Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 34


__ADS_3

Hemmm, Kiran mengamati raut wajah orang yang tiba-tiba meminta maaf atas semua kelakuannya pagi tadi. Dia tidak yakin kakaknya itu mengerti apa yang baru saja dibicarakannya. Karena orang tidak akan berubah dengan mudah.


"Jadi kak Dhika gak percaya sama yang diomongin Bu Desi?"


Raut wajah orang itu berubah. Tidak lagi tenang seperti sepuluh detik yang lalu.


"Kenapa kita bicarakan tentang Desi?"


"Karena kak Dhika marah ke Kiran karena cerita Bu Desi. Iya kan?"


"Kita tidak membicarakan tentang Desi. Kakak hanya ingin minta maaf karena sudah berpikir kamu melakukan sesuatu yang tidak baik"


"Berarti kak Dhika gak akan percaya setiap kata Bu Desi tentang Kiran?"


Tidak menjawab. Kak Dhika tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan semudah itu dan Kiran sudah tahu alasannya.


"Tidak ada yang jelek dari nasehat orang yang lebih berpengalaman darimu. Jangan memandang itu hanya untuk menilai keburukanmu" kata kak Dhika, membuat Kiran tidak bisa lagi berkata-kata.


Dia bisa menarik kesimpulan kalau kak Dhika memang sangat mencintai Bu Desi. Sampai tidak bisa melihat kebenaran dari semua yang terjadi.


"Kalo gitu kak Dhika pergi aja dari sini"


"Apa?"


"Ngapain kak Dhika ada disini kalo cuma buat ingetin Kiran tentang kejadian tadi pagi"


"Zanna, kakak cuma mau ... "


"Udah. Mending kak Dhika pergi aja sekarang. Kiran mau tidur aja"


"Tapi ... "


Pak Ryan datang dari arah ruang tamu menyeret temannya untuk segera keluar dari rumah ini. Kiran mengikuti mereka lalu mau menutup pintu. Saat pak Ryan memunculkan wajahnya dekat sekali.


"Boleh aku menghubungi kalau suasana hatimu sudah baik?" kata pak Ryan.


"Boleh. Tapi bisa gak Pak Ryan bawa orang itu jauh-jauh dari sini?"


"Siap. Selamat malam Kiran. Semoga tidur nyenyak"


Kiran tersenyum mendengar ucapan pak Ryan yang menghangatkan hatinya.


"Apa yang kau lakukan?"


Dhika menepis tangan Ryan yang masih memegang lengannya.


"Apa ada yang terjadi antara Kiran dan Desi? Aku tidak tahu kalau mereka ternyata saling mengenal"


Tentu saja Ryan tidak tahu. karena Dhika tidak ingin Ryan kembali menceramahinya lagi seperti sekarang.


"Mereka bekerja yang sama" jelasnya lalu berjalan ke arah mobil Ryan yang terparkir sekitar lima meter dari rumah Zanna.


"Sepertinya mereka ada masalah dan kau ikut campur"

__ADS_1


Dhika tidak bisa berkata tidak. Dia memang ikut campur dalam masalah Zanna dan Desi. Tapi itu untuk kebaikan adiknya sendiri. Tidak ada guru terbaik selain pengalaman.


"Aku hanya ingin Zanna belajar dari seniornya dengan baik"


"Dan kau percaya dengan semua cerita Desi tentang adikmu sendiri?"


Dhika melihat ke arah Ryan.


"Apa itu sebuah masalah besar?"


"Kalau seperti ini, aku yakin Zanna akan semakin menjauhimu. Tapi aku dengar kau membeli motor baru. Apa itu untuk adikmu?"


Dhika terdiam. Kalau Ryan tahu dia membeli motor untuk Desi, maka masalah ini akan semakin rumit.


"Aku ... "


"Aku tahu kau membelinya untuk Desi"


Sial. ternyata Ryan tahu.


"Itu uangku. Terserah aku akan menggunakannya untuk apa. Dan jangan pernah datang ke rumah Zanna lagi. Dia adikku" tegas Dhika lalu meninggalkan Ryan dengan mobilnya. Dia kembali ke rumahnya dan merebahkan punggung di ranjang.


Wajah Zanna begitu muram saat berhadapan dengannya. Sedangkan ceria ketika berbicara dengan laki-laki lain. Apakah itu memang yang terjadi pada adik perempuanmu? Dhika tidak tahu. Tapi dia merasa kesal setiap kali menyadarinya. Zanna, kamu harus lebih baik padaku. Pada kakakmu.


