Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 55


__ADS_3

Desi masih ada di ruangannya meskipun waktu pulang kantor telah lama berlalu. Dia temenung disana sejak pulang dari perkebunan Dhika. Sibuk berpikir. Tentang perubahan sikap yang ditunjukkan Dhika. Delapan tahun sudah dia mengenal laki-laki itu. Dhika tidak pernah bicara banyak pada orang yang baru dikenalnya. Apalagi pada perempuan yang silih berganti mendekatinya. Dhika tidak pernah berkomentar apapun pada mereka. Tapi tadi di perkebunan ... kenapa Dhika seperti itu pada Kiran?


Begitu ... bersemangat menyalahkan juga menuduh Kiran menyukainya. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya. Karena setahu Desi, Dhika dan anak baru itu hanya bertemu beberapa kali saja. Dan itu juga dalam waktu singkat. Ditambah Desi selalu ada dalam semua pertemuan itu. Jadi bagaimana bisa Dhika menuduh anak baru itu menyukainya?


Lalu sebuah pemikiran yang membuat hatinya perlahan sakit muncul.


"Apa Dhika menyukai Kiran?" tanyanya pada ruang kosong di hadapannya.


Kiran. Anak baru yang memang masih sangat muda. Namun tidak memiliki penampilan yang terlalu mencolok. Bahkan menurut Desi terlalu sederhana untuk perempuan yang berasal dari ibukota. Memang Kiran menunjukkan sikap yang kurang baik padanya, tapi pekerjaannya selalu beres. Baik dibawah pengawasannya atau pak Wahyu, atasan baru Kiran. Tapi ... apa benar Dhika menyukai perempuan yang seperti Kiran? Yang lebih membuatnya penasaran, apakah itu berarti Dhika sudah tidak menyukainya lagi?


Memang Desi berencana untuk meninggalkan laki-laki itu. Dia sudah mengajukan mutasi untuk kembali ke Surabaya. Tempat kelahirannya bersama ayah dan ibunya. Dia juga ingin bicara dengan Dhika malam ini tentang hal itu, namun ... dia mulai bertanya-tanya. Apakah ini yang benar-benar dia inginkan? Apakah dia bisa melihat Dhika bersama dengan perempuan lain selain dirinya? Apakah dia siap melihat laki-laki yang dicintainya dan mencintainya selama ini bersanding dengan perempuan lain? Atau apakah dia siap seandainya mengetahui Dhika memilih perempuan yang tidak pernah dia duga sebelumnya? Seperti anak baru itu?


Dhika duduk di dalam kaamrnya, melihat foto Zanna yang sedang memeluknya dulu. Hubungan mereka tidak akan lebih dari sekedar saudara. Dhika menyadari itu sekarang. Walaupun menyukai Zanna, tidak berarti Dhika harus memiliki adiknya itu sebagai seorang laki-laki. Dia sudah memilih Desi sebagai pendamping hidup. Dan dia harus bertanggung jawab akan pilihannya. Tidak membuat perempuan lain bingung atas perkataan dan perbuatannya. Yang dilakukannya hari ini di perkebunan memang ... gila. Dia seharusnya menahan diri dengan baik seperti yang biasanya. Suara ponsel berdering mengganggu lamunannya, dia melihat nama Desi dan segera mengangkat telepon.


"Ada apa?"


"Aku ... mau membatalkan acara makan malam kita"


Dhika bahkan sudah tidak ingat kalau dia memiliki janji malam ini dengan Desi. Dia mulai merasa bersalah karena berlaku tidak seperti biasanya pada perempuan yang dicintainya lama sekali ini.


"Apa kau ada janji lain?" tanyanya.


"Gak. Aku ... pengen istirahat aja"


"Apa tubuhmu sakit? Bagian mana? Apa kita perlu ke dokter?"


"Enggak. Enggak perlu. Aku cuma pengen tidur lebih awal hari ini"


"Baiklah"


"Apa? Kamu setuju gitu aja?"


Baru kali ini Dhika mendengar nada protes yang keras dari Desi. Dia sempat memastikan nama yang ada di layar ponselnya lalu kembali bicara.


"Apa terjadi sesuatu?"


Desi tidak pernah sekalipun menggunakan nada keras padanya. Perempuan itu selalu bermanja dengannya. Tapi kenapa sekarang?

__ADS_1


"Enggak. Aku ... cuma ... "


"Aku minta maaf" kata Dhika tiba-tiba.


