
Dhika murung setelah mendengar Zanna mengatakan dirinya adalah orang yang aneh. Dan itu karena kesalahannya sendiri. Keinginannya dikagumi dan disukai oleh Zanna lagi membuatnya terlalu agresif dalam mempromosikan diri sendiri.
"Liat tuh!" kata Zanna menunjuk kerumunan orang di depan rumah peninggalan ibu tiri Dhika itu.
Dia melihat ada sekitar lima orang dengan perawakan tubuh besar dan gemuk. Pantas saja Zanna merasa takut sampai menyusulnya ke perkebunan tadi.
"Kamu tetap di mobil. Jangan kemana-mana" perintahnya lalu keluar dari mobil. Dia berjalan menghampiri semua orang itu dengan tenang, seperti saat menghadapi lawan bisnisnya..
"Kamu siapa?" tanya salah satu orang yang membawa berkas.
"Bapak gak mungkin gak tau siapa saya"
Orang itu melihat wajah Dhika selama beberapa detik lalu mundur perlahan.
"Pak Radhika"
Dhika tidak tahu alasan orang-orang pertanahan ini mau datang atas perintah pakdhenya tapi dia lebih banyak mengenal para petinggi mereka.
"Rumah ini bukan rumah sengketa. Jadi Anda semua bisa pergi dari sini sekarang" katanya dengan beberapa penekanan.
"Tapi ... Pak Radhika"
"Ini urusan keluarga dan saya harap Anda semua tidak ikut campur"
"Ooo gitu. Ya sudah kalo gitu. Kami pamit dulu"
Tak lama semua orang itu pergi dengan pengawasan Dhika.
Tapi ... kakak ayahnya itu tidak akan menyerah dengan mudah. Mski sudah tua, orang itu pasti akan menemukan cara lain untuk bisamendapatkan keinginannya, yaitu rumah ini. Dhika harus segera menyelesaikan masalah ini atau ketenangan Zanna terganggu.
"Wah, kok bisa mereka bisa pergi gitu aja?" tanya Kiran yang datang menghampirinya.
"Sebaiknya kamu tinggal dengan kakak untuk sementara waktu"
"Apa?"
"Seminggu atau dua minggu saja. Kakak janji akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat."i
Zanna tampak memikirkan usul Dhika dengan serius. Alis tipis yang rapi itu mengumpul di tengah, membentuk dahinya menjadi seperti bulan sabit.
"Apa mereka bakal balik lagi?"
"Kakak tidak tahu. Tapi biar kamu aman, lebih baik kamu tinggal di rumah kakak untuk sementara waktu"
"Gak mau ah. Kiran disini aja. Tadi Kiran cuma takut sama banyaknya orang aja. Tapi kalo yang dateng lagi kurang dari itu, Kiran bisa hadapi sendiri"
__ADS_1
Dhika kesal sekali sekarang. Kenapa Zanna yang seharusnya berhak atas perlindungannya, berkata tidak membutuhkannya? Padahal perempuan ini yang sehrausnya memanfaatkan dirinya, bukan orang lain seperti Desi maupun saudara ayahnya.
"Sekali ini saja!! Berhenti keras kepala dan menurut!" katanya dengan sedikit keras. Dia tidak ingin dilawan untuk masalah ini. karena dia takut terjadi apa-apa dengan Zanna.
"Tapi ... Kiran gak enak tinggal di rumah kak Dhika. nanti kalo ada Bu Desi juga pasti repot"
Dhika ingat tentang kejadian saat Desi datang ke rumah dan mereka sedang berpelukan saat Zanna tinggal disana. Tapi adiknya ini tidak tahu kalau dia dan Desi sudah menyelesaikan hubungan mereka. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang harus diwaspadai hanya hasratnya yang mungkin meluap saat melihat Zanna terus bersamanya. Tapi untuk masalah ini, dia akan bertahan dari semua godaan dan melindungi Zanna.
"Tidak akan ada masalah. yang terpenting keamananmu. Kalau tidak sebaiknya kita panggil Bi Tia kesini untuk menemanimu"
"Jangan!!!"
Mendengar penolakan Zanna tentang kedatangan Bi Tia, m,enunjukkan kalau adiknya ini tidak pernah menceritakan masalah apapun pada adik ibunya itu. Mungkin agar Bi Tia tidak khawatir dengan keadaannya. Sungguh, Dhika benci sekali melihat Zanna sangat mandiri dengan hidupnya. Dia ingin adiknya itu bermanja di lengannya.
