
Puassss banget rasanya bisa mengeluarkan emosi pada anak baru itu, pikir Desi yang kembali ke ruangannya.
"Salah sendii telat gak kira-kira" katanya lalu duduk di kursi. Meskipun dia juga sering terlambat, tapi tidak separah anak baru itu.
"Dua jam. Bodoh banget" ucapnya lagi lalu tertawa sendiri. Membayangkan kembali wajah muram Kiran yang dimarahinya tadi. Desi menyandarkan punggungnya dan mulai merasa mengantuk. Pacarnya kemarin menelpon sampai tengah malam. Tidak membiarkan dia tidur. Semenit setelah menguap, Desi tertidur. Tapi tak lama karena setelah itu dia terbangun dengan keringat memenuhi dahinya.
"Jangan! JANGANNN!!!" teriaknya lalu membuka mata dan memeriksa dimana keberadaannya.
Kenapa dia sering memimpikan tentang kejadian itu? Apa karena dia pernah melihat bayangan laki-laki yang membuat jiwa dan raganya hancur seminggu yang lalu di klub? Laki-laki itu memiliki sosok yang sama dan juga suara yang sama. Tiba-tiba Desi merinding dan merasa tubuhnya sangat kotor. Dia membersihkan tangan dan lengannya dari kotoran yang tak terlihat. Dia juga mulai menarik-narik rambutnya sendiri. Seakan tidak merasakan sakit, Desi terus saja melakukannya sampai seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Kiran mendesah beberapa kali di mejanya. Dia sedang mencoba untuk menghilangkan semua kesal di dalam hatinya. Kesal karena tidak bisa mengendalikan alarm di ponselnya dan membuatnya telat sampai dua jam. Lalu, pak Wahyu mendekat ke mejanya, dengan membawa berkas laporan yang diserahkan Kiran minggu lalu.
"Semuanya sudah benar. Kamu harus minta tanda tangan Bu Desi lalu serahkan ke pihak keuangan untuk pencairan uang dinasnya!"
Syukurlah, pikir Kiran. Setidaknya ada sesuatu yang dilakukannya dengan baik hari ini.
"Baik Pak"
Melupakan kekesalannya, Kiran pergi ke ruangan Bu Desi. Dia mengetuk tiga kali tapi tidak mendengar jawaban. Dia berusaha menajamkan telinga lalu mendengar sesuatu. Seperti orang yang mendesah dan menangis secara bersamaan. Tangisan yang samar itu berubah menjadi teriakan dan Kiran segera membuka pintu ruangan mantan atasannya itu. Betapa terkejutnya dia melihat Bu Desi menarik-narik rambutnya sendiri.
"Bu, kenapa?"
Kiran mendekat dan melihat beberapa helai rambut ada di lantai. Dia juga memperhatikan lenfgan Bu Desi yang berdarah karena dicakar.
"Bu Kenapa? Bu Desi??"
Kiran terus saja memanggil nama mantan atasannya itu tapi Bu Desi seperti tidak mendengarnya. Bu Desi terus saja menarik-narik rambut dan menangis.
Tidak tahu cara menangani orang yang seperti ini, membuat Kiran segera berlari keluar. Pergi ke ruangan Pak Wahyu.
"Pak. Bu Desi" katanya lalu berlari lagi ke ruangan Bu Desi.
Kini Kiran berusaha untuk menghentikan aksi Bu Desi yang tidak masuk akal. Tapi mantan atasannya itu menolak untuk dihentikan dan memukul-mukul ke arahnya. Kepala dan dadanya terkena pukulan keras Bu Desi, tapi Kiran tidak menyerah. Dia berusaha untuk menghentikan Bu Desi yang kembali mencakar-cakar lengannya sendiri.
__ADS_1
Pak Wahyu yang menyusul Kiran, seperti tahu yang harus dilakukan. Kiran melihat atasannya yang sekarang segera mengambil kain dan mengikat tangan Bu Desi ke belakang. Lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Pak Wahyu padanya.
"Gak apa-apa Pak. Tapi Bu Desi ... "
"Ini sudah biasa. Kamu jangan kaget. Habis ini ada yang jemput Desi dan kamu harus tutup mulut tentang ini!"
"Baik Pak"
Setelah tangannya diikat ke belakang, Bu Desi menjadi agak tenang. Kini Kiran bisa melihat luka yang ada di lengan mantan atasannya itu. Begitu buruk dan juga ada beberapa celah di kepala Bu Desi yang nampak sekali. Pasti karena rambut yang ditarik paksa tadi. Menunggu sekitar beberapa menit di ruangan Bu Desi, Kiran mendengar langkah kaki mendekat.
"Dimana?" tanya seseorang yang suaranya akrab di telinga Kiran.
Kak Dhika hanya melihatnya sekilas lalu memeriksa keadaan Bu Desi.
