
"Mau apa kesini lagi?"
"Mau makan"
"Dhika tidak ada"
"Aku bayar sendiri"
Desi menunjukkan kartu kredit yang diberikan oleh Dhika beberapa hari lalu, karena dia mengeluh tidak bisa menginap di rumah laki-laki itu.
"Sampai kapan Dhika akan menjadi sumber uangmu?"
Sepertinya teman Dhika ini kesal, membuatnya sangat senang.
"Sampai aku puas"
"Kau gila!"
"Biarin. Yang penting Dhika masih suka sama aku"
Desi berbalik lalu mencari tempat duduk yang bagus di dalam cafe milik laki-laki yang menyukainya itu. Dia memutar-mutar kartu kredit di tangannya dan merasa senang sekali.
"Ini makananmu!" kata Ryan yang meletakkan piring makanan di depannya lalu duduk di hadapan Desi.
"Ya udah, pergi sana! Aku mau menikmati makan malamku"
"Dasar Perempuan tidak tahu diri"
Desi melambai-lambaikan kartu kredit di tangannya dan merasa menang.
"Gimana lagi ya? Pemilik cafe ini terlalu sayang sama aku"
"Apa yang kau berikan sampai mendapat kartu kredit Dhika?"
"Gak ada. Dhika gak pernah minta apa-apa padaku"
Desi melihat Ryan kesal dan itu merupakan hiburan terbaik untuknya.
"Tidak mungkin. Meskipun bodoh dalam menghadapimu, Dhika bukan orang yang ceroboh dalam bidang keuangan"
Desi heran. Kenapa teman Dhika yang satu ini sellau tidak bisa membiarkannya senang. Selalu saja Ryan berhasil membuatnya kesal padahal dia kemari ingin memamerkan betapa Dhika masih sangat menyukainya.
"Dia merasa bersalah karena melarang aku untuk menginap di rumahnya. Puas??!!"
__ADS_1
Mendengar jawabannya, teman Dhika itu tidak bertambah kesal. Melainkan tersenyum lalu tertawa lepas.
"Dan apa kau tau alasannya?"
Desi menatap tajam Ryan allu mulai curiga. Dhika memang tidak pernah menolaknya untuk melakukan apapun yang diinginkan Desi. Ini adalah pertama kalinya Dhika melarangnya menginap. Juga pertama kalinya Dhika tidak mau mengantar atau menjemputnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya
"Jadi kau tidak tau?"
Ryan kembali tertawa membuat Desi semakin curiga dengan kelakuan teman Dhika itu. Dia menjadi tidak sabar dan berdiri. Tapi Desi berhasil menahan keinginannya untuk berteriak di hadapan pelanggan cafe yang rata-rata berasal dari kalangan atas ini.
"Katakan padaku apa maksudmu?"
Ryan mendekat lalu membisikkan sesuatu kepadanya.
"Ada seseorang yang akan menggantikan tempatmu dengan segera. Dhika sudah membawanya kesini dan juga menyimpan orang itu di rumahnya"
Mendengar berita itu membuat darah Desi mendidih. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin Dhika yang selama ini selalu menyukainya akan berbuat seperti itu. Dhika akan menyukainya selamanya. Tidak ada batas waktu untuk itu. Karena Dhika akan selalu merasa bersalah terhadapnya. Tidak. Tidak mungkin. Desi mengambil tasnya lalu meninggalkan cafe. Melupakan makan malam yang telah dipesannya untuk pergi ke rumah yang berada di pusat kota Malang itu.
"Kenapa?" tanya Dhika melihat adiknya memalingkan wajah.
"Enggak kenapa-kenapa. Cuma mau ambil napas aja banyak-banyak"
"Kakak baru tahu kalo kamu gak bisa berenang"
"Bisa dulu. Sekarang udah gak bisa lagi"
"Kenapa?"
"Ya gak tau. Udah lupa caranya. Kan Kiran gak pernah masuk ke kolam lagi sejak itu"
Sejak itu? Dhika lalu mengingat apa yang dia baca di buku catatan Zanna. Apa mungkin karena semua pekerjaan yang dilakukan Zanna, sehingga membuat adiknya tidak pernah lagi berenang? Apa memang Zanna sampai tidak memiliki waktu untuk itu? Atau Zanna tidak mampu membayar biaya masuk ke dalam kolam renang? Dhika kembali menunduk dan merasa sangat bersalah pada adiknya itu.