"Baik. Kalau begitu kakak akan membantumu memindahkan koper. malam ini juga kamu tinggal di rumah kakak"
"Gak bisa besok aja?"
"Lebih baik sekarang. Kakak juga akan menyuruh beberapa orang untuk berjaga di rumah ini. Memastikan orang-orang suruhan pakdhe tidak kemari lagi"
Dhika menunggu Zanna membereskan pakaiannya dan mengeluarkan dua koper dari kamar.
"Udah" kata Zanna.
Dhika segera membawa adiknya pergi dan masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Kamu bisa tidur di kamarmu"
"Yang di depan kamar kak Dhika itu?"
"Iya"
"Gak ada kamar yang lebih kecil? Atau yang lebih jauh dari kamar kak Dhika?"
"Tidak ada"
Tidak tahu kenapa Zanna seakan tidak ingin berdekatan dengan Dhika. Padahal yang dia tahu Zanna telah melupakan rasa sukanya pada Dhika. Seharusnya baik mereka berdekatan-pun, itu tidak akan menjadi masalah. Kecuali ...
Dhika melihat ke arah adiknya dan menyadari rambut Zanna sedikit berantakan. Dia mengulurkan tangan dan berusaha merapiikannya. Tapi reaksi Zanna sungguh diluar dugaan. Adiknya itu menghindar dengan cepat lalu menampakkan wajah penuh kebencian.
"Ngapain sih?"
"Rambutmu ... berantakan"
"Ngomong aja gak usah pegang-pegang"
__ADS_1
Larangan Zanna diucapkan begitu lantang, seakan itu adalah bentuk pertahanan diri. Apa mungkin? Dhika mulai merasa dia memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan hati Zanna lagi. Karena kemungkinan besar, adiknya ini masih menyukainya. hanyai saja menahan diri agar tidak ketahuan olehnya.
"Hanya dipegang, tidak dicium" katanya berusaha memancing. Dan berhasil. Wajah Zanna memerah karena tersipu. Jelas sekali terlihat kalau adiknya itu masih menyukainya. Mungkin masalah yang dibuat oleh saudara ayahnya ini bukan merupakan kesialan. Tapi keberuntungan untuk Dhika. Tanpa sadar sudut bibirnya naik. Membuat senyum yang lama tak muncul itu kembali lagi.
"Ngomong kok sembarangan" ujar Zanna lalu mengangkat koper menuju tangga.
Dia dengan sengaja merebut koper dengan menyentuh tangan adiknya. Zanna kembali menunjukkan reaksi yang berlebihan. Membuat dia senang.
"Koper seberat ini tidak akan bisa diangkat oleh tangan kurus itu"
"Enak aja menghina. Aku juga kuat"
"Apa benar? Kuat apa?"
"Apa?"
Dhika melihat ke mata adiknya, berusaha menggoda dengan tatapannya. Tapi Zanna kembali membuang muka, berusaha untuk tidak melihatnya.
"Ayo cepat. Kakak yakin kamu juga belum makan"
Dhika meninggalkan Zanna sendirian di kamar. Berusaha memberi ruang untuk adiknya sebelum dia mulai menggoda lagi. Saat makan malam, mereka bertemu lagi. Kali ini Zanna memakai terusan berwarna biru selutut.
"Cantik" pujinya membuat Zanna kembali tersipu.
"Apaan sih?"
"Kenapa? Seorang kakak memuji adiknya apakah aneh?"
"Iya"
"Benarkah? Kalau begitu seorang adik mencium leher kakaknya tidak aneh? Hemph"
Belum selesai Dhika bicara, bibirnya telah ditutup oleh sebuah tangan. Zanna melihat ke kanan kiri seperti memastikan tidak ada orang yang mendengar perkataannya.
"Kak Dhika kalo ngomong bercanda terus. hahahahahaha. Mana makanannya?"
Tawa yang garing. tapi Dhika menyukainya.
"Di meja makan"
"Ayo makan!!"
Mereka makan bersama setelah sekian lama. Membuat Dhika bisa bertanya tentang kehidupan adiknya selama mereka tidak saling bertemu selama ini. Lalu saat malam semakin larut, dia mengikuti langkah adiknya ke kamar.
"Tidurlah dengan nyenyak. Kakak ada dekat denganmu" katanya lalu mengecup lembut dahi Zanna. Adiknya itu terlihat terkejut sebelum menjawab dengan terbata.
__ADS_1
"I ... iya"
Pintu kamar Zanna tertutup dengan cepat di depannya, membuat Dhika kembali tersenyum. Dia pikir hari-hari ke depan akan lebih menyenangkan dari sekarang