
"Jadi kapan aku terima jam dari kamu?"
"Dhika. Apa kamu denger aku?"
Seseorang memegang lengannya dan Dhika terkejut.
"Apa?"
"Aku tadi tanya kapan kamu anter jam ke ... kamu mikir apa?"
Dhika lupa kalau di dalam ruangannya masih ada Desi.Dia begitu sibuk memikirkan wajah bersemu merah yang dilihatnya beberapa saat tadi.
"Pekerjaan yang diusulkan oleh Ryan" ucapnya asal saja.
"Emang Ryan mau usul pekerjaan apa lagi? Bukannya kamu udah beli perkebunan di Lembang atas dasar permintaannya?"
"Iya. Ada beberapa usulan Ryan tentang tanah itu untuk kupertimbangkan"
"Dasar Ryan. harusnya kamu ganti asisten sejak beberapa tahun lalu"
Dhika tersenyum, mendengar perkataan Desi yang tidak mungkin dilakukannya.
"Permisi Pak, Bu"
Dhika melihat perempuan yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Desi sedikit kasar. Baru kali ini dia tidak suka dengan nada bicara Desi pada adiknya.
"Tugasnya sudah selesai Bu. Waktunya kita untuk ... pulang" lapor Zanna sama sekali tidak melihat ke arah Dhika.
__ADS_1
"Yaaahhhh. Padahal aku masih ingin ada disini. Dhika ... aku balik ke kantor dulu ya. Nanti malem, kamu pasti ke rumah kan?"
"Tidak bisa. Malam ini aku sudah punya janji" jawab Dhika lalu mengintip ekspresi Zanna. Wajah kecil itu berubah lagi menjadi merah sebelum akhirnya dipalingkan ke arah lain oleh pemiliknya.
"Sama siapa?" tanya Desi seperti kesal.
"Aku akan menghubungimu. Dan jam itu akan aku berikan besok"
"Bener!! Oke deh. Aku pulang dulu ya"
Dhika mengantar kepergian Desi tapi matanya terus saja menatap ke arah lain. Saat dia sendiri, barulah Dhika merasa sedikit tidak nyaman. Bukan karena kesepian tapi tidak tahu harus melakukan apa pada Zanna. Kejadian tadi, membuatnya jelas tahu kalau Zanna memiliki perasaan padanya. Bukan perasaan antara saudara. Taqpi perasaan perempuan pada laki-laki.
"Zanna ... menyukaiku" katanya lalu mulai memegang dagunya sendiri. Dia suka berpose seperti ini saat berpikir.
"Tapi kenapa? Bagaimana bisa?" tanya Dhika pada dirinya sendiri.
Sebenarnya pemikiran itu sudah ada sejak Zanna mencium lehernya. Tapi Dhika merasa lebih pasti lagi setelah melihat wajah malu Zanna tepat di hadapannya.
Dhika bingung. Apa yang harus dilakukannya setelah mengetahui perasaan Zanna? Dhika tidak menduga hal ini terjadi padanya. Maksudnya untuk dekat dengan Zanna, berbuah hal yang sama sekali tidak pernah muncul di pikirannya. Tapi Zanna adalah adiknya. Meskipun mereka tidak berhubungan darah, Dhika telah menganggap Zanna sebagai adik kandungnya. Meski masih bingung, Dhika harus bicara dengan adiknya tentang masalah ini.
"Kenapa kok ... "
Kiran baru saja mandi dan ingin beristirahat saat menerima orang itu sebagai tamu malam ini. Dia tidak tahu orang itu benar-benar akan datang ke rumahnya.
"Kakak ingin bicara" kata orang itu lalu masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Kiran terpaksa membiarkan saja orang itu duduk di dalam ruang tamunya.
"Mau minum apa?" tanya Kiran berusaha menenangkan diri. Dia masih belum terbiasa hanya berdua saja dengan orang ini setelah dua kejadian sebelumnya.