"Kamu bisa latihan lagi disini" katanya berusaha untuk menghibur diri agar tidak terlalu merasa bersalah.
"Gak ada waktu"
"Kakak akan melatihmu setiap malam sampai kamu bisa"
"Dihh, ogah. Mending tidur aja. Dingin banget lagi"
Dhika melihat baju adiknya dan merasa malu sendiri sampai mengalihkan pandangannya. Ternyata Zanna memakai kaos putih yang tipis. Karena basah, kaos itu melekat ke tubuh adiknya dengan erat. Memperlihatkan pakaian dalam serta isinya yang hampir menonjol keluar. Besar sekali, pikirnya lalu berusaha untuk menghapus pemandangan itu dari otaknya. Tapi susah sekali. Kemudian dia berdiri dan mencari handuknya. Setelah dapat, dia melemparkan handuk itu ke pangkuan adiknya.
__ADS_1
"Pakai itu!"
Untunglah Zanna segera membungkus tubuhnya. kalau tidak Dhika tidak akan bisa menjaga matanya sendiri dari tubuh adiknya yang kini berubah itu. Dia kembali duduk di sebelah adiknya yang melihat langit dan merasa keadaan seperti ini membuatnya nyaman.
Tapi ... semuanya berubah hanya dalam hitungan menit.
"Aku mau balik ke rumah besok"
Dhika melihat adiknya dan tidak percaya dengan pendengarannya. Tapi dia berusaha untuk tenang.
"Tinggal disini juga tidak apa-apa"
"Kiran udah maafin kak Dhika. Eh, enggak. Udah lama sebenernya Kiran udah lupain masalah sepuluh tahun lalu itu. Jadi ... kak Dhika gak usah merasa bersalah dan bersikeras ngajak Kiran untuk tinggal sama-sama"
Desir angin dingin menerpa tubuhnya, tapi Dhika tidak bisa merasakan apa-apa.
"Tapi Zanna ... kakak ... "
"Kiran seneng banget liat kak Dhika punya temen, pekerjaan dan juga kehidupan yang baik selama ini. Seandainya ayah Burhan dan ibu masih hidup, mereka bakal bangga banget sama kak Dhika"
Kata demi kata diucapkan Zanna dengan tenang dan lancar. Seakan adiknya itu sudah memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan padanya.
"Kakak masih punya tanggung jawab sama kamu"
"Siapa bilang?"
Kali ini Zanna melihat ke arahnya. Mata mereka bertatapan dan Dhika merasa kalau mereka akan kembali berpisah lagi sekarang. Tidak, Dhika tidak akan membiarkan itu terjadi ... lagi.
"Zanna, kakak ... "
"Kakak tidak punya tanggung jawab apa-apa sama Kiran. Kiran udah besar sekarang dan bisa cari uang sendiri"
"Tapi ... "
"Mulai sekarang kita bakal jadi tetangga yang tinggal di lingkungan yang sama. Dan Kiran harap kak Dhika menemukan jodoh yang baik. Yang bisa mendukung dan sayang sama kak Dhika. Makasih udah dibiarin numpang selama tiga hari ini" kata Zanna lalu berdiri dan pergi meninggalkannya.
Zanna sama sekali tidak membiarkan Dhika untuk bicara atau sekedar menjawab. Adiknya itu telah bertekad untuk meninggalkannya. Tapi Dhika tidak akan membiarkan itu terjadi sesuai dengan keinginan Zanna. Dia tetap akan bertanggung jawab pada hidup Zanna, meskipun adiknya itu tidak menginginkannya. Dhika berdiri dan berbalik, ingin menyusul adiknya. Tapi ... seorang perempuan datang dengan berlari ke arahnya. Perempuan itu menangis lalu memukul-mukul dadanya dengan keras.
"Kamu jahat Dhika. Siapa perempuan yang kamu bawa ke cafe? Kamu gak suka sama aku lagi ya?"
Dhika tetap berdiri di tempatnya dan melupakan tekadnya untuk mengejar Zanna. Mungkin yang dikatakan oleh Zanna ada benarnya. Mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Seperti Zanna yang tidak mau ikut campur kehidupannya. Dhika juga tidak berhak mengatur hidup adiknya itu. Dia menghentikan pukulan Desi dan membawa perempuan itu dalam pelukannya.
"Tidak ada perempuan seperti itu. Kamu salah sangka" katanya berusaha menenangkan Desi.
__ADS_1