Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab. 37


__ADS_3

"Baru pulang dari kebun?"


Dhika baru saja masuk ke dalam rumah dan sudah disapa oleh temannya yang kemarin tanpa rasa malu mendekati adiknya itu.


"Hemm"


"Apa yang kau bawa? Kupikir kau tidak pernah membawa hasil panen ke rumah"


Dhika membawa baju basahnya ke rumah. Tanpa banyak kata, dia memberikan kantung baju basah ke salah satu pegawai rumah. Lalu Dhika melihat tamu tak diundangnya.


"Mau apa kemari?"


"Apa kau masih marah karena aku ke rumah Zanna?"


Sebenarnya dia masih marah sampai tadi pagi. Tapi setelah menghabiskan waktu dengan Zanna di perkebunan siang sampai sore ini, dia tidak merasakan marah lagi.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya ingin mengabarkan tentang pembelian lahan perkebunan di Lembang. Transaksi siap dilakukan kira-kira pertengahan bulan depan"


Perkebunan di Lembang. Akhirnya dia akan memiliki perkebunan di daerah yang perkembangannya luar biasa itu.


"Jangan sampai ada kesalahan" katanya mengingatkan Ryan.


"Siap Bos"


"Pulanglah kalau tidak ada urusan lain"


Dia kira Ryan akan segera pulang setelah disuruh. Tapi temannya itu ternyata mengikutinya pergi ke kamar.


"Apa aku boleh bertemu Zanna lagi?"


Dhika menoleh dan menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap ide Ryan.


"Tidak"


"Sebenarnya aku ingin langsung ke rumah Zanna. Tapi aku tahu kau adalah kakaknya. Dan aku sangat menghormatimu. Makanya aku minta ijn dulu sebelum bisa pergi ke rumah Zanna"


"Tidak" Sekali lagi Dhika menolak keinginan Ryan.


Lagipula kenapa temannya ini begitu ingin bertemu dengan Zanna?


"Ayolah. Aku belum pernah menemukan perempuan seperti Zanna sebelumnya"


"Pergilah. Sebelum aku mengusirmu"


Ryan emmang tergolong sebagai pria setia dalam setiap hubungan cintanya. Tapi begitu banyak perempuan yang diseleksinya sebelum memutuskan kekasih. Dhika tidak ingin Zanna menjadi salah satu dari banyak perempuan itu.

__ADS_1


"Setidaknya biarkan aku mengajaknya makan"


"Dia bisa makan sendiri"


"Ayolah Dhik. Sekali saja"


Dhika tidak tahan lagi lalu membanting berkas tentang perkebunan di Bandung dengan keras di atas meja.


"Pergilah!"


"Baik ... Baik. Jangan emosi!"


"Kau yang membuatku emosi"


"Aku pergi ... aku pergi. Tapi pastikan kau membaca semua berkas itu dengan teliti. Karena pertemuan pertama dengan pemiliknya hanya kau yang pergi. Aku sibuk di Surabaya"


"Apa?"


Ryan meninggalkan Dhika dalam keadaan l;ebih kesal lagi. Bagaimana bisa dia melakukan pembicaraan dengan pemilik perkebunan sendiri saja? Pasti ini cara Ryan untuk membalas dendam karena tidak diperbolehkan bertemu dengan Zanna lagi. Tapi Dhika tidak akan mundur dari keputusannya. Zanna adiknya. Dia akan menjaga Zanna dari para pria jahat diluar sana.


Dhika baru saja ingin naik ke kamarnya untuk mempelajari berkas pemberian Ryan saat pegawai rumahnya memanggil.


"Maaf Pak"


"Kenapa?"


Baju berwarna coklat, dengan beberapa atribut di lengan dan dadanya. Itu seragam Zanna, ternyata masuk ke dalam kantung palstik yang dibawanya.


"Dicuci dan kalo bisa kering malam ini juga" pesan Dhika pada pegawainya. Dia ingat adiknya berkata bahwa besok harus memakai seragam yang sama.


Dini hari tepat setelah matahari terbit, Dhika pergi ke rumah Zanna. Membawa seragam adiknya yang sudah bersih dan kering. Dia mengetuk pintu berulang kali tapi tidak mendengar jawaban dari dalam rumah. Apa adiknya itu masih tidur? Tapi biasanya Zanna sudah bersiap untuk bekerja di jam segini, pikirnya mulai khawatir. Meskipun bertentangan dengan hatinya, Dhika mengeluarkan kunci yang disimpannya untuk keadaan darurat dan membuka pintu. Dia berhasil masuk ke dalam rumah Zanna dan mulai berjalan dengan perlahan ke kamar adiknya.


