Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 40


__ADS_3

Setelah melihat mobil Desi keluar dari lingkungan rumah sakit, Dhika segera berbalik. Dia berjalan cepat sekali sampai hampir berlari ke ruangan tempat Zanna dirawat. Sesampainya di kamar Zanna, dia melihat adiknya itu sedang berbaring dengan tenang. Dhika mendekat dan memperhatikan dada adiknya naik turun dengan tenang dan teratur.


"Apa kamu tidur?" tanyanya dengan suara pelan sekali. Takut mengganggu tidur Zanna.


Adiknya sama sekali tidak bergerak, itu artinya Zanna benar-benar tidur. Tapi ... kenapa minuman dan kue yang dibawanya tidak disentuh sama sekali? Padahal dia membutuhkan waktu lama untuk memilih dan membelinya. Juga saat memberikannya pada saat masih ada Desi di kamar ini.


Dhika melihat sekeliling dan bergerak ke arah jendela. Menutup tirai agar sinar matahari tidak mengganggu tidur adiknya. Dia juga menurunkan suhu AC dan menyelimuti tubuh Zanna. Setelah yakin keadaan adiknya nyaman, Dhika kembali duduk. Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengirim pesan pada Ryan. Memastikan hari ini bebas dari pekerjaan agar bisa fokus menjaga adiknya. Tapi temannya itu tidak tinggal diam menerima pesannya. Teleponnya segera berdering. dan Dhika terpaksa mengangkatnya. Karena tidak ingin Zanna terganggu dengan dering telepon.


"Kiran sakit apa?" tanya Ryan.


"Bukan urusanmu"


"Dimana kalian sekarang? Apa di rumah Zanna?"


"Tidak"


"Di rumah sakit?"


"Bukan urusanmu"


Dhika malas meladeni temannya yang terus saja bertanya.


"Apa keadaannya parah?"


"Diam! Ini bukan urusanmu"


Merasa kesal, Dhika segera mematikan ponselnya. Tidak ingin lagi menerima telepon dari temannya yang berencana mendekati Zanna itu.


Tidaksadar telah tertidur beberapa lama, Dhika terbangun karena mendengar sesuatu yang digeser secara keras. Butuh waktu untuk membuatnya bisa melihat semuanya dengan jelas.


"Dimana Zanna?" tanyanya saat tidak melihat adiknya di atas ranjang.


"Pasien yang disini Pak? Mbak itu udah pergi tadi. Sudah dibolehkan pulang oleh dokter"


"Apa? Sejak kapan?"


"Sebelum matahari tenggelam tadi, Pak"


Dhika melihat jam di tangannya dan menyadari kalau Zanna pasti sudah ada di rumah sekarang. Dia segera pergi keluar kamar rawat lalu sekilas melihat kantung plastik tak tersentuh di atas meja. Bagaimana bisa Zanna meninggalkannya begitu saja? Juga tidak menyentuh pemberiannya sama sekali.


"Saya akan membayar biaya perawatan pasien di kamar VIP 3" katanya di depan administrasi. Berusaha untuk membayar biaya perawatan Zanna. Tapi jawaban yang diberikan kembali membuatnya kecewa.


"Mba Zanna Kirania sudah membayar lunas semuanya"


Dhika memutuskan untuk kembali ke rumah Zanna. Berusaha meminta penjelasan akan kelakuan adiknya ini. Dan sesampainya dia di rumah Zanna, Dhika dikejutkan oleh kehadiran Ryan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya pada Ryan yang baru saja keluar dari rumah adiknya.


"Aku ... baru saja mengantar Kiran pulang"


"Jadi dia pulang denganmu?"


"Iya. Kiran menghubungiku tadi. Memintaku untuk menjemputnya dari rumah sakit. Padahal kupikir kau menemaninya disana"


Dhika kesal, bagaimana bisa adiknya itu berlaku seperti ini?


"Mana Zanna?"


Ryan menghalanginya untuk mendekati pintu.


"Kiran sepertinya masih kurang sehat. Lebih baik kita biarkan dia istirahat"


"Aku yang membawanya ke rumah sakit. Kau pikir aku tidak tahu dia sakit?"


Emosi telah menguasai hati Dhika. Dia tidak tahan lagi diperlakukan seperti ini oleh Zanna. Dengan kuat, dia mendorong Ryan ke samping dan masuk ke dalam rumah adiknya. Tak lupa dia menutup kembali pintu di belakangnya, agar Ryan tidak dapat masuk.


"Zanna!! Zanna!!" panggilnya lalu berjalan ke arah kamar adiknya. Dhika sampai di depan pintu kamar adiknya dan siap untuk menumpahkan emosinya.


