Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 22


__ADS_3

"Kayaknya hari liburmu menyenangkan"


Dhika tersenyum mendengar sapaan Ryan saat menjemputnya untuk pergi ke Surabaya Senin pagi itu.


"Sangat"


"Dimana Zanna?"


"Aku sudah mengantarnya bekerja. Katanya dia tidak boleh terlambat" jelas Dhika dengan bangga. Dia seperti sudah melakukan pekerjaannya sebagai kakak dengan baik.


"Apa hubungan kalian sudah membaik?"


"Belum, tapi setidaknya kami tidak canggung l;agi seperti minggu lalu"


"Dan kalau rumah itu sudah bersih dari tikus?"


Dhika tidak jadi masuk ke dalam mobil dan menatap temannya itu. Dia sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Benar juga. Kalau rumah Zanna sudah bersih dari tikus, maka adiknya pasti akan memilih untuk tinggal disana. Mereka akan tinggal terpisah dan Dhika tidak akan bisa melakukan kewajibannya sebagai kakak.


"Apa aku harus menghancurkan rumah itu?"


"Kau gila"


"Aku ingin Zanna tinggal disini"


"Kau harus ingat kalau adikmu itu tidak lagi remaja. Zanna sudah dewasa"


"Tidak. Bagiku Zanna masih kecil. Meskipun tubuhnya sudah berubah"


"Berubah? Apa maksudmu berubah?"


"Ya ... " Dhika menaikkan kedua tangannya seperti dua mangkuk di udara lalu tersadar kalau itu tidak pantas dilakukannya. Apalagi dihadapan Ryan yang selalu ingin mencemoohnya.


Benar saja, Ryan segera tertawa saat melihat tingkah lakunya.


"Hahahaha. Memangnya kau pernah melihatnya?"


Kalau Ryan tahu Dhika pernah melihat dada adiknya, temannya itu pasti berpikir dia aneh.


"Kita berangkat sekarang. Kau ingin kita terlambat?"

__ADS_1


"Tunggu. Kau tidak benar-benar pernah melihatnya kan?"


"Tidak!! Kau pikir aku orang seperti apa?" teriak Dhika lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia harus mulai menyeleksi apa yang boleh dikatakannya pada Ryan dan yang tidak.


"Tapi, apa kau tidak melupakan sesuatu?" tanya Ryan yang mulai membawa mobil keluar dari rumah.


"Tidak. Aku tidak melupakan apa-apa. Pekerjaanmu juga sudah aku periksa"


"Selain itu?"


Dhika berusaha mengingat apa yang mungkin dia lupakan. Terutama masalah pekerjaan yang akan dia kerjakan hari Senin ini.


"Tidak ada"


"Baguslah kalau begitu. Kita akan menyelesaikan masalah pembelian tanah untuk cafe hari ini. Untuk pembangunannya, aku sudah mengirim dua file model cafe di email-mu. Periksa dan pilihlah diantaranya"


"Apa kau yakin dengan cafe ketiga ini?"


"Yakin"


"Baiklah"


Pembelian tanah berlangsung lancar dan cepat. Dia melihat lokasi dan mulai menerima penjelasan dari visi Ryan.


"Mulailah" katanya lalu berjalan kembali ke mobil setelah memastikan melihat sudut bibir Ryan naik. Temannya itu sangat senang dengan proyek ini dan Dhika akan mendukung saja. Toh dia tidak akan rugi apa-apa.


"Untuk proyek selanjutnya, aku ingin bekerja sama dengan sebuah properti besar" ucap Ryan saat menyusulnya ke mobil.


"Apa yang akan kau bangun?"


"Perumahan, di Bandung Barat"


"Apa kau pikir skalanya tidak terlalu besar?" Dhika cukup ragu dengan proyek perumahan yang membutuhkan aliran dana besar dan urusan legalitas yang rumit.


"Uangmu tidak akan tumbuh dengan sendirinya"


Kata-kata Ryan mengingatkan Dhika saat menerima warisan dari ayahnya sepuluh tahun lalu.


Perkebunan seluas lima ribu meter dan dua ribu meter di Batu. Perkebunan Jati seluas dua hektar di Malang Selatan. Dua rumah di Surabaya, tiga rumah di Malang dan dua vila di Batu. Dalam sekejap, semua telah berpindah tangan ke Dhika sebagai satu-satunya penerima resmi warisan ayahnya. Jumlah yang sangat besar untuk seorang mahasiswa yang baru saja akan mulai berkuliah saat itu.

__ADS_1


"Pakdhe saja yang urus perkebunan di Batu. Budhemu biar urus perkebunan jati itu" kata pakdhe yang saat itu selalu berada di dekatnya. Dhika yang masih merasa sedih karena meninggalnya ayah dan ibu tirinya lalu ditinggalkan oleh Zanna, setuju saja. Lalu dia pergi untuk tinggal dengan ibu kandungnya di daerah Pasuruan.


