Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 61


__ADS_3

"Pakdhe menginginkan rumah Zanna" jelas Dhika singkat atas keinginan Ryan yang merusak pagi indahnya.


"Dia tidak bisa seperti itu. Iya kan?"


"Pakdhe sangat ingin rumah itu. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya"


"Lalu?"


"Aku akan bicara dengannya pagi ini"


"Aku ikutI"


Ini urusan keluargaku, tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu"


Dhika tidak suka ada yang mencampuri urursan keluarganya. Karena sebenarnya dia malu memiliki keluarga yang hanya ingin memanfaatkannya.


"Baiklah. Tapi ... kau tidak akan menyerahkannya kan? Itu rumah Kiran dan Bibinya"


Dhika menatap tajam ke arah Ryan. Apa temannya pikir kalau dia orang yang sangat bodoh?


"Aku tidak akan membiarkannya" jawabnya lalu pergi ke meja makan untuk sarapan.


"Hubunganmu dengan Desi, katanya sudah benar-benar berakhir sekarang?" tanya Ryan lagi. Rupanya ini tujuan tem,annya itu datang pagi-pagi sekali ke rumahnya.


"Iya"


"Benar-benar tidak akan berlanjut lagi? Apa kau menyukai perempuan lain?"


Temannya ini memang menyebalkan tapi tebakannya benar.


"Aku sudah berusaha meminta Desi untuk mempertimbangkan keputusannya, tapi ... tidak mau"


"Jadi Desi yang memilih menyudahi semuanya?"


"Iya. Bisakah kau diam? Aku ingin makan dengan tenang"


Akhirnya Ryan diam, tapi hanya untuk beberapa menit saja. Sebelum kemudian menemukan topik lain saat mengikutinya ke ruang kerja.


"Sampai kapan Kiran ada disini?"


Dhika mulai kesal, dia ingin memiliki waktu hening untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya saat bertemu saudara ayahnya itu. Dan Ryan terus saja mengganggunya.


"Bukan urusanmu dan cepat pergi dari sini!"


"Apa kau tidak ingin menampungku juga? Rumahku terlalu sempit"

__ADS_1


"Rumahmu berukuran dua ratus meter dan hanya kau yang tinggal disana. Pergi sebelum aku membuatmu miskin lagi!"


"Baiklah. Tapi jangan menyerah pada pakdhemu itu. Kumohon!"


Ryan pergi dan Dhika mulai bersiap untuk pergi ke rumah saudara ayahnya. Dia sampai di halaman sebuah bangunan rumah lama yang kelihatannya tidak pernah direnovasi. Padahal kakak ayahnya ini telah menerima banyak uang dari warisan ayah Dhika.


"Kamu datang kesini" kata salah satu sepupunya yang pengangguran meskipun telah berusia lebih tua dari Dhika.


"Pakdhe mana?"


"Di dalem. Mau apa? Bapak tetep pengen rumah itu gimanapun caranya"


Ternyata sepupu-sepupunya inilah sumber keyakinan pakdhe meminta rumah Zanna. Dhika tidak ingin sabar lagi pada keluarga ayahnya yang terus menerus mengganggunya.


"Sampaikan ke Pakdhe. Kalo dia berani mengganggu rumah itu dan pemiliknya, aku gak akan tinggal diam"


Dhika berbalik ingin pergi dari rumah itu ketika sebuah sandal pria tua mendarat di punggungnya.


"Dasar ponakan gak tau diri. Rumah itu bukan punyamu. Tapi direnovasi Burhan. Rumah itu milikku"


Dhika tersenyum dan kembali berbalik. Melihat seorang pria tua yang kini tidak bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Dengan anaknya yang siap menghasut dengan bisikan-bisikan setannya.


"BERHENTI!!!" teriak Dhika menghentikan kedua orang itu dari kegiatannya.


Dia tidak akan lagi memberikan apapun pada keluarga ayahnya.


"Kau mau nikah sama perempuan mandul itu. Berarti kau gak akan punya keturunan. Jadi semua uangmu cepat ato lambat akan jadi milik kami!"


Jadi inilah yang dipikirkan oleh keluarga ayahnya selama ini.Mereka tidak pernah peduli padanya. Ataupun masa depannya. Yang mereka inginkan hanyalah uang yang ada di tangannya.