Dari luar kamar tampak Zanna masih berbaring di ranjang. Pasti terlambat bangun hari ini. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa dia menunggu Zanna bangun atau meletakkan seragam itu di dekat lemari saja? Kalau Zanna tahu dia masuk sembarangan ke rumah ini, pasti Dhika dimarahi. Dengan berjingkat, dia masuk ke dalam kamar, meletakkan seragam di gantungan baju dekat lemari lalu berbalik ingin pergi.


"Apa itu?" tanyanya saat melihat sebuah baskom air berada di dekat ranjang. Lengkap dengan handuk kecil.


Dhika batal pergi dan mendekat ke arah adiknya yang masih berbaring. Di meja dekat ranjang, ada beberapa obat terbuka juga gelas yang sudah kosong.


"Ini obat demam" kata Dhika memeriksa bungkus obat yang ada disana. Dia kemudian menoleh ke arah Zanna.


Dengan segera, Dhika memeriksa kening adiknya.


"Panas. Zanna ... Zanna. Kamu sakit?"


Adiknya membuka mata sedikit lalu bergumam. Dhika mendekatkan telinganya dan merasakan napas Zanna yang panas.


"Bibi sakit" gumam Zanna membuat Dhika semakin khawatir. Dia memegang leher adiknya dan kembali merasakan panas tubuh yang tinggi.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang" kata Dhika.


Tanpa banyak berpikir, dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh adiknya. Tujuannya untuk menggendong Zanna. Tapi yang dia tidak tahu, adiknya itu tidak memakai baju lengkap.


Karena sangat terkejut, Dhika membutuhkan waktu untuk mengembalikan posisi selimut itu di tempatnya semula.


"Kamu punya kebiasaan tidur yang aneh" komentarnya lalu merasa malu karena sudah melihat tubuh adiknya tanpa ijin. Seharusnya dia memeriksa terlebih dahulu tadi, tidak seenaknya saja membuka selimut. Tapi, bagaimana ini? Zanna harus segera dibawa ke rumah sakit sebelum demamnya semakin parah. Dhika membuka lemari dan mencari sebuah baju yang mudah untuk dipakaikan ke tubuh adiknya. Pilihannya jatuh ke kaos panjang berwarna ungu.


"Maafkan kakak" ujar Dhika sebelum membuka selimut.


Dhika bisa melihat semua bagian tubuh adiknya. Tentu saja kecuali yang tertutup oleh pakaian dalam. Menahan ragu dan malu, Dhika mengangkat kepala adiknya, membuat Zanna bersandar ke dadanya.


"Kamu harus pakai baju dulu"


"Hemmm?"


"Kita ke rumah sakit"


"Ibu?" gumam Zanna melembutkan hati Dhika. Dia mendekap tubuh Zanna begitu erat. Tapi tidak terlalu lama karena perlahan terasa keringat mengalir di punggungnya. Dhika membaringkan Zanna lagi dan menarik kaos turun menutupi bagian bawah tubuh adiknya. Dia tidak bisa menghitung berapa kali menyentuh tubuh Zanna tanpa sengaja. Tapi itu yang harus dilakukan Dhika. Dia yakin Zanna akan memaafkannya nanti. Semoga saja.


"Pak, kenapa?" tanya penjaga rumah melihatnya berlari dengan membawa Zanna dalam pelukannya.


"Siapkan mobil cepat!"


"Baik Pak"


Tanpa banyak bicara penjaga rumah masuk ke dalam rumah dan mengambilkannya kunci mobil.


Selesai menempatkan Zanna di kursi penumpang, Dhika segera melaju ke rumah sakit.


"Kami sudah memberikan cairan infus dan obat penurun panas. Kami juga sedang memeriksa darah Mbak Zanna di lab. Silahkan ditunggu hasilnya" kata dokter jaga yang menangani Zanna.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Dhika khawatir.


"Demamnya berangsur turun dan Mba Zanna sepertinya bisa tidur dengan nyenyak sekarang"


"Baguslah"


"Mba Zanna sungguh beruntung memiliki kekasih yang sigap seperti Anda"


"Apa?"


Sebenarnya tidak hanya sekali ini orang lain menganggapnya sebagai kekasih Zanna. Penjaga dan pegawai rumahnya juga awalnya mengira Zanna adalah kekasihnya. Tapi mereka segera mengerti setelah mendengar penjelasannya. Tapi untuk orang lain seperti dokter di rumah sakit, Dhika malas menjelaskan. Apapun yang orang lain pikirkan, Zanna memang orang yang sangat berharga untuknya.


Dhika membelai lembut rambut adiknya. Dia juga memeriksa dahi dan leher Zanna. Merasakan suhu badan adiknya tidak sepanas yang tadi.


"Tidur dan sembuhlah dengan cepat. Kakak tidak bisa melihatmu sakit seperti ini" katanya lalu mengecup lembut dahi Zanna.

__ADS_1


__ADS_2