Tapi dia tidak merasa nyaman tinggal di rumah ibu kandungnya sendiri. Sehingga Dhika memutuskan untuk kembali ke Malang dan tinggal di rumah ayahnya. Tinggal seorang diri membuatnya sangat kesepian. Hampir saja dia terjerumus pada kehidupan yang berbahaya lalu kehadiran Ryan menyelamatkannya.


"Kamu gak mau kuliah lagi?" tanya Ryan yang datang sebelum Dhika pergi ke tempat hiburan malam saat itu.


"Untuk apa? Aku sudah punya semuanya"


"Tapi ini bukannya keinginan ayahmu?" tanya Ryan lagi membuatnya kembali mengingat pesan ayahnya.


"Gak apa-apa kamu gak bisa kuliah di Universitas Indonesia. Yang penting kamu harus kuliah, punya banyak ilmu dan pengalaman untuk kamu bagi ke adikmu nanti"


Itu kata ayahnya ketika mengantar Dhika ke Surabaya untuk daftar ulang kuliah dulu. Malam itu adalah pertama kalinya Dhika menangis setelah kehilangan orang tua dan adiknya. Dia seperti tersadar dan mulai mengurus kuliahnya lagi. Karena tidak hadir kuliah selama hampir tiga bulan, dosen pembimbingnya mengusulkan untuk mengajukan cuti saja. Dia menurut dan mengambil cuti kuliah selama satu semester. Belajar dengan Ryan dan tinggal di Surabaya agar bisa selalu datang ke perpustakaan kampus dan mengejar ketertinggalannya.


Lalu masalah mulai muncul. Rumah di Surabaya didatangi oleh beberapa orang pagi itu. Dia hanya mengenal salah satu dari sepuluh orang yang datang. Pak Agus, penjaga kebun ayahnya yang ada di Batu.


"Kami mau berhenti saja dari perkebunan. Semuanya gagal panen dan tidak ada yang bisa ditanam lagi" lapor pak Agus yang mengejutkan Dhika. Bukankah semuanya sudah diurus oleh pakdhenya? Kenapa jadi seperti ini? Dan setelah datang ke Malang lagi, dia mengerti semua kerusakan yang disebabkan oleh saudara ayahnya. Perkebunan Batu tidak terurus dan semua tanaman jati telah dijual.


"Ya kan ngurus perkebunan butuh uang. Kamu jual rumah yang di Surabaya sama vila di Batu buat ini"


Dhika tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mendengar apa yang diucapkan pakdhenya itu. Dia kini mengerti kenapa ayahnya tidak pernah mengajak saudaranya untuk mengurus perkebunan. Dan mulai mengambil alih semuanya lagi,meski dengan omelan saudara ayahnya itu. Tapi semuanya tidak bisa diatur oleh satu orang saja. Dia membutuhkan bantuan dan satu-satunya orang yang terpikir olehnya hanyalah Ryan.


"Kamu pikir aku bisa bantu apa?" tanya Ryan yang terkejut dengan permintaan Dhika.


"Urus uang"


"Dan kamu pikir aku bisa karena ... "


"Kamu pelit"


"Hahaha .... "


Dengan keyakinan Ryan dan kepercayaan Dhika, akhirnya mereka bisa mengurus perkebunan sampai kembali seperti semula. Walaupun dua villa di Batu harus dijual untuk memuluskan jalan. Karena masih kuliah, mereka tidak melakukan hal lain lagi. Hanya berusaha mempertahankan perkebunan sama seperti dulu. Lalu setelah lulus, Dhika mulai memiliki ide untuk berbisnis. Dengan bantuan Ryan yang pandai mengurus keuangan, mereka mendirikan sebuah supermarket organik yang mendukung perkebunan milik mendiang ayahnya. Untunglah ide bisnis itu berhasil sampai berkembang menjadi lima supermarket dengan merk dagang "FARMER". Dhika bisa membeli rumah yang berada dekat dengan rumah yang dulu ditinggalinya dengan ayah, ibu dan Zanna. Dua mobil mewah dan membangun bisnis lain.


"Denganmu sebagai petaninya. Uangku akan tumbuh dengan sendirinya" jawab Dhika membuat temannya itu tersenyum.


"Aku petani yang dibayar mahal. kau harus tahu itu"


"Aku sangat tahu"

__ADS_1


Dhika bersyukur memiliki Ryan sebagai teman sekaligus asistennya selama ini. Tapi kini dia lebih bersyukur lagi karena bisa dekat dengan Zanna setelah lebih dari sepuluh tahun memimpikannya. Bagaimanapun, semua uang yang dihasilkannya selama ini tidak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran keluarga yang akan menghabiskan hidup dengannya nanti.


__ADS_2