Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 54


__ADS_3

"Kok kamu diem aja? Apa kau tahu tadi itu bahaya banget? Kamu gak apa-apa Dhika?"


Kiran masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia masih kaku berdiri di tempatnya sedangkan Bu Desi menyentuh punggung kak Dhika yang terkena tumpukan karung sekam.


"Gak apa-apa" kata kak Dhika mencoba menghentikan histeria pacarnya.


"Tapi Dhika. Anak ini emang ya ... . Kiran kamu tahu gak hampir aja celaka kalo gak ditarik sama Dhika tadi?"


Kiran mengedipkan mata beberapa kali lalu berusaha melihat keadaaannya sendiri. Dia menengok ke arah motor dengan sekam yang melewatinya dan merasa tidak melakukan kesalahan apapun sampai harus diteriaki dan dicerca sampai seperti ini.


"Tapi itu tadi cuma karung sekam Bu. Kalo tersenggol keras juga cuma jatuh ke samping. Gak berbahaya" bela Kiran untuk dirinya sendiri.


"Apa?!"


"Pak Radhika gak perlu ngapa-ngapain, saya juga gak bakal celaka"


Kak Dhika dan Bu Desi kini menatapnya dengan tajam.


"Kamu tuh ya ... udah bikin Dhika celaka tapi... " ucap Bu Desi lalu ingin mendekati Kiran tapi ditahan oleh kak Dhika.


"Sudah. Benar memang. Harusnya aku tidak melakukan apa-apa tadi"


"Tapi punggung kamu Dhika"


Kiran membalikkan badannya, tidak ingin melihat adegan drama romantis yang sedang terjadi di depannya. Harusnya dia tahu kalau hal ini akan terjadi dan menolak dengan keras perintah tugas ini. Apa daya pak Wahyu yang memerintahkannya. Membuat Kiran tidak bisa mengelak. Uangnya juga lumayan untuk ditabung.


"Aku perhatikan kamu ... sepertinya tidak suka berada disini. Apa itu karena aku?" tanya kak Dhika mengejutkan Kiran. Dia tidak menyangka kak Dhika akan bertanya seperti itu.


"Saya? Tidak. Biasa saja. Saya tidak pernah berpikir ... "


"Tapi kamu selalu memiliki mimik wajah itu. Seperti terpaksa untuk berada disini"


"Apa? Tidak"


"Atau kamu tidak suka dengan adanya Desi disini?"


Bagaimana bisa orang itu menuduh Kiran seperti ini? Bu Desi sekarang juga hanya bisa melihat ke arahnya dengan rasa ingin tahu.


"Tidak. Saya diberi tugas oleh pak Wahyu dan Bu Desi ... "


"Desi selalu ingin ikut karena aku pemilik perkebunannya. Apa itu mengganggumu?"


Ahhh. Kiran tidak tahu lagi harus menjawab apa kalau ditanya secara langsung seperti ini. Bukankah Kiran tidak melakukan kesalahan apapun selama dua bulan ini? Mereka tidak pernah bertemu dan juga Kiran selalu menjawab pesan kakaknya. Meskipun dengan jawaban yang sangat singkat. Selain itu sepertinya tidak pernah ada masalah sama sekali. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi seperti ini?

__ADS_1


"Tidak. Saya tidak terganggu. Kenapa ... "


"Apa kamu menyukaiku?" tanya kak Dhika seperti petir menggelegar di langit biru perkebunan.


Kiran terdiam sejenak, dan hal itu memperparah keadaan. Bu Desi kini menampakkan wajah kesal kepadanya.


"Apa? Kamu suka sama Dhika? Apa benar?" tanya Bu Desi memperparah keadaan.


Sial, pikir Kiran. Apa sebenarnya yang ada dalam kepala kak Dhika sampai bisa melakukan semua ini? Kiran menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri tidak boleh terbawa emosi sekarang.


"Saya hanya bicara sesuai dengan keadaan. Tidak bermaksud apa-apa" jawabnya.


"Tapi kamu selalu tidak suka dengan kami. Selalu berusaha mengganggu kebersamaanku dan Desi" kata kak Dhika lagi.


Kenapa orang itu jadi banyak bicara sih?


"Saya minta maaf kalau pak Radhika merasa seperti itu. Tapi saya sama sekali tidak memiliki maksud apapun" ujar Kiran membela diri.


"Kamu masuk mobil aja sekarang! Maaf ya Dhika tapi mending kita pulang aja ke kantor" ucap Bu Desi menghentikan aksi menuduh kak Dhika. Kiran senang sekali mantan atasannya itu bisa berpikir jernih dalam keadaan seperti ini. Kiran segera berlari masuk ke dalam mobil dan tidak menoleh lagi ke belakang. Beberapa waktu kemudian Bu Desi masuk ke dalam mobil dan kembali menuju kantor.