"Ryan!!" panggil kak Dhika membuat Kiran melihat seseorang yang akan masuk ke dalam ruangan Bu Desi. Ternyata kak Dhika datang dengan Pak Ryan. Kak Dhika mengangkat tubuh Bu Desi keluar dari ruangan dan meninggalkannya sendiri dengan pak Wahyu. Kiran benar-benar bingung dengan situasi ini.Apalagi pak Wahyu menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak mengatakan apapun sejak Bu Desi dibawa pergi oleh pak Dhika dan Pak Ryan sampai saatnya pulang.
"Apa kamu tahu kalau Dhika dan Desi kenal di Universitas?" tanya pak Ryan.
"Iya"
"Dan kau tahu kalau Dhika menyukai Desi sejak saat itu?"
"Iya" jawabnya pelan karena mengingatkan pada rasa sakit yang ada di dalam dadanya.
"Delapan tahun lalu saat Dhika memutuskan untuk cuti kuliah, ada sebuah peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang begitu mengerikan sampai ada di berita. Korbannya adalah Desi. Hampir satu bulan Desi tidak makan atau minum dan bertingkah seperti tadi setelah peristiwa itu. Mmebuatnya sangat kurus dan bahkan orang tuanya sudah pasrah kalau Desi dinyatakan gila"
Kiran menggigit bibir bawahnya, berpikir tentang apa peristiwa yang terjadi pada Bu Desi sampai membuat mantan atasannya seperti itu. Lalu pak Ryan melanjutkan ceritanya.
Dhika mengetahuinya dan pergi ke Surabaya. Detik saat Desi melihat Dhika, kesadarannya pulih. Dia bicara, juga memiliki keinginan untuk makan dan minum. Tapi ... akibat dari peristiwa mengerikan itu datang. Hari kedua saat Dhika menemui Desi, dokter pergi membawanya ke ruang operasi. Mengatakan kalau terjadi pendarahan pada Desi. Ternyata, terjadi infeksi pada bagian kewanitaan Desi dan membuat dokter terpaksa mengangkat rahimnya"
Pak Ryan melihat ke arah Kiran. Dia yang tadi masih bertanya-tanya tentang alasan Bu Desi melakukan hal itu, mulai mendapatkan titik terang. Tapi bukan titik terang yang membuatnya senang. Melainkan terkejut sekaligus ngeri. Jadi peristiwa itu adalah ... .
__ADS_1
"Meskipun masih berusia dua puluh tahun, dokter tidak memiliki cara lain untuk meyelamatkan nyawa Desi. Tentu saja setelah sadar Desi kembali menjadi seperti sebelumnya. Mengamuk sampai kembali membuatnya pendarahan karena luka operasi yang baru dilakukan. Dhika merasa begitu terpukul melihat perempuan yang disukainya menjadi seperti itu. Dan Dhika juga menyesal karena peristiwa itu terjadi saat dia tidak ada di Surabaya"
Kiran tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Bu Desi saat itu. Juga kakaknya yang menyukai Bu Desi dengan sepenuh hati. Ternyata ada peristiwa seperti ini dalam hidup kakaknya. Dan Kiran menganggap orang itu tidak tahu apapun tentang pahitnya kehidupan.
"Jadi gimana Bu Desi bisa sembuh?" tanya Kiran hati-hati.
"Tidak bisa. Keadaan Desi semakinj parah lalu suatu hari Dhika melakukan sesuatu. Dia memegang Desi dan berkata di depan wajah Desi, kalau dia yang bersalah. Dia meminta Desi menyalahkannya. Tiba-tiba saja Desi tenang. Kesadarannya kembali dan kesehatannya juga. Tapi ... hal itu membuat Desi sangat bergantung pada Dhika. Sampai hari ini"
Secara garis besar, sepertinya Kiran mulai mengerti apa yang terjadi. Tapi ada sesuatu yang membuatnya bangga. Kak Dhika yang dikenalnya ternyata memiliki hati yang baik sekali.
"Kiran baru tau kalo kak Dhika ternyata ... baik juga"
"Apa menurutmu begitu?"
Kiran mengangkat alisnya, menangkap sinisme di pertanyaan pak Ryan.
"Maksudnya?"
"Menurutku Dhika bodoh. Seharusnya Dhika bisa mengakhiri semua ini begitu saja. Tapi tidak. Dia memilih bertahan sampai sekarang dan dimanfaatkan Desi yang jelas-jelas sudah sembuh"
"Tapi tadi siang?"
"Itu hanya gejala yang memang muncul saat Desi mengingat peristiwa buruk itu. Karena Desi tidak pernah pergi ke dokter jiwa sesuai dengan yang disarankan"
"Kak Dhika tau itu?"
"Tau. Tapi Dhika terlalu buta oleh cinta. Sampai tidak bisa melihat semuanya dengan jelas. Bahkan tidak bisa berlaku benar pada seseorang yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya"
Kiran mendesah, mengerti dengan kekhawatiran pak Ryan, seorang teman dari kak Dhika. Lalu ... dadanya terasa sakit. Sakit sekali sampai Kiran menunduk dalam dan mengerang.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Gak tau" jawabnya lalu tidak sadarkan diri.
__ADS_1