
"Sial!!" umpat Dhika di ruangannya.
"Wah, pagi-pagi sudah bilang sial. Apa yang terjadi?" tanya Ryan yang masuk ke dalam ruangannya.
"Bukan urusanmu"
"Ini sudah tiga hari kau terus marah. Tidak pagi, siang bahkan malam kau terus marah tanpa alasan. Pekerjaan kita terpengaruh dan kau bilang itu bukan urusanku?"
Dhika bukan marah karena masalah pekerjaan. Tapi karena urusan pribadi. Dan untuk yang ini dia tidak ingin membaginya kepada siapapun termasuk Ryan.
"Pekerjaan apa yang terganggu?" tanyanya lalu mencoba fokus pada pekerjaan.
Belum lima menit sebuah bayangan muncul di depannya. Seorang perempuan yang membuatnya kesal tiga hari ini sedang menggodanya dengan wajah kemerahan. Dhika membanting berkas yang ada di tangannya, membuat Ryan mengutuknya.
"Dasar gila!!! Kau kenapa?"
"Aku harus pergi"
"Pergi? Kemana?"
Dhika tidak bisa terus duduk di ruangannya. Dia juga tidak bisa mengawasi kafe dan perkebunannya. Apalagi bisnis lain yang sedang menunggu konsentrasinya. Semua ini karena satu perempuan itu. Dhika membawa mobil dan menunggu di depan rumah Zanna. Kali ini dia akan menunggu disini sampai adiknya itu pulang dari kerja. Sejak pulang diam-diam dari rumahnya hari Selasa lalu, Zanna begitu susah ditemui. Dhika sudah berusaha menghubungi dan datang ke rumah tapi adiknya itu tidak pernah membalas dan membuka pintu. Sama sekali.
Satu hari, dua hari dia berusaha sabar dan menunggu Zanna untuk menghubunginya. Tapi di hari ketiga Zanna sama sekali tidak menghubunginya, Dhika menjadi marah. Dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya ... belum sempat mengatakan kalau hubungannya dengan Desi sudah berakhir pada Zanna. Tapi bagaimana dia bisa menjelaskan kalau Zanna sama sekali tidak mau bicara dengannya? Kali ini dia tidak akan pulang sebelum bisa bicara dengan perempuan itu.
Tiga jam Dhika menunggu di dalam mobilnya. Ketika langit sudah benar-benar gelap, dia melihat sosok Zanna turun dari motor ojek online. Sebelum adiknya sadar akan kehadirannya, Dhika segera keluar dari mobil. Berlari ke arah adiknya yang masih sibuk berterima kasih pada sopir ojeknya.
"AAAAAAAAAAaaaaa" teriak Zanna ketika berbalik dan melihatnya.
"Kaget aku. Ngapain sih kak Dhika?" lanjut Zanna lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Dhika terus menempel dan tidak akan melepaskan adiknya kali ini.
"Kakak ingin bicara"
"Besok aku dinas ke Pasuruan, jadi ... lain kali aja"
Dhika tidak akan menerima penolakan. Jadi dia menunggu adiknya membuka pintu dan mendorong Zanna ke dalam rumah.
Setelah tiga hari tidak bertemu adiknya, Dhika berniat melepaskan rindunya. Dia memeluk tubuh adiknya dan menyesap semua keharuman tubuh Zanna yang membangkitkan hasratnya. Tak menunggu persetujuan, Dhika mengangkat dagu Zanna dan menghujani adiknya dengan ciuman.
"Tunggu ... "
Dhika tidak mengijinkan Zanna menolak dan tetap berkali-kali mencium adiknya. Tapi Zanna tidak menyerah dan berhasil mendorong tubuhnya.
"Kak Dhika ... aku gak mau seperti ini"
"Zanna, kakak ... "
__ADS_1
"Kiran gak mau ngerusak hubungan kak Dhika sama Bu Desi. Bu Desi gak boleh disakiti kayak gini"
"Zanna, tidak akan ada yang tersakiti karena ... "
"Gimana bisa kak Dhika bilang kayak gitu? Bu Desi berhak mendapatkan kebahagiaan yang lebih setelah apa yang dialaminya. Dia butuh kebahagiaan yang penuh dari kak Dhika. Bukan seperti ini"
Dhika bingung harus melakukan apa agar adiknya ini diam sejenak dan mendengarkan perkataannya.
"Zanna, hubunganku dan Desi sudah berakhir"
Akhirnya ... Dhika bisa mnegatakan apa yang ingin dia katakan sejak tiga hari yang lalu.
"Apa?? Kenapa? Kenapa kak Dhika mutusin Bu Desi? pasti gara-gara Kiran. Jangan. Jangan putusin Bu Desi. Kak Dhika harus balikan lagi. Harus. Makanya kita gak boleh ketemu lagi"
Dhika tidak tahu lagi harus bicara apa. Adiknya mempunyai daya imajinasi yang sangat kuat. Sampai tidak mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Demi masa depannya, Dhika berusaha menekan amarahnya. Dia memegang pundak Zanna dan menenangkan perempuan itu.