"Apa? Kenapa kamu minta maaf"


"Mungkin saja aku salah"


Meskipun tidak tahu kesalahannya, Dhika selalu minta maaf pada Desi. Itu selalu dilakukannya untuk menjaga jiwa Desi tetap baik selama ini.


"Kamu ... kenapa?"


Telepon terputus begitu saja saat Dhika mendengar suara Desi yang terputus-putus. Dia berpikir pasti ada masalah dengan perempuan itu sampai harus membatalkan janji makan malam mereka.


Dia segera mengambil kunci dan memacu mobil secepatnya ke kantor Desi. Perempuan itu masih duduk di dalam ruangannya. Hanya menunduk melihat ke arah ponsel. Tanpa membuang waktu, Dhika masuk dan mengejutkan Desi.


"Apa ada masalah?"


"Dhika? Kamu kesini?"


Dhika lega karena tidak terjadi apa-apa pada Desi. Dia sudah membayangkan sesuatu yang menakutkan terjadi pada perempuan ini.


Dhika mengambil tas Desi dan melihat ke arah perempuan itu lagi. Kali ini Desi hanya menatapnya.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Gak apa-apa" jawab Desi lalu berdiri dan mengikuti langkahnya pergi dari ruangan gelap itu.


Dalam perjalanan pulang tiba-tiba hujan turun. Begitu deras sampai Dhika harus berhati-hati melihat ke arah jalan di depannya. Dia melihat ke arah Desi dan perempuan itu tampak lain dari biasanya. Lebih pendiam dan bahkan tidak melihat ke arahnya.


"Kiran"


Tiba-tiba saja Desi menyebut nama adiknya, membuat Dhika agak tidak nyaman.


"Apa?" tanyanya berpura-pura tidak mendengar.


"Kamu suka Kiran?" teriak Desi memecah suara hujan yang menerpa mobil.

__ADS_1


Kini Dhika tau kenapa Desi tampak pendiam dari biasanya.  Dan itu membuatnya sedikit takut. Mengingat apa yang dilakukan Desi pada semua perempuan yang mendekatinya sebelum ini.


"Enggak" jawabnya berbohong untuk melindungi Zanna.


"Suka juga gak apa-apa"


Lagi-lagi Desi memainkan kartunya, tapi Dhika tidak akan terkecoh. Dia tidak ingin Zanna disakiti karena salah bicara di depan Desi.


"Aku tidak terlalu mengenalnya. Tadi di perkebunan aku hanya kesal karena anak itu bicara terlalu kasar padamu"


"Kiran emang seperti itu tapi dia juga anak baik"


Desi memuji perempuan lain? Bukankah Desi tidak menyukai Zanna selama ini? Tapi kenapa sekarang begini?


"Apa ada masalah?" tanyanya mulai curiga dengan keadaan Desi. Dia mulai bersiap mengambil ponsel untuk menghubungi dokter Desi.


"Aku ... mau pindah ke Surabaya. Sama ayah dan ibu"


"Apa ke rumah lama kamu? Semua sudah siap untuk ditinggali. Aku bisa suruh satu supir untuk antar kamu pulang pergi Surabaya-Malang" jelas Dhika lalu berbelok menuju ke rumah Desi.


"Aku pindah kerja ke pemkot Surabaya"


"Sejak kapan? Bagus kalo gitu. Pekerjaan di Pemkot tidak terlalu banyak seperti di Dinas. Kamu akan lebih santai disana, gajinya juga lebih besar"


"Maka dari itu kamu bisa berhenti sekarang"


Dhika melihat ke arah Desi. Dia tidak yakin dengan apa yang didengarnya baru saja.


"Desi ... "


"Makasih semuanya, tapi kamu boleh berhenti sekarang"


Dhika menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hanya seratus meter dari rumah Desi.


"Apa?"


"Semua yang kamu lakuin buat aku dan keluargaku udah cukup. Selama ini aku gak pernah nerima pinangan kamu hanya karena satu alasan. Aku ... gak akan pernah bisa kasih kamu kebahagiaan yang utuh. Makanya ... aku pergi sekarang"

__ADS_1


Setelah berkata begitu, Desi keluar dari mobil. Berlari menerobos hujan meninggalkan Dhika yang masih termenung sendirian. Dia tidak percaya hari ini mengalami sesuatu seperti ini. Dia telah dicampakkan oleh dua orang perempuan. Satu perempuan yang sudah dicintainya begitu lama. Dan satu lagi perempuan yang baru saja dicintainya. Lama Dhika terdiam di dalam mobilnya, memikirkan nasib percintaannya yang begitu menyedihkan.


__ADS_2