
Kenapa jadi begini?
Kiran bertanya-tanya dalam hati, kenapa sekarang dia ada di dalam pelukan kakaknya yang sangat menyebalkan. Setelah marah sampai seperti itu sekarang hatinya terasa tenang sekali. Bahkan dia lupa apa yang baru saja terjadi tadi. Tapi ... kenapa kak Dhika memeluknya? Bukankah orang ini sudah menolaknya? Apa ini hanya sekedar pelukan antar saudara? Yang tidak memiliki arti apapun?
Kiran berusaha mendorong tubuh orang itu dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya memegang erat baju yang tidak tersambung sama sekali.
"Kenapa?" tanyanya pada orang itu.
"Apa?"
"Kenapa kak Dhika peluk aku?"
"Memang apa salahnya? Aku hanya memeluk adikku yang manis kalau marah"
Senang sekali dibilang manis, tapi kata adik yang diucapkan kak DHika sebelumnya, membuat Kiran kecewa. Ternyata benar. Itu hanya pelukan saudara yang tidak ada artinya. Seharusnya dia tidak berpikir macam-macam.
"Jangan lakuin itu lagi!" katanya kesal lalu berjalan ke arah kamar.
"Memang kenapa? Apa kamu merasa berdebar saat kakak peluk?"
Kiran berhenti melangkah, terkejut karena kata-kata kak Dhika. Iya, dia berdebar saat orang itu memeluknya. Tapi dia juga tahu kalau tidak bisa berharap apa-apa. Jadi ... sekarang dia merasa sangat sedih dengan ucapan kak Dhika yang seperti tidak menghargai perasaannya.
"Kak Dhika ternyata jahat banget" ucapnya lalu melanjutkan langkah ke kamar dan membanting pintu dengan keras.
Setelah mandi dan mengganti bajunya, Kiran keluar dari kamar. Dan tidak menyangka masih melihat orang itu di dalam rumahnya.
"Ternyata kamu lama sekali kalau mandi" kata orang itu lalu menyodorkan segelas teh. Sepertinya panas, melihat asap yang mengepul di mulut cangkir. Tapi Kiran tidak menerimanya dan memilih untuk minum air mineral yang ada di dalam lemari es.
"Kenapa belum pergi?"
"Kamu pengen kakak pergi?"
Apa? Kenapa bicara seperti itu? Kenapa kak Dhika bicara seolah-olah ... tida. Tidak mungkin.
"Dari tadi kan aku nyuruh kak Dhika pergi"
"Tapi kamu jadi gak bisa melihat kakak seminggu ke depan"
"Apa?"
"Kakak mau ke Lembang, Bandung. Mengurus perkebunan disana"
"Baguslah. Seneng banget aku jadinya"
"Benar?"
"Apa sih?"
"Bukannya kamu akan kesepian tidak melihat kakak?"
__ADS_1
Sekali lagi. Kiran merasa kak Dhika berusaha menggodanya. Entah apa tujuannya, tapi Kiran merasa semakin kesal dibuatnya.
"Gak. Kiran malah seneng banget"
"Benar?"
"Iya" jawabnya tegas. Tidak ingin terhanyut akan manipulasi kata-kata kakaknya.
"Sayang sekali"
Kiran menoleh, menatap wajah kak Dhika yang sekarang tertuju padanya. Mata mereka saling bertaut dan mulut terkunci. Lama sekali mereka berada pada situasi seperti ini lalu Kiran nmenurunkan pandangan. Berusaha mengingatkan dirinya kembali kalau kak Dhika sudah memiliki pacar. Kak Dhika hanya menganggapnya sebagai adik dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun,.
"Semoga urusan kak Dhika di Lembang lancar" katanya lalu melihat punggung kak Dhika yang semakin menjauh. Orang itu akhirnya pergi juga dari rumahnya.
Tiga hari kemudian saat Kiran baru sampai di kantor, dia melihat seseorang berjalan menuju ke arahnya.
"Bu Desi" sapanya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Kiran mengangguk, menyetujui ajakan mantan atasannya ke kantin. Sepertinya ada yang berbeda dengan Bu Desi sekarang. Tatapan matanya lebih tenang dan tidak berapi-api seperti biasanya. Apa karena kejadian itu?
"Apa Bu Desi baik-baik saja sekarang?" tanya Kiran.
"Apa kamu liat semuanya?"
"Apa?"
"Apa kamu liat semuanya?"
"Iya. Tapi saya gak ngomong sama siapa-siapa. Selain pak Wahyu yang bantu hubungi Pak Radhika"
Bu Desi mengangguk-angguk lalu berni melihat ke arah Kiran.
"Jangan bicara sama siapapun tentang ini. Atau aku bakal bikin hari-harimu di kantor ini seperti neraka" kata Bu Desi lalu meninggalkannya begitu saja.
