
Dhika tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Atau dia lupa pernah merasa seperti ini pada Zanna? Dia tidak tahu. Tapi saat mendengar penjelasan adiknya yang mengajaknya berjalan sejauh ini hanya untuk menghubungi temannya, Dhika merasa kalau Zanna sangat manis. Manis sekali sampai dia ingin memeluk adiknya itu. Tapi dia tahu harus menahan diri. Makanya dia hanya membelai rambut adiknya yang ternyata sangat halus dan wangi itu.
"Apa kita pulang sekarang?" tanyanya pada Zanna.
"Mau makan nasi goreng gak?"
"Dimana?"
"Itu di pasar yang dulu sering ayah beli"
Dhika tentu saja mengangguk lalu mengambil tangan Zanna dan menggenggamnya erat.
"Ngapain?" tanya adiknya yang ingin melepaskan tangannya.
"Sudah, ayo jalan"
"Malu. kayak anak TK aja"
"Kamu masih seperti anak TK buat kakak"
"Enak aja"
"Ayo!"
Zanna menyerah dan Dhika bisa menggenggam tangan itu sampai kembali lagi ke rumah.
"Aku mau tidur" kata Zanna saat mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah.
"Iya., Kamu pasti lelah"
"Iya. Udah kenyang juga"
Sekali lagi Dhika merasa adiknya sangat manis dan kembali membelai lembut rambut Zanna.
"Selamat tidur"
"I... ya"
Dhika menunggu pintu kamar Zanna tertutup lalu mengembangkan senyum di wajahnya. Malam ini sangat menyenangkan untuknya. Dia juga ingin beristirahat lalu mendengar suara derap kaki seperti bergegas datang ke arahnya.
"Pak Radhika!" panggil penjaga rumah dengan suara yang ditahan agar tetap pelan.
"Ada apa?"
"Di bawah ada Bu Desi"
__ADS_1
Hanya dalam sedetik, wajah bahagia Dhika berubah menjadi tegang. Desi. Bagaimana bisa dia lupa dengan perempuan itu. Dia sudah berjanji untuk menghubungi Desi dua malam yang lalu dan sampai sekarang, dia melupakannya begitu saja. Dhika segera berlari ke bawah, tidak ingin membuat perempuan itu menunggu lebih lama lagi. Dia tidak tahu kalau sepasang mata sedang mengamati tingkah lakunya saat itu,
"Desi" sapanya saat melihat perempuan yang menunggunya dengan wajah kesal di ruang tamu.
"Dhikaaaa. Kamu jahat"
Dhika merasa bersalah sekali pada perempuan di hadapannya.
"Maafkan aku. Aku ... terlalu sibuk sampai lupa untuk menghubungimu"
"Bohong. Kamu pasti punya pacar ya?"
Perempuan di depannya membuat pose marah yang seperti biasanya. Dhika selalu menganggap pose Desi saat marah lucu sekali tapi sekarang tidak lagi. Tidak tahu kenapa dia merasa Desi agak berlebihan sekarang. Mengingat usianya yang hampir menyentuh angka tiga puluh.
"Tidak. Aku tidak memiliki kekasih. Aku ada pekerjaan di Surabaya pagi ini dan baru saja sampai di rumah"
"Kamu lupa hubungin aku hari Sabtu kemarin"
"Iya. Maafkan aku. Aku tertidur sebelum malam waktu itu"
Dhika sudah mengatakan maaf tiga kali dalam waktu lima menit sejak bertemu perempuan ini. tapi Desi seperti belum ingin memaafkannya.
"Kalo gitu ijinin aku nginep disini untuk malam ini"
Dhika selalu mengabulkan keinginan Desi tapi untuk kali ini sepertinya itu sulit dilakukan. Karena di rumah ini ada Zanna. baru saja mereka menghabiskan malam yang menyenangkan dan Dhika tidak ingin momen itu rusak karena kehadiran Desi di rumah ini.
"Apa?" teriak Desi
Dhika bisa melihat gurat kesal di wajah Desi. Meskipun merasa bersalah tapi dia tidak bisa mengabulkan keinginan perempuan itu kali ini.
"Besok pagi aku harus bangun pagi sekali dan tidak bisa mengantarmu. Bagaimana kalau lain kali saja. Malam ini aku akan mengantarmu pulang"
Meski seperti tidak mau meninggalkan rumah ini, Dhika menggiring Desi untuk segera keluar. Dia juga memastikan perempuan itu pulang dengan mengantarnya sendiri.Lalu naik ojek online untuk kembali lagi ke rumah.
