
"Pengaturan air sudah siap?" tanya Dhika yang khawatir dan melihat green house.
"Sudah Pak"
Dia lupa memiliki staf yang siap dengan situasi dan kondisi apapun. Ditambah dengan lima mahasiswa muda yang sigap.
"Bagus"
Dhika melihat keluar green house dan mendesah pelan. Hujan sederas dan tiba-tiba seperti ini, sungguh diluar dugaan. Sepertinya dia tidak bisa pulang untuk saat ini. Dhika menunggu hujan agak reda sedikit sebelum bisa kembali ke kantornya. Tapi tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda setelah hampir setengah jam dia menunggu.
"Mau kemana Pak?" tanya salah satu staf green house saat melihatnya bersiap menerobos hujan untuk kembali ke kantornya.
"Ke ruangan saya"
"Tapi masih hujan deras ini Pak. Kami juga gak ada yang bawa payung atau jas hujan"
Jalan menuju ke kantornya memang agak sedikit licin. Apabila ditambah air hujan sebanyak ini, maka perjalanan kembali ke pondok akan menantang. Apa dia akan tetap disini dan membiarkan Zanna sendirian di kantor? Atau dia akan menembus hujan demi adiknya yang terus menerus bicara kasar padanya? Sedetik kemudian Dhika berlari menembus hujan. Dia tidak peduli kalau Zanna memang pemberani atau berkata kasar padanya. Dia tidak akan meninggalkan Zanna sendirian di kantor lebih lama lagi.
Baru saja sampai di kantor, dengan baju yang seluruhnya basah, Dhika mulai memanggil adiknya.
"Zanna!"
Tak lama, seseorang berlari ke arah Dhika dan segera memeluk tubuhnya.
"Kakak"
Dhika tersenyum mendengar panggilan yang dirindukannya. Zanna memang bisa menjadi lebih galak dari singa, tapi adiknya ini juga memiliki sisi manis seperti sekarang ini.
"Kamu ternyata takut ya"
"Lama banget sih gak balik. Mana hujannya gak selesai-selesai!"
Dhika kembali tersenyum dan memeluk adiknya dengan erat.
"Tenang. Kakak disini sekarang"
Dhika mengira bisa merasakan kehangatan dari tubuh Zanna lebih lama, tapi adiknya itu mendorongnya menjauh.
"Yaaa, basah" protes Zanna mengingatkan Dhika kalau bajunya memang basah terkena hujan.
"Kakak menerobos hujan untuk kesini. pasti basah"
"Kok gak bilang sih?"
Kini adiknya berubah lagi menjadi singa dan Dhika sedikit kecewa.
"Kamu sendiri yang peluk kakak"
"Iya tapi kan bisa bilang tadi. Duh gimana ini? Besok masih dipake lagi"
Dhika ingat memiliki baju ganti di ruangan ini. Persiapan saat bajunya kotor karena bekerja di perkebunan.
"Kakak punya baju ganti kalo kamu mau"
__ADS_1
Saat membuka lemari, Dhika merasa bersyukur.. Karena memiliki dua kaos berwarna abu dan satu celana panjang disana.
"Kok cuma itu? Gak ada yang lain?" tanya Zanna
"Tidak ada. Hanya ini. Kamu mau gak?"
"Gak mau ahh. Bajunya kayak gak pernah dicuci gitu"
"Tapi bajumu basah. Kamu bisa masuk angin kalo tetap pakai itu"
"Emang bisa ganti dimana?"
Dhika menunjuk ke arah sudut ruangan di dekat lemari.
"Bisa disitu"
"Lha, kelihatan dong" protes Zanna lalu melempar kaos ke atas meja.
"Siapa yang mau melihatmu? Badan kurus kering tidak enak untuk dilihat"
Apa? Badan kurus kering?
Kiran hampir saja menampar wajah kakaknya karena seenaknya berkomentar seperti itu.
"Ya udah. Kak Dhika aja dulu yang ganti, baru Kiran"
"Jangan mengintip"
"Idiih siapa juga yang mau liat badan kak Dhika. Gak ingat dulu pernah lari dari kamar mandi ke kamar gak pake apa-apa?" balas Zanna karena kesal diejek memiliki badan yang tidak enak dilihat.
Sebenarnya Kiran tidak ingin melepas seragamnya. tapi semua bagian depan bajunya basah. Kini dia mulai menyesal karena tidak berpikir dulu sebelum memeluk kakaknya yang kembali ke kantor. Kiran berjalan ke arah sudut ruangan, bersembunyi di sebelah lemari besar dan mulai melepas satu persatu kancing seragamnya. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk berganti baju. Tapi ... kenapa dari baju yang dipakainya tercium bau yang asing?
