
"Tuh lihat,itu pak Radhika sama Desi kan?"
"Iya"
"Kok bisa mereka kayak gitu di depan kantor?"
"Iya, gak sopan banget"
"Orang kayak gitu kok ya masih dipertahankan di kantor ini"
"Gimana lagi. Pak Radhika kan banyak duit. Dia yang masukin Desi ke kantor ini. Kalo bukan karena Pak Pranaja yang udah meninggal banyak jasa ke kantor ini"
"Sayang banget ya. Anaknya ganteng, kaya tapi gak punya selera bagus milih calon istri"
Sejak pagi tadi saat melihat mobil kak Dhika, Kiran sudah tahu kalau orang itu akan mengantar Bu Desi pergi ke kantor. Tapi ... bukankah seharusnya orang itu hanya mengantar Bu Desi dan meninggalkannya di depan kantor? Bukan menunjukkan kemesraan di dalam mobil, tepat depan kantor yang sedang melaksanakan apel pagi.
"Orang kok bodoh banget" bisik Kiran ,mengutuk kakaknya yang tidak bisa melihat situasi dengan baik.
Dia sudah mencoba menatap keduanya dari jarak jauh. Berharap setidaknya salah satu dari mereka mengerti dan segera pergi dari tempat itu. Tapi tatapannya tidak berarti apa-apa bagi dua orang yang sedang dimabuk asmara itu. Kiran menyerah dan memilih untuk melihat kepala dinas memberikan pidato.
Setelah apel pagi selesai, Kiran pergi ke toilet. Memperbaiki rambutnya yang tadi tertiup angin di lapangan. Saat keluar ternyata dia bertemu dengan orang yang tadi sedang menjadi bahan gunjingan.
"Kiran, pergi ke ruangan saya sekarang!"
Apa? Ngapain Kiran harus pergi ke ruangan mantan atasannya?
"Tapi Bu ... "
Belum sempat Kiran bicara, mantan atasannya itu berteriak tanpa menoleh.
"Sekarang!!!"
Terpaksa Kiran berjalan mengikuti Bu Desi. Menuju ruangan yang tidak pernah dia rindukan lagi.
"Kamu tuh ya. Gak sopan banget. Lihat-lihat ke arah saya dan pak Radhika. Kamu inget gak, kalo pak Radhika itu orang yang punya perkebunan tempat kamu kunker kemarin?"
"Iya Bu"
"Terus kenapa kamu gak ada sopan-sopannya ngeliat kami kayak gitu"
Malas sekali mendengar semua teriakan tak beralasan ini. Dia juga ingin mengatakan betapa bencinya dia melihat Bu Desi dan kak Dhika di mobil tadi. Tapi semuanya akan menjadi semakin rumit. Jadi yang harus dia lakukan hanya satu.
__ADS_1
"Maaf Bu"
Padahal dia tidak bersalah sama sekali. Dan dia diharuskan minta maaf pada orang yang sangat tidak disukainya. Kiran kesal sekali harus seperti ini.
"Dengar ya! Awas kalo kamu nyebar gosip tentang saya sama pak Radhika! Denger kamu!!"
"Iya Bu"
"ya udah sana. Pergi!!"
Sungguh. Dari kemarin Kiran terus merasa heran kenapa kakaknya suka dengan perempuan semacam ini. Tapi kini dia tidak peduli lagi. Keduanya memang sangat cocok. Yang terpenting adalah sekarang Kiran tidak akan lagi mau dekat-dekat dengan keduanya. Semakin jauh dan sekalin tidak pernah mereka melihat satu sama lain, itu lebih baik.
Tapi harapan tinggallah harapan. Karena Kiran kembali mendapatkan tugas luar, di tempat yang tidak ingin didatanginya. Sekarang dia berdiri di depan gerbang perkebunan. Berhadapan dengan orang yang tidak ingin dilihatnya.
"Kamu datang sendiri?" tanya orang itu.
"Harusnya sama siapa?"
"Kenapa bicara kasar?"
"Siapa yang ngomong kasar?"
"Zanna ... "
"Selamat pagi Pak. Saya datang lagi kemari untuk melakukan pendataan hasil perkebunan" kata Kiran.
Kak Dhika menaikkan alisnya, tidak mengerti dengan perubahan sikapnya yang mendadak, tapi Kiran tidak peduli. Orang yang sepertinya salah satu pekerja di perkebunan itu akhirnya berdiri di dekat mereka dan kak Dhika mengerti alasan perubahan sikapnya.
