Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 71


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu bersama Bu Desi di mobil, Kiran yakin dia sudah salah paham. Karena menganggap mantan atasannya itu ingin kembali ke kak Dhika hanya karena melihat mereka berpelukan. Sampai di cafe, Kiran melihat kak Dhika berdiri di sebelah pak Ryan. Seperti sudah menunggu kedatangan Bu Desi dan dia.


"Lama banget" komentar pak Ryan yang tampak kesal.


"Ya kan kita pegawai bukan kayak kalian para Bos" jawab Bu Desi tidak ingin disalahkan. Kiran hanya bisa diam tidak berani membalas tatapan kak Dhika yang tertuju padanya.


"Ayo masuk!" ajak kak Dhika lalu berdiri tepat di sebelahnya.


Kiran segera melempar pandangan ke arah taman dan berjalan agak cepat ke meja yang sudah disiapkan.


"Kiran pasti udah laper tuh" goda pak Ryan, dan dijawabnya dengan senyuman. Kali ini dia memang berencana untuk makan saja dan tidak terlibat pembicaraan ketiga teman sejak kuliah itu. Juga bersiap membuang muka setiap kali kak Dhika melihat dan berusaha untuk bicara dengannya.


"Maafin aku selama ini udah bikin repot kalian. Di Surabaya nanti, aku pasti bisa lebih mandiri lagi" kata Bu Desi setelah makan malam selesai.


Kiran bisa melihat kesedihan bercampur lega di wajah mantan atasannya itu.


"Haruslah! Siapa yang mau menolong mu disana!" jawab pak Ryan ketus.


"Yang penting kau sehat dan baik-baik saja. Kita juga tetap bisa bertemu meski kau sudah pindah ke Surabaya" kata kak Dhika membuat dada Kiran sesak. Sepertinya dia tidak akan pernah terbiasa dengan perhatian kak Dhika pada Bu Desi. Apalagi Kiran bisa melihat pipi mantan atasannya sedikit memerah. Itu berarti Bu Desi masih menyimpan perasaan pada kak Dhika. Hal ini membuat perasaan Kiran semakin buruk.


"Emm, saya mau pulang dulu" sela Kiran mengejutkan ketiganya.


"Kenapa pulang?" tanya pak Ryan


"Saya ... " belum sempat melanjutkan, kak Dhika berdiri dari kursinya.


"Aku antar, kamu pasti masih capek karena menemani Bibi dan temanmu dari Jakarta kemaren"


Karena penjelasan kak Dhika, Kian dapat pulang lebih dulu. Tapi dia jadi tersiksa karena harus berada satu mobil dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya itu.


Untungnya kak Dhika tidak bicara sama sekali sampai mereka ada di depan rumah. Kiran ingin segera turun dari mobil tapi ternyata pintunya dikunci.


"Pintu" katanya ingin kak Dhika segera membuka kunci.


"Aku tau salah telah melamar mu terlalu cepat. Tapi hanya itu yang dapat kakak pikirkan untuk membuat Bi Tia percaya dengan hubungan kita. Kalo itu membuatmu marah silahkan. Tapi jangan diamkan kakak seperti ini"


Kiran terdiam cukup lama lalu mulai berani melihat mata kak Dhika yang sudah menatapnya dari tadi.


"Kiran belum siap"


"Apa?"


"Kiran belum siap untuk menikah"


"Jadi, kamu menolak kakak karena belum siap menikah? Bukan karena ... "


"Kiran masih dua puluh empat tahun. Kiran baru aja kerja dan belum bisa membalas kebaikan Bi Tia selama ini. Jadi ... " jelas Kiran tidak membeberkan alasan sebenarnya dia menolak lamaran kak Dhika.


Kak Dhika tiba-tiba menarik tubuh Kiran ke dalam pelukannya. Dia merindukan kehangatan tubuh orang ini tapi hatinya yang bimbang membuat Kiran tidak nyaman.

__ADS_1


"Kakak akan menunggu sampai kamu siap. Tapi jangan terlalu lama, karena kakak tidak yakin bisa menahan diri untuk ... "


Belum selesai bicara kak Dhika mencium bibir Kiran dengan rakus.


Kiran terpaksa harus mengerahkan tenaganya untuk menjauhkan laki-laki itu darinya.


"Stop" katanya lalu menarik napas.


