Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 38


__ADS_3

Kiran berlari menjauh dari mobil kak Dhika sore itu. Dia segera masuk ke dalam rumah dan mengintip mobil kakaknya pergi. Jantungnya masih berdegup tak karuan. Mustahil dia tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Munafik kalau dia mengatakan tidak pernah mengenal perasaan ini. Tapi ... kenapa dia merasakan hal ini pada orang itu? Seharusnya dia tidak memiliki perasaan seperti ini pada orang itu. Karena ... mereka pernah tumbuh bersama. Mereka ... saudara meskipun tidak memiliki pertalian darah.


Badan Kiran perlahan turun ke lantai. Dia benar-benar tidak percaya hal ini menimpanya. Secara sadar, dia tertarik pada kakaknya sendiri. Suka melihat dan ingin menyentuh tubuh kakaknya.


"Gak normal" katanya menghina diri sendiri.


Kiran bangkit dari lantai dan mencoba untuk berjalan ke arah kamar. Dia meletakkan tas dan sepatu di tempatnya dan ingin segera mandi. Saat ingin melepas baju, dia mencium bau laki-laki di tubuhnyanya.


'Ini baju kak Dhika' katanya dalam hati lalu mulai menyesap bau itu dalam-dalam. Sedetik kemudian dia kembali sadar dan merasa malu pada kelakuannya yang aneh. Kiran melepas kaos itu dan melemparnya jauh-jauh.


"Jangan dekat-dekat!" perintahnya pada kaos yang tergeletak di lantai itu.


Dia ingin melangkah ke kamar mandi tapi kakinya tidak bisa maju. Dia berlari mengambil kaos abu itu dan menyesap baunya lagi. Seakan ingin menyerap jiwa pemilik kaos ke dalam relung hatinya. Lalu dia sadar kembali dan melempar kaos itu menjauh.


"Apa ini? Kenapa kayak gini?" tanya Kiran menganggap bahwa dirinya sudah tidak waras.


"Dia itu kak Dhika. Kak Dhika yang dulu seperti gelandangan. Kak Dhika yang ... sekarang memiliki dada bidang dan keras. Dengan otot perut berbentuk roti kasur. Lengan kokoh yang memelukku erat. Dan ... bibir bawah tebal yang mennggoda untuk dicium." jabar Kiran lalu menyesal dalam diam.


Dia pernah memiliki kekasih sebelumnya. Pada saat kelas dua SMU. Tapi itu hanyalah cinta monyet yang berakhir dengan cepat. Setelah itu sampai sekarang dia tidak pernah sekalipun menjalin kasih dengan siapapun. Bukan karena tidak tertarik,. tapi tidak memiliki waktu untuk menindaklanjuti perasaannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah memendam rasa suka dan membiarkannya hilang seiring berjalannya waktu. Tapi dia tidak pernah merasa tertarik secara fisik pada seorang laki-laki sebesar sekarang. Bahkan dia sudah merindukan bau, pelukan dan kekuatan orang itu sejak mereka berpisah lima menit yang lalu.


"Enggak ... ini gak boleh terjadi" katanya lalu bangkit. Berusaha keras untuk tidak menoleh pada kaos abu-abu kak Dhika lagi dan masuk ke dalam kamar mandi.


Byur ... byur ... byur


Kiran menyiram air dingin ke atas kepalanya, mencoba untuk menghilangkan semua bayangan tubuh kak Dhika di dalam otaknya.


"Orang itu bukan kelasmu. Kalian jauh beda"


"Orang itu punya segalanya dan kamu gak punya apa-apa"


"Orang itu ... punya pacar. Pacar yang rese' dan jahat banget sama kamu"


"Orang itu ... POKOKNYA GAK BOLEEEEHHHH"

__ADS_1


Kiran mencoba menghipnotis dirinya sendiri agar bisa mengubah perasaannya. Bersamaan dengan suara air yang terus menerus menimpa tubuhnya.


Setelah tiga puluh menit, Kiran akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia merasa sangat pusing. Mungkin karena terlalu banyak berpikir yang tidak perlu.


"Itu hanya perasaan sesaat. Bukan perasaan yang sesungguhnya" katanya lalu memakai pakaian dalam.


"Semua akan hilang secepat angin, seperti yang biasa terjadi"


"Harus. Harus hilang. Kalo gak, aku yang susah sendiri"


Kembali dia meringkuk di lantai. Menyesal karena memiliki perasaan seperti ini. Perlahan, dia berjalan ke kasur dan berbaring.


