Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 49


__ADS_3

"Apa kamu sudah sembuh?" tanya pak Wahyu yang melihatnya hadir di apel pagi hari ini.


"Sudah Pak. Terima kasih sudah diijinkan libur dua hari"


"Yang penting kamu sembuh"


"Iya"


Kiran pergi ke barisannya dan tidak melihat Bu Desi disana. Sepertinya Bu Desi memilih untuk tidak masuk kerja dulu untuk beberapa waktu. Lain dengan dulu, kini Kiran mengerti alasan Bu Desi sering terlambat dan tidak masuk kerja. DIa juga lebih paham kenapa Bu Desi memiliki emosi yang flutuatif di tempat kerja. Tapi yang membuat Kiran heran, tidak ada orang lain di kantor ini yang mengetahui tentang masa lalu Bu Desi. Selain pak Wahyu tentu saja. Seperti semuanya dibuat diam ketika melihat kak Dhika membawa Bu Desi keluar dari kantor.


'Apa mungkin itu semua kekuatan dari uang kak Dhika?' pikirnya lalu menganggukkan kepala tanpa alasan.


Pulang kerja hari itu, Kiran menemukan kak Dhika ada di depan rumah.


"Ada apa kesini?" tanya Kiran lalu melihat ke segala arah. Berharap tidak ada yang melihat mereka.


"Kakak belum melihatmu sejak keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu"


Benar juga. terakhir kali mereka bertemu saat kak Dhika mengurus kepulangannya dari rumah sakit waktu itu.


"Apa Bu Desi udah sembuh?"


"Kenapa bertanya tentang Desi?"


"Apa? Apa Kiran gak boleh tanya tentang Bu Desi sekarang?"


Aneh sekali. Sejak di rumah sakit, kak Dhika juga lebih sensitif waktu Kiran bertanya tentang Bu Desi.


"Sudah sembuh, tapi luka di lengannya belum"


Kiran mengangguk dan mendekati kakaknya yang berdiri di depan pintu. Dia ingin lewat tapi badan orang itu menghalanginya. Dan walaupun sudah bertekad untuk menghilangkan perasaannya pada kak Dhika, Kiran masih merasa berdebar saat mencium aroma tubuh orang itu. Apalagi berdiri begini dekat.


"Bisa minggir gak? Aku mau masuk rumah"

__ADS_1


Akhirnya kak Dhika memberinya jalan dan Kiran bisa lewat tanpa harus merasakan jantungnya bekerja lebih keras.


Di dalam rumah, Kiran pergi ke dapur dan menyiapkan dua cangkir teh. Satu untuknya dan satu lagi untuk kak Dhika yang datang kemari.


"Aku dapet teh sekarang?" tanya kak Dhika seperti menyindir Kiran.


"Iya. Apa gak suka teh? Maunya apa? Kopi? Jus? Kemarin Pak Ryan beliin jus, susu, kue sama roti banyak banget tuhu di kulkas"


"Ryan membelikanmu semua itu?"


"Iya. Kan Pak Ryan yang anter Kiran pulang dari rumah sakit. Sebelumnya malah pak Ryan bawa Kiran makan dulu. Makan soto ayam Lamongan yang dulu pernah kita datengin waktu masih ada ayah." jelas Kiran panjang lebar.


"Jadi Ryan alasanmu ingin melupakan perasaanmu pada kakak?"


Kiran terkejut karena kak Dhika menyinggung tentang masalah itu lagi. Setelah dia bertekad untuk mengubur semua perasaan itu sedalam-dalamnya.


"Kenapa ... mikir kayak gitu?"


Bukannya kak Dhika sudah dengan tegas menolaknya malam itu? Dia menerima dengan baik dan bahkan menghormati keputusan kakaknya.


"Aku udah sembuh. Memar bekas pukulan itu juga udah lebih samar sekarang. Kak Dhika gak usah khawatir. Sekarang Kiran capek, pengen mandi terus tidur" lanjut Kiran berusaha mengurangi suasana ganjil itu.


"Kamu ngusir kakak?"


Kiran tidak percaya kalau kakaknya ini seperti mencari masalah dengannya. Apa ada yang terjadi dengan kak Dhika dan Bu Desi?


"Kenapa sih? Apa ada masalah sama Bu Desi?"


