Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 11


__ADS_3

"Kupikir kau pergi ke rumah Zanna malam ini?" tanya Ryan saat melihat Dhika datang ke cafe.


"Sudah" jawabnya lalu duduk di kursi dan melihat suasana cafe miliknya.


"Lalu?"


"Apa?"


"Apa kau sudah diterima?"


"Belum. Sepertinya aku harus memberi Zanna waktu"


"Benar. Beri dia waktu. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bertemu lagi dengan kakak tiri yang pernah membuangnya"


"Aku tidak membuangnya. Aku ... " Dhika berhenti bicara. Tidak ingin mengingat saat-saat dia menjadi orang paling bodoh di dunia.


Dhika yang tidak melanjutkan ceritanya mengawasi setiap meja yang terisi. Cafenya sudah buka selama tiga tahun dan sudah waktunya diperbaiki disana-sini.


"Apa?" tanya Ryan seperti mengerti pikiran Bos-nya.


"Cafe ini kapan akan diperbaiki?"


"Kita membangunnya dengan baik. Apa perlu diperbaiki seawal ini? Ada banyak proyek yang bahkan belum dimulai di Surabaya dan Jember"


"Aku tidak suka melihat lampu-lampu ini. Buatlah lebih terang dan sesuaikan warna dindingnya" perintah Dhika lalu berdiri dari kursinya.


"Tapi ... mau kemana kau?"


"Pulang. Untuk apa aku disini?"


"Kau bisa memeriksa keuangan cafe"


"Untuk apa aku mempekerjakanmu" jawabnya lalu pergi dari cafe begitu saja.


Dia pulang ke rumah besarnya yang berada di jalan Ijen, begitu dekat dengan rumah Zanna. Dia beruntung mendapatkan rumah ini. Walaupun harus menghabiskan banyak uang tapi dia merasa puas bisa tinggal di tempat yang dekat dengan lingkungannya tumbuh dulu.


"Selamat malam Pak" sapa penjaga rumahnya.

__ADS_1


"Malam"


Dia turun dari mobil dan tidak masuk ke dalam rumah.


"Mau kemana Pak?" tanya penjaga rumah yang kebingungan melihat Tuannya pergi lagi setelah baru saja pulang.


"Melihat keadaan" jawabnya lalu berjalan sekitar seratus meter ke arah belakang rumah.


"Kelihatannya Zanna sudah tidur" ucapnya saat melihat lampu di kamar yang biasa digunakan Zanna dulu mati. Dia berbalik dan kembali ke rumahnya sendiri. Baru sehari dia bertemu adiknya setelah sepuluh tahun. Dan yang terjadi sungguh diluar dugaan. Dia tidak bisa mengeluarkan bayangan Zanna di otaknya. Sepertinya itu disebabkan oleh rasa rindu yang dipendamnya selama ini. Atau ... rasa kagum karena adiknya itu berubah menjadi seorang perempuan yang sangat cantik.


Dhika mulai membayangkan Zanna yang diingatnya dulu. Berjerawat karena baru menginjak remaja. Selalu bicara dengan emosi dan suka makan sehingga badannya mengembang. Hanya memakai celana karena tidak suka baju perempuan. Rambutnya juga tidak pernah panjang, selalu pendek sebahu.Dhika tersenyum karena seperti kembali ke masa-masa mereka masih anak-anak dulu. Pada saat itu rasanya sangat menyenangkan.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Dhika yang mendapati Ryan ada di ruang tamunya, keesokan harinya.


"Sudah. Semuanya sudah disepakati dan hari ini perjanjian jual beli akan ditandatangani"


"Apa mereka tetap menghadirkan notaris sendiri?"


"Iya"


"Baiklah. Tapi kau perlu membaca perjanjian itu dengan baik. Aku tidak ingin ada masalah dengan pembelian lahan untuk cafe ini"


"Ayo berangkat!"


Hari ini Dhika menandatangani perjanjian jual beli tanah yang akan dia pakai untuk mengembangkan usaha cafenya.


Pulang dari Surabaya, Dhika merasa sangat capek. Dia memilih untuk segera beristirahat di rumah karena besok harus pergi ke lahan perkebunan. Meskipun sudah ada pak Anton, anak buah ayahnya dulu yang mengurus perkebunan selama dia tidak ada. Tetap saja Dhika perlu ke perkebunan untuk melihat-lihat. Satu, dua samapi lima jam berbaring di atas ranjang, tidak dapat membuatnya tidur. Dhika bangun lagi lalu sadar kalau sekarang sudah hampir malam.


