
Orang itu bisa menghindar kali ini. Awas saja kalalu ketemu lagi, Kiran bertekad akan mengambil kunci rumah ini agar orang itu tidak bisa masuk lagi kemari. Kiran kembali ke kamarnya dan mulai membersihkan kasur. Dia tidak percaya tidur dengan seorang laki-laki semalaman. Padahal, bersentuhan dengan laki-laki saja dia tidak pernah. Meskipun itu hanya kak Dhika, tapi tetap saja orang itu laki-laki. Saat Kiran sibuk, ponselnya berdering. Dia melihat nama Putri disana dan merasa sangat senang.
"Putri"
"Kiraaaaaannnnn!!!!"
Salah. Dia pikir hanya Putri yang menghubunginya, ternyata Cia juga ada disana.
"Jangan teriak gitu. Kupingku sakit tau!"
"Salah kamu sendiri. Kenapa gak telpon juga sampe sekarang? Aku sama Putri nungguin"
"Iya maaf. Habis sibuk banget. Rumahnya kotor, kan gak dihuni enam bulan"
"Lo bersihin sendiri?"
"Emang sama siapa lagi? Ya sendiri lah"
Kiran memperlihatkan kamar yang sudah dibersihkannya kepada dua sahabatnya.
"Tapi ... udah lama banget ya tu rumah?" tanya Cia.
"Udah lama. Lebih dari empat puluh tahun. Kan sebelum Bibi lahir, rumah ini udah berdiri" jelas Kiran
Putri yang dari tadi hanya diam di belakang Cia mulai maju dan memperhatikan kamar Kiran.
"Lo gak takut rumah itu ambruk Ran?"
"Amit-amit deh. Jangan doain gitu dong"
"Habis banyak banget retakannya. Jendelanya juga kayaknya udah rapuh. Didorong dikit pasti hancur tuh"
Kiran kesal dengan apa yang dikatakan oleh dua sahabatnya itu. Sebenarnya dia juga berpikir seperti itu tapi mau bagaimana lagi. Hanya rumah ini milik keluarganya di Malang. Unuk memperbaiki, dia masih belum sanggup. Tapi menolak tinggal disini seperti mengngkari kenangan ibu dan ayah.
"Tapi ... aku seneng balik ke rumah ini. Kayak balik ke masa masih ada ayah sama ibu"
Dua sahabatnya terdiam mendengar pengakuan Kiran. Dia selalu menutupi cerita masa lalunya pada siapapun. Tak terkecuali pada Putri dan Cia. Baru setelah mereka menjadi sangat dekat, Kiran mulai membuka diri.
"Apa ... kamu juga ketemu sama siapa namanya? Kak Dhika?"
Kiran sebenarnya ingin merahasiakan pertemuannya dengan kak Dhika. Takut membuat Bibinya marah lagi. Tapi pada dua sahabatnya, sepertinya Kiran tidak perlu bohong.
"Ketemu kemarin"
"Apa??? Gimana ceritanya?" tanya Cia dan Putri begitu antusias.
"Yaaa. Orang itu yang pegang kunci rumah ini. katanya dari yang sewa tahun lalu. Tapi aku gak pengen ketemu lagi sama orang itu. Sesak rasanya kalo inget waktu saudara orang itu jelek-jelekin ibu sama Bibi"
Sekali lagi Cia dan Putri hanya bisa diam. Sepertinya ingin menghormati keputusan Kiran dalam hal ini.
"Tapi gimana tampangnya?" tanya Cia kembali bersemangat walaupun menerima cubitan dari Putri.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Yaa kalian kan gak ketemu sepuluh tahun. Apa ada yang berubah sama orang itu?"
Kiran kembali mengingat wajah, lengan, dada dan bagian tubuh kak Dhika yang dilihat juga dirasakannya dari kemarin. Dia tiba-tiba merasa sangat malu.
"Gak ada" jawabnya bohong.
"Masa'?"
"Iya"
"Berarti orang itu udah ganteng dari dulu ya? mana kaya lagi"
"Ganteng dan kaya?"
Lagi-lagi Cia menerima cubitan dari Putri. Sepertinya ada yang tidak diketahui Kiran. Mungkin dua sahabatnya itu melakukan penyelidikan tentang kak Dhika setelah dia pergi ke Malang. Dan benar saja, Putri mengaku telah mencari tahu siapa itu Radhika Pranaja di semua media sosial.