"Kenapa bicara tentang Desi lagi?"


"Terus kenapa? Dari tadi kayaknya kak Dhika pengen bikin Kiran marah terus. Kalo ada masalah sama orang lain jangan dateng kesini!" tegasnya lalu merasa luka pukul di dadanya terasa perih lagi. Sebenarnya luka itu belum sembuh benar. Masih menyisakan rasa sesak di dada dan pedih di kulit.


"Kenapa? Apa kamu masih ngerasa sakit? Kenapa juga udah masuk kerja? Harusnya kamu istirahat di rumah dan gak kerja sampai bener-bener sembuh"

__ADS_1


Kiran memegang dadanya dan ingin sekali melempar sesuatu ke arah kakaknya. Sayang sekali yang ada di hadapannya hanya barang-barang pecah belah yang dapat melukai orang ketika dilempar.


"Gak apa-apa. Udah sana pergi aja kak Dhika dari sini"


"Kakak mau lihat luka kamu dulu baru pergi"


"Apa? Gila kali"


"Perlihatkan atau kakak tidak akan pergi. Itu pilihanmu"


Ya ampunnnn. Ingin sekali rasanya KIran berteriak sekarang. Melampiaskan semua kekesalan yang disebabkan oleh kakaknya sekarang. Meski merasa ragu, Kiran membuka kancing baju kerja paling atas dan memperlihatkan memar yang masih tersisa di dadanya.


"Nah udah kan?"


"Itu masih ungu. Apa masih sesakit itu?"


"Gak, cuma kayak pedih aja"


"Yang kakak lihat waktu itu besar, tidak sekecil itu"


Yang kakak lihat? Berarti kak Dhika melihat semua luka pukul itu? Kapan? Pasti saat Kiran masih pingsan. Sampai mana kak Dika melihatnya? Apa sampai batas bawah luka itu? Kiran mulai panik menyadari kak Dhika mungkin melihat belahan dadanya.


"Udah berkurang. Gak besar lagi. Tuh liat. Udah kan?" kata Kiran lalu ingin mengancingkan bajunya kembali. Tapi sebuah tangan besar memaksa bajunya kembali terbuka dengan kekuatan yang luar biasa. Sampai membuat semua kancing bajunya terlepas dan memperlihatkan bagian tubuh bagian atas Kiran.


"Ini baru jelas" kata orang yang melakukan perbuatan itu. Kiran tak percaya dan merasa kesal sampai kepalanya serasa ingin meledak. Dengan sadar dia menampar orang itu dan berteriak.


"Dasar mesum!!"


Dhika memegang pipinya yang panas karena tamparan Kiran.


Awalnya Dhika datang kemari karena ingin memeriksa keadaan adiknya setelah keluar dari rumah sakit. Hanya itu. Tapi begitu melihat wajah Zanna di hadapannya, Dhika merasakan sesuatu yang tidak nyaman di tubuhnya. Seperti tidak enak badan tapi bukan demam. Seperti sesak napas tapi dia selalu menjaga kesehatan tubuhnya. Seperti sakit jantung tapi semua pemeriksaan tubuhnya normal bulan lalu. Dhika bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya lalu mengikuti adiknya masuk ke dalam rumah.


Semuanya berubah saat dia sudah di dalam rumah. Perasaannya semakin kacau saat mendengar adiknya terus saja bercerita tentang kebaikan Ryan. Bukan ... tapi kebaikan laki-laki lain dihadapannya. Emosinya semakin memuncak waktu Zanna terus saja bertanya tentang Desi. Terus menerus sampai dia merasa muak dan benci sekali dengan perempuan itu. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan sampai saat ini.

__ADS_1


Lalu dia semakin hilang kendali. Tidak ingat lagi apa yang diucapkan atau dilakukannya sampai melihat belahan dada yang luar biasa indah di depan matanya itu. Sepertinya kini dia mengerti apa yang terjadi. Dia berbalik dan menyembunyikan sesuatu yang bangkit di bagian bawah tubuhnya.


"Kakak minta maaf" katanya lalu merasa menyesal. Bukan menyesal karena apa yang baru saja diperbuatnya. Tapi menyesal karena tidak berpikir panjang. Telah menolak Kiran saat dia baru menyadari perasaannya sendiri.


__ADS_2