
"Cepat kamu foto copy ini! Habis itu belikan saya kopi. Yang pahit!"
Sejak pagi ini, Kiran sudah menerima sepuluh perintah dari Bu Desi. Dia harus lari kesana kemari sampai belum makan siang padahal sudah jam empat sore. Yang lebih menyebalkan adalah Bu Desi tidak menghargai hasil kerjanya sama sekali. Semuanya seperti salah menurut penilaian atasan sementaranya itu.
"Apa ini???" teriak Bu Desi lagi saat dia meletakkan kopi pesanan atasannya itu di atas meja.
"Kopi Bu"
"Saya minta americano dingin!!"
"Itu americano Bu. Dingin juga"
"Kamu ... AAAAAHHHHH"
Kiran menutup telinganya karena tidak tahan mendengar teriakan Bu Desi yang melengking seperti serigala sakit amandel itu.
"Apa yang salah Bu?" tanyanya ketika Bu Desi selesai berteriak.
"Ini kopi hitam dengan es. Bukan americano dingiiiiiiiim"
"Ibu minta merek yang mahal itu?"
"IYAAAAA"
"Tapi tokonya jauh Bu. Kalo pesen dari ojol butuh waktu lama"
"Saya gak peduli!! Pokoknya kamu gak pulang kalo americano itu belum ada di atas meja saya!!"
Kiran terpaksa mengambil es kopi yang dipesannya di kantin itu lalu keluar ruangan dan memesan makanan lewat ojek online. Kali ini benar-benar americano dingin dengan gelas bergambar putri duyung hijau. Lalu dia berpesan agar sopir ojol mengantarnya dengan secepat mungkin. Karena nasibnya pulang atau tidak bergantung pada itu.
Kurang dari setengah jam, kopi itu datang. Dia segera berlari megantar kopi untuk atasannya lalu mengemasi barangnya.
"Kamu mau kemana??" tanya Bu Desi.
"Pulang Bu. Kan kopinya sudah dateng"
"Gimana kerjaanmu?"
"Sudah selesai semua Bu. Itu laporannya di meja Ibu. Terima kasih Bu, saya pulang dulu"
"Tapi ... hei ... Kiraaaaaannnn!!!!"
Walaupun mendengar namanya disebut dengan panjang dan keras, Kiran tidak akan kembali ke ruangan itu lagi. Setidaknya untuk sisa hari ini. Dia hanya ingin pulang, makan lalu tidur.
Sampai di rumah, dia mulai menghembuskan napas kesal. Rumahnya ... sangat berantakan dan tidak ada tukang yang harusnya masih bekerja disana.
"Kalo gini kapan selesainya?" katanya lalu menyerah dan berjalan untuk pergi ke rumah kak Dhika. Sebenarnya sejaki tinggal di rumah kakaknya itu, Kiran tidak pernah tidur dengan nyenyak. Mungkin karena dia tidak terbiasa dengan semua kemewahan itu. Sampai di rumah kak Dhika, dia ingin masuk tapi langkahnya terhenti di teras..
'Bukannya itu mobil Bu Desi?' pikirnya lalu bersembunyi di balik pilar rumah. Lalu sebuah suara semakin keras terdengar seperti mendekat ke arahnya.
"Masa sampae sekarang Dhika belum pulang juga??"
Kiran sangat kenal dengan teriakan ini. Belum satu jam dia lari dari semua teriakan ini tapi sekarang Kiran bisa mendengarnya lagi. Di rumah kak Dhika.
"Belum pulang Mba"
__ADS_1
"Kapan pulangnya??!"
"Harusnya malam ini"
"Apa Tuan kamu itu gak bawa hp?"
"Saya kurang tau Mba"
"KURANG TAHU ... KURANG TAHU. Dari tadi jawabannya ituuuuu terus!!!"
"Tapi saya memang tidak tahu mba"
"UUGGGGHHHH"
Bu Desi menghentakkan kakinya dengan keras lalu berjalan ke mobilnya. Kiran hanya bisa melihat semuanya dari balik pilar tanpa berani berkata apapun. Tapi sekarang dia tahu sesuatu. Bu Desi dan Kak Dhika ternyata saling mengenal. Tapi apa hubungan antara mereka? Apa kak Dhika pacar Bu Desi? Kak Dhika yang seperti itu memiliki pacar seperti itu? Selera kakaknya buruk sekali, pikir Kiran.
"Lho, Mba Zanna ada disini" tanya pegawai rumah kak Dhika yang sadar akan kehadiran Kiran.
"Eh? Iya. Tadi siapa Bu?" tanya Kiran berusaha mengorek informasi.
"Itu Mba Desi"
"Pacarnya kak Dhika?"