"Mas Dhika ada di rumah?" tanya salah satu pembantu yang hanya ada di rumah pagi sampai sebelum gelap itu.


"Iya Bu"


"Apa saya perlu nyiapin makan?"


"Gak perlu. Ibu pulang saja kalo udah selesai"


"Baik kalo gitu Mas"

__ADS_1


Setelah pembantunya pergi, Dhika kembali ke kamarnya. Mencoba untuk mencari referensi bentuk cafe yang akan dibangunnya di Surabaya. Lalu dia teringat belum memeriksa keadaan adiknya. Dengan hanya memakai baju rumah dan sandal, dia pergi keluar rumah. Berjalan ke arah Barat dan melihat rumah Zanna di seberang jalan.


"Zanna belum tidur" katanya melihat lampu kamar Zanna yang terlihat masih menyala.


Tanpa berpikir dua kali, dia menyeberangi jalan dan sampai di teras rumah Zanna. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu tapi ragu. Bagaimana kalau Zanna mengusirnya lagi karena masalah kemarin? Apa dia akan menurut dan pergi begitu saja? Tapi Zanna adalah anak yang keras hati. Tidak mungkin berubah secepat itu hanya karena bertemu dengannya.


Dhika menghela napas pasrah dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Lalu dia mendengar suara berdebum keras dari dalam rumah adiknya. Apa itu? Apa yang terjadi di dalam rumah ini? Apa ada pencuri yang masuk dan megancam hidup adiknya? Dhika mengeluarkan kunci yang disimpannya di dalam saku dan segera menerobos masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapapun di ruang tamu dan tengah. Dimana adiknya? Dimana Zanna? Rasa khawatir segera menguasainya. Dhika dengan cepat berlari ke kamar adiknya dan membuka pintu. Disana dia melihat Zanna terjatuh di lantai.


"Kenapa?" tanyanya lalu mengangkat tubuh adiknya dari lantai. Perempuan itu menatapnya heran, seperti tidak menyangka hal ini bisa terjadi.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Dhika lagi.


"Apa ada orang lain disini? Ada pencuri? Apa kamu yang jatuh?" Dhika terus bertanya tapi Zanna tidak menjawab. Hanya melihatnya dan diam saja. Sedetik kemudian, Zanna mulai meronta, meminta untuk diturunkan. Dhika menurunkan adiknya dengan perlahan di atas ranjang dan memeriksa seluruh sudut kamar.


"Rumah ini sudah lama gak dihuni. Banyak orang yang tahu kalo rumah ini kosong beberapa bulan. Apa kamu harus tinggal sendiri disini? Apa kuncinya perlu diganti?" Dhika kembali bertanya panjang lebar sambil terus memeriksa jendela di kamar adiknya.


"Kak Dhika punya kunci rumah ini?"


Dia membeku saat mendengar pertanyaan Zanna. Sial, dia ketahuan. Padahal dia membuat duplikat kunci ini dari yang menyewa rumah sebelumnya. Tanpa sepengetahuan Bi Tia.


"Aku ... cuma khawatir" jawabnya lalu menyembunyikan kuncinya di dalam kantung.


"Apa kak Dhika dobrak pintu rumah?" tanya Kiran lalu pergi memeriksa pintu depan. Dhika mengikuti langkah adiknya dan pura-pura melakukan sesuatu yang dituduhkan Zanna.


"Rumah ini udah tua, gampang didobrak" ucapnya asal saja.


"Duhhh. Kok bisa ya. Trus rusak dong pintunya "


Dhika memperhatikan adiknya yang benar-benar khawatir dengan pintu rumah.


"Kamu harus perbaiki semua pintu di rumah ini, kalo mau aman" katanya mengalihkan masalah.


"Bukannya pintu depan ini aja? Kayaknya mahal kalo ganti semua pintu"


"Tapi itu untuk keamanan. Kalo gak diganti bahaya"


Lalu Zanna berbalik dan melihatnya dengan mata menyipit.

__ADS_1


"Ngapain kak Dhika kesini?"


Dhika mulai salah tingkah karena bingung harus menjawab apa. Apa yang harus dia katakan sekarang?


__ADS_2