
"Pak Radhika masih disini?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan Desi.
"Iya. Sebentar lagi"
"Saya pikir kalian sudah menikah sekarang. Ternyata belum"
Dokter itu tidak pergi dan memilih untuk duduk di sebelah Dhika.
"Desi menolak"
"Dan pak Radhika pasti mengerti tentang alasannya"
Dhika tersenyum dan mengangguk lalu menjawab
"Iya"
"Seharusnya gejala ini tidak muncul lagi setelah sekian tahun. Apa Pak Radhika tau apa yang terjadi sebelum Mba Desi seperti ini?" tanya Dokter lalu membuat Dhika emngingat keberadaan Kiran di ruangan Desi.
"Tidak, tapi sepertinya saya tahu siapa yang ada disebelah Desi saat itu terjadi"
"Tolong beritahu saya kalau Anda sudah tahu. Dan sebaiknya Anda pulang karena Mba Desi tidak ingin ditemui siapapun malam ini" kata Dokter lalu berlalu pergi.
Dhika mencari ponselnya dan mulai mencari nama adiknya disana. Dia baru saja ingin menghubungi nomor itu saat Ryan menelponnya.
"Kau dimana?" tanya Ryan terkesan panik.
"Rumah sakit. Kenapa?"
"Kiran masuk rumah sakit. Pingsan, sekarang sedang diperiksa dokter"
"Apa?!!"
Zanna pingsan? Apa karena masalah lambung lagi? Kenapa adiknya itu begitu keras kepala saat dissarankan makan tepat waktu olehnya? Dhika berlari ke UGD dan bertemu dengan Ryan yang menyarankannya langsung masuk ke dalam.
"Anda?" tanya dokter jaga.
"Saya kakak Zanna Kirania"
"Apa Anda tahu ada luka lebam di dada adik Anda?"
"Apa? Lebam?"
Dhika mendekatdann melihat tanda hitam yang mulai keunguan di dada adiknya.
"Ini sepertinya hasil pemukulan. Kami perlu melihat apa ada pendarahan di dalam dada adik Anda"
__ADS_1
"Iya. Lakukan semuanya dan pastikan Zanna baik"
Dhika mengikuti langkah perawat yang membawa tubuh adiknya pergi ke ruang radiologi. Berbeda dengan saat menunggu Desi tadi, kali ini ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Seperti rasa kesal karena dia tidak mengetahui keadaan kesehatan adiknya sendiri. bagaimana bisa dia meminta untuk dianggap kakak kalau seperti ini? Dhika kembali melihat pintu ruang Radiologi dan berharap tidak terjadi sesuatu yang berbahaya pada Zanna. kalau tidak, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi? Kenapa Kiran dikirim kesini?"
Dhika melihat ke arah temannya dan mendadak merasa emosi. Dia memegang kaos Ryan dengan kedua tangan dan menggertakkan giginya.
"Kenapa Zanna seperti ini? Siapa yang memukulnya?" tanyanya dengan nada rendah penuh intimidasi.
"Memukul? Siapa yang emmukul Kiran?"
Dhika melepaskan tangannya dari kaos Ryan, merasa tidak akan mendapatkan informasi apa-apa. karena temannya itu bahkan tidak tahu tentang luka lebam yang ada di dada adiknya.
"Ada bekas pukulan di dada Zanna. Sekarang diperiksa apakah ada pendarahan disana"
"Apa mungkin karena Kiran di dekat Desi tadi?"
Dhika menoleh terlalu kencang karena kaget. Membuat lehernya terasa sakit tapi diabaikannya karena mendengar dugaan Ryan.
"Apa itu benar?"
"Kata Wahyu tadi Kiran sempat ingin melarang Desi menarik rambut dan mendapatkan beberapa pukulan"
"Tidak"
Ketika perawat keluar dengan Zanna yang masih terbaring, Dhika segera mendekatinya.
"Zanna. Bagaimana?"
"Hasilnya ada di dokter. Silahkan ke ruangan dokter dan kami akan tempatkan Mba Zanna Kirania di ruangan"
"Aku yang temani Kiran, kau yang ke dokter" kata Ryan tidak membuat rasa cemasnya hilang. Tapi dia harus tahu bagaimana keadaan adiknya. Dhika seperti berlari ke ruangan dokter dan akhirnya bisa mendesah lega setelah mendengar hasil pemeriksaan adiknya. Tapi dia tetap berlari menuju ruangan tempat Zanna berada dan mengusir Ryan yang ada disana.