"Kok bisa? Ngapain kesini?" tanya adiknya itu tidak merasa bersalah sama sekali.


"Kenapa pergi dari rumah sakit sendiri?"


"Kakak ada disana. Kenapa tidak membangunkan kakak? Kenapa juga semua kue dan minuman yang kakak beli tidak disentuh sama sekali?"


"Duhhh berisik. Udah pergi aja sana, bisa gak?"


Zanna kembali mengusirnya, membuat Dhika semakin emosi. Dia memegang lengan Zanna dan menariknya kasar. Kini mereka bertatapan dan adiknya itu tidak bisa mengabaikannya lagi.


"Apa kamu sering bicara tidak sopan seperti ini pada orang yang lebih tua? Pantas saja Desi selalu mengeluh karena anak baru di kantornya seperti tidak tahu tata krama. Apa ini yang kamu pelajari selama di Jakarta? Kenapa Bibi Tia tidak menjalankan kewajibannya mengajarimu kebaikan?"


Keheningan berlangsung selama beberapa menit selesai Dhika menumpahkan apa yang ada di dalam kepalanya.


"Udah puas?" tanya Zanna membuatnya tidak mengerti.


"Puas?"


"Iya. Puas menghinanya? Atau kurang? Kenapa tidak ajak Bu Desi kesini sekalian?"


Dhika tidak mengerti kenapa tiba-tiba adiknya membawa-bawa Desi dalam masalah ini.


"Jangan membawa Desi dalam masalah ini. Tingkahmu itu yang jadi masalah!"

__ADS_1


"Terserah" kata Kiran lalu menepis tangannya dan kembali ke kamar.


"Jangan pergi!!"


Dhika kembali menarik lengan Zanna, kini lebih keras dari yang tadi. Smapai membuat adiknya itu meringis kesakitan. Tiba-tiba saja hati Dhika melemah melihat ekspresi kesakitan adiknya.  Dia ingin minta maaf saat Zanna mendorongnya.


"Pergi!! Jangan balik lagi kesini! Emangnya lo siapa? Hah?? Kita ini bukan lagi saudara tapi lo masih balik lagi kesini. Bikin semua rencana dan ketenangan hidup gue berantakan. Mending sekarang pergi aja lo dan jangan balik kesini. Ini rumah gue, bukan rumah lo" teriak Zanna lalu berkacak pinggang.


Sekali lagi, Zanna tidak menganggapnya sebagai saudara. Dhika sudah muak dengan semua ini. Dia sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa dekat lagi dengan adiknya tapi ini balasannya. Dengan tetap emosi, dia pergi ke pintu depan. Membuka dengan satu tarikan kencang dan tidak mengambil kuncinya lagi. Dia tidak sudi kembali ke rumah ini kalau tingkah laku adiknya masih seperti itu.


Diluar rumah dia disambut dengan wajah Ryan yang masih ada disana.


"Kenapa kau belum pergi dari sini?!"


"Aku menunggumu"


"Kenapa?"


"Ada berkas yang harus kau tanda tangani malam ini juga"


Dhika tidak sedang ingin membahas pekerjaan sekarang. Dia sedang kesal menghadapi adiknya yang susah untuk dinasehati.


Sampai di rumah, Dhika yang masih emosi membaca berkas pendirian cafe yang sudah direvisi. Tanpa melihat lagi, Dhika menandatanganinya agar Ryan bisa cepat pergi.


"Sudah. Sekarang pergi sana!" katanya ingin Ryan cepat pergi dari rumahnya.


Ryan tidak beranjak dari duduknya. Temannya itu benar-benar tidak pergi untuk mengurus pekerjaan selanjutnya. Belum sempat Dhika menegur, Ryan mulai bicara.


"Apa kau tahu rumah yang ditinggali Kiran di Jakarta?"


"Apa?"


"Apa kau tahu bagaimana keadaan kamar adikmu itu?"


"Kenapa bicara ... "


"Apa kau tahu alasan Kiran menyelesaikan kuliahnya dalam waktu tiga setengah tahun?"


"Makanya aku bilang kenapa cerita hal seperti ini padaku?"


"Kau tidak tahu apa-apa tentang adikmu sendiri, tapi bisa menilainya seperti itu?"


"Apa maksudmu?"


Ryan tersenyum sinis. Seperti merendahkan pengetahuan Dhika akan kehidupan adiknya selama ini.

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang membuatmu berhak memanggil Kiran dengan sebutan adik? Kau bahkan tidak berhak bertemu dengannya setelah semua penilaian egosimu ini" kata Ryan lalu membereskan semua berkas dan pergi dari rumah. Meninggalkan Dhika yang duduk sendirian di ruang tamu. Tanpa ada siapapun yang menemani.


__ADS_2