
"Dhikaaa. Kartu kredit yang kemarin kamu kasih udah over limit. Apa aku bisa pake yang lain?"
"Apa yang mau kamu beli?"
"Aku ... mau beli motor"
Dhika sedikit terkejut dengan permintaan Desi kali ini. Tapi ini bukan pertama kalinya mendengar sebuah permintaan yang besar dari perempuan ini.
"Untuk siapa?"
"Pacar aku"
Kini Dhika menghentikan pekerjaannya. Dia memutar kursinya menghadap Desi dan bertanya dengan sepenuh hati.
"Kamu punya pacar?"
"Iya. Kamu marah ya?"
Dhika menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Tidak"
"Kalo gitu kapan kamu kasih aku kartu kreditnya?"
"Besok. Aku tidak membawa dompet hari ini"
"Bener ya!"
"Iya"
Desi kelihatan senang dan mulai bersenandung. Tapi meninggalkan SPD milik Zanna di meja. Dhika membaca Surat Perjalanan Dinas itu dan bangga melihat nama adiknya tercantum disana. Dia menandatangani juga memberi stempel SPD itu lalu pergi keluar ruangan saat Desi asyik bermain ponsel. Dia pikir akan pergi ke green house untuk menemukan adiknya, tapi Zanna ada di teras pondok. Sedang berbincang dengan mahasiswa laki-laki yang seharusnya bekerja. Sesekali Dhika melihat adiknya tersenyum dan menyibakkan rambutnya. Sedangkan mahasiswa di sebelahnya memandang Zanna dengan mata penuh harap.
Terlihat jelas kalau mahasiswa laki-laki itu tertarik pada Zanna. Dalam hati, Dhika mulai merasa kesal. Tadi pagi-pagi sekali dia mendengar pengakuan Ryan yang tertarik pada adiknya secara terang-terangan. Dan sekarang dia melihat seorang laki-laki seperti ingin menerkam adiknya bulat-bulat. Tak sabar lagi, Dhika berjalan keluar dengan menghentakkan kakinya. Membuat kehadirannya disadari oleh kedua orang di depan teras.
"Pak Radhika" sapa mahasiswa kurang ajar itu.
"Kenapa kamu tidak di green house?"
"Saya disuruh tanya jam berapa Pak Agus datang"
"Tidak lama lagi. Sebelum jam dua belas"
"Oh gitu"
"Mau apa lagi kamu disini?" tanya Dhika dengan lengan agak ditarik ke belakang. Menunjukkan dadanya yang bidang.
"Gak ada Pak. Cuma ... "
__ADS_1
"Cepat kembali ke green house sana!"
"Tapi ... baik Pak. Mba Kiran nanti jangan lupa wa saya ya"
Jadi mahasiswa laki-laki itu sudah emmberikan nomor ponselnya pada Zanna. Berani sekali.
"Ini!" Dhika menjulurkan berkas SPD pada adiknya.
"Terima kasih Pak. Apa Bu Desi masih ada di dalam?" Kenapa adiknya bicara dengan nada sopan seperti ini? padahal mereka hanya berdua saja disini.
"Jangan mudah tersenyum pada laki-laki" katanya membuat Kiran mengangkat alis.
"Apa?"
"Kenapa juga kamu beri nomor telepon ke anak itu? Kakak saja minta nomormu tidak kamu beri"
Kiran menoleh ke kanan dan kiri, seperti memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.
"Terserah aku dong. Apa urusan kak Dhika"
"Berapa nomormu?"
"Buat apa?"
"Zanna. mana ponselmu?"
Zanna tidak mau memberikan ponselnya. Terpaksa Dhika berusaha merebutnya dengan paksa. Dan tanpa sengaja Dhika menarik lengan Zanna terlalu kencang. Membuat tubuh mereka bertabrakan. Dhika mencium harum rambut Zanna. Manis, seperti apel yang baru matang.
"Akhirnya kakak punya nomormu. Awas kalau kamu tidak angkat telepon kakak"
Zanna merebut ponselnya lagi dengan menunjukkan wajah tidak suka.
"Seenaknya aja. Padahal kita udah sepakat untuk gak ikut campur urusan masing-masing kan?"
"Itu kamu yang mau. Kakak belum sempat bilang apa-apa, kamu sudah balik ke rumahmu"
"Apa? Kan kak Dhika peluk-pelukan sama Bu Desi di pinggir kolam. Masa aku harus ganggu. Gak tau juga kalo kalian lanjut ke tahap selanjutnya"
Tahap selanjutnya? Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran adiknya yang bau saja dewasa ini?
"Tidak ada tahap selanjutnya" jelasnya.
"Mana Kiran tau. Ini juga berduaan di dalam rumah. Idiiiih jijik banget"
Dhika benar-benar tidak mengerti jalan pikiran adiknya. Dia dan Desi tidak pernah berbuat apa-apa. Dan sekarang dia dibuat kesal dengan semua ejekan Zanna lengkap dengan ekspresi wajahnya.
"Kakak tidak pernah tidur dengan perempuan manapun" Lalu Dhika mengingat satu malam dimana dia tidur dengan nyenyak sekali.
__ADS_1
"Selain kamu" sambungnya.
"Apa?"
Zanna tampak terkejut dia menyebut masalah tidur bersama itu disini.
"Kenapa? Memang benar kita tidur bersama malam itu"
"Enak aja. Kak Dhika yang ketiduran di sebelah aku"
"Tapi kita tidur di ranjang yang sama, semalaman"
Akhirnya, Zanna terdiam. Dhika merasa bangga bisa menang dari pertengkaran mulut seperti ini.
"Duhhh, Bu Desi ngapain sih di dalem?" tanya Zanna merubah suasana.
Dhika memperhatikan gaya bicara Zanna yang tidak hormat pada Desi sebagai atasannya. Pantas saja Desi mengeluh tentang Zanna tadi.
"Jangan bicara dengan nada seperti itu pada atasan kamu"
Dhika menyatukan tangan di belakang. Siap memberikan nasehat tentang pekerjaan pada adiknya.
"Karena Bu Desi pacar kak Dhika?"
"Apa? Bukan. Kenapa kamu menganggap seperti itu?"
"Udah ahh. Kalo gak tau apa-apa mending diem aja"
Berani sekali Zanna menyuruhnya diam. Padahal dia hanya ingin adiknya itu berperilaku layak di kantornya. Itu juga untuk keperntingan Zanna sendiri. Agar tidak dipandang menyebalkan oleh orang lain.
"Pantas saja Desi berkata kamu anak baru yang susah diatur"
"Apa? Kak Dhika percaya aja kalo Bu Desi bicara gitu?"
"Ini buktinya. Kamu membenci atasan kamu sendiri"
"Kiran gak akan gini kalo gak ada sebabnya. Kak Dhika tau gak gimana Bu Desi kalo di kantor?"
"Jaga bicaramu. Bagaimanapun Desi lebih tua dan senior daripada kamu yang anak baru"
Zanna membuka mata dan mulutnya secara serempak. Seperti terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dhika.
"Wah gila!"
"Apa? Kenapa kamu bilang kakak gila?"
"Udah ahh. Mending Kiran pulang sendiri aja daripada dengerin kak Dhika"
__ADS_1
Sepertinya Dhika tidak bicara sesuatu yang salah. Dia hanya berusaha menasehati adiknya agar menjadi junior yang down to earth. Tapi kenapa reaksi Zanna berlebihan seperti ini? Dhika mengejar adiknya yang sudah berjalan melewati gerbang perkebunan.
"Zanna ... tunggu!"