
Kiran memegang bibir dengan jarinya. Dia masih bisa merasakan sensasi saat bibirnya bertemu dengan milik kak Dhika. Dia memang bodoh dan terlalu terbawa nafsu. Menyesal pun sepertinya percuma. Yang sedang memenuhi hatinya sekarang adalah rasa bersalah. Rasa bersalah pada seseorang yang sekarang berdiri di depanya.
"Kamu dari perkebunan Dhika?" tanya Bu Desi. Kiran sama sekali tidak bisa menaikkan wajahnya. Dia lebih memilih tenggelam di balik semua berkas daripada harus bertemu mata dengan mantan atasannya ini.
"Iya" jawabnya dengan suara kecil.
"Dhika ada disana?"
"Ada Bu"
"Kalian sempat bicara?"
Kaki Kiran bergetar hebat., Dia kini merasa takut kalau Bu Desi memiliki firasat yang kuat.
"Tidak Bu. Pak Radhika membetulkan saluran air tadi"
"Oh gitu"
"Iya"
"Habis nyebarin undangan itu kamu boleh pulang. Maaf udah nyita waktu dinas luar kamu"
Maaf? Harusnya dia yang meminta maaf pada Bu Desi. Dan bukan sebaliknya. Kiran merasa menjadi manusia paling jahat sekarang. Bagaimana dia bisa menghadapi Bu Desi besok? yang lebih penting lagi, bagaimana bisa dia pulang ke rumah kak Dhika setelah ini? Apa dia pulang saja ke rumahnya sendiri? Tapi kak Dhika dengan jelas melarangnya sampai masalah dengan keluarga ayah Burhan selesai. Sebaiknya langkah apa yang harus diambilnya?
Sampai di depan gerbang rumah kak Dhika, Kiran ragu.
"Apa pak Dhika udah pulang?" tanyanya pada penjaga rumah.
"Belum Mba. Emangnya kenapa?"
"Gak apa-apa"
Kiran masuk ke dalam dan cepat-cepat pergi ke kamarnya. Lebih baik dia mengurung diri di kamar saja. Dia harus menghindari kak Dhika untuk sementara waktu. Sampai semua kenangan akan kejadian ini hilang dari otaknya. Akan lebih baik lagi kalau dia bisa pindah lagi ke rumahnya. Semoga saja masalah dengan keluarga ayah Burhan cepat tertangani dan tidak berlarut-larut lagi.
Tapi belum sampai ke teras rumah, Kiran mendengar keributan di gerbang. Ada dua mobil masuk ke halaman rumah kak Dhika. Seseorang turun dari salah satu mobil lama itu dan melihatnya dengan tatapan kebencian. Ternyata itu orang tua yang membuat masalah dengan rumahnya.
"Kamu disini?" tanya orang itu lalu diikuti keluarnya beberapa keluarga lainnya. Kiran hanya mengenal dua atau tiga orang saja dari mereka.
"Iya"
"Mau apa kamu? Mau ngerebut rumah keponakanku?"
__ADS_1
Semakin tua, orang ini ternyata tidak menjadi lebih baik dari sepuluh tahun lalu.
"Saya terpaksa menumpang disini karena pakdhe bawa banyak orang ke rumah saya"
"Hahah. Kamu takut ternyata"
Orang ini memang sudah tidak waras. Berani berkata seperti itu padanya setelah melakukan pengancaman yang serius.
"Mau apa pakdhe kesini?"
"Bukan urusan kamu!"
Semua orang yang tadinya ada di dalam mobil keluar dan masuk begitu saja ke dalam rumah kak Dhika. Kiran ikut masuk ke dalam rumah dan melihat orang-orang itu sudah menganggap rumah ini seperti kediaman mereka sendiri.
"Kak Dhika ada di perkebunan. Kenapa kalian semua gak nyusul aja kesana?" tanyanya dengan suara agak keras.
"Kamu bukan siapa-siapa disini. Kamu itu cuma adik tiri yang sekarang sudah kadaluarsa"
Apa??? Kiran diumpamakan seperti makanan basi.
"Setidaknya saya gak membebani kak Dhika dengan masalah uang!"
"Masih mending daripada gak kerja dan cuma bisa minta-minta aja!" balas Kiran mendapat pandangan sinis dari semua orang disitu. Tapi dia tidak peduli. Dia akan menumpahkan semua kekesalan yang dipendamnya selama sepuluh tahun ini.
"Dimana kamu?" tanya Desi yang sedang menghubungi teman barunya.
