Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 42


__ADS_3

Raut wajah senang Ryan saat transaksi jual beli perkebunan di Lembang, membuat Dhika kesal. Apalagi saat dia mendapat informasi kalau Ryan mengantar Zanna ke stasiun kemarin. Untuk pergi ke Jakarta, menghadiri wisuda sahabatnya. Kurang lebih sebulan Dhika sama sekali tidak bertemu dengan adiknya. Dia tidak tahu harus bicara apa saat melihat Zanna. Alhasil, dia hanya bisa memandang Zanna saat berangkat kerja dari kejauhan. Hari demi hari dilaluinya seperti biasa. Seperti saat Zanna belum pindah ke Malang. Lalu dia mulai sadar kalau hidupnya terasa ... sepi.


Dia membutuhkan seseorang didekatnya. Bukan Desi yang seenaknya datang dan pergi saat membutuhkannya. Tapi seseorang yang tidak akan pergi meskipun dia sudah menyakitinya sedemikian rupa. Zanna ... hanya adiknya itu yang tetap berada disana. Di rumah yang berjarak kurang lebih sepuluh meter darinya. Tapi bagaimana caranya kembali mendekati Zanna?


"Semua sudah selesai, kita akan kembali ke Malang sore ini" kata Ryan tetap dengan senyum di wajahnya.


"Aku tidak pulang" jawab Dhika.


"Apa? Kenapa?"


"Aku akan pergi ke Jakarta"


"Untuk apa?"


"Apa aku harus melaporkan semua kegiatan dan keinginanku?" Dhika bangkit dari duduknya dan melihat perkebunan luas yang ada di hadapannya.


"Aku tidak ingin kau mengganggu liburan Zanna. Dia senang sekali dengan liburannya kali ini"


Dhika tersenyum sinis. Temannya ini konyol sekali. Merasa sudah dekat dengan Zanna meskipun baru kenal kurang dari dua bulan.


"Aku tidak akan mengganggu Zanna. Aku ingin membeli sesuatu untuk ... Desi"


Terpaksa dia berbohong. Dia tidak ingin temannya itu bersikeras melarangnya pergi.


"Apa lagi yang diminta wanita gila itu?"


"Jaga mulutmu!|"


"Aku heran denganmu. Jelas sekali Desi hanya memanfaatkanmu. Tapi kau tetap membelanya. Sampai harus berjauhan dengan adikmu sendiri. Sadarlah Dhika"


"Jangan bicara lagi. Aku akan pergi ke Jakarta dan kau pulang saja"


Dhika pergi dengan mobil sewanya selama di Bandung. Lengkap dengan sopir karena dia tidak tahu jalanan di kota kembang ini.


"Ke Jakarta!" perintahnya kepada sopir itu.

__ADS_1


"Hotel mana Pak?"


Dhika mendesah. Biasanya yang mengurus masalah hotel adalah Ryan. kali ini dia harus mengurus semuanya sendiri.


"Nanti saya beritahu. Sekarang jalan saja dulu ke Jakarta"


"Baik Pak"


Akhirnya Dhika memesan sebuah kamar hotel melalui aplikasi yang tidak pernah dia gunakan selama ini. Dia juga memperpanjang sewa mobil sekalian dengan supirnya. Ternyata tidak sesulit yang dipikirkannya. Sampai di Jakarta, Dhika tidak pergi ke hotel. Dia memutuskan untuk datang ke sebuah rumah kecil di dalam sebuah gang. Ini bukan pertama kalinya dia ada di teras rumah ini. Dulu ... sekitar lima tahun lalu dia pernah kesini tapi langsung diusir oleh empunya rumah. Kali ini dia ragu mengetuk p[intu. Takut kejadian yang sama akan terulang kembali. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya. Dhika melihat seorang perempuan dengan rambut tergelung rapi dengan wajah yang sangat cantik sedang menariknya menjauh dari rumah itu.


Zanna. Kenapa kelihatan berbeda sekali?


Dhika tidak pernah melihat adiknya yang seperti ini. Wajah dengan make-up, rambut rapi dan baju ... yang pendek sekali. Kenapa adiknya memakai pakaian seperti ini? Lalu dia ingat cerita Ryan tentang Zanna yang menghadiri wisuda sahabatnya.


Merasa ada beberapa orang sedang melihat ke arah Zanna, Dhika geram. Dia segera meminta adiknya itu untuk masuk ke dalam mobil. Menyelamatkan tubuh adiknya dari mata laki-laki yang tidak benar. Mereka sampai di hotel dan Dhika belum berani menatap wajah adiknya. Dia ... malu.


Malu mengakui bahwa dia salah telah menghina Zanna hanya untuk mendukung cerita Desi. Adiknya tidak menjawab lama sekali. Membuatnya yakin kalau Zanna tidak akan pernah memafkannya kali ini. Disaat dia sudah pasrah, tiba-tiba Zanna memegang rambutnya. Tangan lentik itu menyusuri kepala Dhika dan membuatnya merasakan kehangatan yang berbeda dari yang sebelumnya dia rasakan saat berdekatan dengan adiknya ini. Dia tidak bisa tinggal diam. Dhika segera memeluk Zanna, berharap mendapatkan kehangatan yang lebih banyak dari Zanna. Lalu dia menyadari bahwa posisi mereka sekarang tidak begitu normal untuk ukuran saudara.