"Kakak ... mencintai Desi"
__ADS_1
Kiran terdiam dan mulai memperhatikan raut wajah kak Dhika yang tampak serius.
"Apa?"
"Kakak menyukai Desi sejak awal masuk kuliah. Di mata kakak, Desi adalah perempuan paling cantik. Karena kematian ayah, ibu dan masalah kamu pindah ke Jakarta, kakak tidak dapat mendekatinya. Tapi saat berusaha menyelesaikan kuliah, kami bertemu lagi. Dan rasa suka itu berubah menjadi cinta. Walaupun sampai sekarang Desi belum menerima cinta kakak, tidak ada keinginan kakak untuk pergi ke lain hati. Jadi ... "
Kata orang, mengetahui orang yang kita suka menyukai orang lain, menyakitkan hati. Tapi yang dialami oleh Kiran sekarang lebih parah dari itu. Secara tidak langsung kak Dhika seperti memerintahkan Kiran untuk menghapus semua perasaannya. Karena kak Dhika mencintai orang lain dan tidak memiliki keinginan untuk membalas perasaannya sama sekali. Kiran menunduk dan mencoba untuk tidak jatuh dari kakinya yang perlahan melemah.
Dari awal sebenarnya Kiran tahu tidak ada harapan baginya. Karena yang dia tahu kak Dhika dan Bu Desi pacaran. Tapi mengetahui kakaknya itu mencintai Bu Desi sampai sebesar ini, membuat dadanya sakit. Bukan ... hatinya yang sakit. Kini dia harus menyerah dan mencabut perasaan suka yang baru tumbuh itu sampai ke akarnya. Kemudian membakarnya sampai habis dan tidak tersisa.
"Maaf. Aku ... seharusnya tidak melakukan semua itu" katanya berusaha tidak gemetar saat bicara.
"Zanna ... kakak"
"Kiran tidak akan pernah mengganggu kak Dhika dengan hal ini. Dan Kiran akan pastikan Bu Desi juga tidak mengetahuinya"
"Zanna, kakak tidak bermaksud"
Kiran menelan kesedihannya, menatap orang itu dan tersenyum.
"Terima kasih sudah memberitahu Kiran tentang perasaan kak Dhika. Kiran juga tidak tahu sejak kapan memiliki perasaan seperti ini sama kak Dhika. Tapi ... semuanya pasti akan menghilang nantinya. Jadi kak Dhika gak perlu khawatir. Seandainya kak Dhika merasa tidak nyaman ketemu dengan Kiran karena ini. Kita gak usah ketemu dulu. Kiran juga bakal jaga jarak sama Bu Desi"
"Zanna. Maksud kakak ... "
"Sudah. Lebih baik kak Dhika pergi aja dulu untuk sekarang. Kiran pengen sendiri"
Kak Dhika berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, kak DHika menoleh ke arahnya dan berkata
"Kakak hanya ingin kita kembali menjadi saudara seperti dulu"
__ADS_1
Kiran terdiam. Dia mulai menyadari kesalahannya. Salah karena telah memiliki perasaan suka pada kak Dhika. Pada orang yang pernah tumbuh bersamanya. Pada orang yang dulu tanpanya Zanna tidak akan bisa bahagia ada di rumah ini. Sekarang, Kiran harus sadar diri. Dia hanya akan menjadi adik tiri bagi kak Dhika dan tidak yang lain. Adik tiri yang senang kalau kakaknya menemukan kebahagiaannya.
Dia mulai berjalan ke pintu depan dan menguncinya. Lalu pergi ke kamar untuk tidur. Tidur akan menyembuhkan segalanya. Bahkan mungkin akan membuat semua ini menjadi mimpi buruk yang akan hilang saat dia terbangun. Semoga saja saat terbangun keesokan harinya, Kiran bisa bersikap biasa lagi pada kak Dhika. Itu kalau kak Dhika mau bertemu dengannya lagi. Kiran mendesah pelan, menyesali kelakuannya yang tidak pantas pada kak Dhika.