Apa benar kamu suka sama Dhika?


Beraninya kamu?


Ternyata selama ini kamu suka sama pacarku?????


"Apa besok aku tiba-tiba dipindah?" katanya lalu melihat ke arah pak Wahyu dengan wajah memelas.


"Kenapa kamu?"


"Saya bakal dipindah gak Pak?"


"Kenapa dipindah?"


Tunggu! Bu Desi ternyata tidak melakukan apapun. Pak Wahyu tidak tahu menahu tentang yang baru saja terjadi di perkebunan. berarti posisinya di kantor ini aman. Kiran tersenyum, berpura-pura bodoh di depan atasannya.


"Gak Pak. Saya pikir ada rotasi jabatan minggu kemarin"


"Ohh itu. Kamu masih staff, jadi tidak ikut dirotasi"


"Memangnya ada yang dipindah Pak?"


"Ada. Tiga orang, termasuk Desi"

__ADS_1


"Apa?"


"Iya. Tapi ini permintaan pribadi. jadi mulai Bulan Desember nanti, Desi akan dipindah ke Pemkot Surabaya"


"Pemkot Surabaya? Kenapa?"


"Alasannya aku juga tidak tahu. Tapi Desi memang asalnya dari Surabaya"


Kiran masih bertanya-tanya tentang rencana kepindahan Bu Desi ke Pemkot Surabaya. Apa ini berhubungan dengan kak Dhika? Apa mungkin mereka menuju ke jenjang yang lebih serius dan berencana akan menetap di Surabaya? Sesuai dengan asal Bu Desi? jadi kak Dhika gak akan ada di Malang lagi? Tapi ... ini mungkin untuk yang terbaik. Sudah waktunya kak Dhika menikah dan memikirkan memiliki anak.Juga ... akhirnya orang itu tidak akan mengganggunya lagi seperti di perkebunan tadi. Tapi ... siapa yang akan menjaga perkebunan nanti? Apa kak Dhika PP dari Surabaya ke Malang setiap minggu? Kenapa dia juga memikirkan itu? Semua itu tidak ada urusannya dengan Kiran.


"Udah sampe Mba" kata sopir ojek menyadarkannya. Ternyata sudah sampai di depan rumah dan dari tadi Kiran tidak turun-turun dari motor. Menahan malu, dia menyerahkan helm kepada sopir ojek lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Baru pulang?" tanya kak Dhika hampir mengagetkannya. Dia tidak tahu orang itu menunggu di teras.


"Ada apa lagi kesini?"


"Kakak ... minta maaf sudah keterlaluan di perkebunan tadi"


Kiran melihat wajah tampan itu lagi. Tapi kali ini menunduk dan tidak memancarkan aura segar seperti di perkebunan. Dia tidak suka kak Dhika yang seperti ini.


"Untung deh kalo sadar" jawabnya sinis lalu berjalan ke arah pintu.


"Kamu tadi menghadapi kakak dengan tenang, apa itu artinya kamu sudah tidak punya perasaan pada kakak?"


Pertanyaan kak Dhika menghentikan tangan Kiran yang sedang memutar kunci.


Dengan menoleh, dia berkata dengan sangat tenang.


"Iya. Kiran udah bilang kalo perasaan itu paling hanya ada untuk sementara. Sekarang udah hilang gitu aja"


Kak Dhika tidak tampak terkejut dengan jawaban Kiran. tentu saja, karena kak Dhika tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.


"Kalau begitu bisa kamu balas pesan kakak dengan jwaban yang agak panjang?"


"Oh, jadi kak Dhika marah gara-gara itu?"


"Marah? Emm iya"


"Oke"


"Apa kakak juga bisa datang kesini dan ajak kamu keluar sesekali? Seperti sebelum kamu ... "


"Oh boleh. Tapi gak sekarang, aku capek banget"

__ADS_1


"Baiklah. Kakak pulang dulu sekarang. Kamu istirahat saja sekarang"


Kiran melihat kak Dhika menjauh dari rumahnya. Sungguh sulit berbohong seperti ini dan dia akan menemui orang itu lalu bersikap seperti dulu lagi? Betapa sulitnya bagi Kiran. Tapi itu harus dilakukannya, kalau tidak mau kak Dhika tahu bahwa perasaan itu sebenarnya masih ada. Bahkan semakin kuat saat dia berusaha melupakannya.


__ADS_2