Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 43


__ADS_3

Bagaimana ini? Apa yang harus Kiran lakukan setelah ini?


Tunggu, kenapa juga dia bingung memikirkan ini?


Asalkan mereka tidak bertemu lagi, maka semuanya akan baik-baik saja.


Seperti sebulan kemarin. Mereka tidak pernah bertemu sama sekali selama satu bulan lebih.


Jadi ... semuanya akan baik-baik saja.


Pikir Kiran saat pulang dari hotel tempat kakaknya menginap.


"Lagian aku ngapain tadi?" ratapnya di ojek online yang mengantar sampai ke rumah.


Berpura-pura tidak ada yang terjadi, akhirnya Kiran bisa sedikit melupakan apa yang baru saja terjadi. Apalagi kedatangan Cia dan Putri menjemputnya untuk nonton, sedikit banyak membuatnya lupa. Lalu seperti langit cerah yang tiba-tiba hujan. Orang itu muncul. Di depan Kiran dan dua sahabatnya yang sedang membicarakan film di depan bioskop. Jantung Kiran seakan melompat dari tempatnya. Dia tidak menyangka akan bermimpi buruk bahkan saat tidak tidur.


Untung saja Kak Dhika tidak menampakkan gelagat akan membicarakan kejadian tadi di depan kedua sahabatnya. Jadi Kiran masih bisa agak tenang sampai selesai menonton film. Lalu Putri dan Cia tidak mengajaknya pulang. Padahal mereka berjanji akan tidur bersama malam ini sebelum dirinya kembali ke Malang besok siang. Dia terjebak dengan orang itu yang ingin membicarakan tentang kejadian tadi. Kiran menoleh ke kanan dan kiri, bermaksud mencari tempat untuk melarikan diri. Tapi ... sama sekali tidak ada orang di sekitar mereka. Mungkin karena mereka sekarang ada di basement mall. Dan juga karena mereka menonton film di waktu midnight.


"Apa? Apa emangnya yang terjadi tadi?" kata Kiran pura-pura bodoh.


"Padahal masih ada tanda di leherku"


Jawaban Kak Dhika membuat Kiran segera mendekat dan memeriksa leher orang itu. Tidak ada. Sama sekali tidak ada tanda apa-apa di leher kak Dhika. Tunggu ... apa orang itu ... . Kiran kembali menjauh karena berpikir kakaknya berhasil mempermainkannya. Lalu apa yang harus dia katakan sekarang? Apa dia mengaku saja? Mengaku kalau menyukai orang itu? Apa dia sudah gila? Bagaimana tanggapan kak Dhika nanti? Lalu bagaimana ini? Otaknya yang biasanya pintar seakan berhenti beroperasi saat ini.


"Aku ... "


"Menjijikkan sekali"


"Apa?"


Apa tadi yang didengarnya? Kak Dhika mengatakan apa tadi?


"Apa yang kaulakukan sangat menjijikkan. jangan pernah ulangi hal seperti itu lagi. Ayo kakak antar kamu pulang"


Kiran masih duduk diam di sebelah kak Dhika. Memiikirkan tentang kata 'menjijikkan' yang tadi diucapkan oleh kakaknya. Ternyata ... apa yang dia lakukan tadi dianggap menjijikkan oleh kak Dhika. Kenapa? Apa karena dia yang melakukannya? Seandainya yang melakukannya adalah Bu Desi pasti tidak akan menjijikkan bagi kak Dhika. Kenapa hatinya terasa sakit sekali sekarang? Seperti ditolak mentah-mentah tanpa dia mengungkapkan perasaannya.


"Terima kasih" katanya saat mobil berhenti di depan gang rumah Bi Tia. Dia membuka pintu dan ingin turun saat tangannya dipegang oleh orang yang duduk disebelah Kiran.


"Besok jam berapa pulang dengan kereta?"


"Jam satu siang"


Kak Dhika melepaskan pegangannya dan Kiran tidak ragu untuk segera turun dari mobil. Dia berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Seakan ingin melupakan semua perasaan yang timbul pada orang itu. Apa bisa dia melakukan hal itu?


"Pasti bisa" katanya menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


Besoknya dia seperti sudah melupakan segalanya. Perpisahan yang akan dia alami sekali lagi, membuat Kiran tidak berpikir lagi tentang orang itu.


"Hati-hati. Kalo nanti Paman sama Bibi libur, pasti kesana"


"Iya"


Kiran memeluk Bibinya dan sedikit menangis.


"Kiraaaaaaannnn. Aku bakal kerja dan cari uang yang banyak biar bisa liburan ke Malang" tangis Cia pecah di depan stasiun Pasar Senen.


"Kan lu udah punya banyak duit" jawab Kiran.


"Bokap hentiin uang saku karena aku udah lulus. Aku disuruh kerja buat hasilin uang sendiri sekarang"


Kiran tidak tahu apakah Cia sekarang sedang menangisi kepergiannya atau yang lain. Tapi dia tetap memeluk sahabatnya itu dan merasa sedih.


"Ingat kalo kamu masih punya temen yang siap mendengarkan disini" kata Putri membuatnya semakin sedih. Putri memang tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Tapi Putri adalah orang yang bisa selalu menguatkan hatinya meski dalam keadaan terpuruk sekalipun. Kiran bersyukur memiliki orang yang menyayanginya dengan tulus. tapi dia kembali harus pergi sekarang.