Dia baru sadar bisa lupa diri karena sentuhan kak Dhika.


"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya kak Dhika saat bibir mereka masih berdekatan. Napas dan tubuh panas kak Dhika membuat Kiran merasa bersemangat.


"Suka, tapi ... "


Belum selesai Kiran bicara kak Dhika menciumnya lagi.


Satu tahun kemudian


"Pagi Bu Kiran" sapa salah satu pegawai perkebunan yang sedang didatangi oleh kiran pagi ini.


"Pagi Pak. Apa anak-anak kuliah itu gak apa-apa disini?"


"Tenang Nyonya, Pak Anton sudah berpesan kalau anak kuliah itu hanya ditugaskan di bagian pembibitan seperti tahun-tahun sebelumnya


"Bagus kalo gitu. Terima kasih Pak"


"Kenapa?"


"Pak Dhika baru aja datang"


Mendengar nama suaminya disebut, wajah Kiran bersemu merah.


"Nanti Pak" jawabnya menahan malu.


"Harusnya Pak Dhika sama Ibu Kiran lanjut aja bulan madunya, sebulan gitu"


Wajah Kiran semakin memerah. Dia tidak ingin mendengar pembicaraan ini dan segera pergi ke tempat mahasiswa yang harus diawasinya berada.


Saat semua laporannya sudah terisi, Kiran berjalan cepat seolah-olah akan keluar perkebunan. Lalu langkah kakinya berhenti di depan pondok suaminya. Setelah melihat ke kanan dan kiri, dia berjalan masuk ke pondok kak Dhika.


"Aku pikir kamu pulang tanpa melihat kakak"


Kiran terkejut mendengar suara berat itu di belakangnya.


"Kak Dhika! Ngapain disitu?"


"Ngapain lagi?"


Tanpa pemberitahuan lebih lanjut, kak Dhika segera mengangkat tubuh Kiran dan membuat wajah mereka sejajar. Sebuah ciuman disusul dengan yang lainnya menghasilkan suara napas yang terputus-putus.

__ADS_1


"Tunggu ... " Kiran mendorong suaminya.


"Apa Sayang?"


"Ini bukan di rumah"


"Disini ada sofa yang nyaman"


"Tapi ... " ucap Kiran ingin protes.


"Aku terpaksa melepasmu tadi pagi"


"Kak, aku harus bekerja"


"Cutimu masih ada tiga hari lagi"


"Aku harus mengawasi mahasiswa yang sedang praktek"


"Dan aku?"


Kiran tersenyum mendengar nada manja suaminya.


Tanpa terasa punggung Kiran sudah menyentuh sofa yang dibilang nyaman itu. Dan memang rasanya sangat nyaman, apalagi dengen kecupan-kecupan kecil yang diberikan oleh kak Dhika di lehernya.


"Sekarang berikan waktu bekerjamu sedikit untuk suamimu ini"


Keduanya saling memandang sekarang dan Kiran tidak bisa berhenti bersyukur akhirnya dia bisa menikah dengan laki-laki yang sangat dia cintai. Meski harus membutuhkan waktu selama satu tahun untuk meneguhkan hati.


"Tadi pagi butuh waktu satu jam" bisiknya lalu menggigit bibir bawah.


"Tahan teriakanmu kalau bisa!"


Satu demi satu pakaian mereka terlepas begitu saja di segala arah dan beberapa teriakan lolos dari bibir Kiran.


"Sekarang boleh aku kembali ke kantor?" tanya Kiran mencoba untuk meraih semua oksigen di sekitar mereka.


"Boleh kalau aku yang mengantar"


"Kak, aku harus ke kantor dulu sebelum pulang"


Kiran sangat tahu kalau suaminya ini tidak akan pernah mengantarnya ke kantor. Kak Dhika sangat posesif setahun terakhir, apalagi setelah mereka resmi menikah. Bahkan dia tidak diperbolehkan bersalaman dengan tamu pria saat di pesta pernikahan sepuluh hari yang lalu.


"Baiklah. Tapi di rumah, kau milikku"


Kiran tersenyum dan memeluk leher suaminya.


Aku memang milikmu sejak dulu.


Keduanya tersenyum bahagia meski tidak tahu bagaimana bisa keluar dari pondok tanpa ada yang menyoraki nanti.

__ADS_1


__ADS_2