Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 41


__ADS_3

"Kamu nyampe di Senen jam setengah dua malem?" tanya Cia penuh semangat.


"Iya, ini masih di Bekasi, berhenti gak lama kok" jawab Kiran berusaha mengecilkan suaranya. Takut penumpang yang sedang tidur di sebelahnya terbangun.


"Aku nunggu di luar ya sama Putri. Pokoknya kalo kamu udah keluar dari kereta kasih tau kita"


"Iya"


Kiran menutup teleponnya, dan tersenyum. Akhirnya ... dia bsa pergi ke Jakarta juga. Meskipun hanya untuk tiga hari dua malam, dia sangat bersyukur. Apalagi bisa bertemu dengan Cia, Putri dan tentu saja, Bi Tia. Sudah tidak sabar rasanya hati Kiran melepas rindu kepada semuanya. Juga pada kota yang menjadi saksi tumbuh dewasanya itu.


Ponselnya berbunyi, tanda ada pesan masuk. Kiran membukanya dan melihat nama Pak Ryan di layar.


"Apa kamu sudah sampai? Kalo sudah, tolong wa aku"


"Iya"


Kiran mendesah pelan. Sudah lebih dari sebulan dia tidak pernah melihat batang hidung kak Dhika lagi. Sejak pertengkaran mereka waktu itu. Mau bagaimana lagi, kak Dhika sudah sangat keterlaluan. Lebih mempercayai pacarnya daripada kenyataan yang terjadi. Kiran benar-benar kecewa dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi di sisi lain, dia juga bersyukur. Karena kejadian itu, perasaan yang tumbuh dalam hatinya untuk kak Dhika langsung surut. Dia juga mendapatkan teman baru yang setidaknya bisa diandalkan untuk keadaan darurat. Pak Ryan. Walaupun hubungan laki-laki itu dekat dengan kak DHika tapi Pak Ryan dapat dengan mudah memilah mana hubungan kerja dan pertemanan. Sehingga Kiran merasa nyaman untuk meminta bantuan bila sedang membutuhkannya. Seperti saat berangkat ke stasiun tadi. Barang bawaannya terlalu banyak untuk diantar ojek online. Jadilah Pak Ryan mengantarnya, sekaligus membantunya mencari potter untuk membawa semua barang-barang itu.


Tak lama sebuah pengumuman berbunyi. Kereta telah sampai di Stasiun Jatibarang. Banyak penumpang dengan tujuan akhir stasiun Pasar Senen bersiap untuk turun, termasuk Kiran. Dia mulai memperhitungkan cara membawa dua koper dan satu kardus. Sepertinya akan susah, tapi dia tetap harus membawanya sendiri. Atau dia akan menunggu jasa potter masuk ke dalam kereta saat di Senen nanti.


"Kiraaaaaannn!!!" seru Cia lalu berlari memeluknya.


"Cia, aku kangen" jawabnya membalas pelukan sahabatnya. Sedangkan Putri mengurus barang-barangnya yang diangkat oleh potter. Baru mereka berpelukan bertiga dan melepas kerinduan selama empat bulan tak bertemu.


"Gimana kabarmu? Apa sakitmu gak kambuh lagi?" tanya Putri.


Kiran sungguh senang dikhawatirkan oleh orang lain seperti ini. Tidak seperti saat dia tinggal sendiri di malang.


"Baik. Sakit lambungku aman. Dan gimana kabar kalian? Aku pengen banget dengerin apa yang terjadi di Jakarta ini. Kangen banget"


Kiran semakin mempererat pelukannya. Seakan tidak ingin berpisah dengan kedua sahabatnya.


"Ayo kita ke rumah. Pasti kamu capek banget" ajak Putri dan Kiran menurut saja.


Kiran sampai di rumah Cia dan masuk ke dalam kamar. Tergantung kebaya di salah satu dindingnya. Akhirnya, mereka bertiga telah lulus kuliah semua. Walaupun berat ternyata Kiran dan dua sahabatnya bisa sampai pada titik ini sekarang.


"Jadi ... gak ada cerita lagi tentang kakak kamu?" tanya Cia setelah Kiran mandi.


"Gak ada" jawabnya kesal kalau ditanya tentang orang itu.


"Aku gak habis pikir. Kenapa juga kakak kamu lebih percaya sama pacar daripada adiknya sendiri"

__ADS_1


"Tapi kakak aku juga gitu tau. Lebih percaya sama istri daripada keluarganya. Sebel banget deh kalo liat kakak aku ngebela istrinya mulu"


"Makanya aku gak mau cari cowok dulu sbelum adik-adik aku lulus semua"


"Yeee, itu lo aja sendiri yang jomblonya keterlaluan"


"Sialan lu Ci. Tapi bener sih. Mending jomblo daripada nyakitin hati keluarga"


"Bener juga sih"


"Hahahaha"


Sungguh menyenangkan, pikir KIran. Dia merasa sangat nyaman dan hangat sekarang. Inilah yang dia perlukan saat ini, berada di tengah-tengah orang-orang yang tulus menyayanginya.


Selesai menghadiri wisuda Cia, Putri mengantar Kiran ke rumahnya. Saat bertemu Bi Tia, Kiran tidak perlu berkata apa-apa lagi. Dia hanya memeluk adik ibunya itu dan menumpahkan semua perasaannya melalui air mata. Dia merindukan sosok yang mirip sekali dengan ibunya itu.