Mungkin, kalau tidur, semua yang dirasakannya sekarang akan menghilang begitu saja. Tanpa bekas sama sekali. Kiran akan menganggap semua itu hanya mimpi. Mimpi aneh yang dirasakannya sebagai seorang wanita. Lalu saat bangun, dia akan kembali normal lagi. Menjadi Kiran yang hanya fokus pada mencari uang. Dia menutup mata dan dalam hitungan detik terlelap begitu saja.


Tidak tahu berapa lama dia tidur, Kiran membuka mata dan merasa kepalanya sakit. Sakit sekali sampai dia tidak bisa tahan. Dia berjalan ke meja dan mencari obat sakit kepala.


"Ketemu" Kiran segera meminum obat itu lalu kembali berbaring di kasur. Tangannya menggapai-gapai, mencari ponselnya. Sudah jam dua belas malam. Pantas kepalanya sakit, pasti karena dia melewatkan makan malam. Kiran kembali tertidur untuk beberapa menit lalu tersadar kembali karena merasa badannya tidak nyaman.


Kiran kembali berbaring setelah menemukan semuanya dan mulai merawat dirinya sendiri.


Tidak sadar telah tidur berapa lama, Kiran kini membuka mata dan merasa asing dengan langit-langit yang terlihat di hadapannya. Kepalanya tidak sesakit yang tadi dan tubuhnya mulai terasa nyaman. Tangannya mulai menggapai-gapai sekali lagi tapi tidak menemukan apapun di meja sebelah kasurnya. Dia menoleh dan mendapati meja di sebelah kasurnya berubah menjadi kecil.


'Bukan. Bukan cuma meja yang berubah. Tapi kasur, selimut, dan kamarnya sudah berubah' pikirnya lalu berusaha untuk duduk.


"Sudah bangun?" tanya seseorang padanya. Dia seperti mengenal suara itu tapi mulai bertanya-tanya kenapa dia bisa berpindah tempat.


"Ini dimana?"


"Rumah sakit. Tadi kakak ke rumahmu untuk antar seragam yang tidak sengaja terbawa, tapi kamu gak menjawab. Ternyata kamu ... demam"


Kiran melihat kak Dhika yang duduk di sebelahnya dan mulai merasa canggung. Dia menunduk, menghindari tatapan kak Dhika.


"Aku ... udah minum obat" katanya berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam.

__ADS_1


"Iya. Kakak melihatnya, tapi panasmu tinggi sekali. Kamu juga mengingau, jadi kakak bawa saja ke rumah sakit daripada terjadi sesuatu. Kata dokter ini infeksi lambung."


"Apa?"


Infeksi lambung? Ternyata penyakit ini kambuh lagi, pikirnya lalu mendesah pelan.


"Apa kamu sering mengalami hal seperti ini?" tanya kak Dhika.


"Gak" jawabnya segera.


"Dokter berkata mungkin ini bukan pertama kalinya kamu mengalami hal ini. Apa di Jakarta kamu pernah mengalami hal ini?"


Pernah? Bukan pernah lagi, tapi sering. Kiran selalu sibuk bekerja, mencari uang dan belajar. Bukannya dia tidak ingin makan, tapi dia merasa tidak memiliki waktu untuk makan. Hal itulah yang sempat membuatnya terserang penyakit lambung beberapa kali.


"Gak. Apa pemeriksaannya udah selesai? Aku mau pulang" katanya tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.


"Kamu akan tetap disini sampai sembuh. Jangan berani turun dari ranjang atau aku akan marah"


"Tapi ... "


"Sudah. Kamu tidur saja. Kakak akan ambilkan apapun yang kamu butuhkan. Asalkan kamu sembuh dulu"


Mata Kiran terbuka sempurna ketika merasakan sebuah belaian di rambutnya. Orang ini, kenapa dengan mudah membelai dan menyentuhnya? Padahal orang ini tidak tahu apa akibat dari perbuatannya. Kiran menepis tangan kakaknya dan memilih untuk berbaring ke samping kanan. Membelakangi kak Dhika yang masih setia duduk di sebelahnya.


"Kak Dhika pergi aja sekarang. Aku udah bangun"


"Tidak. Kakak mau tetap disini, menunggumu sampai sembuh"


"Kak Dhika kan juga harus kerja"


"Tidak ada yang lebih penting darimu sekarang. Tidurlah dan kakak akan tetap berada disini"


Tidak. Jangan lakukan itu.Jangan mendekat karena Kiran tidak tahu bagaimana caranya menghapus perasaan yang terlanjur timbul di hati dan kepalanya ini.

__ADS_1


__ADS_2