Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 50


__ADS_3

"Apa Dhika ada disini?" tanya Desi yang merasa bosan berada di rumah terus menerus selama tiga hari. Dia pergi ke cafe dan bertemu dengan Ryan disana.


"Aku menyuruhnya beristirahat"


"Kau menyuruh Bos-mu beristirahat?" Desi ingin tertawa mendengar kata-kata Ryan.


"Dia tidak tidur beberapa hari. Kupikir kau tahu kenapa"


Desi terdiam. Tentu saja dia tahu. karena laki-laki yang dicarinya selalu berjaga di rumahnya selama beberapa hari ini.


"Apa dia terlihat kelelahan?"


"Sekarang kau mulai perhatian padanya?"


Jawaban Ryan selalu sinis terhadapnya, tapi Desi tidak merasa sakit hati. Malah bersyukur karena Ryan selalu seperti itu padanya. Tidak pernah berubah.


"Kau tahu aku selalu memperhatikannya" kata Desi tidak berbohong.


Dia sebenarnya selalu memperhatikan Dhika, dan bahkan menyukai laki-laki itu. Bagaimana bisa dia tidak menyukai laki-laki itu? Disaat semua orang berpaling darinya, menganggapnya jijik karena peristiwa itu, hanya Dhika yang selalu ada disana untuknya. Merawat dan memberinya cinta tanpa syarat. Tapi ... dia selalu merasa cinta tanpa syarat Dhika membebaninya. Membuatnya bertanya-tanya, apakah dia pantas menerima semua itu. Dan beberapa tahun terakhir dia mulai menunjukkan tingkah yang keterlaluan agar laki-laki itu menjauh darinya. Dhika tidak menjauh, malah menganggap semua kelakuannya normal.


"Bagaimana lukamu?" tanya Ryan yang sekarang duduk menemaninya. Desi melihat tangannya yang tertutup baju berlengan panjang dan mendesah.


"Pasti akan sembuh. Seperti sebelumnya"


"Apa sekarang kau mau pergi ke dokter?"


Desi memang tidak pernah pergi ke dokter sesuai dengan saran Dhika. Bukan karena dia takut, tapi tidak ingin disembuhkan. Karena kalau dia dinyatakan sembuh maka Dhika akan meninggalkannya. Sekarang ... dia sepertinya siap untuk pergi ke dokter dan sembuh. Dia tidak ingin menjadi beban siapapun lagi. Terutama untuk Dhika.


"Iya"


"Benar? Apa ini bukan akal-akalanmu saja agar terlihat baik di hadapan Dhika?"


Desi tersenyum, menertawakan semua kelakuan buruknya di masa lalu.


"Kali ini aku ingin sembuh" katanya dengan tenang.


Ryan tidak segera bicara dan hanya melihatnya. Mungkin mencari keseriusan dalam setiap kata-kata Desi.


"Baguslah. Sudah saatnya kau melewati semua ini"


"Wah, baru kali ini aku mendengar dukungan seorang Ryan. Tangan kanan Dhika yang selalu membenciku"

__ADS_1


"Aku tidak pernah membencimu. Hanya merasa kasihan pada Dhika yang selalu merasa bersalah, padahal tidak melakukan apapun yang salah"


Hal itu juga-lah yang membuat Desi sering dihantui rasa bersalah. Dhika bukanlah pelaku kejahatan itu. Tapi siap disalahkan hanya untuk membuatnya lebih baik.


"Apa kau punya kenalan perempuan yang baik?"


Akhirnya Desi memberanikan diri untuk bertanya tentang hal ini pada Ryan. Meskipun berat, dia harus melepas Dhika pergi. Dia tidak ingin melihat laki-laki itu terkubur dalam masa depan yang buruk dengannya.


"Untuk apa? Kau ingin melampiaskan emosimu?"


Desi tersenyum, mengingat semua yang dilakukannya pada perempuan yang mendekati Dhika.


"Tidak. Aku ingin kau mencari seorang perempuan untuk Dhika"


Ryan kembali menatapnya seakan tidak percaya. Desi saja tidak percaya bisa mengatakan hal ini.


"Apa kau yakin?"


"Iya.Dhika tidak memiliki siapapun. Dan aku tidak ingin garis keturunan keluarganya berhenti begitu saja. Dia membutuhkan perempuan yang baik dan sehat. Bisa disentuh juga melahirkan anak yang banyak. Agar kehidupan Dhika penuh warna"


Setelah mengatakan semua itu Desi menitikkan air mata. Ternyata dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang harus dia tanggung karena melepaskan laki-laki itu. Dan sekarang dia harus mulai terbiasa dengan semua ini. Karena setelah ini dia akan melangkah sendiri. Tanpa siapapun disisinya.


"Carilah perempuan yang bisa menggetarkan hati dan bukan kebutuhan seksualnya. Itu saja yang selalu kaupikirkan saat mengenalkan Dhika pada perempuan lain" sindir Desi membuat Ryan tertawa.