Dhika terbangun di pagi hari karena ada telepon masuk.


"Halo"


Terdengar suara napas tak beraturan dan Dhika segera duduk di ranjangnya.


"Dimana kamu?"


"Di ... rumah. Dhika ... aku mimpi lagi"


Dhika bisa mendengar suara Desi yang bergetar.


"Apa aku harus pergi kesana?"


"Tidak, tapi bisa gak kamu anter aku kerja hari ini?"


Sebenarnya Dhika memiliki rencana untuk mengantar Zanna ke kantor. Tapi sepertinya itu harus dibatalkan.


"Aku akan kesana sekarang!" katanya lalu menutup telepon. Dia merapikan diri, berganti pakaian dan turun ke bawah.


Waktu Dhika mengeluarkan mobil, dia melihat Zanna sedang berdiri di depan gerbang. Siap untuk berangkat ke kantornya. Lalu mata mereka bertemu dan Dhika sengaja untuk menghindar. Dia segera membawa mobilnya pergi ke rumah Desi, meninggalkan Zanna yang masih menatap ke arah dirinya.


"Maafkan kakak" katanya dalam hati.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Dhika sampai di sebuah rumah dengan dinding berwarna biru tua.


"Dhikaaaaaa!!!" teriak Desi lalu segera memeluknya. Dhika melihat ke kanan kiri, berharap tidak ada tetangga Desi yang melihat. Tapi itu hal yang mustahil dikala rumah kontrakan Desi berada di tengah perumahan yang padat penduduknya.


"Kamu sudah tenang?" tanyanya.

__ADS_1


"Udah. Tapi kakiku masih gemetar"


"Duduklah. Kalo kamu tidak ingin pergi bekerja, aku akan bicara pada kepala dinas agar memberimu cuti"


Yah, Dhika mengenal beberapa orang di kantor Dinas Pertanian yang sekarang berganti nama menjadi Dinas Ketahanan Pangan dan pertanian itu. Salah satunya adalah kepala dinas yang baru diangkat dua tahun lalu.


"Enggak. Aku gak mau libur. Nanti temen kerjaku bilang aku diistimewakan"


"Aku hanya ingin membantumu"


"Iya tapi ... kamu udah banyak bantu aku ... " ucap Desi dengan nada mendayu.


"Apa kamu bekerja hari ini?"


"Iya. Tunggu aku ya"


Dhika menunggu Desi bersiap lalu mengantarnya ke kantor Dinas.


"Masih apel Senin. Aku males" ucap Desi yang tidak mau keluar dari mobil karena melihat semua pegawai ada di lapangan depan kantor.


"Tunggu saja di mobil sampai mereka selesai"


"Kamu baik banget deh. Dimana lagi aku cari temen yang super baik kayak kamu"


Teman. Sekali lagi Desi menegaskan kalau hubungan mereka hanya bisa sampai batas teman saja. Padahal sudah lebih dari tujuh tahun dia menyukai perempuan ini. Sudah banyak sekali hal yang dia lakukan untuk menunjukkan perhatian agar Desi merasa bahagia. Tapi statusnya tetaplah seorang teman. Dan dia tidak bisa memaksa perempuan ini untuk menaikkan status itu. Karena Dhika mengerti bagaimana perasaan Desi yang sebenarnya.


"Motor yang kamu minta akan diantar hari ini"


Dhika melihat wajah Desi tersenyum.


"Bener?"


"Iya"


"Jam berapa?"


"Pagi ini. Aku akan memeriksanya lagi nanti"


"Makasih" ucap Desi lalu menggelayut manja di lengannya.


"Apa lagi yang kau inginkan?"


"Apa ya? Gak tau. Nanti deh aku bilang kamu kalo inget"


Dhika mengalihkan pandangan ke arah lapangan dan sekali lagi bertemu dengan tatapan Zanna yang sedang berdiri di bawah terik matahari. Seharusnya dia tidak parkir di depan kantor seperti ini. Setidaknya agar Zanna tidak melihatnya datang bersama Desi.


"Anak baru itu ngapain liat-liat kesini?" komentar Desi yang ternyata juga menyadari tatapan Zanna.


"Siapa?" tanya Dhika pura-pura tidak tahu.


"Kiran. Anak baru yang kemarin dateng ke perkebunan kamu. Lagi lihat kesini terus dari tadi. Gak sopan banget"


Kali ini Dhika setuju lagi dengan Desi. Seharusnya Zanna fokus pada apel paginya.Tidak pada hal lain. Dia harus memberitahu Zanna agar tidak pernah kehilangan fokus lagi dalam pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2