desi tidak tahu kalau dia sudah tahu. Mantan atasannya itu tidak malu menunjukkan kedekatannya dengan kak Dhika dihdapan orang lain. Tapi kak DHika juga tidak merasa terganggu dengan kelakuan Bu Desi yang absurd itu. Kiran pura-pura mengangguk saja, lalu kembali melihat ke arah mahasiswa yang harus dia awasi.
"Mba Kiran mau lihat ke green house yang lain?" tanya mahasiswa laki-laki yang tadi.
"Boleh. Apa boleh Pak Radhika?" tanya Kiran pada kakak yang masih berdiri di tempatnya.
"Boleh. Silahkan"
"Terima kasih. Nanti saya juga mau meminta tanda tangan dan stempel di Surat ... "
Belum selesai Kiran menjelaskan, Bu Desi merebut SPD dari tangannya.
"Udah, biar aku aja yang urus ini. Biar cepet selesai. Ayo Dhika kita balik ke kantor kamu!"
Bu Desi menarik tangan kak Dhika untuk pergi dari sini. Kiran akhirnya bisa bernapas lega setelah keduanya pergi. Dia lalu kembali kepada tugasnya.
Dua jam kemudian, Kiran keluar dari green house, setelah ikut membantu para mahasiswa itu melakukan pembibitan. Akhirnya pekerjaannya selesai dan sekarang sepertinya waktu yang tepat untuk kembali ke kantor. Dia pergi ke rumah kecil yang dibilang kantor kak Dhika oleh Bu Desi. Sebenarnya dia ragu pergi kesana karena takut melihat sesuatu yang tidak pantas. Tapi dia harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain.
"Apa?"
Kiran menghentikan langkahnya saat mendengar suara Bu Desi dan kak Dhika. Mereka sedang membicarakannya, jadi Kiran memasang telinganya, dan berusaha mendengar dengan lebih baik.
"Iya. Dari tadi kamu tanya-tanya terus tentang anak baru itu"
Kiran merinding mendengar Bu Desi memakai suara sengau saat bicara dengan kak Dhika. Sungguh berbeda dengan Bu Desi yang dihadapinya setiap hari.
"Tidak. Kamu salah sangka"
"Apa kamu tertarik sama anak itu?"
"Tidak"
"Beneran?"
"Iya"
"Kalo gitu jangan tanya-tanya terus dong"
Dihhh. Manja banget suaranya. Hampir saja Kiran muntah mendengar gaya bicara Bu Desi yang seperti anak TK itu. Ternyata seperti ini selera perempuan kak Dhika. Rendah sekali, pikirnya.
__ADS_1
"Aku hanya tidak pernah dengar kamu cerita ada anak baru di kantor"
"Dia itu anak baru yang ngeselin. Makanya aku gak cerita. Kerjaannya gak ada yang beres dan suka ngelawan kalo dikasih tahu"
Apa??? Bagaimana bisa Bu Desi bicara seperti itu tentang dirinya? Padahal Bu Desi sendiri yang tingkah lakunya luar biasa di kantor.
"Apa benar begitu?"
Apa??? Kak Dhika percaya dengan kata-kata Bu Desi? Sungguh pasangan yang luar biasa.
"Iya. Dasar sombong. Mentang-mentang dari ibukota. Lulus tepat waktu terus lulus ujian dalam sekali coba. Makanya aku sebel banget punya bawahan kayak gitu. Untungnya sekarang udah dipindah ke bagian tanaman pangan. Kalo gak pasti aku setress banget. makanya kamu jangan tanya-tanya tentang anak itu. Bikin aku kesal aja"
"Maafkan aku. Aku tidak akan tanya lagi"
Kiran keluar dari rumah kecil alias kantor kak DHika dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Kakaknya itu pasti gila. Bagaimana bisa percaya dengan semua kata-kata penyihir itu? Juga mudah sekali minta maaf seperti orang bodoh. Apa kak Dhika cinta buta sama Bu Desi sampai tidak bisa melihat kebenaran yang hakiki? Kiran merasa dadanya sesak dengan amarah.
"Mba Kiran masih disini? Katanya mau balik ke kantor" kata mahasiswa laki-laki yang tadi.
"Iya, rencananya begitu tapi ... "
"Ohh. Di dalem ada Ibu itu sama Pak Radhika ya"
"Iya. Apa mereka sering ada disini?" tanya Kiran berusaha cari tau.
"Gak Sering sih. Tapi saya pernah lihat keduanya ada di dalam ruangan dan gak keluar-keluar sampai lebih dari setengah hari"
Setengah hari? Di tempat seperti ini? Bukankah kak Dhika punya banyak rumah? Kenapa mereka tidak melakukannya di salah satu rumah itu dan memilih disini? Sungguh menjijikkan, pikirnya melayang kemana-mana.
"Duhh udah deh. jangan cerita kayak gitu"
"Kenapa? Emangnya Mba Kiran gak pernah gitu sama pacarnya?"
"Ngawur!! Aku gak punya pacar ya"
"Wah, kalo gitu boleh dong saya coba jadi calon"
Alis Kiran kembali mengumpul di tengah dahi. Dia tidak suka arah pembicaraan mahasiswa ini.
"Kamu lagi gak ngapa-ngapain?" tanyanya.
"Ini disuruh tanya ke Pak Radhika kapan pak Agus datang"
"Ya udah sana masuk"
"Tapi saya takut nge-ganggu"
Akhirnya Kiran dan mahasiswa itu memilih untuk duduk disana. Menunggu apa yang dilakukan oleh pemilik perkebunan dan mantan atasannya selesai. Kiran tidak menyangka kakaknya ternyata memiliki kebiasaan seperti ini. Melakukan hal mesum di tempat seperti ini. Kekagumannya pada kak Dhika menguap begitu saja sekarang. Dia tidak jadi menganggap kakaknya itu hebat lagi
__ADS_1