"Kiran telpon kalo udah sampe Malang" katanya lalu masuk ke dalam stasiun. Mencari tempat duduknya dan membuang napas panjang.


"Haii. Gimana liburannya?"


Kiran terkejut melihat laki-laki yang datang menjemputnya.


"Kamu kemarin kan udah bilang waktu pulang dan sampainya di malang. Jadi aku kesini buat jemput"


Padahal Kiran sama sekali tidak berharap ada orang yang menjemputnya di tengah malam seperti ini. Tapi ... dia beryukur setidaknya di Malang memeiliki orang yang bisa diandalkan seperti pak Ryan.


"Makasih" ucapnya.


"Ayo ... aku antar kamu pulang. Tapi ... boleh gak aku minta sesuatu?"


"Apa?"


"Bisa gak kamu ubah panggilan ke aku?"


"Panggilan?"


"Iya ... kayaknya aku belum setua itu untuk dipanggil Pak"


"Ohh"


Kiran menggigit bibir bawahnya. Malu menyadari kalau selama ini tidak sopan pada laki-laki yang ada di depannya ini.


"Bisa gak panggil aku Mas atau abang saja?"

__ADS_1


Kiran berpikir sebentar, lalu menemukan sebuah panggilan yang sepertinya cocok untuk Pak Ryan.


"Kak Ryan. Gimana?"


Laki-laki itu tersenyum menandakan setuju dengan nama panggilan tadi. Kak Ryan mengantarnya pulang dan Kiran sangat bersyukur sampai rumah dengan aman. Setelah mandi dan membereskan bawaannya, Kiran mulai mengirim pesan pada Bi Tia, Cia dan juga Putri. Mengabarkan dia telah sampai di rumah dengan selamat.


Dhika melihat di kejauhan. Zanna dijemput oleh Ryan saat keluar dari Stasiun kereta. Padahal dia sudah menunggu disini selama enam jam. Dia mengikuti mobil Ryan sampai di depan rumah Zanna dan merasa kesal. Seharusnya dia yang mengangkat barang Zanna ke dalam rumah. Bukan Ryan yang bukan siapa-siapa bagi Zanna. Apalagi dia sudah berpikir jenius dengan membuat situasi diantara mereka berdua kembali seperti semula. Dengan mengatakan kalau apa yang dilakukan oleh Zanna kemarin menjijikkan. Sebuah kata yang dipikirkan sangat lama untuknya. Dengan harapan membuat Zanna merasa nyaman berada di dekatnya, meskipun telah melakukan sesuatu yang tidak pantas.


Ryan akhirnya pergi dan meninggalkan Zanna sendiri. Dia keluar dari mobilnya dan berdiri di depan pintu rumah adiknya. Lama sekali dia berdiri disana lalu memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Tidak tahu apa yang akan dia katakan saat melihat wajah adiknya. Semua terjadi seperti itu sampai sepuluh hari kemudian. Dia merasa sesuatu yang aneh saat melihat wajah tanpa ekspresi Zanna di depannya.


"Maaf merepotkan perkebunan Anda lagi Pak Radhika" kata Zanna lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Dhika terpaksa menerima uluran tangan adiknya dan bersalaman dengan singkat. Selain Kiran dan Desi, ada dua pegawai Dinas yang datang ke perkebunannya. Dengan maksud menilai kegiatan mahasiswa yang berakhir hari ini.


"Selamat datang. Semua mahasiswa ada di green house" katanya lalu melihat wajah adiknya lagi. masih saja tanpa ekspresi apapun.


"Makasih ya Dhika. Ya udah silahkan menilai kegiatan mahasiswa itu. Aku kan disini cuma nganter doang" kata Desi lalu masuk ke dalam ruangan Dhika. Meninggalkan Zanna dan dua pegawai lain diluar ruangan.


"Permisi kalau begitu Pak"


Zanna tidak lagi menoleh ke arahnya dan mengikuti langkat kedua rekan kerjanya pergi. Ke green house tempat para mahasiswa itu berada.


Kenapa Zanna melihat dan menyapanya seperti itu? Kenapa seperti biasa saja? Kenapa Zanna melihatnya seperti tidak pernah terjadi sesuatu? Apa adiknya itu sudah melupakan kejadian di Jakarta? Kenapa juga Dhika merasa kesal karena hal ini? Bukan ... daripada kesal dia lebih merasa ... kecewa karena mendapatkan reaksi yang biasa saja dari Zanna.


"Kamu kenapa?" tanya Desi


Tanpa disadari Dhika termenung memikirkan adiknya.


"Tidak ada"


"Kata Ryan kamu beliin aku sesuatu dari Jakarta. Kenapa belum dikasih sampe sekarang?"


Ryan? Ryan mengatakan hal itu pada Desi? Lancang sekali.


"Di rumah. Aku akan mengantarnya ke rumahmu nanti"


Desi merasa senang sekali mendengar hal itu tapi Dhika belum membeli apa-apa.


"Bener? Apa itu? Tas? Perhiasan?"


"Yang kamu inginkan"


"Apa? Apa itu ... jam tangan yang aku minta waktu itu?"


Dhika mencoba mengingat kejadian saat Desi meminta sebuah jam tangan padanya. Tapi tidak bisa mengingat apa-apa. Pikirannya sedang sibuk di tempat lain sekarang. Lebih tepatnya, dia sibuk memikirkan orang yang tidak ada di dekatnya. Tapi di green house.

__ADS_1


__ADS_2