Dhika membelai lembut kepala Zanna. Dia juga memegang tangan adiknya erat-erat, seakan takut kehilangan adiknya itu. Saat mata Zanna perlahan terbuka, Dhika bisa tersenyum.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya.
"Kak Dhika?"
"Kenapa kamu gak bilang sempat terpukul oleh Desi tadi?"
"Hah?"
"Apa kamu tahu kakak khawatir denger kamu masuk rumah sakit lagi?"
__ADS_1
"Apa?"
"Untung aja kamu gak apa-apa. Tubuhmu cuma kaget karena pukulan yang keras tadi"
Zanna tampak bingung dengan semua pertanyaan dan perkataan Dhika, tapi dia tidak peduli. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan adiknya.
"Kak Dhika ngapain disini?/" tanya Zanna membuatnya kecewa.
"Kamu pikir kenapa? Kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit"
"Tapi kan Bu Desi juga sakit"
Dhika terhenyak, dia tidak menduga Zanna akan berkata seperti ini.
"Kamu juga sakit"
"Tapi kan lebih penting Bu Desi"
"Apa?"
Kenapa Zanna berkata seperti itu? Apa selama ini perhatian Dhika begitu tertuju pada Desi? Sampai membuat adiknya berpikir Dhika hanya peduli pada perempuan yang dicintainya dan bukan adiknya sendiri? Sepertinya dia telah gagal menunjukkan sosok kakak yang bertanggung jawab pada Zanna.
"Tapi ... gak apa-apa" kata Zanna lagi, membuatnya tidak mengerti.
"Apanya?"
"Kiran baru tahu kalo kak Dhika ternyata sebaik ini. Sekarang Kiran sadar gak boleh bikin hati kak Dhika terbagi sama yang lain. Kiran bangga banget punya kakak kayak kak Dhika. Maaf udah bikin kak Dhika sempet bingung kemarin."
Menerima permintaan maaf Zanna, entah kenapa membuat Dhika merasa tidak nyaman. Seperti adiknya itu menyesal telah memiliki perasaan yang lain padanya. Dhika melepas tangan Zanna lalu berdiri di sebelah ranjang adiknya.
"Kamu tidur aja dulu. Besok gak usah kerja dulu"
"Kak Dhika jangan kuatir sama Kiran lagi. Kiran bisa jaga diri sendiri. Mending sekarang kak Dhika balik ke Bu Desi. Dia lebih butuh perhatian kak Dhika daripada Kiran"
Sekali lagi Dhika merasa hatinya tidak nyaman mendengar permintaan adiknya. Tapi tidak tahu alasannya.
"Sudah kamu tidur aja sekarang"
Mendengar perintahnya. Zanna tersenyum dan mengubah posisi tubuh. Menunjukkan punggung ke arahnya.
"Apa orang itu masih diluar?" tanya Desi pada perawat yang datang mengganti cairan infusnya.
"Gak ada orang diluar Mba"
Desi melihat luka-luka yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Kulit tangan dan lengannya tak cantik lagi, dia mulai merasa menyesal. Seharusnya dia tidak pergi ke klub malam itu. Seharusnya dia diam saja di rumah dan pergi ke dokter sesuai dengan saran Dhika. Tapi ... waktu tidak dapat diputar lagi hanya karena dia menyesal. Dan sekarang laki-laki itu mungkin merasa muak dengannya.
__ADS_1
Apa yang akan dia lakukan tanpa ada Dhika nanti? Apa dia sanggup bertahan tanpa ada kehadiran dan bantuan laki-laki itu? Bagaimana kalau gejalanya muncul lagi? Tapi ... Desi tahu tidak mungkin menahan masa depan Dhika. Apabila dia boleh egois, Desi pasti sudah menyetujui ajakan menikah Dhika. Tapi ...membayangkan kehidupan suami istri tanpa sentuhan dan keturunan, membuatnya sangat sedih. Dia tidak yakin sanggup melihat ketabahan dan kerelaan laki-laki itu hanya untuk membahagiakannya.