"Setahu saya gitu. Tapi saya gak pernah tanya ke Pak Radhika, Mba"
Ya iyalah. Aneh juga kalo pegawai rumah tanya semacam itu pada Tuannya.
"Tapi orang itu sering kesini ya Bu?" tanyanya lagi.
"Lumayan Mba Zanna. Kadang nginep juga disini"
"Apa Kak Dhika ada di rumah kalo orang itu nginep disini?" tanya Zanna lagi semakin membuat dadanya sesak.
"Iya Mba Zanna. Tapi jangan bilang pak Dhika kalo Mba Zanna tahu dari saya ya"
"Saya gak akan tanya ke kak Dhika juga kok Bu"
"Ya sudah kalo gitu Mba. Mba Zanna mau disiapkan makan malam di kamar?"
"Saya? Ehhh, saya mau makan diluar aja Bu"
"Oh, baik kalo gitu"
Kiran akhirnya masuk ke dalam rumah dan langsung ke kamar yang digunakannya. Ingin segera mandi tapi mendengar ketukan di pintunya.
"Siapa?" tanyanya.
"Ini kakak"
Kiran membuka pintu dan disana berdiri kak Dhika yang memakai jas lengkap dengan dasi. Benar-benar seperti pengusaha yang berjaya, begitu kata Mail di serial anak terkenal dari Malaysia itu.
"Kak Dhika baru dari mana pake baju kayak gini?"
Ini pertama kalinya Kiran melihat kakaknya memakai baju seperti ini. Ternyata dengan jas, dasi, rambut rapi, kak Dhika kelihatan lumayan juga, pikirnya.
__ADS_1
"Aku kerja. Kamu juga baru pulang kerja?"
"Iya"
"Kita makan sama-sama"
"Tapi ... aku ... "
Sebenarnya Kiran tidak ingin makan diluar. Tapi Cia dan Putri berkata akan menghubunginya lewat video call. Dan Kiran tidak ingin berada di rumah kak Dhika saat itu terjadi.
"Apa kamu ada janji?" tanya kak Dhika.
"Enggak. Cuma ... aku mau ... "
"Kakak mandi dulu sebentar. Kita keluar sama-sama"
"Gak usah, aku ... " Belum selesai Kiran ingin menjelaskan situasinya, kak Dhika sudah masuk ke dalam kamarnya. Mungkin mandi sesuai rencana orang itu tadi. Padahal Kiran ingin pergi sendiri, lalu gimana kalo udah begini?
"Kemana kita?" tanya Kak Dhika yang sudah siap menemaninya keluar rumah dan wangi. Kenapa juga orang ini memakai parfum sebanyak ini hanya untuk menemaninya keluar?
"Jalan aja"
"Apa?"
Kiran berjalan dan kak Dhika mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan bersebelahan sambil membicarakan kegiatan hari ini. Ternyata kak Dhika baru sampai dari Surabaya, melakukan bisnis dengan temannya yang pernah Kiran temui di cafe waktu itu.
"Jadi kak Dhika sama Pak Ryan itu udah kenal lama banget ya"
"Iya"
"Pak Ryan itu udah punya istri?"
"Istri?"
"Iya. Umurnya sama kayak kak Dhika kan?"
"Iya"
"Apa dia udah punya pacar?"
"Kenapa kamu tanya?"
"Emang gak boleh?"
"Gak boleh"
"Kenapa?"
"Jangan tanya lagi tentang Ryan. Kita mau jalan sampe mana?"
Kiran melihat sekitar dan menemukan sebuah taman yang agak kosong. Dia duduk di salah satu bangkunya dan mulai menghubungi Putri dan Cia.
"Haiii" sapanya lalu tersenyum senang. Sepuluh menit kemudian Kiran selesai menghubungi Putri dan Cia lalu melihat kak Dhika diam di sebelahnya.
"Jadi kamu keluar cuma untuk telpon teman-temenmu?"
__ADS_1
"Habis. Kalo di rumah kak Dhika nanti ketahuan. terus mereka tanya-tanya. Kiran gak bisa jelasin. Kiran juga belum bilang ke Bi Tia soal rumah"
Kiran melihat kak Dika tersenyum lalu mengulurkan tangan ke arahnya. Perlahan tangan kakaknya yang besar itu mengelus rambutnya dengan lembut. Sesuatu yang aneh kembali terasa di dalam dada Kiran. Serasa dadanya penuh sekali dengan kehangatan. Apa tidak apa-apa dia merasa lebih ingin dekat dengan kakaknya lagi setelah sepuluh tahun dan semua kejadian itu? Apa benar dia sudah memaafkan orang ini sepenuhnya dan mulai menerima keberadaannya?