Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 69


__ADS_3

"Maaf ya Kiran, Bibi cuma bisa kontrak rumah jelek kayak gini di Jakarta"


Kiran sangat ingat wajah bersalah yang ditunjukkan Bibinya saat mengajaknya pindah ke Jakarta dulu. Dari momen itu, Kiran kembali menerima kata maaf dari Bibinya tentang kehidupan mereka yang jauh dari kata mampu untuk tinggal di ibukota. Tapi Kiran tidak pernah merasa menyesal sama sekali. Dia selalu berpikir kalau tinggal bersama satu-satunya keluarga yang dia miliki adalah hal yang sangat baik. Karena itu dia tidak ingin membenbani Bi Tia dengan kebutuhan pendidikannya. Dia juga berjuang untuk bisa berdiri sendiri meski itu tidak banyak membantu Bi Tia. Mereka tumbuh semakin dekat dan akhirnya Kiran harus menetapkan hati saat Bi Tia dilamar oleh laki-laki.


Dan sekarang itu yang terjadi padanya. Dia diminta untuk menikah oleh laki-laki yang ada di hadapannya. Laki-laki yang selama ini menjadi keluarganya tapi berubah menjadik kekasihnya hanya dalam kurun waktu tiga hari ini. Tanpa pikir panjang dia menolak lamaran itu. Mengakibatkan laki-laki itu mempertanyakan jawabannya.


"Kenapa?"


Kiran tidak tahu kenapa dia menolak lamaran kak Dhika. Dia sangat senang menghabiskan waktu bersama laki-laki ini. Dia juga bahagia bisa bersentuhan dengan kak Dhika. Tapi kenapa dia menolak kesempatan untuk bisa hidup berdua dengan laki-laki ini?


"Gak tau" jawabnya membuat kak Dhika tampak bingung.


"Zanna" panggil kak DHika seperti ingin memastikan dia tahu apa yang sedang mereka bicarakan sekarang.


"Kak ... aku ... "


"Apa kamu butuh waktu untuk memikirkan semua ini?" tanya kak Dhika lagi.


"Mungkin. Enggak ... gak tau"


"Zanna"


"Kak. Lebih baik kak Dhika pulang dulu. Aku pengen nemenin Bi Tia dua hari ini dulu"


"Apa ini artinya kamu akan memikirkan jawabannya lagi?"


"Kak Dhika pergi dulu aja"


Kiran meninggalkan kakaknya dan berjalan kembali ke kamar yang sudah dipesan sahabatnya.


"Mana kak Dhika?" tanya Cia yang menunjukkan keingin tahuan besar akan hubungan baru Kiran.

__ADS_1


"Aku ... suruh pergi"


"Apa? Kenapa?"


"Gak tau. Habis tadi kak Dhika minta aku nikah sama dia tapi aku bilang enggak" jawab Kiran dengan polosnya.


Tentu saja jawabannya membuat Putri, Cia dan Bi Tia kaget. Tapi mereka juga tampak bingung menanggapi ceritanya. Akhirnya mereka tidak membicarakan tentang hubungan baru Kiran sama sekali. Mereka berempat hanya menikmati liburan di Malang. Dan di malam terakhir liburan berakhir, mereka hanya duduk menghadap lampu kota di bawah kaki. Bi Tia ada di sebelahnya dan mendekap Kiran erat-erat.


"Boleh Bibi tanya kenapa kamu nolak lamaran Dhika?"


Pertanyaan yang mengejutkan itu membuat Kiran agak tersentak. Karena sampai sekarang dia juga belum mengerti kenapa menolak lamaran kak Dhika.


"Iya Ran, kenapa kamu nolak lamarannya kak Dhika? Kayaknya kalian udah sama-sama ehm deh" goda Cia.


"Gak tau" jawab Kiran jujur.


"Apa kamu belum yakin sama tuh orang? Emang sih kayaknya gak meyakinkan kalo nikah sama tuh orang. Mending kamu pikir-pikir dulu kalo nerusin hubungan sama orang itu" kata Putri begitu tidak mendukung hubungannya dengan kak Dhika.