"Dhika adalah pria yang susah dicairkan. Akan membutuhkan waktu untuk bisa melakukan itu"


"Lakukan saja, tapi cepat. Agar aku tidak terlalu sedih"


"Itu tekanan yang besar untuk permintaan tolong"


Desi kembali terkikik. Sepertinya Ryan akan mengerjakan semua ini dengan baik, tidak tahu bagaimana hasilnya nanti.


"Perempuan itu tidak harus cantik. Tapi harus baik dan mencintai Dhika dengan tulus. Agar semua perbuatan baik Dhika padaku bisa dibalas oleh perempuan itu" tambahnya membuat Ryan berdiri dari kursinya.


"Kau cari saja sendiri kalau begitu"


"Tapi kau memiliki stok perempuan banyak"


Desi mengikuti langkah Ryan yang menjauh darinya.


"Kau pikir aku laki-laki apa"

__ADS_1


"Ayolah Ryan. Jangan menghindar"


"Permintaanmu terllau banyak"


"Tapi ini untuk temanmu sekaligus Bos-mu. Apa kau tidak senang melihat Dhika bahagia"


"Sial. Jangan berkata seperti itu padaku. Dhika bukan anakku"


"Tapi kau sudah seperti ayah, ibu dan saudara untuknya"


"Enak saja. Tapi aku akan mencarikan seseorang yang benar-benar baik untuk DHika. Bersiaplah untuk menyesal sudah memintaku melakukan ini"


Desi memantapkan hatinya lalu menatap Ryan dengan yakin.


"Aku tidak akan menyesal"


Katanya tidak tahu kalau Dhika sudah menemukan seseorang yang dapat menggantikan Desi di dalam hatinya.


Dhika pikir tidak akan pernah merasa seperti ini lagi. Dia pikir telah mantap dengan pilihannya untuk selalu mendampingi Desi seumur hidupnya. Tapi kenapa sekarang seperti ini? Sekarang dia merasa menyesal telah menolak perasaan Zanna. Dia menyesal telah mengatakan tidak bisa pada adiknya itu. Ini bukan hanya sekedar gairah seksual seperti yang pernah dia perkirakan sebelumnya. Tapi ini merupakan desakan hasrat untuk memeluk, mencium dan menyayangi seorang perempuan. Tidak pernah dia merasakan hal ini pada Desi sebelumnya. Jadi ... sepertinya dia lebih menyukai Zanna daripada Desi.


Tapi apa yang akan dia lakukan pada Desi? Dia tidak mungkin meninggalkan perempuan itu hanya demi memenuhi hasratnya sendiri. Tidak mungkin dia melakukan hal jahat seperti itu pada Desi.


"Bisa gak kak Dhika pergi sekarang?!" kata Zanna membangunkan Dhika dari lamunannya. Dia berbalik dan melihat Zanna sedang berusaha membungkus tubuh terbukanya. Menunjukkan wajah marah yang terlampau manis padanya. Sial. Kenapa dia tidak sadar dari awal kalau menyukai adiknya sendiri.


"Harusnya kakak tidak melakukan itu. Maaf. Tapi ... baju itu dibuat dengan jelek. Padahal kakak tidak menariknya dengan keras tapi semua kancing terbuka begitu saja. Sampai kakak bisa melihat dadamu yang besar. Apa kamu yakin tidak pernah operasi plastik?"


"Apa??!!!! Kak Dhika emang!!!"


Dan dia sama sekali tidak pernah sadar selalu bicara lebih banyak saat bersama Zanna. Hal itu berarti dia merasa nyaman berada di dekat adiknya. Itu berarti dia senang bersama dengan Zanna. Dan dia sama sekali tidak tahu selama ini. Dhika menyadari kebodohannya sendiri dan mulai menyesal. Kini dia merasa apapun yang dilakukan oleh Zanna sangat menarik. Apalagi saat adiknya itu melemparkan bantal ke arahnya.


"Tidak kena" ejeknya ingin melihat wajah kemerahan Zanna.


"Heghhhhh"


Bahkan saat Zanna mulai mengerang karena terlalu marah, wajah perempuan ini tampak sangat cantik di matanya. Bantal kedua terbang ke arahnya dan Dhika bisa menangkapnya.


"Tidak kena lagi. Lemparanmu sungguh buruk. Kamu tahu itu?"


Bantal terus terbang ke arahnya dan Dhika semakin dekat dengan adiknya. Dia akhirnya bisa menangkap pergelangan kecil yang melempar bantal dengan sekuat tenaganya itu.


"Keselll banget akuuuu!!!" aku Zanna dengan nada yang lucu. Baru kali ini Dhika melihat perempuan yang begitu manis, pintar, cantik dan lucu seperti ini. Dia segera memeluk Zanna, tidak peduli dengan akhir yang akan dia tuju nantinya.

__ADS_1


__ADS_2