"Semua uangku akan menjadi milik istri dan anak-anakku"


"Apa?"


"Aku akan menikah, memiliki banyak anak dan memberikan semua asetku pada mereka. Tidak akan ada satupun yang akan menjadi hak milikku. Dengan begini, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa meskipun aku mati" jelas Dhika lalu pergi dari rumah itu.


Dhika berdiri di gerbang rumahnya, menanti Zanna yang akan pulang sekitar empat jam lagi.


"Pak Radhika tidak menunggu di rumah saja?" tanya penjaga rumah.


"Bapak saja yang masuk" jawabnya dengan tatapan kosong.


Akhirnya Dhika tetap berdiri di tempatnya sampai Zanna pulang. Dia melihat adiknya itu turun dari ojek online dan merasa ingin memeluk perempuan itu. Sayang sekali hubungan mereka belum sampai ke tahap itu sekarang. Dia harus bersabar dan menahan hasratnya yang meluap. Tapi ... apa yang baru saja dilakukan Zanna sekarang? Adiknya ini sedang ... menggodanya?


Dhika menikmati tiap sentuhan ujung jari Zanna di dadanya. Dan dia merasa tidak tahan lagi pada tutur kata manja itu. Dia memeluk Zanna berharap akan mendapatkan lebih dari apa yang mereka lakukan sekarang tapi adiknya itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Mengatakan bahwa dia bodoh bisa memberikan semua hartanya hanya karena Zanna meminta.

__ADS_1


"Bodoh?"


Berani sekali Zanna mengatakan kata itu padanya? Perempuan ini tidak tahu apa yang akan dia alami karena telah mengatakan hal buruk pada Dhika. Mulai sekarang dia tidak akan menahan diri lagi. Dia akan membuat mulut itu melantunkan nada kenikmatan. Dhika perlahan tersenyum dan mengikuti langkah Zanna ke dalam rumah.


"Eh, ngapain?" tanya Zanna karena Dhika sengaja menabraknya dari belakang.


"Maaf kakak tidak melihat karena kakak bodoh" katanya di telinga Zanna. Wajah perempuan itu memerah dan Dhika merasa sangat bangga sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Zanna ... Zanna ... Zannnnnnaaaaa"


Dhika terus menggedor kamar adiknya malam itu. Dia melepaskan Zanna tadi sore karena ingin adiknya istirahat. Tapi saat makan malam, dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menggoda adiknya lagi.


"Apaan sih?!"


Teriakan Zanna seperti lagu romantis yang mengalun di telinganya.


"Buka pintunya atau kakak dobrak!"


Tidak lebih dari tiga detik, pintu itu terbuka, menampakkan Zanna yang memakai celana pendek dan kaos. Beberapa waktu lalu dia pasti marah karena berpikir adiknya ingin memamerkan tubuhnya pada laki-laki lain. Tapi kini dia gembira. Karena dapat melihat paha putih dan mulus Zanna.


"Apa sih?" tanya Zanna dengan kesal. Dhika bisa melihat beberapa berksa di meja. Ternyata adiknya ini bekerja di rumah juga. Perempuan yang cantik, sederhana, dan pekerja keras. Kenapa dia tidak sadar telah menemukan wanita idamannya dari dulu?


"Ayo makan"


"Nanti"


"Sekarang"


"Bentar ... Kiran masih harus bersihin ini"


Dhika bersabar melihat Zanna mulai membersihkan berkasnya. Rambut yang berayun, pundak yang bergerak dan pantat yang padat. Sungguh, mata Dhika seakan melihat pemandangan yang indah. Tapi saat Zanna berbalik, dia harus berpura-pura melihat yang lain/


"Sudah?" tanyanya.


"Udah"


Zanna mendahuluinya keluar dari kamar dan Dhika tidak tahan tidak melakukan sesuatu. Tiba-tiba tangannya bergerak dan merangkul pundak adiknya.


"Kenapa? Kakak ini kakakmu" katanya saat mata Zanna melotot ke arahnya.


"Haha kakak"


"Iya. Kakak ini memang kakakmu kan?"


Dhika akan terus bersembunyi di balik kata itu. Sampai Zanna kembali menyukainya dan tidak menunjukkan penolakan terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2