
"Dhik ... tunggu, Dhik ... pelan ... pelan"
Dhika berbalik dan melihat Ryan kesusahan berjalan mengikutinya.
"Bukannya kau olahraga?"
"Iya, tapi bukan jalan ke atas bukit seperti ini"
"Badanmu yang lemah" ejek Dhika tidak memberikan kesempatan untuk Ryan memperlambat langkahnya.
"Kenapa harus cepat-cepat? kita punya waktu seminggu disini"
"Aku harus pulang secepatnya" tegas Dhika lalu memeriksa keadaan aliran air di perkebunan barunya.
"Kenapa? Tunggu ... apa ini tentang Desi?"
Dhika menganggap semua yang dilihatnya di perkebunan ini cukup baik. Hanya kurang perawatan karena pemilik sebelumnya terlilit hutang. Dia melihat ke arah Ryan dan mengangguk.
"Iya"
Padahal sebenarnya bukan itu alasannya ingin segera pulang. Dia ingin melihat perempuan yang membuatnya tidak bisa tidur selama dua hari ini. Sejak menghetahui bagaimana perasaannya pada Zanna, Dhika terus saja membayangkan wajah dan tubuh adiknya itu. Tidak ada satu menit-pun berlalu tanpa bayangan Zanna. Hal itu sangat menyiksa namun juga membuatnya senang. Sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakan olehnya sebelumnya. Begitu ... membuatnya ... hidup.
"Apa karena Desi sekarang setuju ke dokter?"
Semangat Dhika terhenti sejenak karena mendengar berita yang tidak pernah didengarnya.
"Ke dokter? Apa Desi setuju ke dokter sekarang?" tanyanya pada Ryan yang sekarang ada lebih dekat dengannya daripada tadi.
"Kau tidak tahu?"
"Aku ... tidak"
"Bukannya Desi mengirim pesan ke ponselmu?"
Jujur, Dhika tidak pernah memeriksa pesan dari Desi lagi sejak mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Dia mulai membaca satu persatu pesan yang dikirimkan oleh Desi dan merasa bersalah. Bagaimana bisa dia tidak mempedulikan perempuan yang sudah disukainya begitu lama? Dan lagi sekarang Desi memiliki keinginan untuk berobat. Sesuatu yang selalu diharapkannya sejak lama.
"Bagus"
__ADS_1
"Kenapa kau tampak tidak senang?" tanya Ryan.
"Tentu saja senang. Akhirnya Desi setidaknya bisa membicarakan masalah itu pada orang lain. Mengurangi beban di hatinya"
"Dan tidak lama lagi kau akan terbebas darinya"
"Apa? Bebas?"
"Iya. Akhirnya kau akan bisa menjalani hidupmu sendiri, tanpa ada Desi"
Tiba-tiba Dhika merasa marah mendengar kata-kata Ryan. Selama ini dia tidak pernah bisa membayangkan hidup tanpa Desi. bagaimanapun keadaannya, Desi tetaplah perempuan yang dia janjikan untuk hidup bersama.
"Aku akan tetap bersamanya. Kalau kau tidak setuju, pergi saja yang jauh" katanya lalu turun dari bukit yang berada di Utara perkebunan barunya. Meninggalkan Ryan yang masih berjalan dengan susah payah karena kelelahan.
Lalu bayangan Zanna kembali lewat di depannya. Membuat Dhika berhenti melangkah. Bagaimana perasaannya pada Zanna kalau dia berjanji untuk hidup dengan Desi?
"Kenapa berhenti?" tanya Ryan yang berhasil menyusulnya.
"Tidak. Aku hanya ... "
Dhika tersadar. Dia sudah menolak adiknya. Tidak menerima perasaan adiknya dengan alasan sudah memiliki calon istri.Lalu kenapa dia bersemangat untuk pulang dan menemui Zanna? Semua itu sepertinya tidak perlu lagi. Karena dia sudah memutuskan tetap bersama Desi apapun yang terjadi. Tiba-tiba semangat Dhika turun drastis. Dia tidak begitu bersemangat lagi untuk menyelesaikan pemeriksaan perkebunan dengan cepat.
"Zanna"
Mengucapkan nama itu dengan mulutnya sendiri, membangkitkan semangat Dhika kembali. Dia menggoda adiknya yang dijumpainya secara tidak sengaja itu. Bagaikan takdir telah mempertemukan mereka. Dhika mulai menggoda adiknya. Berharap bisa melihat dan merasakan gairah yang sama seperti saat itu.