"Kan orang itu pernah punya pacar lama banget dan gak nikah-nikah. Kenapa sekarang sama Kiran langsung nyosor pengen nikah?"


"Pasti karena kak Dhika cinta banget sama Kiran"


"Tapi mereka itu kakak sama adik dulu"


"Kan bukan saudara kandung"


"Iya tapi tetep aja dulu mereka pernah saudaraan. Aneh aja pasti merubah hubungan persaudaraan menjadi percintaan"


"Apa sulitnya? Mereka saling cinta"


"Pasti cuma nafsu sementara. Bener kan Ran?"

__ADS_1


"Pasti cinta sejati"


Kiran hanya terdiam mendengar perdebatan dua sahabatnya mengenai hubungannya dengan kak Dhika. Padahal dia juga belum mengerti kenapa menolak lamaran kak Dhika begitu saja. Pagi datang dan tiba saatnya Kiran berpisah dengan Bibi dan dua sahabatnya. Sedih pasti dirasakannya, tapi Kiran berusaha kuat agar tidak menangis di hadapan Bibinya.


"Bibi pasti datang lagi nanti ke Malang"


"Kiran juga mau ke Jakarta nanti kalo ada waktu"


"Aku bentar lagi kerja, jadi gak bisa leluasa telpon kamu Ran" ucap Cia sedih.


"Gak apa-apa"


"Pikir baik-baik keputusan yang akan kamu ambil. Jangan menuruti nafsu" kata Putri lalu memberikan tatapan tajam.


Kiran melangkah pulang dengan malas dari stasiun kereta. Dia merasa hari-hari ke depannya akan sepi kembali setelah dua hari liburan yang sangat menyenangkan ini. Sayang sekali Bibi dan dua sahabatnya pergi, padahal dia masih ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Tiba-tiba dia ingat wajah kak Dhika saat mendengar penolakannya. Apa dia terlalu cepat menjawab waktu itu? Seharusnya dia meminta waktu untuk menjawab dan tidak menolak lamaran kak Dhika. Lalu muncul keinginan kuat untuk melihat wajah laki-laki itu.


Sampai di depan rumah kak Dhika, penjaga tidak ada di tempatnya. Tanpa menunggu, Kiran masuk ke dalam rumah dan melihat dua mobil terparkir di halaman.


"Bu Desi?" katanya saat mengenal pemilik mobil biru yang ada disana.


Kiran tidak menghentikan langkahnya dan sampai di teras rumah kak Dhika. Dan pada saat masuk ke dalam rumah, dia melihat kak Dhika sedang berpelukan dengan Bu Desi. Tentu saja Kiran segera lari keluar dari rumah dan tidak menoleh ke belakang lagi.


Napas Kiran masih memburu ketika dia sampai di rumah.


"Ini ... ini alasannya"


Akhirnya dia menemukan alasan penolakan lamaran kak Dhika. Dia ... belum yakin kalau orang itu telah melupakan Bu Desi sepenuhnya. Lalu ... apa yang akan dia lakukan sekarang? Kiran menutup pintu rumah di belakangnya dan duduk di lantai. Menutup mata untuk bisa menenangkan pikirannya yang terlalu ramai. Beberapa menit kemudian dia bangun dan berjalan ke arah kamar. Mandi, berganti pakaian dan berbaring di tempat tidur.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, waktu Kiran mendengar suara ketukan pintu depan.


"Zanna. Zanna!"

__ADS_1


Dia mendengar suara kak Dhika memanggil namanya tapi tidak berniat untuk bangun dari kasur sama sekali. Dia kembali menutup mata dan mencoba untuk tidur kembali dengan suara kak Dhika yang semakin lama menghilang. Untung saja orang itu menyerah dan meninggalkan Kiran sendiri. Kini dia memerlukan lebih banyak waktu untuk berpikir tentang hubungan yang baru dimulainya tiga hari yang lalu.


__ADS_2