Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 57


__ADS_3

"Ternyata ini yang meyebabkan hasil panen mereka terganggu selama ini?" tanya Dhika setelah memeriksa laporan yang dibawa Ryan dari Lembang.


"Iya. Pantas saja mereka memberi harga yang cukup murah untuk perkebunan seluas itu"


"Apa yang sudah kau lakukan?"


"Mereka pikir kita adalah pengusaha dari desa. Jadi mereka tidak menyangka aku akan membawa beberapa orang yang lebih kuat dari para preman itu"


"Apa sekarang semuanya bisa dikendalikan?"


"Untuk sementara"


Dhika meletakkan leporan Ryan di mejanya dan mulai beralih ke pekerjaan berikutnya. hari ini dia begitu fokus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda selama ini.


"Apa lagi?" tanyanya saat melihat Ryan masih ada di dekatnya.


"Kenapa pagi-pagi kau sudah disini?"


"Apa salah aku ada di kantorku sendiri?"


"Biasanya kau bekerja dari rumah kenapa sekarang ada di kafe?"


"Ini juga kantorku"


Dhika terus saja bekerja dan tidak mempedulikan tatapan curiga Ryan.


Tapi sebuah keributan saat kafe mulai dibuka mengganggunya. Dhika keluar dari kantornya dan melihat dua orang wanita yang dikenalnya.


"Bulek" sapanya pada dua orang wanita yang tampak sedang memarahi pegawai Dhika.


"Dhika. Nih, kafe ini punya ponakanku. Jadi kami boleh duduk dimana aja"


Hanya dengan melihat tanda "Telah dipesan" diatas meja, Dhika mengerti situasi yang sedang terjadi.


"Bulek duduk di sebelah sana saja"


"Apa? Tapi Dhika, meja ini pemandangannya paling bagus"


"Bulek gak usah bayar apa-apa kalau duduk disana"


Dengan kalimat itu, masalah bisa diselesaikan dengan cepat.


"Duhhh, emang enak kalau punya ponakan pemilik kafe. Kita bisa makan enak tanpa bayar" komentar buleknya begitu pindah tempat. Hal itu mengganggu Dhika yang sudah memiliki suasana hati tidak baik sejak semalam. Dia mendekati dua orang wanita yang selalu datang padanya saat sedang butuh itu.


"Kali ini apa?"


"Dhika. Apa? Bulek ini cuma mau makan di kafe kamu"


"Siapa yang punya hutang?"


Keduanya saling bertatapan lalu tersenyum mencurigakan.


"Kita ini ketemu kamu bukan cuma waktu butuh uang. jangan salah"

__ADS_1


Dhika semakin curiga dengan perkataan buleknya yang tampak sudah menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.


"Mana Pakdhe?" tanyanya membuat dua wanita itu berubah sikap.


"Pakdhemu? Lagi ngurus sesuatu"


"Ngurus apa?"


"Ya gak tau lah Bulek. Orang Bulek disini cuma mau makan kok"


Biasanya ketiga saudara ayah muncul di waktu dan tempat yang bersamaan. Apalagi saat ada urusannya dengan uang Dhika. Kali ini hanya dua orang yang muncul. Itu tandanya pakdhe mungkin melakukan sesuatu dan mengirimkan dua saudaranya untuk mengecoh Dhika.


Dhika memberi tanda pada pegawainya untuk mulai menawarkan menu makanan. Dan mengawasi keduanya dari jauh. Satu jam kemudian setelah keduanya selesai makan Dhika kembali menghampiri.


"Gimana Bulek?" tanyanya.


"Duhh, enak banget. Tapi jumlah makanan sama minumannya terlalu dikit"


Dhika menekan amarahnya yang sudah hampir lepas. Meski tidak suka dengan saudara ayahnya, Dhika tidak pernah berlaku kurang ajar. Karena bagaimanapun ketiganya tetaplah saudara ayahnya.


"Lain kali Bulek bisa datang lagi kesini"


"Iya. pastilah"


"Apa Bulek gak mau bawa pulang makanan?" tawarnya.


"Gak deh. Kita cuma disuruh dateng kesini satu jam aja sama pakdhemu"


"Memangnya pakdhe dimana?"


"Pakdhe kamu? Lagi mau ngusir anak itu"


Mendengar pengakuan buleknya Dhika segera pergi ke ruangannya. Mengambil kunci mobil dan segera berangkat menuju rumah Zanna.


Beberapa kali saudara ayahnya itu memang berencana untuk mengambil alih rumah Zanna. Dengan alasan rumah itu telah ditinggali lama oleh ayah dan dirinya. Padahal Dhika sudah berulang kali menegaskan bahwa rumah itu adalah milik Bi Tia dan Zanna. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan warisan ayahnya. Tapi pakdhenya yang ingin mendapatkan uang dengan mudah pasti akan selalu meminta apapun yang mudah dijual. Kali ini sepertinya Dhika harus lebih tegas pada saudara ayahnya. kalau tidak dia takut Zanna dan Bi Tia akan kembali tersakiti seperti sepuluh tahun lalu.


Dhika meninggalkan mobil di rumah dan segera berlari menuju rumah Zanna. Berharap tidak ada yang terjadi tapi dia salah. Dhika melihat adiknya berteriak di pinggir jalan ke pakdhenya. Dhika tidak bisa menyalahkan adiknya yang mungkin kesal. Tapi seharusnya Zanna tidak berteriak pada orang yang jauh lebih tua darinya di depan umum seperti ini. banyak orang yang mulai emmperhatikan keduanya dan ini saatnya bagi Dhika untuk melerai. Tapi kedatangannya tidak disambut baik oleh keduanya. Terutama Zanna.