Dhika ingin mengangkat tubuh Zanna yang terlanjur berada di pangkuannya tapi segera dibatalkannya. Tiba-tiba saja lutut, kaki, tangan dan seluruh tubuhnya terasa lemah. Karena sentuhan kecil yang sedang dilakukan oleh Zanna.


Saat sentuhan itu berubah, badannya seakan memiliki kekuatan lagi. Di telinganya terdengar suara kecupan-kecupan kecil yang dilakukan oleh Zanna.


'Ini juga enak' pikirnya lagi.


Lalu sebuah tangan bergerak menyentuh dadanya, membuat Dhika tidak bisa berpikir lagi. Dia hanya diam dan menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh Zanna. Bahkan dia mulai berharap Zanna tidak akan menghentikan yang sedang dilakukannya.Kemudian secara  tiba-tiba semua itu berhenti begitu saja. Zanna bangun dari pangkuannya, mengambil tas dan pergi keluar kamar secepat kilat.


Butuh beberapa waktu bagi Dhika untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia tetap duduk di tempatnya dan mulai memegang leher yang tadi disentuh oleh adiknya.


Harusnya dia mendorong Zanna tadi. Harusnya dia tidak membiarkan semua itu terjadi. Tapi ... kenapa dia tidak bisa menolak sentuhan Zanna? Kenapa dia diam saja dan menikmati semuanya. Tapi ... kenapa Zanna melakukan itu? Kenapa Zanna mencium dan menyentuhnya? Padahal mereka adalah ... saudara.


Merasa membutuhkan penjelasan, Dhika segera mengirim pesan pada Zanna. Dia ingin bertemu dengan adiknya. Dia akan bertanya kenapa Znana melakukan semua itu. Lalu baru dia bisa berpikir langkah selanjutnya.


Tapi Zanna tidak membalas pesannya sampai sore tiba. Bahkan saat malam Dhika masih menunggu dan tidak menerima balasan pesan apapun. Dia geram. Dia segera keluar dari kamar hotel dan berniat pergi ke rumah Zanna. lalu langkahnya terhenti saat teringat kalau di rumah itu juga ada Bi Tia. Adik ibu tirinya itu tidak boleh tahu tentang kejadian ini. Merasa tidak bisa melakukan apa-apa, Dhika memutuskan untuk pergi ke sebuah mall untuk meringankan beban pikirannya. Dan seperti dewa keberuntungan berada di pihaknya. Dia melihat Zanna. Berdiri di depan bioskop dan tertawa dengan dua perempuan lain yang disimpulkan Dhika sebagai sahabat adiknya.


"Zanna" sapanya membuat mata berwarna hitam itu membesar. Pasti Zanna tidak menduga akan bertemu dengannya.

__ADS_1


"Siapa ini Ran?" tanya salah satu temannya yang lebih berisi.


"Ini ... " Zanna juga seperti kehilangan kata-kata. Diam-diam dia senang melihat adiknya salah tingkah seperti sekarang.


"Saya Radhika. Kakak Zanna" jawabnya dengan memberi penekanan penuh pada kata kakak.


"Wahhh. Ternyata ini kakak tiri Kiran. Cakep banget"


Dhika tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dipuji oleh teman adiknya. Dia tersenyum dan menjabat tangan kedua sahabat Zanna. Tanpa melepaskan pandangan ke adiknya yang semakin salah tingkah.


"Kalian mau nonton?" tanyanya berusaha ramah.


"Iya. Apa kakak mau nonton juga?"


Untunglah Zanna memiliki teman yang suka bicara.


"Kalau boleh, apa kita bisa nonton sama-sama? Saya yang akan bayar semua"


"Kita bisa bayar sendiri kok"


Dhika agak terkejut mendengar reaksi penolakan yang lugas dari satu teman Zanna yang lain. Sahabatnya yang ini kurus dan tinggi, memiliki wajah seorang pengusaha.


"Baiklah. Tapi kita bisa tetap menonton film bersama?"


"Iya. Bisa. Kakak mau nonton apa?"


"Apapun yang kalian mau lihat"


Akhirnya Dhika masuk ke dalam bioskop bersama Zanna dan dua sahabatnya. Dia juga duduk tepat di samping adiknya yang dari tadi sama sekali tidak bicara satu kali-pun. Sampai film selesai dan mereka makan bersama, Zanna masih tidak mau bicara. Hanya dua sahabat Zanna yang selalu bertanya seperti sedang menginterogasinya. Tapi dia menjawab semua pertanyaan sahabat Zanna dengan baik. Dia ingin memberikan kesan sebagai kakak yang baik pada dua orang paling terdekat dengan adiknya itu.


"Sayang sekali kita harus pulang" kata teman Zanna yang akhirnya Dhika tahu namanya. Cia, suka sekali berbicara dan memuji dirinya. Sedangkan yang satunya adalah Putri, pengusaha yang sedang merintis penjualan baju online.


"Kalau kalian mau, silahkan datang ke Malang. Nanti kakak akan mengajak kalian berkeliling"


"Gak sekarang" jawab Putri tegas lalu memaksa Cia untuk pergi meninggalkan dirinya dan Zanna sendiri. Awalnya Dhika hanya diam dan menunggu adiknya untuk bicara, tapi Zanna hanya bernapas saja dari tadi. Tidak memiliki keinginan untuk berkata apapun padanya.

__ADS_1


"Nah, kita sudah sendiri. Mari kita bicarakan apa yang kau lakukan tadi" katanya kembali membuat mata Zanna melebar.


__ADS_2