Salah. Ternyata perkiraan Kiran salah. Bu Desi tidak berubah meskipun ada kejadian itu. Malah lebih parah dari sebelumnya. Sia-sia saja dia menganggap Bu Desi akan lebih baik dari sebelumnya.
Sore harinya, sepulang dari kantor. Kiran menyempatkan diri untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.Terkait tentang memar di dadanya yang masih samar terlihat juga lambunngnya. Dokter tidak mempermasalahkan memar di dada namun memperingatkannya untukmenjaga makannya.
"Terima kasih Dok" ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan dokter untuk mengambil obat. Mungkin karena besok akhir minggu, banyak orang yang datang ke rumah sakit. Dan membuat antrian obat menjadi lebih panjang. Kiran berdiri di dekat pilar untuk mencari sandaran karena tidak ada tempat duduk tersisa untuknya.
Beberapa puluh menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda namanya dipanggil, membuat Kiran kelelahan. Tiba-tiba ada yang menyentuh punggungnya. Secara reflek dia menoleh ke belakang dan melihat wajah yang tak asing.
"Kak Dhika?"
"Punggungmu melengkung seperti udang."
Tiga hari tidak bertemu danyang pertama dia dengar adalah ejekan dari kakaknya.
__ADS_1
"Capek tau" keluhnya lalu menegakkan punggung.
"Apa kamu mengantri untuk obat memar? Bukannya harusnya sudah sembuh?"
"Bukan. ini untuk ... lambung"
"Dasar" Sebuah ketukan tanpa tenaga oleh tangan kakaknya yang besar berhasil mendarat di dahi Kiran.
"Sudah kakak bilang makan yang teratur" lanjut kak Dhika.
"Ngapain sih? Lagian kenapa kak Dhika kesini? Katanya harus di Lembang satu minggu. Ini belum satu minggu kan?" Kiran mulai menghitung hari di kepalanya.
"Ada keperluan mendesak. Apa kamu merindukan kakak?"
Kiran mendongak, melihat wajah kakaknya yang tersenyum. Tampan sekali. Perlu waktu semenit untuknya sadar dari lamunan yang berbahaya itu dan kembali pada kenyataan.
"Gak"
"Rambutmu berantakan" kata kak Dhika lalu membelai kepalanya.
Apa ini? Kenapa kak Dhika melakukan ini? Apalagi sekarang mereka mulai mendapatkan perhatian dari para pengantre obat. Lalu tiba-tiba orang itu mengambil jarak darinya dan berbalik.
"Dhika ... udah dapet obatnya?"
Dari arah belakang, Kiran mendengar suara Bu Desi mendekat lalu melewatinya. Mantan atasannya itu tampak bahagia bisa memegang lengan kak Dhika dengan erat. Jadi ... ini keperluan mendesak yang dikatakan kak Dhika tadi. Keperluan yang membuat kakaknya pulang dari Lembang meskipun belum jadwalnya. Kiran hampir saja menertawakan dirinya sendiri. Menganggap kalau mereka bertemu secara tak sengaja seperti takdir. Harusnya dia tahu kalau hal semacam itu tidak akan pernah terjadi.
"Lho ... kamu kenapa disini?"
Kiran menoleh dan menyadari Bu Desi sudah ada di sebelahnya.
"Lho .. Bu Desi? Pak Radhika?" sapanya seolah-olah baru melihat keduanya.
"Kamu juga pasien disini?" tanya Bu Desi lagi.
"Iya Bu"
"Kamu kenal kan sama Kiran? Anak baru di kantor yang pernah ke perkebunan waktu itu" kata Bu Desi mencoba menjelaskan siapa Kiran pada pacarnya.
Sungguh. Kiran merasa seperti orang bodoh sekarang. Dia berharap namanya segera dipanggil agar bisa segera pergi dari sini. Dan seperti keberuntungan tiba-tiba datang, hal itu terjadi. Namanya dipanggil dan Kiran dengan langkah cepat mengambil obatnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Bu Desi menahan langkahnya untuk pulang.
"Pulang Bu. Udah dapet obat"
"Ehmm. Dhika dan aku mau ajak kamu makan. Katanya kamu nolong aku waktu itu sampe luka"
Apa? Kenapa?
"Gak usah Bu. Gak perlu, saya mau pulang aja" katanya menolak permintaan mantan atasannya.
__ADS_1
"Jangan menolak! Ini ajakan dari Dhika, bukan aku"
Dari tadi Kiran tidak berani melihat kak Dhika yang berdiri di belakang mantan atasannya. Tapi sekarang dia malah berada di mobil yang sama dengan keduanya. Pergi ke sebuah cafe yang dikenalnya. Rasanya sisa hari ini akan terasa panjang sekali untuk Kiran.