"Di Surabaya" jawan Ryan seperti sibuk sekali.
"Berarti gak ada siapa-siapa di kafe?"
"Iya"
Desi kecewa mengetahui tidak ada orang yang bisa diajaknya bicara hari ini. Dia juga baru saja mengirim pulang Kiran yang baru saja datang dari perkebunan. Apa dia ke perkebunan saja? Toh dia sudah lama tidak pernah ke perkebunan sekarang.
"Dhika, kamu masih di perkebunan?" tanyanya sebelum berangkat.
"Aku? Dalam perjalanan pulang"
"Oh gitu. ya udah"
Lagi-lagi Desi kecewa karena tidak bisa berkeluh kesah. Lalu muncul sebuah ide di kepalanya. Dia pergi saja ke rumah laki-laki itu. Mungkin saja dia bisa berenang dan makan malam disana. Tanpa berpikir lagi, Desi segera pergi ke rumah Dhika.
__ADS_1
Sampai disana dia dikejutkan dengan gerbang terbuka dan kehadiran dua mobil lama yang dikenalnya.
"Kapan orang-orang ini sampai?" tanyanya pada penjaga rumah yang kelihatan bingung.
"Baru saja Bu"
"Mereka di dalam?"
"Iya Bu, tapi ... "
Desi turun dan menutup pintu mobil dengan kencang lalu berjalan ke arah rumah Dhika. Dia mendengar suara teriakan-teriakan yang khas dari keluarga ayah Dhika. Orang-orang ini memang sangat tidak sopan. Bagaimana bisa mereka masuk meski tahu pemilik rumah sedang tidak ada? Apa mereka punya tujuan lain? Sebenarnya dia belum pernah menghadapi semua orang ini tanpa kehadiran Dhika. Tapi sebagai teman Dhika, dia kini lebih percaya diri. Dia tidak akan lagi menerima hinaan-hinaan dari orang-orang itu. Dia akan berdiri tegak dan melawan semuanya. Lalu langkahnya terhenti karena mendengar suara yang dikenalnya sedang berteriak di dalam.
"Kiran?" pikirnya lalu melihat sosok anak baru itu di dalam rumah Dhika. Mau apa anak itu ada disini? Dia tetap ada di balik jendela lalu mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Kiran ternyata merupakan adik tiri Dhika?
"Adik tiri? Adik tiri Dhika dari ibunya kan masih sepuluh tahun sekarang. Berarti Kiran itu adik tiri darimana?" gumamnya.
"Dari pernikahan ayah" jawab Dhika membuatnya hampir meloncat. Dia tidak mengira laki-laki itu datang tanpa suara dan sudah berdiri di sebelahnya.
"Jadi ... "
"Aku akan menjelaskan itu nanti. Sekarang aku harus masuk"
Desi menahan keingin tahuannya dan terpaksa menunggu samapai semua orang di dalam pulang. Tapi dari balik dinding dia bisa mendengar semuanya.
"Anak ini gak berhak ada di rumah ini" teriak kakak ayah Dhika.
"Zanna berhak ada disini. Dia adikku"
"Kamu gak punya adik! kamu cuma punya kami!. Kami yang akan menerima semua harta ini kalo kamu mati!"
Wahhh, sungguh menyebalkan sekali kakak ayah Dhika itu. Desi hampir saja ingin ikut masuk dan menampar orang itu saat terdengar suara Kiran yang berteriak dengan sangat keras.
"AAAAAAAA!!!! Sialan! Ngapain doain kak Dhika mati? Kenapa bukan elo aja yang mati sana!!! Udah cuma minta aja kerjanya sekarang doain orang mati. Pergi sana kalian!!! Jangan pernah balik lagi kesini! Lebih baik kak Dhika gak punya siapa-siapa daripada keluarga kayak gini!!!"
Baru kali ini Desi terkesima dengan anak baru itu. Ternyata sifat keras anak itu bisa dimanfaatkan di saat seperti ini. Selang beberapa detik, pintu depan terbuka. Bersamaan dengan keluarnya wajah-wajah merah padam seperti menahan emosi. Pemimpin mereka melihat keberadaan Desi disana dan berhenti.
"Ternyata perempuan mandul ini masih ada disini."
Tidak pernah sekalipun orang ini ingin mengenalnya tapi terus saja menghina Desi saat mereka bertemu. Lalu orang tua itu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Dasar orang tua gila!" teriaknya dan merasa puas. Paling tidak dia bisa melihat wajah kesal orang tua itu sebelum pergi dari halaman rumah Dhika.
__ADS_1