"Kalau ada orang lain, sikapmu berubah"
"Saya butuh data-data seperti yang ada di berkas ini Pak?" tanya Kiran tidak peduli dengan kata-kata kak Dhika barusan.
"Bicara yang sopan dengan orang yang lebih tua. Jangan menatap dengan mata melotot seperti itu!"
Melotot? Siapa yang melotot? Kiran menakan amarah yang hampir meledak dan mulai bicara lagi.
"Saya membutuhkan beberapa data seperti yang ada di dalam berkas ini Pak"
"Apa yang kau katakan saat membutuhkan sesuatu?"
Sialan. Kiran tidak kuat lagi menahan amarah. Orang ini sungguh menyebalkan sampai bisa membuat leher belakangnya mulai sakit.
__ADS_1
"Saya ... minta ... tolong agar dapat mendapatkan data di perkebunan ini ... Pak!"
Kenapa juga satu pegawai perkebunan itu ada di dekat mereka. Seandainya tidak ada pegwai perkebunan itu maka dia benar-benar akan meledak.
"Masuk ke kantorku, kalau kamu ingin mendapatkannya! Aku akan menyusulmu nanti"
Akhirnya Kiran bisa meninggalkan orang itu. Sebelum masuk ke dalam pondok, dia menoleh dan melihat kak Dhika sedang bicara dengan salah satu pegawainya. Kiran dapat sosok ayah Burhan dalam diri kak Dhika disaat seperti ini. Tapi kalau tidak dalam mode bekerja, orang itu begitu menyebalkan. Kiran perlahan melangkah masuk ke dalam pondok dan menemukan satu ruangan cukup besar dengan sebuah sofa dan meja kursi kerja. Di dinding terdapat lemari penuh dengan berkas yang ditata rapi sesuai dengan tahun. Kiran kini melakukan pekerjaannya dengan serius. Tak terganggu orang yang masuk ke dalam ruangan dan sedang mengamatinya.
"Berarti tahun ini menurun dikit daripada tahun lalu. Terus yang paling banyak hasilnya itu ... " ucap Kiran masih berpikir kalau dia sendirian di dalam ruangan itu.
"Paprika"
Kiran memegang dadanya. Dia tidak menyangka akan mendengar suara orang lain dalam ruangan ini. Moodnya segera memburuk ketika menyadari kalau orang lain itu adalah kak Dhika.
"Bisa gak sih gak ngagetin terus!!" teriaknya bebas karena tidak ada orang lain selain mereka di dalam ruangan ini.
"Kasar sekali bicara dengan orang yang lebih tua"
"Biarin deh"
"Apa kamu selalu seperti ini juga saat di kantor?"
"Nuduh lagi. Pasti gara-gara tuduhan Bu Desi lagi"
"Desi tidak menuduhmu. Tapi kelakuanmu sekarang menunjukkan kalau kamu ... "
Sebuah sinar berwarna putih lewat di depan mata Kiran. Disusul dengan suara guntur yang menggelegar.
"AAHHH" teriaknya takut.
Ini bulan September. Apakah memang seharusnya memasuki musim penghujan? Kenapa suara gunturnya menakutkan sekali. Sedetik kemudian terdengar suara air jatuh menimpa atap. Lama kelamaan hujan menjadi semakin deras, sampai Kiran tidak lagi bisa melihat pemandangan di luar pondok.
"Ini masalah" kata kak Dhika yang berada di dekatnya.
"Kenapa?"
"Aku harus pergi ke green house sekarang. Apa kamu berani disini sendirian?"
Sebenarnya Kiran suka hujan. Bila tidak sederas ini. Karena berada di tengah lahan yang luas dengan perlindungan sebuah pondok kecil, dia merasa sedikit takut sekarang. Tapi dia tidak ingin menunjukkan ketakutan di depan orang itu.
"Berani. Kenapa mesti takut?" katanya lalu segera menyesal ketika kak Dhika pergi meninggalkannya sendiri. Karena harus memeriksa green house.
__ADS_1
Tadi dia memilih untuk berangkat lebih siang karena ingin menghindari pertemuan dengan kak Dhika. Tapi sekarang dia berharap orang itu segera kembali ke dalam pondok untuk menemaninya.