"Hubunganku dengan Desi sudah berakhir sejak lama sekali. Bukan karena kehadiranmu. Tapi karena kami tidak lagi memiliki perasaan yang sama seperti tujuh tahun lalu."
"Apa?"
"Bukan kakak yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan tapi Desi. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya denganmu" ucap Dhika lalu mengecup lembut hidung Zanna.
"Apa karena itu Bu Desi pindah ke Surabaya?" tanya Zanna.
Dhika menunggu Zanna mencerna semua yang baru saja didengarnya. Lalu Zanna menatapnya dengan wajah kemerahan yang sangat disukainya.
"Jadi kalian bener-bener udah ... "
"Selesai? Iya" tegas Dhika.
"Hubungan selama tujuh tahun itu bener-bener berakhir bukan karena aku terlalu agresif?"
Dhika tersenyum dan melepas pegangan tangannya di pundak Zanna. Dia membelai rambut adiknya dengan lembut dan merasa sangat bahagia.
"Kakak suka dengan tingkahmu yang sangat agresif itu"
Zanna memukul perutnya dan membuat Dhika sedikit batuk.
Sudah tiga hari Kiran berusaha mengindar dari kakaknya. Dan saat ternyata dia tidak bisa melarikan diri lagi, Kiran mendengar kenyataan yang ternyata membuatnya lega. Untung saja apa yang diperbuatnya tidak membuat Bu Desi tersakiti. Meski Bu Desi selalu kejam padanya, Kiran menganggap mantan atasannya itu adalah seorang perempuan yang hebat. Dapat bangkit setelah mengalami kejadian yang luar biasa buruk itu tidaklah mudah. Tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaan bahagianya setelah mendengar semuanya ini.
Kiran menatap wajah kakaknya yang tampan dan merasa bahagia sekali. Akhirnya dia bisa memegang rahang kuat itu dengan bebas.
"Tapi ... kok kak Dhika berubah pikiran?" tanyanya membuat alis kakaknya mengumpul.
__ADS_1
"Berubah pikiran?"
"Iya. Kak Dhika kan sempat bersikeras untuk tetep bersama Bu Desi meski apapun yang terjadi. Tapi kenapa sekarang berubah?"
Kak Dhika melingkarkan lengan di pinggang Kiran, membuat mereka tak terpisahkan.
"Karena mungkin kakak sebenarnya sudah menyukaimu terlebih dulu"
"Apa? Sejak kapan?"
"Mungkin sejak pertama bertemu denganmu? Tapi kakak belum tahu bedanya menyukaimu sebagai adik atau perempuan". Ternyata kak Dhika mengalami hal yang sama dengan Kiran. Dia tersenyum dan memeluk tubuh kokoh itu dan berusaha menikmati kehangatan yang terbentuk diantara mereka.
Lalu perutnya berbunyi, seakan ingin merusak momen yang manis itu.
"Kak"
"Kamu belum makan?"
"Iya" jawab Kiran dengan nada paling manis yang bisa dia buat.
"Kamu harus makan dulu"
Meski sebal karena adegan romantis itu berakhir. Kiran menuruti keinginan kakaknya. Dia makan malam dengan pemandangan wajah tampan di hadapannya. Dan juga sentuhan hangat di jari-jemarinya. Setelah makan, Kiran mandi dan bersiap untuk tidur.
"Ngapain kak Dhika disitu?" tanyanya saat menemukan kak Dhika sudah berbaring di atas kasurnya.
"Menemanimu tidur"
"Apa?"
Kiran memang suka dengan sentuhan yang dilakukan oleh kakaknya. Tapi dia belum siap untuk tahap yang seperti ini.
"Kakak hanya akan menemanimu tidur. Memeluk, mungkin menciummu sedikit tapi kita akan tidur malam ini. Kakak tidak bisa tidur nyenyak tiga hari ini karena memikirkanmu"
Memegang janji kakaknya, Kiran melangkah ke arah kasur. Dan ternyata benar. Mereka memang hanya tidur malam itu.
Matahari belum terbit saat Kiran mendengar sebuah pergerakan di dekatnya. Dia membuka mata dan melihat sebuah wajah yang dikenalinya.
"Bi Tia?"
Kiran bertanya-tanya apakah dia bermimpi tapi wajah lain yang juga dikenalinya muncul di hadapannya.
"Hai Kiran"
"Putri? Cia?"
__ADS_1
Kenapa tiga orang ini ada di dalam kamarnya? Kiran lalu teringat tentang rencana kepulangan Bibi, Putri dan Cia yang didengarnya beberapa hari lalu. Kiran segera bangun dan sadar telah tertangkap basah tidur di pelukan kakaknya.
"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi disini?" tanya Bi Tia dengan kedua tangan di pinggangnya bersamaan dengan kaka Dhika yang terbangun di sebelahnya. Kiran tidak tahu harus berkata apa sekarang di hadapan ketiga orang yang paling disayanginya ini.