Dia memerintahkan Zanna untuk masuk ke dalam rumah dan berhasil membuat orang lain melanjutkan kegiatannya masing-masing. Tidak memperhatikan mereka lagi.


"Pakdhe, sudah berapa kali Dhika bilang. Ini bukan rumah ayah. Ini bukan warisan ayah"


"Burhan juga renovasi rumah ini. Susruh anak itu membayar semuanya sekarang juga"


"Pakdhe!!"


Dhika yang sudah emosi sedikit membentak orang tua di depannya. Dia tidak tahu lagi bagaimana memberi penjelasan yang bisa diterima oleh saudara ayahnya.


"Dia itu bukan siapa-siapa kamu Dhika. Kami ini yang saudara kamu. Bukan anak itu"


Dhika sangat tahu hal itu. tapi kadang dia lebih memilih memiliki Zanna daripada semua saudara dari pihak ayahnya.


"Kalau pakdhe butuh sesuatu bilang ke Dhika. Gak perlu lagi datang ke rumah ini"

__ADS_1


"Sampai rumah ini dijual. pakdhe gak akan berhenti kesini"


Sungguh orang tua yang keras kepala. Untung saja Dhika memiliki tingkat kesabaran ekstra setiap kali harus berhadapan dengan saudara ayahnya yang paling tua ini. kalau tidak dia pasti sudah memutuskan hubungan persaudaraan dari dulu.


"Rumah ini tetap milik Zanna dan Bibi Tia. Meski dijual, semua uangnya adalah milik Zanna dan Bi Tia. Kalau butuh uang poakdhe bisa datang ke rumah bukan kesini"


"Pakdhe cuma butuh rumah ini. Titik" kata pakdhe lalu berjalan ke arah mobil tuanya.


Dhika menghela napas panjang sebelum pergi ke rumah Zanna. Dia pikir adiknya itu pasti sedang kesal sekali sekarang. Dan dia benar. Zanna terus berjalan mondar mandir di ruang tamu dengan tangan di pinggangnya.


"Zanna" panggilnya membuat Zanna berhenti.


"Mana orang itu? Udah pergi?"


"Dia pakdheku. Orang yang lebih tua darimu"


"Apa??"


"Meski begitu. Orang itu jauh lebih tua darimu. Harusnya kau tidak berteriak di depan wajahnya. Di depan umum"


Zanna tampak lebih kesal dari sebelumnya. Wajahnya memerah dan tangan yang awalnya di pinggang telah naik sedikit ke arah ketiak.


"Terserah aku mau apa. Mulut-mulutku sendiri. Jangan sampe orang itu datang lagi kesini atau aku akan ... . Ngapain senyum-senyum kayak gitu?"


Dhika baru saja sadar tersenyum saat melihat Zanna marah dari tadi.


"Aku senyum?"


"Iya. Kak Dhika ngejek aku?"


Dhika menggelengkan kepala. Dia pikir tidak akan pernah mengalami hal ini. Selama ini dia terus berpikir akan menjadi suami Desi. Menjadi laki-laki yang bertanggung jawab pada janjinya dan membahagiakan Desi, bagaimanapun caranya. Dan sekarang dia terbebas dari janjinya. Dia bisa merasakan tubuhnya bereaksi karena kebebasan itu. Terutama di hadapan Zanna yang disukainya. Dan ternyata ... itu sangat menyenangkan.


"Denger ya. Aku bukan anak kecil lagi. Jadi ... jangan pikir aku bakal lari kaytak dulu. Kali ini aku akan hadapi semua orang yang ngehina ibu dan Bibi"


Bibir itu bergerak terus seakan tidak akan pernah berhenti. Dhika mulai membayangkan apa rasanya bibir itu? Mungkin manis? Jujur saja selama ini dia tidak pernah mencium siapapun. Desi adalah perempuan yang tidak bisa disentuh. Karena pengalaman buruk yang dialami perempuan itu. Tapi Zanna. Mungkin dia bisa mencicipi bibir itu sedikit. Toh mereka hampir saja berciuman beberapa waktu lalu sedandainya Zanna tidak mundur.


"Kak Dhika denger gak sih?"


Dhika kembali sadar dari lamunannya. Sial. Kebebasan ini sungguh membuatnya gila di depan Zanna. Dia tidak bisa berhenti membayangkan menyentuh adiknya.


"Dengar"


"Ya udah pergi sana!"


"Pergi? Bagaimana kalau kakak tinggal di rumah ini untuk sementara?"


Serumah dengan Zanna, pasti lebih menyenangkan lagi bagi Dhika. Mungkin saja rasa suka Zanna padanya akan kembali lagi. Dan mereka bisa menjalin kasih selayaknya dua orang dewasa yang siap berkembang biak. Berkembang biak? Sungguh liar sekali otak Dhika. Semangatnya seakan bertembah setiap kali membayangkan bisa menyentuh kulit putih dan mulut itu. Lalu Zanna akan menjilat lehernya dan Dhika hanya akan menerima semuanya dengan bahagia. Semua bayangan itu membuatnya lebih bersemangat. Sayang sekali semangatnya harus patah begitu saja saat Zanna mulai bicara lagi.


"Najis. Pergi sana!"


Tidak pernah Dhika merasa kecewa seperti ini. Dia terpaksa pergi meninggalkan Zanna sendiri. Dan pulang ke rumah yang besar dan sepi. Dia tidak boleh terus seperti ini. Usianya sudah menginjak tiga puluh tahun. Dia harus mengalami semua yang harus dialami laki-laki seumurannya. Dan dia tahu dengan siapa dia ingin mengalami semua itu.


"Zanna, kau akan menyukai kakak lagi" katanya sangat percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2