"Jadi kamu udah ketemu sama Dhika?" tanya bibinya.


Kiran hanya mengangguk untuk menjawab.


"Bibi gak apa-apa kalo kamu ketemu sama anak itu. Bibi cuma khawatir kalo anak itu bakal nyakitin kamu lagi kayak dulu. Jangan terlalu dekat sama dia lagi. Toh kalian bukan lagi saudara kayak dulu"


"Ada makanan di meja. Kamu mau makan ato tidur dulu, terserah kamu. Besok Paman sama Bibi ajak kamu makan diluar"


"Bener?? Senengnya"


Kiran tersenyum lebar. Sudah lama dia tidak merasa sebahagia ini.


Hari keduanya di Jakarta, dihabiskan Kiran dengan berjalan-jalan. Dia pergi makan dengan Paman dan Bibinya. Lalu siang hari, dia bertemu kedua sahabatnya dan makan lagi.


"Jangan lupa malem nanti kita bakal nonton midnight" kata Cia bersemangat saat mengantar Kiran pulang.


"Oke. Tapi jemput ya"


"Pasti dong"


Kiran benar-benar senang  hari ini, sampai melihat seseorang berdiri di depan rumahnya.


'Mau apa orang itu kesini?' pikirnya lalu berjalan cepat ke arah rumah.


"Mau apa kesini?" tanyanya dengan suara pelan. Takut Bi Tia keluar dari rumah. Orang itu hanya menoleh dan memandangnya dalam diam. Kiran segera menarik orang itu pergi dari teras rumahnya. Mereka keluar dari gang dan sampai di jalan besar.

__ADS_1


"Ngapain kak Dhika kesini?" tanya Kiran lagi.


"Aku ... kenapa kamu memakai baju seperti ini untuk keluar? Apa pahamu tidak kedinginan?"


Kiran heran, setelah sebulan lebih mereka tidak bertemu. Kak DHika tetap saja mengomentari bajunya.


"Mending kak Dhika pergi aja sekarang. Ngapain juga datang kesini? kalo Bi Tia liat gimana?"


"Aku cuma datang ingin melihat bagaimana kehidupanmu di Jakarta yang sebenarnya"


"Apa?"


Takut kalau Bi Tia ada di sekitar rumah, Kiran menarik kakaknya pergi. Dan ternyata dia mengikuti kak DHika sampai di kamar hotel. Tempat kakaknya menginap selama berada di Jakarta. Kamar hotel yang sangat bagus sampai Kiran tidak berhenti menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Berusaha mengingat semua kemewahan yang mungkin tidak akan pernah dia lihat lagi. Lalu dia merasakan sapuan sebuah kain yang halus di atas pahanya. Ternyata kak Dhika melepas jaket untuk menutup pahanya yang terbuka saat duduk.


"Kakak ... minta maaf"


Kiran menaikkan alisnya, terkejut dengan apa yang didengarnya barusan.


"Kakak sudah bicara seenaknya waktu itu. Menyakiti hatimu dan ... menilai kelakuanmu hanya karena perkataan Desi"


Mendengar nama itu disebut lagi, Kiran tiba-tiba merasa sedih.


"Gak apa-apa" jawabnya.


"Kakak ... gak pernah tahu kehidupanmu di Jakarta selama ini. Maafin kakak gak pernah ada di saat-saat itu untuk bantu kamu"


Sungguh menyedihkan, melihat kak Dhika yang berbadan besar, memiliki kedudukan tinggi di Malang sedang menunduk di hadapannya. Kiran sudah tidak marah lagi karena kak Dhika lebih mempercayai kekasihnya. Dia malah sudah melupakan semua yang terjadi saat itu.


Perlahan Kiran mendatangi kakaknya. Membelai rambut hitam tebal yang sedikit lembab itu dan memandang wajah kakaknya dari jarak dekat.


"Jangan menunduk. Kak Dhika gak perlu minta maaf lagi" katanya lembut lalu kak Dhika menarik tubuhnya. Membuat dia berada di posisi yang aneh.


Kiran duduk tepat di pangkuan kakaknya. Lalu kak Dhika memeluknya erat sekali seakan tidak akan melepasnya lagi. Dada Kiran berdebar, perasaan yang dikiranya sudah hilang itu kembali muncul ke permukaan.


Dia ingin mendorong kakaknya menjauh lalu melihat leher orang ini yang ada di depan matanya. Leher yang begitu kuat dan harum. Kiran tidak tahu apa yang merasuki dirinya. Dia mendekat dan menempelkan hidungnya ke leher kakaknya. Mencium bau parfum segar dan merasa tidak ingin melepaskannya. Dia menggesek-gesekkan hidungnya ke kulit harum itu lalu kemudian memberikan kecupan-kecupan kecil disana. Tidak merasakan penolakan, tangan kiri Kiran segera menggila. Dia kini bisa merasakan dada keras dan juga perut berlapis kak Dhika di tangannya.


'Sungguh luar biasa' pikir Kiran,  tidak menghentikan sentuhannya di tubuh orang itu.


Dia merasa hilang kendali lalu melihat mata kak Dhika yang sedang menatapnya. Seketika itu juga Kiran sadar telah melakukan sesuatu yang hina. Dia segera bangkit dari pangkuan kakaknya, mengambil tas dan berlari keluar dari kamar hotel mewah itu.


"Apa yang sudah aku lakuin tadi?" katanya sambil terus berlari meninggalkan hotel..

__ADS_1


__ADS_2