"Baju ini gak pernah dicuci ya?" tanyanya dengan tetap menghadap dinding.
"Itu bau kerja keras kakakmu. Jangan banyak protes"
Kiran mendadak merasa sesak. Dadanya seakan ditekan dengan keras lagi.
"Beneran gak pernah dicuci? Jorok banget sih!!" ujarnya lalu berbalik badan. Tidak menyadari kalau kak Dhika berada di belakangnya. Tidak memakai apapun di bagian atas badannya. Kiran tertegun. Matanya tidak berkedip melihat pemandangan yang ada di depannya. Mulutnya kaku, tidak bisa bicara dan dadanya masih terasa sesak sampai sekarang.
"Kalo mau pake yang ini" kata kak Dhika menyodorkan baju yang dipegangnya.Hal itu membuat kesadaran Kiran kembali. Matanya berkedip cepat dan berusaha mengalihkan pandangan.
"Udah terlanjur" jawabnya dengan suara parau. Tiba-tiba saja kerongkongannya kering sekali sekarang.
"Ya sudah"
Kak Dhika mengambil kaos abu yang dilemparkannya dan segera memakainya. Kiran melihat semuanya dan mulai merasa aneh.
'Yaaa. Kok ditutup'
Kiran menutup mulutnya yang tidak mengatakan apa-apa.
"Kenapa?" tanya kak Dhika yang kini melihatnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa"
"Kenapa nutup mulut?"
Tidak tahu. Kenapa Kiran menutup mulutnya padahal dia tidak bicara sama sekali. Apa dia takut isi hatinya akan terdengar oleh kak Dhika?
"Nguap"
Untung saja Kiran bisa menjawab sembarangan.
Tiba-tiba sebuah tangan besar memegang pipi kiri Kiran. Sesuatu kemudian membuat semua indera perasanya aktif. Dia melihat mata coklat yang berada tepat di depannya. Hidungnya mencium bau laki-laki yang kuat. Lidah Kiran terjulur keluar sedikit seakan ingin menjilat leher laki-laki di depannya, Telinganya mendengar semua yang dikatakan kak Dhika dengan sangat perlahan. Dan kulitnya seperti merinding, merasakan sentuhan hangat yang sekarang dialaminya.
'Apa ini?' tanya Kiran dalam hati
'Kenapa dia merasa seperti ini pada orang ini? Bukankah seharusnya dia tidak merasakan semua ini?
"Kamu tidak demam kan?" tanya kak Dhika
Tapi di telinga Kiran kata-kata itu terdengar lambat sehingga dia tidak bisa menjawab dengan benar.
"MMmHH"
Yang keluar dari kerongkongannya hanya sebuah ******* lemah. Sedetik kemudian dia berusaha untuk mengontrol tubuhnya lagi. Dia menjauh dari orang itu dan menelan ludah dengan susah payah.
"Kamu gak apa-apa?" tanya kak DHika lagi. Kini Kiran bisa mendengar semuanya dengan normal. Bahkan suara hujan yang mulai mereda sudah bisa didengarnya.
"Gak apa-apa. Aku cuma ngantuk" jawabnya lalu mulai membereskan semua barangnya.
Pekerjaannya selesai semua saat kak Dhika meninggalkannya ke green house. Dan kini dia ingin segera pergi dari tempat ini. Menyadari akan terjadi hal buruk pada dirinya bila terus menerus ada di tempat ini bersama orang itu.
"Kenapa beres-beres? Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah. Mumpung hujannya udah agak reda, Kiran mau pulang aja"
"Tapi ini masih hujan"
"Iya. Tapi Kiran harus ngeringin baju. Besok masih dipakai"
Yang membuat Kiran bersyukur dalam keadaan ini adalah dia bisa membuat banyak sekali alasan hanya untuk pergi dari tempat ini. Sepertinya semua syaraf di otaknya tersambung dan membuatnya sedikit lebih cerdas.
"Kakak antar"
"Gak usah!!" teriak Kiran.
Reaksi yang berlebihan memang untuk sebuah ajakan yang biasa. Tapi ... dia tidak ingin berlama-lama ada di dekat orang ini sebelum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya.
"Ini masih hujan dan disini sulit sekali menari kendaraan dalam keadaan hujan"
"Kiran bisa jalan"
"Tidak. Aku akan mengantarmu"
Kak Dhika memaksa dan Kiran tidak bisa mengelak. Dia terpaksa berada di dalam satu mobil dengan orang itu. Tapi pandangan matanya terus dialihkan keluar jendela. Dia juga tidak bicara apapun sampai kak Dhika menghentikan mobil tepat di depan rumahnya.
__ADS_1
"Makasih"
Kiran melompat keluar mobil dan meninggalkan kak Dhika begitu saja. Tanpa menoleh sama sekali.