"Sudah jam dua belas malam" katanya saat melihat jam di tangan. Dhika berniat pergi ke kamarnya lalu matanya terhenti pada pintu di sebelahnya. Dengan hati-hati dia menekan kenop dan pintu itu terbuka. Dia berjalan mendekati adiknya yang kelihatan sedang tidur dengan nyenyak. Untung saja Zanna tidak mendengar kedatangan Desi tadi. Dhika duduk tepat di ranjang, dekat wajah adiknya yang terlelap. Dia kembali membelai rambut Zanna dengan lembut. Dengan kesadaran penuh, dia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Zanna. Tercium wangi manis yang membuatnya mengulangi perbuatannya, dua dan tiga kali lagi. Dia terpaksa menarik diri karena tubuh Zanna mulai menggeliat. Tidak ingin mengganggu tidur adiknya, Dhika memilih untuk keluar dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Hatinya terasa penuh dan hangat. Sungguh perasaan yang menyenangkan untuk tidur malam ini.
Baru kali ini Dhika bangun dengan tubuh yang segar. Dia sudah siap untuk mengantar adiknya pergi ke kantor. Tapi ternyata dia terlambat.
"Mba Zanna tadi berangkat pagi sekali Pak"
"Apa dia sudah sarapan?"
"Belum Pak. Gak keburu katanya"
Dhika kesal. Kenapa adiknya itu tidak memakan sarapannya hanya karena harus berangkat pagi. Atau setidaknya Zanna bisa mengatakan padanya kemarin malam. Agar dia bisa bangun lebih pagi lagi.
__ADS_1
"Kenapa? Kelihatannya pagi ini kau tidak merasa senang seperti kemarin" komentar Ryan yang datang ke rumah.
"Zanna pergi tanpa pamit pagi ini"
"Apa? Hahaha"
Tidak mengerti kesal hatinya, Ryan malah tertawa mendengar keluh kesahnya.
"Aku akan pergi ke kebun hari ini. Lebih baik kau mengurus cafe"
"Tunggu. Kau marah karena Zanna, kenapa dilampiaskan padaku? hari ini kita harus membicarakan pembangunan cafe di Surabaya"
"Tunda sampai besok"
"Tapi ... "
Dhika tidak ingin mendengar lagi kata-kata yang keluar dari mulut temannya dan berangkat ke kebun. Memeriksa perkembangan seperti yang selalu dia lakukan setiap minggunya.
Desi merasa hari ini lebih baik daripada kemarin. Meskipun dia tidak bisa menginap di rumah Dhika tapi laki-laki itu mengantarnya pulang. Dasn menjanjikan akan mengajaknya keluar sore ini. Untuk membeli tas yang beberapa bulan ini diinginkannya.
"Ada apa?" tanya Desi melihat anak baru itu berdiri tepat di depan mejanya.
"Ini revisi laporan yang Ibu minta tadi"
"Yah, letakkan saja disitu"
Ada lagi kabar yang membuatnya senang hari ini. Akhirnya, anak baru ini akan segera ditempatkan di bagian Tanaman Pangan. Dibawah bimbingan Pak Wahyu yang meskipun masih single tapi sulit didekati itu. Yang terpenting bukan lagi menjadi bagian dari tanggung jawabnya lagi. Lalu dia mendongak dan masih melihat anak baru itu tetap di tempatnya berdiri tadi.
"Apa?" tanyanya lagi mulai kesal.
"Apa Bu Desi punya pacar?"
"Apa??"
Berani sekali anak baru ini bertanya hal pribadi seperti itu padanya. Desi meletakkan ponselnya lalu berdiri, berusaha memberikan tatapan yang mendominasi. tapi anak baru itu tidak merasa terintimidasi dan bertanya lagi padanya.
"Ibu kayaknya punya pacar yang kaya ya?"
Apa? Kenapa anak baru ini bisa bertanya seperti itu? Apa anak baru ini pernah melihat Dhika mengantar atau menjemputnya dari kantor? Tapi dalam dua minggu ini Dhika hanya menjemputnya satu kali saja. Mengingat hal itu membuatnya semakin kesal saja.
"Emangnya kenapa? Kamu iri ya? Pacarku itu kaya banget tau gak. Rumahnya banyak dan mobilnya mewah. Kamu gak bakal bisa dapetin cowok sebaik pacarku. Gak usah mimpi yang tinggi, nanti jatuhnya sakit" tanya balik Desi, mengejek anak baru yang kelihatannya belum punya pacar itu.
"Saya cuma tanya aja kok" jawab anak baru itu lalu kembali ke tempat duduknya dan bekerja lagi.
"Dihhh gak jelas"
__ADS_1
Hampir saja emosi Desi tersulut dengan tingkah laku tidak jelas anak baru itu. Tapi dia ingat dengan janji Dhika dan kembali merasa senang.