"Maaf ya Ran. Kita sebenernya udah cari tau dari dulu tapi gak berani ngomong sama lo. Kakak tiri kamu tuh punya cafe yang terkenal di Surabaya dan Jakarta, jadi kita ... "
Ternyata yang tidak tahu penampilan dan apa yang dilakukan kak Dhika selama ini cuma dia.
"Aku gak peduli. Terserah kalian aja. Toh aku juga gak punya hubungan apa-apa sama orang itu" jawab Kiran kesal.
"Iya juga sih. Tapi kamu gak bakal ketemu orang itu lagi?" tanya Cia lagi seperti mengharapkan sesuatu.
"Gak. Aku gak mau" jawab Kiran lalu terpaksa menelan ludahnya sendiri. Karena malam harinya, orang itu datang lagi ke rumah.Dan Kiran terpaksa menemui kak Dhika setelah menerima ancaman pendobrakan pintu.
"Ngapain lagi kesini?" tanya Kiran kesal.
"Aku ingin memeriksa keadaanmu"
"Kamu gak menjawab. Kakak pikir ada apa-apa sama kamu"
Kiran tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sedang sibuk menyiapkan seragam untuk hari pertamanya bekerja lusa nanti.
"Aku sibuk. Cepet serahin kunci duplikat rumah ini!"
"Apa kamu sudah makan?" tanya kak Dhika terus saja menghindar dari permintaan Kiran.
"Udah"
"Apa air di rumah ini masih keluar?"
"Masih"
"Apa gak ada tikus di rumah ini?"
"Gak ada"
Kak Dhika terus saja bertanya dan Kiran menjawab dengan sangat singkat. Juga menghalangi orang itu agar tidak masuk ke dalam rumah.
"Kecoa?"
"Gak ada"
__ADS_1
"Cicak? Kadal? Semut"
Tidak sanggup lagi menahan amarahnya, Kiran berusaha menutup pintu. Tapi kak Dhika menahannya.
"Apaan lagi sihhh?" keluhnya.
"Kapan kamu masuk kerja?"
"Senin"
"Dimana kamu kerja?"
"Rahasia"
"Aku antar kamu berangkat kerja"
"Gak usah"
"Kamu udah lama gak pulang ke Malang. Pasti gak tau jalan. Aku anter kamu hari Senin"
"Udah ada aplikasi Maps sama Ojek Online"
"Nanti kamu telat"
Kiran tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Dia berteriak dengan sekuat tenaga di depan muka kak Dhika lalu menutup pintu. Memanfaatkan rasa terkejut orang itu dan pergi ke kamar. Akhirnya, dia bisa istirahat sebelum besok resmi bekerja di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Malang.
Dhika tidak menyangka Zanna, seorang perempuan dengan penampilan seperti itu bisa mengeluarkan suara rendah. Karena terlalu kaget, dia tidak bisa menghalangi pintu untuk tertutup. Sekali lagi, dia gagal untuk mendekati adiknya. Terpaksa dia pulang ke rumah dengan tangan hampa. Tapi di rumahnya dia menemukan seseorang yang sedang tidak ingin ditemuinya.
"Dhika" sapa perempuan itu dengan suara yang halus.
"Mau apa kesini malam-malam begini?"
"Aku ... mau minta maaf. Aku udah salah gak bilang sama kamu kalo pacaran sama ... "
Dhika malas mendengar cerita cinta perempuan ini.
"Gak apa-apa. Sekarang kamu pulang aja dulu"
"Tapi Dhika, aku udah putus kok sama cowok itu. Dia selalu ngajak aku ke tempat yang sepi"
Sekali lagi Dhika malas mendengar cerita memadu kasih perempuan itu. Tapi tidak tahu kenapa, dia tidak bisa bersikap dingin.
"Jangan mau diajak ke tempat seperti itu. Coba cari yang baik"
"Kayak kamu?" tanya perempuan itu dengan nada suara manja yang dibuat-buat.
"Kamu bawa mobil kesini?"
"Enggak"
"Aku anter kamu pulang"
"Makasih ya. Kamu emang selalu baik sama aku"
__ADS_1
Dhika tidak menjawab dan segera mencari kunci mobilnya di kamar. Dia pergi mengantarkan perempuan itu lalu kembali lagi tanpa perasaan apa-apa. Yang sedang memenuhi pikirannya hanyalah bagaimana cara untuk mendekatkan diri pada Zanna. Adiknya itu menjadi sangat keras kepala setelah tinggal lama di ibukota.