
Jam delapan tepat, seorang perawat datang membawa baki makanan ke kamar Kiran. Tapi yang ada di dalam baki itu tidak menggugah sekali.
"Apa perlu kakak suapin?"
Orang ini, kenapa tidak pergi juga dari tadi.
"Kak Dhika pulang aja"
"Kakak akan tetap disini sampai kamu sembuh"
"Kiran udah besar. gak perlu ditungguin kayak gini"
Orang itu kelihatannya tetap tidak mau pulang, bagaimanapun Kiran mengusirnya.
"Lihat wajahmu, pucat begini"
Tanpa ijin, orang itu memegang wajahnya. Kiran terkejut sampai memukul tangan kakaknya dengan cukup keras. Kejadian itu dilihat oleh perawat dan membuat Kiran agak malu.
"Ngapain sih? pegang-pegang"
"Memangnya kenapa? Kakak hanya ingin menunjukkan kalau wajahmu masih pucat ke perawat. Kamu tidak perlu memukul tangan kakak sampai seperti itu"
"Habisnya ... "
Kiran merasa malu. Sekarang pasti wajahnya merah sekali seperti buah naga.
"Gak apa-apa Mba. Jangan malu kalo punya pacar yang sayang kayak gini" komentar perawat membuat Kiran salah tingkah. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan sekarang.
"Bukan. Orang ini bukan pacar saya kok. Dia ini ... "
Belum selesai menjelaskan perawat itu sudah pergi dari kamar.
"Sudah. Tidak perlu dijelaskan" kata kak Dhika tenang sekali mengahadapi kejadian seperti ini.
"Tapi mereka salah paham"
"Tidak apa-apa. Mereka hanya berpikir sesuka mereka saja. Yang terpenting disini adalah kesehatanmu, bukan apa yang mereka pikirkan saat melihat kita"
Kiran salah. Dia memang salah menilai kalau kak Dhika akan terganggu dengan hal ini. Tentu saja kakaknya itu tidak akan terganggu, karena hanya dia yang merasa berdebar sat orang lain menganggap mereka sepasang kekasih.
Bodoh banget, pikirnya dalam hati.
Kalau memang ingin menyembunyikan perasaannya, harusnya Kiran bersikap seperti kak Dhika. Bukan bereaksi berlebihan seperti tadi. Merasa malu, dia mengambil ponsel dan meminta ijin tidak masuk kepada atasan barunya. Beberapa menit kemudian pak Wahyu membalas dengan mendoakannya agar cepat sembuh. Kiran bersyukur memiliki atasan baru yang baik dan pengertian. Tidak seperti atasannya dulu. Lalu dia melihat orang yang menjadi kekasih Bu Desi. Perlahan dadanya terasa sesak. Ternyata ini alasannya selalu merasa kesal melihat kak Dhika bersama dengan pacarnya. Dia ... cemburu.Rasanya aneh sekali memiliki perasaan seperti ini. Tapi bagaimana lagi. Sesuatu seperti ini tidak bisa dia rencanakan. Perasaannya muncul begitu saja tanpa permisi.
__ADS_1
"Aku beli air dulu. Apa kamu mau camilan lain?" tanya kak Dhika yang kembali mendekat ke tempat tidurnya.
"Ini udah siang dan aku gak apa-apa. Kak Dhika pulang aja sana"
"Tidak. Aku akan tetap disini sampai kamu diperbolehkan pulang oleh dokter"
"Gak usah. Kak Dhika pulang aja"
Sepertinya ini sudah kelima puluh kali Kiran menyuruh kakaknya itu pulang. Tapi tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
"Kamu tidur saja. Kakak akan cepat kembali"
Sekali lagi, kak Dhika membelai rambutnya. Membuat Kiran merasa senang namun bingung secara bersamaan.
Tapi kesenangan dan kebingungannya tidak bertahan lama. Karena ada seseorang yang datang ke kamar rawatnya, memberi akhir pedih bagi perasaan yang baru saja lahir itu.
"Bu Desi"
Kiran tidak menyangka akan kedatangan mantan atasannya itu.
"Kamu ternyata di kamar VIP?" tanya Bu Desi yang baru saja masuk selangkah ke kamar rawat Kiran.
Belum sempat dia menjawab, muncullah kak Dhika dibelakang Bu Desi. Kak Dhika sama sekali tidak memandangnya. Hanya menunduk dan melihat ke arah pacarnya.
"Kenapa?" gumam Kiran yang ternyata didengar oleh mantan atasannya itu.
Mendengar tuduhan seperti itu membuat Kiran tidak bisa berkata-kata. Tapi ada yang lebih mengejutkannya. Kak Dhika, yang membawanya kemari tanpa ijin, mengangguk-angguk di belakang Bu Desi. Seperti menyetujui semua yang dikatakan pacarnya. Pedih sekali rasanya hati Kiran sekarang.
Desi baru saja sampai di rumah sakit saat melihat Dhika keluar dari minimarket.