Kedatangan Desi yang begitu mendadak membuatnya terpaksa menjauhi Zanna. Berpura-pura tidak mengenal adik yang disukainya itu. Dhika masih ingin melihat wajah adiknya. Tidak ingin melepaskan kesempatan yang berharga itu.
"Anak baru itu membantumu" katanya pada Desi yang memeluk lengannya saat Kiran mengambil obatnya.
"Apa?"
"Anak baru itu mencoba mencegahmu memukul diri sendiri. Sampai melukai tubuhnya sendiri. Aku dengar dari Wahyu dan ternyata benar anak baru itu berobat disini"
Desi tampak bingung dengan apa yang dikatakannya. Tapi Dhika tidak membuang kesempatan. Dia menyarankan untuk mengajak Zanna makan malam. Sebagai cara untuk minta maaf dan juga berterima kasih. Dan Desi menyetujuinya.
Dhika melihat ke arah Zanna di hadapannya. Tampak begitu tidak nyaman dengan situasi yang terjadi saat ini, tapi tidak memiliki pilihan lain.
__ADS_1
"Kamu pilih makan apa?" tanya Desi pada Zanna. Dhika memperhatikan Zanna yang membaca menu lalu memesan spagheti yang sama dengan yang pernah mereka pesan di cafe ini dulu.
Saat makanan datang, Desi memilih untuk pergi ke toilet. Mungkin juga merasa tidak nyaman dengan situasi yang terlalu hening diantara mereka bertiga. Dhika merasa senang karena akhirnya hanya berdua dengan adiknya. Tapi Zanna memakan spagheti seperti orang yang rakus. Pasti ingin cepat pergi setelah menghabiskan makanannya.
"Pelan-pelan. Tidak ada yang akan merebut makanan kamu"
"Berisik" jawab adiknya dengan mulut penuh.
"Lambungmu belum sembuh benar. Kakak tidak mau kamu sakit perut lagi nanti"
"Biarin. Gak ada urusan juga sama kak Dhika"
Karena adiknya itu tidak mendengarkan sarannya, Dhika berdiri dan menghentikan tangan Zanna yang terus menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Zanna, hentikan!"
"Apa sih? Ada Bu Desi tuh"
Dhika melepas pegangannya, menoleh ke belakang dan tidak melihat Desi sama sekali. Ternyata Zanna mempermainkannya.
"Lucu sekali" katanya kesal
"Ha ha ha ha" tawa Zanna terdengar begitu menyebalkan. .
Hampir saja dia berjalan mendekati adiknya ketika Desi kembali dari toilet. Dhika terpaksa menahan kesalnya sampai saatnya mereka berpisah. Zanna pergi tanpa berbalik lagi, seperti memang menunggu waktu untuk bisa pergi darinya. Hal itu membuatnya sangat marah. Sampai lupa dengan Desi yang ada di sebelahnya.
"Kamu kenapa? Apa anak baru itu bicara yang aneh-aneh saat aku pergi ke toilet?" tanya Desi menyadarkannya.
"Tidak. Aku akan mengantarmu pulang sekarang"
Dhika mengantar Desi pulang lalu segera tancap gas ke sebuah tempat yang akan membuatnya bisa melampiaskan kemarahannya.
Berhiaskan senyum sinis di wajahnya, Dhika membuka pintu depan rumah Zanna.Dia tidak menemukan adiknya di ruang tamu dan dapur. Lalu dia masuk ke dalam kamar Zanna dan menemukan adiknya itu terbaring di tempat tidur.
"Apa kamu sudah tidur?" tanyanya tidak mendapat jawaban. Dhika mendekati ranjang dan melihat wajah damai adiknya.
"Kaaak" igau Zanna. Dan kemarahan menggebu yang dirasakan Dhika tadi menghilang tak berbekas begitu saja. Dia merasa senang karena berada di dalam mimpi Zanna. Seakan memastikan kalau Zanna masih memiliki perasaan itu padanya.
__ADS_1
"Kamu manis dan cantik. Apa kamu tahu itu?"
Dhika membelai rambut Zanna dan menghirup wangi shampo yang dirindukannya.Tanpa berpikir lama, dia melepas sepatu dan naik ke ranjang. Merengkuh Zanna dalam pelukannya dan merasakan kenyamanan yang teramat sangat. Saat detak jantungnya mulai seirama dengan adiknya, Dhika tertidur.