"Dhika!!" panggilnya lalu berlari menghampiri laki-laki itu.
"Kamu ... kenapa?"
Kelihatannya Dhika terkejut melihatnya di rumah sakit ini. Begitupun sebaliknya, Desi juga terkejut melihat laki-laki ini disini.
"Kamu tahu gak anak baru yang aku bawa ke perkebunan lusa kemarin? Katanya kemarin dia ke perkebunan kamu lagi terus kehujanan dan sakit."
"Anak baru?"
Ternyata, Dhika tidak tahu kalau anak baru itu ke perkebunan. Desi merasa sangat lega sekarang.
"Iya. Kiran yang aku bilang terus ngomong jelek tentang aku itu. Dia ngaku kalo sakit gara-gara ke perkebunan kamu. Makanya aku kesini buat konfirmasi. Tapi ... kenapa kamu disini?"
__ADS_1
Setahu Desi saat ini Dhika tidak sedang sakit apa-apa.
"Aku ... chek -up rutin"
"Chek-up rutin?"
Desi melihat barang yang ada di tangan Dhika dan merasa heran. Kenapa check-up rutin harus membawa minum yang banyak? Ada roti dan kue juga di dalam plastik itu. Dhika seperti ingin menjenguk seseorang. Tapi siapa?
"Aku puasa tadi. Sekarang aku boleh minum dan makan. Makanya ... "
Desi lega sekarang. Dia pikir Dhika mengunjungi seseorang yang tidak dia tahu si rumah sakit ini. Ternyata laki-laki ini hanya lapar dan haus saja.
"Kalo gitu kamu mau gak anter aku cari kamar tempat anak baru itu dirawat? Biar dia tahu rasa juga udah ngomong sembarangan tentang perkebunan kamu"
Setelah bertanya pada informasi,. Desi baru tahu kalau anak baru itu ternyata berada di kamar VIP. Padahal setahunya, anak baru itu bukan dari kalangan atas. Bahkan seperti kalangan menengah ke bawah. tapi kenapa dirawat di kamar yang bagus. Bahkan saat masuk ke dalam kamar Kiran, dia terkejut melihat betapa nyaman kamar itu. Rasa kesal muncul dalam hatinya. Bagaimana bisa anak baru bisa dirawat di kamar sebagus ini? Apa anak ini sudah mengenal korupsi? karena kesal, dia menuduh Kiran. Dia tidak peduli karena merasa didukung oleh Dhika yang berdiri di belakangnya.
Tapi anak baru itu tidak memberikan reaksi yang diinginkannya.
"Oh iya. Kok bisa kamu ada di ruangan yang bagus gini?" tanya Desi berusaha mengorek informasi. Setahunya asuransi kesehatan yang didapatkan pegawai negara tidak lebih dari kelas 1.
"Harusnya di kelas 1 tapi penuh. Makanya dipindah kesini" jawab anak baru itu tanpa melihatnya sama sekali. Sungguh kelakuan yang tidak sopan. Desi menoleh pada Dhika dan merasa senang karena melihat laki-laki itu juga terlihat kesal dengan kelakuan Kiran.
"Dasar gak sopan. Ya udahlah, kita pergi aja Dhika. Semoga cepet sembuh"
Desi mengajak Dhika pergi tapi laki-laki itu tidak mengikuti langkahnya. Dhika mendekat ke tempat tidur Kiran dan memberikan kantung plastik berisi makanan yang dibawanya sejak tadi.
Ketika mereka sudah jauh dari kamar rawat Kiran, Desi segera bertanya kenapa Dhika melakukan hal itu.
"Kayaknya anak baru di kantormu gak punya siapa-siapa. Gak ada yang nunggu juga. Kasihan"
Desi lalu mencoba untuk mengingat situasi kamar Kiran tadi.
"Bener juga ya. Tapi ... anak baru itu kan emang yatim piatu" katanya lalu berjalan tanpa beban meninggalkan rumah sakit.
"Aku ... tidak bisa mengantarmu" kata Dhika melepasnya pergi di parkiran.
"Kenapa? Ayo makan sama-sama!" ajaknya dengan suara agak sengau. Suara yang selalu disukai oleh laki-laki di depannya.
"Aku ... harus menunggu hasil pemeriksaan"
Desi lupa kalau Dhika melakukan pemeriksaan di rumah sakit ini. Terpaksa dia pergi meninggalkan laki-laki itu.
"Ya udah. Nanti jangan lupa telpon ya. Aku tunggu. Oh iya ... makasih motornya. Pacar aku suka banget"
__ADS_1
"Iya. Pergilah sekarang. Disini banyak orang sakit"
Desi pergi dari rumah sakit dengan tersenyum. Merasa senang diperhatikan oleh Dhika meskipun dia menceritakan tentang pacarnya. Laki-laki ini memang tidak akan pernah bisa lepas dari pesonanya, pikir Desi begitu percaya diri.